CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 41


__ADS_3

Syadev tidak ingin saudara kembarnya itu membahas tentang Anggun lagi, baginya cukup sekali merasakan sakit saat melihat orang yang disukainya bersama pemuda lain.


"Aku tidak tahu ada hubungan apa antara Anggun dan Teguh, yang jelas saat itu aku merasa hancur sampai seluruh tubuhku ikut merasakan sakit. Lebih baik aku pura-pura melupakan dia saja, aku tidak ingin Kaysa melakukan sesuatu untuk memaksa Anggun menerimaku," batin Syadev meyakini keputusannya.


Syadev sangat mengenal saudara kembarnya, jika sudah menginginkan sesuatu bisa saja Kaysa melakukan segala cara yang di luar nalar.


Kali ini dia ingin memilih caranya sendiri. Bukan karena Syadev tidak mencintai Anggun lagi, tapi karena dia ingin mengistirahatkan sebentar perasaannya yang tengah terluka. Dia tahu jika cinta butuh pengorbanan dan perjuangan.


Apalagi Syadev yang hampir mengalami kematian pasti akan lebih berusaha untuk memperbaiki diri di kehidupan yang kedua.


Di sini, Syadev berharap bisa memulai hidup baru dan fokus menatap masa depan. Di masa yang akan datang, saat dia sudah dewasa dan siap menikah barulah dia akan menemui Anggun lagi.


Kaysa hanya diam saja. Antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang barusan Syadev ucapkan.


"Masa iya Syadev lupa ingatan, tapi dia bisa ingat tentang aku. Pernah dengar sih ada Amnesia yang hanya sebagian saja. Sudahlah, yang terpenting Syadev bisa sembuh saja sudah syukur," batin Kaysa mengabaikan pikirannya sendiri.


Syadev sudah menghabiskan makanannya, kini giliran Alarik yang hendak menyuapi Kaysa.


"Ayo makan," ucap Alarik lembut.


Kaysa dengan senang hati membuka mulutnya, untuk pertama kalinya gadis itu bisa tersenyum riang. Membuat Alarik juga merasa bahagia.


"Nanti setelah aku tidak ada, kamu harus bisa bersikap baik. Jangan cari masalah ya!" perintah Syadev.


"Tenang, aku bukan anak kecil lagi. Kamu lupa sebentar lagi aku akan menikah?" tanya Kaysa memastikan.


Syadev sebenarnya masih ingat, tapi untuk meyakinkan saudaranya dia terpaksa berakting lagi.


"Menikah? Dengan siapa?" tanya Syadev pura-pura terkejut.


"Jadi kamu beneran lupa?" pekik Kaysa.


"Aduh, kepalaku sakit," ucap Syadev memegang kepalanya dengan tangan kanan.


Alarik hanya menahan tawa, pemuda itu tahu jika Syadev tidak mengalami Amnesia. Kali ini Kakak yang tampan itu memihak pada Syadev.


"Jangan mengingat-ingat lagi! Nanti kepalamu semakin sakit," tutur Alarik sambil menyuapi Kaysa.


Kaysa menghela napas berat, rasanya sakit sekali melihat saudaranya yang kehilangan sebagian ingatannya.


Andai waktu bisa di ulang, ingin rasanya Kaysa saat itu menggantikan Alarik kecelakaan.


"Kamu mikir apa?" tanya Alarik lembut.


"Tidak apa-apa, Kak," jawab Kaysa tergagap.


Kini di dalam ruangan itu hanya ada kebisuan, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Kak Syadev, nanti kalau Flora rindu sama Kakak bagaimana?" tanya Flora tiba-tiba.


"Nanti bisa video call, lagi pula pasti Ayah dan Bunda juga akan sering mengajak kamu ke sini," hibur Syadev tersenyum ramah.


Sebenarnya Syadev berat juga berpisah dengan saudaranya, sebab selama ini keluarga Syaqi Malik sering melakukan kegiatan bersama-sama. Mereka adalah keluarga harmonis yang dipenuhi kasih sayang. Setiap orang yang melihat pasti langsung merasa iri.


"Nanti pukul dua siap-siap ya!" ucap Syauqi yang baru masuk ke ruangan bersama Zhia.


"Ayah ini! Seperti tidak sabar menyuruh aku pulang," ucap Kaysa tak rela.


"Anak nakal! Mana mungkin Ayah seperti itu, Ayah juga sedih berpisah denganmu dan Flora. Do'akan Syadev cepat sembuh ya? Nanti Ayah dan Bunda cepat pulang," jawab Syauqi tersenyum hangat.

__ADS_1


"Kaysa, jaga adik kamu baik-baik ya? Jangan ditinggal keluyuran saja. Lebih baik fokus belajar sebentar lagi kamu ujian," timpal Zhia penuh kasih.


Kaysa semakin memerah matanya, jiwa manjanya sebagai Tuan Putri mulai kumat.


Syauqi dan Zhia tidak tega kalau Putri sulung mereka sudah begini, tapi mau bagaimana lagi, Syadev lebih membutuhkan mereka sebab tengah terluka.


"Boleh Kaysa memeluk Ayah dan Bunda?" pinta Kaysa manja.


Syauqi dan Zhia langsung memeluk Kaysa dengan erat, bahkan Zhia sampai berlinang air matanya.


Alarik hanya tersenyum melihat tingkah Kaysa yang seperti anak bayi ini, jiwa lelakinya memberontak ingin ikut memeluk gadis itu. Tapi ditahan, sebab sekarang mereka sudah bukan kakak adik lagi.


"Kaysa, Kamu ini sudah besar. Flora saja bisa tegar kok," ujar Alarik lembut.


Kaysa hanya melirik Alarik tanda kesal, tapi ekspresi itu justru terlihat menggemaskan.


Tepat pukul dua siang Syauqi mengantar anak-anaknya sampai bandara. Zhao sengaja tidak ikut, sebab Bunda cantik itu tidak tahan melihat kepergian putri-putrinya. Terlebih lagi Zhia juga harus menunggu Syadev yang seorang diri di rumah sakit.


Kaysa masih saja merengek, membuat Syauqi merasa berat membiarkan putrinya naik pesawat.


"Apa kamu juga mau pindah sekolah di sini saja bersama Syadev?" ucap Syauqi yang runtuh hatinya.


Kaysa memikirkan sesuatu, tapi ketika melihat wajah Alarik yang seketika berubah murung membuat Kaysa tidak tega juga.


"Tidak, Ayah. Kaysa mau tetap sekolah di Indonesia," jawab Kaysa lirih.


"Belajarlah jadi dewasa ya? Kelak setelah menikah kamu juga akan pindah dan tinggal bersama suami kamu," tutur Syauqi lembut.


Kaysa mencoba tersenyum, agar Ayahnya tidak khawatir lagi.


"Ayah, kami pulang dulu ya?" ucap Alarik dengan hormat.


Alarik segera memeluk Ayahnya, begitu juga dengan Kaysa dan Flora.


Syauqi hanya bisa melepaskan anak-anaknya dengan senyum ketegaran, setelah punggun ketiga anak itu tidak terlihat dari pandangannya, barulah Syauqi meneteskan air matanya.


"Aku yang dulunya Angkuh dan dingin kini bisa dengan mudah menangis karena istri dan anak-anak."


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Rupanya Di bandara Indonesia Elly dan Zahra sudah menunggu. Kaysa langsung memeluk Zahra, sepupu sekaligus sahabatnya.


"Kalian sehat-sehat saja kan?" tanya Elly.


"Sehat, Tante," jawab Alarik, Kaysa dan Flora bersamaan.


"Ayo kita segera pulang," ajak Elly bersemangat.


"Tan, aku dan Flora pulang dulu ke rumah mengambil pakaian ya?" pinta Kaysa.


"Tidak perlu, pelayan kamu dan Flora sudah mengirimnya ke rumah Tante. Bahkan sudah ditata rapi di kamar yang sudah Tante sediakan," jawab Elly.


"Kalo gitu aku ambil mobil dulu, besok mulai sekolah," pinta Kaysa lagi.


"Mulai besok kamu tidak diizinkan bawa mobil sendiri, apa yang telah terjadi pada Syadev merupakan pukulan berat bagi Ayahmu," jawab Elly tegas. Wanita itu tidak ingin kejadian yang sama terulang pada Kaysa, apalagi saudara kembar Syadev itu sering ketahuan kebut-kebutan.


Kaysa hanya diam dan kecewa. Alarik yang berdiri di sampingnya itu tersenyum sambil mengelus kepala Kaysa penuh kasih sayang.


"Ini yang terbaik, jangan mengeluh lagi! Buatlah kedua orang tua kita merasa tenang di sana. Beban pikiran mereka sudah banyak," bujuk Alarik lembut.

__ADS_1


"Iyalah," jawab Kaysa setengah terpaksa.


Alarik hanya tertawa karena telah membuat Kaysa jadi anak yang patuh.


"Alarik, sebelum kamu kembali sebaiknya istirahat di rumah Tante dulu ya?" pinta Elly.


"Iya, Tante. Aku pulangnya besok pagi," jawab Alarik santai. Pemuda itu ,emang masih merasa lelah, terlebih ingin bersama Kaysa untuk beberapa saat.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Kaysa mengakui jika pelayan pribadinya itu bisa diandalkan. Buktinya bisa hafal barang-barang apa saja yang Kaysa butuhkan. Semua sudah ada di dalam kamar sementaranya.


"Apa ada yang kurang?" tanya Elly perhatian.


"Tidak, Tante," jawab Kaysa riang.


"Kalau begitu Tante kembali ke butik dulu ya? Kamu segeralah istirahat," ucap Elly berlalu pergi.


Kaysa segera ikut keluar menuju kamar sampingnya, ternyata adik perempuannya sudah tertidur. Kayaa segera menutupi adiknya dengan selimut dan mencium kening Flora.


"Tanpa Syadev terasa ada yang kurang, aku benar-benar merindukan saat kami bertengkar bersama," batin Kaysa pilu.


Alarik kemudian ikut masuk, pemuda itu cemas melihat wajah murung Kaysa.


"Kenapa bersedih?" bisik Alarik agar tak membangunkan Flora.


Kaysa langsung menarik lengan calon suaminya keluar dari kamar.


"SKincare aku habis," jawab Kaysa asal-asalan, dia tidak ingin menjatuhkan harga dirinya jika dia sedang merindukan Syadev.


Alarik tertawa, pemuda itu tahu jika Kaysa sedang berbohong.


"Skincare aku memang habis kok," timpal Kaysa merengut.


"Iya, nanti Kak Al belikan ya?" bujuk Alarik ramah.


Kaysa langsung memeluk Alarik erat, gadis itu muncul lagi sikap manjanya.


"Kak Al juga akan pergi," rengek Kaysa.


"Aku ini pergi bekerja, bukan karena mau mati," goda Alarik.


"Kak Al jangan bilang begitu!" jawab Kaysa kesal, dia teringat saat Syadev terbaring lemah dan koma. Saat itu perasaan takut kehilangan Syadev serasa mencabuti seluruh jiwa Kaysa.


"Iya, Maaf. Sekarang kamu istirahatlah dulu! Kak juga mau tidur," ucap Alarik manis.


"Siap," jawab Kaysa sambil melepaskan pelukannya kemudian mencium pipi Alarik dan berlalu pergi ke kamarnya sendiri.


Alarik hanya senyum-senyum sendiri seperti orang gila, kemudian masuk ke kamarnya.


Kaysa merebahkan tubuhnya yang lelah, ketika matanya hampir terpejam tiba-tiba saja Zahra masuk bersama Anggun.


"Bagaimana keadaan Syadev?" tanya Anggun tiba-tiba, membuat Kaysa terkejut.


Kaysa tidak tahu harus menjawab bagaimana, sebab kini Syadev sudah tidak mengingatnya lagi.


"Jujur apa bohong ya? Harus bagaimana ini?" batin Kaysa bimbang.


Maaf ya, hari ini Author benar-benar terpuruk jadi tidak bisa ngetik😭😭 Tadi ada orang jahat yang memposting di grub FB yang menuduh lima novel di Mangatoon adalah hasil plagiat. salah satunya novel aku yang berjudul SCORPIO. Tapi Alhamdulillah sama Admin sudah di cek ternyata itu kabar hoax dan di grub itu sudah di klarifikasi kalau SCORPIO asli karya Author sendiri. Mohon bantuannya ya Readers, tolong beri rating lima pada Novel Scorpio, sebab tadi anjlok drastis dan membuat aku sedih banget...😭😭😭 semoga dengan bantuan kalian semua bisa naik lagi seperti semula. Terima kasih banyakπŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2