
Bima merasa kesal mengapa dia bisa dikerjai oleh Darren seperti ini. Sangat memalukan baginya jika membeli barang-barang perempuan seperti itu. Namun, sebagai seorang lelaki sejati dia ingin menunjukkan keseriusannya dalam mendekati gadisnya.
Soal Kiranti dan pembalut Bima tidak kesulitan, sebab Dia sering melihat kedua barang tersebut di iklan-iklan. Namun, mengenai celana dalam perempuan Bima tidak tahu ukurannya.
"Sial, mana aku tahu ukuran celana dalam wanita? Kalau aku bertanya pada Darren hanya akan menjadi bahan tertawaan saja," batin Bima kesal.
Dengan malu-malu Bima membayangkan postur tubuh Alifya yang ramping, dia yakin jika perempuan itu memiliki ukuran L.
Setelah mendapat semuanya Bima segera menuju kasir.
Penjaga kasir adalah seorang gadis muda seusianya yang cantik, dengan senyuman yang cerah gadis itu menyapa Bima dengan ramah.
"Beliin buat istrinya ya? Wah, suami yang pengertian sekali."
Bima hanya tersenyum dan menunduk malu, seumur-umur baru kali ini dia mengalami hal seperti ini.
Setelah membayar Bima cepat-cepat pergi dari tempat itu, dia sudah tidak tahan lagi menahan rasa malu.
Sesampainya di toilet, Bima bingung harus bagaimana lagi. Karena tidak mungkin baginya untuk teriak-teriak memanggil Alifya keluar. Sambil menoleh ke kanan dan ke kiri dia segera masuk ke area toilet.
Di sana ada dua pintu yang tertutup, Bima tidak tahu di mana Alifya berada. Kemudian dia nekat mengetuk pintu satu persatu. Pintu pertama ada suara yang menjawab, dia yakin jika suara perempuan tersebut bukan Alifya. Dia ingat jika kakak sepupu Syadev memiliki suara yang lembut dan merdu. Lalu dia mengetuk pintu yang sebelahnya lagi. Beberapa detik kemudian pintu terbuka. Seketika Alifya menjerit keras.
"Ini toilet perempuan, kenapa kamu di sini?" pekik Alifya.
"Maaf, aku hanya ingin memberikan ini. Tadi Zahra ada urusan penting jadi dia minta tolong padaku," jawab Bima gugup.
Alifya segera meraih bungkusan plastik dari tangan Bima dan segera masuk ke dalam lagi.
Beberapa menit kemudian keluar ibu-ibu yang tadi di kamar mandi sebelah.
"Dasar anak muda! Mau mengintip ya?" tanya ibu-ibu tersebut dengan galak.
"Tidak, Bu. Saya hanya menyerahkan sesuatu pada istri saya," jawab Bima gugup.
Sesaat kemudian Alifya keluar, gadis itu tidak menyangka jika Bima masih berada di sana.
"Apa benar kamu istrinya?" tanya Ibu itu memastikan.
Alifya yang tidak tahu apa-apa mendengar pertanyaan itu kaget juga, mau jawab apa gadis itu bingung dan takut berbohong.
"Istriku kamu sudah selesai? Ayo kita segera kembali ke tempat pesta," sela Bima meraih tangan Alifya dan menyeretnya keluar.
Alifya memerah saat jemarinya di genggam erat oleh Bima. Sebab baru kali ini ada pemuda yang berani menyentuhnya.
Setelah agak jauh Alifya menghempaskan tangannya dengan agak kesal, tapi mengingat pemuda di depannya itu sudah membantu dirinya Alifya menahan amarahnya.
"Kamu teman seangkatan Syadev dan Darren?" tanya Alifya memastikan.
"Iya," jawab Bima tersenyum manis.
"Terima kasih banyak ya, dek. Karena kamu sudah menolongku," ucap Alifya tulus.
Seketika Bima berubah wajahnya saat dirinya dipanggil dengan sebutan dek.
"Eh, sama-sama," jawab Bima canggung.
"Baiklah, ayo kita masuk ke gedung pesta lagi," ajak Alifya mencoba setenang mungkin. Padahal dirinya sudah sangat malu karena membayangkan jika yang membelikan barang pribadinya adalah seorang lelaki.
Mereka berdua berjalan beriringan dengan keadaan membisu, keduanya sama-sama kikuk dengan pikiran masing-masing.
Sesampainya di dalam sudah ada dua gadis remaja yang menunggu Alifya. Mereka adalah Flora dan adik perempuan Alifya.
"Kak Alifya, dari mana saja? Ibu sama bapak sudah mencari-cari, acara sebentar lagi selesai," kata Isnaini.
"Maaf ya, tadi kakak dari toilet," jawab Alifya ramah.
"Mereka siapa?" tanya Bima penasaran.
"Ini Flora, adiknya Syadev. Dan yang ini Isnaini adikku," jawab Alifya.
"Wah… Keluarga kalian ini sungguh cantik-cantik ya?" puji Bima.
Flora dan Isnaini baru SMP, tapi kecantikan mereka juga sudah memancar. Apalagi dengan memakai baju muslim dan jilbab membuat mereka tampak Anggun.
__ADS_1
"Kalian di sini ya, ayo kita segera pulang," ucap Rian yang tiba-tiba muncul di sana.
"Iya, Pak," jawab Alifya patuh.
Bima hanya bisa tersenyum sambil mengangguk saja saat bertatapan mata pada Bapaknya Alifya. Entah kenapa setiap kali berhadapan dengan Rian hatinya menciut dan ketakutan.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Hari semakin sore, dan acara pesta keluarga Syauqi Malik sudah selesai. Para tamu mulai mengundurkan diri berpamitan pulang pada yang punya hajat.
Rendra dan Nayla baru saja datang karena mereka kemarin sulit mendapatkan tiket dalam waktu mendadak.
"Maaf ya, kami telat," ucap Rendra dan Nayla.
"Tidak apa-apa, kalian sudah menyempatkan diri untuk datang saja kami sudah bahagia," jawab Zhia tersenyum ramah.
"Kalian duduklah dulu, sayang kalau sudah datang tapi tidak menikmati hidangan pestanya," ujar Syauqi setengah bercanda.
Kaysa yang berada di samping Ayahnya segera memanggil pelayan dan menyuruh untuk menghidangkaan makanan dan minuman.
"Mana Syadev dan Anggun?" tanya Rendra.
"Mereka sudah pulang duluan, istrinya sedang hamil muda jadi takut kalau kelelahan," jawab Syauqi tanpa menutupi.
"Apa? Hamil?" pekik Rendra dan Nayla bersamaan.
"Mereka sebenarnya sudah menikah beberapa bulan yang lalu, tapi baru di rayakan sekarang," jawab Syauqi buru-buru agar mereka tidak salah paham.
"Luar biasa anak-anakmu, Zhia," ujar Nayla.
Zhia hanya bisa tersenyum, entah merasa malu atau bangga juga tidak tahu. Tapi keduanya campur aduk.
"Ayo silahkan dimakan Om, Tante," ucap Kaysa ramah.
"Terima kasih, cantik. Kamu sekarang sudah semakin dewasa ya?" puji Nayla.
"Hey.. he.." Kaysa hanya tersipu malu.
"Apa Orlin sudah pulang?" tanya Rendra.
"Sudah," jawab Syauqi singkat.
"Apa dia datang seorang diri?" tanya Rendra lagi.
"Tidak, dia bersama Reki," jawab Syauqi singkat.
"Reki? Siapa dia?" tanya Rendra dan Nayla penasaran.
"Putranya Faisal, sepupunya Alarik," jawab Syauqi santai.
"Kenapa bisa bersamanya? Bukankah dia bukan pemuda baik-baik?" tanya Rendra cemas.
Biarpun belum mengenal pemuda yang bernama Reki tapi soal kabar mengenai sepupu Alarik Rendra sudah tahu.
"Sekarang sepupunya Alarik sedang menuju perubahan, biarkan saja mereka berteman. Karena Orlin bisa memberikan efek positif," ujar Alarik.
Rendra dan Nayla hanya diam, sebagai orang tua mereka tetap merasa cemas dan khawatir. Takutnya jika nanti Reki berbuat hal buruk pada putri satu-satunya mereka.
"Sekarang mereka di mana?" tanya Rendra tidak bisa tenang.
"Sudah pulang ke kota A, besok pagi mereka kan kerja," jawab Syauqi.
Rendra dan Nayla semakin cemas. Syauqi hanya tersenyum sendiri melihat kedua orang tua yang tengah panik itu.
"Zhia, apa kamu sudah mau pulang?" tanya Nayla.
"Santai saja, lagi pula kita sudah lama tidak saling mengobrol," jawab Zhia.
"Bagaimana kalau mengobrolnya di rumah kamu saja? Sekalian aku mau menemui Syadev dan istrinya," pinta Nayla.
"Baiklah, ayo kita pulang," jawab Zhia senang.
"Mana flora?" tanya Syauqi.
__ADS_1
"Sepertinya sedang bersama Alarik di belakang," jawab Zhia.
"Kaysa, panggil adik dan suami kamu. Ayo kita pulang sekarang," perintah Syauqi.
"Iya, Ayah," jawab Kaysa ceria dan bergegas pergi.
Kaysa sebenarnya dari tadi menguping perbincangan mengenai hubungan Orlin dan Reki, gadis itu merasa cemas juga karena sepertinya hubungan mereka tidak akan mulus.
Kaysa segera menemui suaminya.
"Ayo kita di suruh Ayah pulang," ucap Kaysa.
"Iya," jawab Alarik dan Flora.
"Mereka bertiga langsung menuju parkiran, di sana sudah ada keluarga Rian, Elly dan Dony. Mereka juga pada mau pulang.
"Kak Kaysa, aku mau ikut mobil Ayah saja ya?" pinta Flora.
"Anak manja, sana deh," goda Kaysa.
Flora hanya tersenyum malu. Gadis remaja itu memang selalu lengket pada Ayah dan Bundanya.
Di dalam mobil Kaysa terlihat sendang berpikiran keras, membuat Alarik yang tengah menyetir mobil jadi ikutan tidak fokus.
"Kenapa dari tadi gelisah? Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Alarik perhatian.
"Sepertinya Om Rendra dan Tante Nayla tidak suka jika Kak Orlin berdekatan dengan Kak Reki," jawab Kaysa.
"Meskipun Kak Reki sudah mulai berubah tapi reputasi buruknya tidak akan mudah hilang. Sudahlah kamu jangan banyak berpikir lagi! Biar Kak Reki yang urus sendiri, dia kan laki-laki jadi harus berjuang untuk mendapatkan Orlin," jawab Alarik santai.
"Tapi aku kasihan jika cinta mereka terlarang," rengek Kaysa.
"Memangnya mereka saling mencintai?" tanya Alarik memastikan.
"Dasar tidak peka! Masa tidak menyadari ada sesuatu di antara mereka," sindir Kaysa kesal.
"Sudah… Dari pada pusing mikirin mereka lebih baik mikirin bagaimana agar kamu cepat hamil, ayo setelah sampai di rumah kita buat lagi," goda Alarik.
Kaysa langsung melempar suaminya dengan sekotak tisu, biarpun tidak sakit tapi cukup membuat Alarik kaget.
"Pasti kamu lelah kan? Nanti akan aku beri pijatan plus-plus," goda Alarik lagi semakin gemas
"Diam!" balas Kaysa kesal.
Kaysa tidak suka menjadi korban, karena gadis itu maunya yang membuat orang lain merasa dipermainkan.
"Istriku, entah kenapa detik ini juga aku ingin menciummu. Sejak tadi pagi kamu sibuk sendiri," rengek Alarik.
"Ini masih di jalan," jawab Kaysa.
Alarik tidak mau tahu, keinginannya tersebut sudah tidak dapat dibendung lagi. Karena nanti sesampainya di rumah akan ada perkumpulan keluarga yang biasanya lanjut sampai larut malam.
Alarik segera menghentikan mobilnya dan menutup rapat kaca jendela.
Kaysa kaget melihat keagresifan suaminya tersebut. Namun dia menikmati juga saat suaminya menarik dirinya dan melahap bibirnya penuh birahi.
"Di depan ada hotel, bagaimana kalau mampir sebentar," bisik Alarik.
"Mau apa? Di rumah kita sedang ditunggu," teriak Kaysa.
Alarik tidak mau mendengarkan istrinya, pemuda itu yakin jika di rumah tidak akan punya kesempatan karena di sana sedang ramai orang.
"Jangan gila deh," ucap Kaysa.
"Istriku memang selalu membuatku tergila-gila," jawab Alarik membelokkan menjalankan mobilnya dan membelokkan kesebuah hotel bintang lima.
"Nanti kalau ditanya Ayah bagaimana?" tanya Kaysa.
"Heleh, cuma tiga jam saja kok," jawab Alarik tertawa.
Kaysa rasanya ingin memukul suaminya tersebut.
Jangan lupa Like dan Vote ya🤗 baca juga Scorpio. Nanti akan mulai lanjut lagi, maaf ya jika lama karena Author punya anak kecil jadi butuh waktu untuk metik novelnya. Terima kasih🤗
__ADS_1