
Rupanya kebahagiaan malam ini tak hanya milik Nindya dan Dony.
Namun berbeda dengan mereka yang melangsungkan pernikahan dengan segala kemewahan dan keramaian, Rendra dan Nayla mengucapkan janji suci hanya di depan penghulu dan beberapa saksi.
Rendra juga belum memberi tahu pada keluarganya, karena dia ingin memberi kejutan pada Mama dan putrinya ketika pulang ke Indonesia,
"Maafkan aku, karena pernikahan kita hanya sederhana seperti ini. Tapi aku janji! ketika kita sudah di Indonesia kita bisa merayakannya." bisik Rendra pada Nayla.
"Tidak papa, Mas Rendra. Yang terpenting saat ini kita sudah menikah walau belum tercacat di negara, setidaknya kita bebas dari dosa saat kita berduaan seperti ini," jawab Nayla tenang.
Setelah pernikahan siri itu, Rendra membawa Nayla ke apartementnya.
Dia tahu jika Nayla belum sepenuhnya mencintai dia, dia juga tahu kondisi Nayla yang masih sakit. Jadi dia ingin memberi waktu pada Nayla supaya bisa beradaptasi dulu dengan dirinya, karena mereka juga belum lama saling mengenal,
"Nayla, meskipun kamu sekarang menjadi istriku, aku tak akan memaksamu untuk melakukan kewajibanmu, yang terpenting kamu fokus pada kesembuhanmu dulu. Tugas masak dan yang lainnya biar aku yang melakukannya," kata Rendra pengertian.
Rendra memang lelaki mandiri, karena sudah bertahun-tahun dia menduda dan terbiasa mengurus diri sendiri juga mengurus anaknya.
Nayla merasa malu sendiri, karena sebenarnya dari tadi di balik sikap tenangnya tersimpan kekhawatiran, bagaimanapun juga ini adalah malam pertama mereka.
Dia bersyukur, memiliki suami pengertian dan mau menerima dia apa adanya. Dia tahu jika Rendra bisa membuat dia bahagia.
"Apa yang kamu pikirkan? kenapa dari tadi hanya melamun saja?" tegur Rendra halus, dia tahu jika istrinya merasa canggung.
"Tidak, aku hanya merasa lapar saja. Sebaiknya aku menyiapkan makan malam dulu," jawab Nayla menguasai dirinya.
Nayla berdiri menggunakan tongkatnya, namun ketika dia mencoba melangkah, Rendra sudah menggendong dirinya dan meletakan tubuhnya di ranjang,
"Bukankah tadi sudah ku bilang? untuk saat ini fokus dengan kesembuhan kamu dulu! biar aku yang menyiapkannya," kata Rendra lembut.
"Apa kamu bisa memasak,Mas Rendra?" Nayla merasa cemas meragukan suaminya.
"Tunggulah! nanti kamu akan tahu jawabannya," kata Rendra berlalu pergi.
Rendra memang tak sehebat koki handal, tapi dia cukup tahu bagaimana cara memasak.
Tak butuh waktu lama akhirnya dia selesai juga, dia segera membantu istrinya untuk ke ruang makan.
"Bagaimana rasanya?" tanya Rendra.
"Enak! aku tak menyangka, ternyata Mas Rendra jago masak," puji Nayla jujur.
__ADS_1
Selesai memasak Rendra membantu Nayla untuk ke kamar tidurnya, dia tak mengizinkan istrinya membereskan meja makan.
Di dalam kamar Nayla merasa panas dingin,
"Kenapa aku merasa deg-degan begini? padahal tadi mas Rendra bilang tidak akan memintaku untuk melakukan itu dulu" batin Nayla yang sedari tadi membolak-balikkan badan.
Sedangkan Rendra masih sibuk mencuci piring dan alat bekas masak tadi, dia tersenyum-senyum sendiri.
Rendra merasa ini hanyalah sebuah mimpi, karena setelah bertahun-tahun menjadi duda akhirnya dia memiliki seorang istri.
Selama ini bukannya dia tidak laku, sebenarnya banyak wanita yang mengejar-ngejar dia, namun Rendra sama sekali tidak tertarik. Berbeda dengan Nayla yang baru ditemuinya, mendengar gadis itu terluka dia juga merasakan sakit, dan saat melihat Nayla lemah tak berdaya dia merasa ingin selalu melindunginya.
Selesai dengan tugasnya, Rendra segera mandi.
Nayla yang dari tadi belum bisa tidur semakin gelisah mendengar suara gemericik air di kamar mandi,
"Apa yang harus kulakukan? bukankah mas Rendra hanya mandi? kenapa aku menjadi malu seperti ini?" batin Nayla yang bersembunyi dibalik selimut.
Beberapa menit kemudian Rendra keluar dari kamar mandi, dia bisa melihat istrinya yang masih bergerak-gerak, dia tahu, pasti istrinya sedang gelisah,
"Nayla, kenapa kamu bersembunyi? kamu jangan takut! aku tak akan memperkosamu" goda Rendra.
Nayla memberanikan diri untuk membuka selimutnya, dia terkejut melihat tubuh indah suaminya yang hanya memakai handuk sepinggang.
Melihat Nayla yang malu, Rendra malah semakin mendekati istrinya dan masuk ke dalam selimut, dia sengaja memeluk dari belakang.
"Mas Rendra! katanya tidak mau memaksaku dulu?" protes Nayla.
"Aku memang tidak ingin memaksamu untuk melakukan itu dulu, tapi kalau aku memeluk atau menciummu tidak masalah kan?" goda Rendra semakin erat memeluk istrinya.
Nayla merasa punggungnya sangat panas karena menempel dada bidang milik suaminya,
"Baiklah! tapi pakai baju baju dulu! " kata Nayla setengah berteriak karena malu.
Kalau harus jujur sebenarnya Rendra juga merindukan melakukan hubungan suami-istri, tetapi kali ini dia ingin bersabar dulu menunggu istrinya sembuh, dia juga tak ingin membuat Nayla tertekan.
Rendra segera bangkit, dia memakai celana pendek dan kaos santai.
Setelah berpakaian Rendra menarik selimut istrinya,
"Aku tahu, jika kamu sebenarnya tidak bisa tidur kan? bagaimana kalau sekarang gantian kamu yang menceritakan tentang dirimu! aku kan sudah pernah menceritakan tentang diriku saat di rumah sakit," bujuk Rendra menenangkan Nayla yang gelisah.
__ADS_1
"Tidak mau! masa laluku sangat buruk, aku saja merasa malu untuk mengingatnya," tolak Nayla tegas.
"Sebagai suamimu, aku juga ingin mengenal lebih dekat dengan istriku. Baiklah! kalau kamu tidak mau bercerita, aku akan menarik kata-kataku tadi!" ancam Rendra dengan tatapan menggoda.
Rendra memajukan tubuhnya dan bersiap untuk mencium istrinya, namun Nayla menahan dada suaminya,
"Oke-oke, aku akan cerita sekarang juga," kata Nayla menahan nafas.
Rendra tersenyum senang, karena Nayla yang selama ini selalu percaya diri bisa memerah wajahnya saat digoda.
Rendra segera berbaring disamping Nayla dan tangannya juga memeluk perut Nayla.
Nayla sebenarnya merasa geli, tapi dia takut jika dia menolaknya maka suaminya pasti akan semakin menggodanya lebih jauh lagi,
" Sejak SMA aku ikut nenek dan kakekku, aku adalah cucu satu-satunya jadi aku sangat dimanjakan. Tapi perlakuan mereka yang berlebihan membuat aku menjadi gadis yang nakal, setiap malam aku ke Club, aku minum, bahkan aku juga pernah kecanduan narkoba. Tak hanya itu, aku sering tawuran dan ikut balapan liar. Setelah kuliah aku bertemu Iyas dan Zhia, mereka membuat aku sadar dan berubah menjadi seperti ini," kata Nayla menertawai diri sendiri.
"Wah! tidak ku sangka istriku pernah nakal juga. Sepertinya duniamu hebat sekali, aku saja sebagai lelaki sejak kecil justru jarang bergaul dengan teman. Aku selalu fokus belajar supaya mendapat nilai sempurna," kata Rendra berdecak kagum.
Namun Nayla langsung memiringkan tubuhnya dan menghadap kearah suaminya,
"Menyindir aku kan? iyakan? jujur saja! kamu ingin membanding-bandingkan masa muda kita," Sergah Nayla cemberut.
Meskipun Nayla berubah menjadi wanita yang baik, namun sifat alami yang sudah ada dari lahir tetap sama, yaitu manja, tidak suka ditindas dan banyak bicara.
Namun Rendra yang seorang lelaki dewasa justru menganggap istrinya imut dan lucu. Tanpa sadar dia mencium bibir Nayla yang masih rewel.
Nayla terdiam, dia merasa tubuhnya merinding karena sensasi dari ciuman suaminya,
"Hebat juga ciumannya, kenapa harus gengsi? diakan suamiku?" batin Nayla yang sudah terangsang. Dia membalas ciuman Rendra dengan penuh gairah dan sangat agresif.
Rendra sangat menikmati permainan istrinya.
Nayla bukanlah gadis polos, semasa kuliah dia pernah pacaran, ciuman dan pelukan adalah hal yang wajar.
Namun dia merasa bersyukur, setidaknya dia masih menjaga keperawanannya sehingga dia tidak merasa minder dengan suaminya.
"Istriku yang nakal ternyata sudah berpengalaman ya?" goda Rendra.
Nayla segera menyembunyikan kepalanya dibawah selimut.
Rendra tak bisa menahan tertawanya.
__ADS_1
* Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya, jangan lupa like, vote dan beri rating bintang 5. Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Authoor.
Mohon kritik dan sarannya juga, semoga kedepannya novel ini bisa lebih baik🙏*