
Di rumah keluarga Syadeva sedang ramai, sebab keluarga Orlin juga masih di sana. Di tambah ada Jamila dan Sarah.
"Kak, kami besok pagi mau pamit pulang. Karena banyak sekali pekerjaan yang harus diurus," ucap Dewa.
"Iya, tapi anak - anak biarlah di sini saja. Lagi pula 3 hari lagi mereka sudah masuk ke sekolah. Jadi tidak perlu mondar - mandir," saran Syadev pada adik iparnya.
"Aku sih terserah mereka saja," balas Dewa santai.
"Bagaimana? Kalian mau pulang atau di sini dulu?" tanya Flora pada kedua anak kembarnya.
Fayyola selalu menuruti kakaknya, sedangkan Valerio merasa betah berada di kamar sepupunya yang memiliki banyak peralatan canggih dan keren.
"Aku di sini saja," jawab Valerio antusias.
"Aku juga," jawab Fayyola.
Sarahpun mau tak mau juga mengikuti keputusan Fayyola.
"Baiklah, tapi kalian jangan nakal ya? Kalau ada apa - apa tinggal bilang ke papa," jawab Dewa.
"Iya," jawab anak - anak serentak.
Sebelum berpisah mereka saling mengobrol dan membahas banyak hal.
Malam semakin larut, semua kembali ke kamar masing - masing dan ada juga yang belum bisa tidur.
Sagara begadang karena masih mengotak - atik penemuannya, setelah lelah dia membuka jendela. Dan betapa terkejutnya saat dari lantai dua dia melihat sosok Sarah yang duduk sendirian di kursi taman sambil membawa Al Qur'an.
"Kenapa dia kalau menghapalkan Al Qur'an sering berada di luar?" batin Sagara heran.
Sagara ingat saat dulu dia nyasar ke asrama putri, Sarah sendirian seorang diri dan duduk seperti orang bilang. Waktu itu dia tidak tahu jika gadis itu tengah menghafalkan Al Qur'an.
Sagara jadi tidak bisa tidur, sebab di luar begitu dingin dan kepikiran Sarah.
"Untuk apa aku memikirkan dia? Toh dia juga sudah terbiasa," batin Sagara cuek.
Tapi pikiran dan tindakan berkata lain, Sagara segera bangun dan mengambil selimutnya lalu di bawa keluar.
"Aku kesal pada diriku sendiri, tapi aku juga tidak tenang membiarkan gadis itu sakit," batin Sagara semakin memasang wajah kaku.
Lampu rumah mati, sebab memang sudah pukul dua belas malam. Tentu saja semua orang juga sudah tertidur.
__ADS_1
Sagara dengan reflek melangkah keluar.
"Sarah, kenapa kamu kamu masih di luar?" tanya Sagara datar.
Sarah terkejut, tidak disangka jika seseorang yang dikaguminya datang.
"Aku kalau di dalam langsung ketiduran, jadi lebih enak di luar gini," jawab Sarah gugup.
"Oh, pakailah ini biar tidak kedinginan. Kalau kamu sakit nanti yang disalahkan orang tuaku dikira tidak baik menjagamu!" balas Sagara memberi alasan.
Sarah terbengong, tapi tetap menerima selimut tersebut.
"Terima kasih," ucap Sarah.
Sagara sendiri menjadi canggung dan merasa seperti orang bodoh, diapun segera berpaling untuk pergi.
"Tunggu! Sagara, aku ingin bertanya sesuatu," ucap Sarah.
"Apa?" jawab Sagara datar.
"Kamu kan sangat jenius, kenapa tidak menghafalkan Al Qur'an? Itu pasti mudah bagimu," tanya Sarah sangat penasaran.
"Karena aku belum siap," jawab Sagara.
"Memangnya kamu terpaksa?" tanya Sagara penasaran.
"Awalnya iya, dikeluarga aku diharuskan untuk menghafal Al Qur'an. Karena aku anak yang tidak cerdas tapi aku tetap berusaha meskipun kesulitan. Namun, secara perlahan aku mulai menyukainya dan hal itu secara alami mempermudah hafalanku," jawab Sarah.
Sagara terdiam, kini dia tahu kenapa setiap saat Sarah menunjukkan ekspresi tertekan.
"Kenapa aku harus peduli?" batin Sagara.
Tanpa berpamitan atau mengucapkan salam Sagara langsung masuk meninggalkan Sarah seorang diri.
Meskipun begitu Sarah sudah bahagia sebab Sagara perhatian memberinya selimut.
Sagara sendiri menjadi berpikir dengan pertanyaan Sarah barusan.
"Benar juga, padahal aku memiliki IQ di atas rata - rata, kenapa aku tidak menghapalkan Al Qur'an? Tapi jiwaku yang masih takut, ada perasaan belum siap," batin Sagara bimbang.
Sesampainya di kamar Sagara melihat alat - alatnya, dia jadi terus terngiang oleh pertanyaan Sarah tadi.
__ADS_1
"Selama ini orang tuaku sering menyuruh aku untuk menghafalkan Al Qur'an tapi aku cuek saja, dan entah kenapa hanya pertanyaan dari Sarah membuat aku begini?" batin Sagara bingung.
Sagara tiba-tiba mendekati jendela lagi dan ingin melihat Sarah, tapi ternyata gadis itu sudah tidak ada di sana lagi.
Mungkin karena terlalu cerdas dan genius, sehingga pikiran Sagara tidak sesederhana orang lain. Terkadang dia menginginkan seperti Arkananta dan Yudistira yang hidup tanpa ada rasa beban.
Sagara hampir setiap malam selalu memikirkan hal sekecil apapun. Kenapa ada bumi, kenapa ada manusia. Kenapa ada surga dan neraka. Kenapa materi sekolah begini dan begini.
Untuk menghilangkan ketidak ketenangan itu Sagara membuat penemuan unik, hanya dengan begitu dia bisa tenang dan fokus.
Mungkin karena kejeniusannya juga membuat Sagara tidak bisa menikmati momen yang indah.
Contohnya ketika tes, saat semua orang sibuk belajar dia sudah tahu. Saat semua teman - temannya menikmati belajar dia juga juga tahu. Rasa tegang, kesenangan seolah sirna dan membuatnya mati rasa.
Makanya Sagara menjadi terkesan menjadi sosok yang cuek, tidak peduli dan angkuh.
Hal - hal yang menurut orang lain sebagai sebuah kesenangan tapi bagi Sagara merupakan kebodohan belaka.
Tapi untung saja Sagara memiliki saudara yang sangat pengertian, jadi disaat Sagara tidak mau diganggu mereka bisa mengerti dan memberikan waktu bagi Sagara untuk menanangkan diri.
*************************
Sarah masuk ke dalam kamar tamu dengan hati yang riang.
"Kak, kamu dari mana?" tanya Fayyola yang terbangun.
"Dari luar, seperti biasa," jawab Sarah lembut.
"Oh, ayo kita tidur," ucap Fayyola tertidur lagi.
Sedangkan Sarah terus memeluk selimut yang diberi oleh Sagara tadi.
"Astaghfirullah, kenapa aku kepikiran hal yang kotor ini? Tidak boleh, aku harus bisa fokus. Aku tidak boleh kalah oleh nafsuku sendiri," batin Sarah.
Walaupun mengagumi Sagara, tapi Sarah sadar jika hal itu adalah sesuatu yang tidak pantas dilakukan karena pikiran menjadi buyar.
"Aku harus fokus, tinggal 7 jus lagi aku berhasil. Mungkin ini cobaan dan ujian, di saat tinggal sedikit aku terjebak oleh cinta yang fana," batin Sarah.
Sarah memutuskan untuk tidak lagi memikirkan Sagara, walaupun hati mengagumi tapi pikirannya ingin difokuskan untuk hafalan saja.
"Aku tidak boleh mengecewakan kedua orang tuaku, semua sepupu - sepupu aku sudah hafal," batin Sarah.
__ADS_1
Keluarga Sarah memang semuanya sudah bisa hafal Al Qur'an. Jika menurut orang lain Sarah meripakan gadis hebat tetapi di dalam keluarganya dia yang paling tertinggal. Bahkan sepupunya yang baru kelas enam SD sudah ada yang hafal dengan lancar duluan.
Sarah bukan gadis cerdas, tapi dia selalu tekun dan tidak mau menyerah. Terkadang setelah hafal lalu lupa lagi tanpa rasa letih dia terus menghafalkan kembali.