CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 73


__ADS_3

Kaysa tahu jika di depan Universitas ada sebuah toko besar. Biasanya di setiap toko akan ada CCTV.


“Ayo kita pindah lihat CCTV di toko itu,” ajak Kaysa.


“Tapi kan gak bisa menembus sampai parkiran kameranya,” sela Zahra.


“Iya, palingan yang terlihat hanya sampai pintu gerbang saja,” timpal Alifya.


Meskipun yang lainnya merasa percuma tapi mereka tetap saja mengikuti langkah Kaysa. Untuk sampai ke toko mereka harus menyeberang jalan raya terlebih dahulu.


Kaysa langsung saja masuk tanpa rasa takut, dia meminta pada penjaga kasir untuk bertemu dengan pemilik toko.


“Ada yang bisa dibantu?” tanya pemilik toko ramah, usia ibu itu sekitar lima puluh ke atas.


“Kedatangan saya ke sini mau meminta izin melihat rekaman CCTV tadi siang, sebab ada orang jahat yang merusak motor teman saya. Namun meskipun penjahat itu menutupi kamera CCTV saat kejadian berlangsung, tapi setelah itu saat mereka keluar dari gerbang pasti akan terlihat dari CCTV depan toko Anda. Saya hanya perlu mencocokkan waktunya saja dengan rekaman yang ada di ponsel ini,” kata Kaysa panjang lebar.


“Wah pemikiranmu sungguh cerdik sekali, Nak. Mari menuju ruangan saya,” jawab Ibu pemilik toko dengan senang hati.


Alifya, Zahra dan Rahma yang juga mendengarkan penjelasan Kaysa ikut terpana, sebab mereka tidak kepikiran sampai di situ. Siapa di sangka jika video buram itu malah bisa dijadikan bukti.


Di layar televisi pemilik toko, pada waktu sebelum beraksi ada satu mobil milik rektor dan dua motor pemuda yang keluar gerbang. Salah satu pemilik motor tersebut adalah Mahen.


“Aku yakin Kak Mahen tidak melakukan perbuat tercela itu,” ujar Zahra Yakin.


“Kamu ini kenapa? Di sini tidak ada yang menuduh Mahen. Lagi pula kejadian CCTV yang di tutup masih lima menit lagi,” sindir Kaysa.


Zahra langsung terdiam begitu mendapat tatapan dari yang lainnya. Kekasih Darren itu juga tidak tahu kenapa dengan spontan mengucapkan kata-kata tadi.


Kaysa sendiri fokus lagi menatap layar video, karena tidak sabar dia mempercepat durasinya. Dua menit setelah CCTV pada parkiran Universitas normal, dari CCTV depan toko terlihat mobil merah yang keluar dari pintu gerbang. Walaupun tidak begitu jelas tapi Rahma sudah bisa mengenali jika mobil tersebut.


“Ini mobil Qila, pasti dia dendam sama aku,” pekik Rahma.


“Baik, sekarang kita sudah punya bukti. Ayo segera laporkan pada polisi saja,” saran Kaysa.


“Apa tidak kasihan?” tanya Alifya.


“Kita hanya menggertak saja, kalau tidak diberi pelajaran dia akan seenaknya sendiri mengganggu orang lain,” jawab Kaysa tanpa ragu.


“Jangan melaporkan kepolisi dulu deh, nanti tambah runyam. Lebih baik kita mendatangi langsung saja ke rumah Qila,” saran Zahra.


“Ih malas banget kalau di suruh ke sana. Lagi pula ini sudah mau sore. Nanti aku dicariin keluarga aku. Sebaiknya gantian aku terrorism saja," balas Kaysa.


"Terror bagaimana?" tanya Rahma penasaran.


"Kamu punya nomor ponsel Qila?" tanya Kaysa.


"Sepertinya aku punya," ucap Rahma mengecek ponselnya.


"Kita kembali ke mobilku dulu, ponselku tertinggal di sana," kata Kaysa.


Mereka segera berpamitan pada pemilik toko, sebelum itu Kaysa sempat merekam video tadi.


Sesampainya di dalam mobil Kaysa langsung panik begitu melihat ada panggilan yang tak terjawab dari suaminya. Dengan cepat dia segera menelepon Alarik kembali.


"Assalamu'alaikum," sapa Kaysa manis.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam," jawab Alarik dengan nada biasa.


"Masih di kantor, Suamiku?" tanya Kaysa penasaran.


"Wah manis sekali, aku jadi senang jika setiap hari memanggilku seperti ini," goda Alarik.


"Pertanyaanku belum dijawab," rengek Kaysa.


"Aku lagi mau pulang ini, kenapa?" tanya Alarik lagi.


"Tidak apa-apa. Kapan kita kembali ke rumah?" tanya Kaysa manja.


"Kenapa tiba-tiba minta segera pulang? Apa di rumah Ayah dan Bunda tidak merasa bebas?" goda Alarik.


"Apaan, aku hanya bertanya saja," jawab Kaysa memerah.


Alifya, Rahma dan Zahra yang secara lamat-lamat mendengar percakapan Kaysa di telepon jadi ikutan senyum-senyum sendiri. Mereka tahu dengan jelas apa yang dimaksud sepasang suami istri tersebut.


Kaysa malu juga ditertawakan mereka, dia segera berpamitan dan berniat menuju bengkel.


"Yasudah bantu Ayah kerja dulu sana! Tidak usah buru-buru pulang, Assalamu'alaikum."


Kaysa menutup sambungan telepon dan mengajak mereka masuk ke dalam mobil.


"Kaysa bagaimana rasanya menikah?" tanya Zahra yang duduk di sampingnya.


"Ya senang, apa kamu juga pengen?" goda Kaysa.


"Aku masih kecil," jawab Zahra spontan.


"Darren saja juga masih kuliah di luar negeri," jawab Zahra malu-malu.


"Seandainya kamu di kamar pemuda lain bagaimana? Contohnya Mahen?" tanya Kaysa serius.


"Ngomong apa sih? Jangan bercanda deh," elak Zahra.


"Aku kan cuma bilang seandainya saja, kenapa kamu berlebihan sekali menanggapinya?" balas Kaysa sewot.


Zahra hanya diam saja, tapi dalam kediamannya berharap semoga cinta dia dan Darren bisa langgeng. Sebab dia mencintai pemuda itu dari kecil.


Rahma dan Alifya yang duduk di belakang hanya menyimak saja, sebab mereka juga belum pernah pacaran dan hanya sibuk belajar.


"Zahra, cepat kamu kirim kedua video tadi ke ponselku!" perintah Kaysa.


"Iya," jawab Zahra tanpa bertanya apa-apa.


"Rahma, kamu juga segera kirim nomor Qila!" perintah Kaysa.


Setelah semuanya berhasil terkirim, Kaysa menepikan mobilnya dan menelepon nomor Qila. Tak butuh waktu lama teleponnya sudah langsung tersambung.


"Siapa ini?" tanya Qila, sebab pada ponselnya belum ada nomor Kaysa.


Kaysa sengaja menyalakan speakernya agar yang lainnya juga mendengar.


"Aku Kaysa, orang yang tadi pagi sudah menghajar kakak kamu di kampus!" jawab Kaysa tegas.

__ADS_1


"Aku tidak kenal denganmu! Ada urusan apa kamu meneleponku?" tanya Qila ketus.


"Datanglah ke bengkel Armada dalam waktu lima belas menit, kalau tidak kamu akan menyesal!" ancam Kaysa langsung memutus teleponnya.


Setelah itu Kaysa mengirim dua video yang tadi direkamnya.


Saat Kaysa ingin menyalakan mobilnya kembali tiba-tiba ponselnya berbunyi.


"Apa maksud kamu meminta aku ke bengkel dan kamu mengirimkan aku video tak jelas ini,?" bentak Qila.


"Kamu ini bodoh apa pura-pura bodoh, dari hasil video tersebut jika waktunya dicocokkan maka bisa tertebak siapa yang sudah merusak motor Rahma. Kalau kamu tidak ingin aku laporkan ke polisi sebaiknya segera ke bengkel! Aku akan menunggumu di sana. Telat satu detik saja maka video itu langsung aku kirim ke polisi!" ancam Kaysa mematikan ponselnya.


Kaysa segera melajukan mobilnya menuju bengkel.


Alarik sendiri masih kesal saat sambungan teleponnya tadi di putus secara tiba-tiba. pemuda itu penasaran apa yang akan dilakukan istrinya tersebut. Diam-diam Alarik membuntuti mobil yang dikendarai istrinya dari belakang.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Syadev sudah mulai bekerja di sebuah perusahaan yang besar di Amerika. Dia sepulang kuliah langsung berangkat ke kantor. Pulangnya biasanya dijemput oleh Darren.


Syadev terkadang merasa lelah juga, lelah badan juga lelah pikiran. Kini dia sadar betapa hebatnya Ayahnya yang selama ini memimpin banyak perusahaan tanpa melalaikan kewajiban untuk memberi kasih sayang pada keluarganya.


"Ayah, aku semakin kagum padamu. Perjuanganmu selama ini untuk membahagiakan keluarga sangat besar sekali. Apalagi Ayah harus bersabar menghadapi kenalan aku dan Kaysa. Sungguh tidak pantas bagiku saat ini untuk mengeluh."


Syadev segera menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Walaupun dia anak yang cerdas tapi dia juga tetap butuh beradaptasi dengan pekerjaan yang baru saja diterjuni.


Walaupun sejujurnya Syadev termasuk anak yang mudah bosan, tapi dia juga sadar jika nanti setelah dia mengambil alih perusahaan maka pekerjaannya akan semakin rumit.


"Syadev, bagaimana pekerjaan kamu? Lancarkah?" tanya Inge yang tiba-tiba sudah berada di samping Syadev.


"Lancar, tapi aku masih harus mempelajari lagi. Karena di sini semua memakai bahasa Inggris," jawab Syadev jujur.


Biarpun Syadev sudah mahir berbahasa Inggris nyatanya dia tetap ada beberapa kata yang masih belum dipahami.


"Pelan-pelan, nanti kamu juga terbiasa," jawab Inge memberi semangat.


"Iya, terima kasih. kenapa kamu malam-malam disini?" tanya Syadev.


"Mau mengajak Ayah makan malam," jawab Inge tersenyum manis.


"Silahkan! Aku mau melanjutkan pekerjaan lagi," jawab Syadev ramah.


Syadev kini juga sudah berusaha bersikap ramah dan tersenyum. Sebab jika di tempat kerja dia bersikap cuek dan dingin maka teman-teman yang lainnya akan membencinya. Berbeda dengan saat di sekolah, dia bisa bersikap semaunya sendiri.


Tak berapa lama kemudian Inge dan Papanya berjalan melewati Syadev, lelaki setengah baya itu hanya menata Syadev sekilas kemudian berlalu pergi begitu saja.


"Semoga papanya Inge tidak mengenaliku, sebab terakhir kita bertemu saat aku SMP. Itupun dulu aku berambut pirang dan gondrong."


Syadev yakin jika Bos barunya tersebut tidak mengenalinya, seandainya dia mengenali pasti langsung akan menyambut Syadev dengan baik.


Tiba-tiba datang seorang lelaki yang memiliki jabatan lebih tinggi dari Syadev. Dengan bahasa Inggris dia meminta Syadev menemui seseorang utusan dari perusahaan indonesia untuk melakukan kerja sama.


Syadev menerima dengan senang hati. Sebab sebagai karyawan baru dia diberi kesempatan untuk membuktikan kelayakan diri di perusahaan tersebut. Jika bisa berhasil dia akan dipromosikan naik jabatan. Karena memang ada satu lowongan yang mencari


Namun alangkah terkejutnya jika besok siang yang akan ditemuinya adalah utusan dari perusahaan Ayahnya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa bisa kebetulan seperti ini?"


__ADS_2