
Sebenarnya Syauqi hanya menggunakan perjodohan palsu untuk memancing Syadev. Tidak di sangka dalam waktu cepat putranya itu menelepon dan memberi kabar akan pulang.
Syauqi segera menyuruh Dony untuk mengecek, ternyata jadwal kepulangan putranya itu bersama Anggun.
Syauqi tidak bisa menahan tawa, dia sangat senang akhirnya Syadev mau menyerah karena diberi sedikit tekanan.
Dony sendiri merasa puas akhirnya bisa mengalahkan putra sahabatnya yang cerdas itu.
"Bro, pokoknya besok siang aku mau izin libur melihat bagaimana Syadev meminta maaf padamu," ucap Dony.
"Iya," jawab Syauqi karena sedang senang saja.
"Aku punya ide lagi, bagaimana kalau memanggil seluruh keluarga dan kerabat. Dengan begitu bisa sekalian mengumumkan pernikahan mereka," saran Dony, dan sebenarnya dalam hatinya berniat mempermalukan Syadev karena ingin balas dendam.
Syauqi tahu buat busuk temannya, tapi di sisi lain apa yang barusan di katakan sahabatnya ada benarnya juga. Sekalian melihat apakah putranya itu memiliki nyali atau tidak berkata jujur di depan semua orang.
Syauqi segera menelepon istrinya.
"Sayang, sekarang kamu suruh pelayan untuk belanja yang banyak. Besok aku akan mengundang seluruh keluarga dan kerabat," pinta Syauqi lewat telepon.
"Memangnya dalam rangka apa?" tanya Zhia penasaran.
"Puaskan dulu suamimu malam ini, baru akan aku jawab," kata Syauqi langsung menutup teleponnya. Dia yakin saat ini istrinya tengah kesal setengah mati padanya.
Dony hanya nyengir melihat sahabatnya yang bertingkah genit pada istrinya.
"Apa lihat-lihat?" tanya Syauqi.
"Kamu ini tidak malu pada umur," sindir Dony.
"Kenapa dengan umurku? Aku masih tampan dan gagah, istriku juga masih menggairahkan seperti dulu," balas Syauqi dengan senyuman mengejek.
"Iyalah, terserah kamu deh," jawab Dony mengalah, dia tidak mau jika gajinya terpotong hanya karena perdebatan kecil.
Syauqi kemudian mulai menelepon kerabatnya satu-persatu agar besok datang ke rumahnya.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Sudah beberapa hari ini Kaysa dan Orlin pergi ke rumah sakit untuk mengantarkan makanan pada Reki, tubuh kakak sepupu Alarik itu sudah mulai bercahaya dan tidak terlihat kemas seperti dulu.
Biarpun Kaysa mendapatkan komentar yang menyebalkan mengenai masakannya tapi dia juga puas karena masakan yang dibawanya selalu habis di makan Reki.
Kaysa yang pandai bicara setiap saat ada saja yang diceritakan, lama-lama Reki menerima kehadiran Kaysa dan Orlin sebagai teman.
__ADS_1
Namun karena hari ini Kaysa mendapatkan telepon dari Ayahnya, jadi dia tidak bisa datang ke rumah sakit sebab harus menyiapkan barang-barang bawaan dan mencari oleh-oleh untuk anak panti.
"Orlin, karena kamu bisa diterima Reki apa boleh aku minta tolong antarkan makanan ini?" pinta Alarik.
"Please, hari ini aku ada kepentingan yang tidak bisa di tunda," rengek Kaysa.
"Baiklah," jawab Orlin tulus.
Setelah itu itu Kaysa dan Alarik pergi dari kantor, mereka segera menuju pusat perbelanjaan oleh-oleh di kota itu.
Orlin juga segera membawa wadah makanan itu menuju rumah sakit. Karena kali ini dia sendirian membuat dirinya sendiri canggung.
Orlin mengetuk pintu dan membuka secara perlahan. Ternyata Reki tengah menonton film lewat laptop milik Kaysa.
"Wah, sedang nonton apa?" tanya Orlin.
"Sesuai permintaan Kaysa, menonton film untuk menghilangkan kejenuhan. Tapi selera dia semuanya drama percintaan," jawab Reki tertawa.
"Tapi sepertinya kamu menyukainya, tadi aku lihat kamu senyum-senyum sendiri," balas Orlin sambil meletakkan makanan dari Kaysa.
"Loh, di mana Kaysa?" tanya Reki.
"Dia dan suaminya sedang mencari sesuatu, katanya nanti malam mau pulang ke rumah Om Syauqi," jawab Orlin.
Seketika raut wajah Reki berubah muram.
"Kau jangan ngacok deh! Dia itu istri adik sepupuku, mana mungkin aku mempunyai perasaan padanya. Tapi tidak ada dia rasanya sepi," jawab Reki.
"Kalau seandainya kamu bertemu dengannya lebih duluan bagaimana?" tanya Orlin menggoda.
"Bagaimanapun juga dia tetap istrinya Alarik. Aku tidak mau menambah rasa malu pada Alarik, sampai sekarang saja aku tidak punya muka jika berhadapan dengannya," ucap Reki setengah melamun.
"Aku kenal Alarik sejak kecil, dia orang yang baik dan tidak pendendam. Aku yakin jika dia masih marah padamu mana mungkin membiarkan istrinya setiap hari datang ke sini memasak untukmu. Kamu tahu kan, Kaysa itu anak emas. Masakan dia itu lebih mahal dari berlian sekalipun," sergah Orlin.
"Iya aku tahu, sejak kecil aku selalu memperlakukan Alarik sebagai perebut perusahaan Mandala. Siapa sangka justru akulah yang sebenarnya perebut itu, apa yang aku nikmati bukanlah milikku. Bahkan mamaku juga sudah membunuh orang tuanya dengan sengaja, aku tahu dosa keluargaku itu terlalu banyak padanya," ucap Reki mengeluarkan apa yang selama membebani pikirannya.
"Reki, jika kamu terus bersembunyi maka selamanya kamu akan hidup dalam kegelapan. Sebaiknya setelah kamu sembuh total menghadapkan pada Alarik secara langsung, dan meminta maaf. Biarpun aku yakin tanpa kamu meminta maafpun Alarik sudah memaafkan, tapi dengan kamu menemuinya kamu bisa melawan rasa takut dalam dirimu," tutur Orlin lembut.
Reki hanya diam saja, pemuda itu terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Aku sebelumnya juga merasakan hal yang sama, aku dari kecil begitu mencintai Alarik. Aku selalu merasa jika Alarik juga mencintaiku. Karena aku mengira awalnya hubungan antara Alarik dan Kaysa hanya sebatas kasih sayang seorang kakak dan adik. Dan tahukah kamu? Dengan tiba-tiba Alarik mengumumkan pernikahan dengan Kaysa, saat itu hatiku hancur sampai aku lebih memilih mati dari pada tersiksa karena cinta yang tak terbalas ini," kata Orlin yang sekarang sudah bisa tersenyum tegar jika mengenang semua itu.
"Bodoh, masa iya hanya karena cinta sampai mau bunuh diri. Lelaki banyak di dunia ini," sindir Reki tertawa.
__ADS_1
Entah kenapa saat pemuda yang ada di depan Orlin itu tertawa membuat dirinya merasa bahagia.
"Memangnya kalau tiba-tiba orang yang kamu cintai itu menikah dengan orang lain apa kamu tidak merasa sakit hati?" tanya Orlin.
"Tidak, aku punya banyak pacar di luar sana. Duku saat aku bergelimang harta mereka selalu menempel padaku. Namun setelah aku seperti ini tidak ada satupun dari mereka yang mau menemaniku. Jadi bagiku cinta itu hanya kemunafikan saja," balas Reki apa adanya.
"Jangan menyalahkan cinta, tapi salahkan dirimu sendiri yang tidak bisa membedakan apa itu cinta atau hanya nafsu," kata Orlin tidak terima.
"Sudahlah, malas membahas cinta. Mana masakan Kaysa?" tanya Reki.
"Idih, kemarin selalu bilang kalau masakan Kaysa biasa saja. Tapi kenapa kamu merasa ketagihan begitu?" sindir Orlin.
"Aku tidak tahu kenapa lidahku tidak bisa kalau untuk memuji Kaysa, sebab dia perempuan yang mudah merasa bangga dan menyebalkan. Tapi jika di suruh jujur dia memang perempuan yang mengagumkan!" kata Reki tertawa sendiri.
"Tuh kan, jujur saja deh kamu itu menyukai Kaysa," goda Orlin.
"Sudah dibilang tidak ya tidak," jawab Reki sambil menikmati masakan Kaysa.
"Ya sudah, aku balik ke kantor dulu ya?" pamit Orlin.
"Lalu besok Kaysa tidak memasak untukku ya?" tanya Reki terlihat cemas.
"Tidak, memangnya kenapa? Bukankah Mamanya Gio sebenarnya sering ke sini bawakan masakan untukmu?" tanya Orlin.
"Aku tidak sudi memakan masakannya, kamu tidak tahu bagaimana hancurnya hatiku ketika tahu jika Papa mengkhianati Mama. Jika kamu jadi aku apa kamu bisa Dnegan mudah menerima pelajaran itu?" tanya Reki menahan amarahnya.
"Kamu tahu? Mama Nayla bukan orang yang telah melahirkanku. Tapi Mama selalu mencintai aku tulus seperti anak kandung sendiri. Dan jika aku lihat sebenarnya Mamanya Gio itu juga tulus menyayangimu seperti anak sendiri. Kamu tidak bisa menyalahkan Mamanya Gio, dia bahkan tidak tahu jika Papa kamu memiliki istri pertama. Papa kamu mungkin juga salah, tapi jika didalami lagi papa kamu menderita karena mama kamu tidak bisa menjadi istri yang menunaikan kewajibannya dengan baik. Jangan pernah menyalahkan orang lain sebelum melihat kenyataannya terlebih dahulu," kata Orlin panjang lebar.
Reki seperti tersengat lebah ketika mendengar penuturan Orlin, pemuda itu tahu dengan jelas bagaimana sikap mamanya yang kasar dan hanya memikirkan tentang harta dan harta. Bahkan semua yang di beri papanya juga kurang. Kini Reki mulai sadar jika papanya membutuhkan kasih sayang dari wanita yang tulus mencintainya.
"Sebaiknya kamu pikirkan baik-baik, seandainya kamu dalam posisi papamu bagaimana? Ya sudah, aku akan kembali ke kantor ya?" pamit Orlin.
"Eh tunggu!" pinta Reki.
"Apa?" tanya Orlin sambil menoleh ke belakang.
"Apa kamu bisa masak? Aku tidak cocok dengan makanan rumah sakit," tanya Reki dengan wajah memelas.
"Bisa, aku penasaran besok kamu akan memberikan penilaian seperti apa pada masakanku," jawab Orlin berlalu pergi.
Reki hanya tersenyum sambil menatap punggung gadis yang cantik itu.
Selama ini Reki selalu tertarik pada wanita yang sexi, tapi kesepian mereka tidak pernah membuat hatinya bergetar.
__ADS_1
Namun siapa sangka gadis berhijab barusan yang memiliki senyuman tulus itu bisa membuat hatinya berdebar-debar. Reki baru kali ini merasakan perasaan seperti itu.
Jangan lupa Like dan Vote sebanyak-banyaknya ya🤗🤗🤗🤗