CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Pembantu baru


__ADS_3

Zhia marah dengan suaminya, meskipun dia tahu niat Syauqi yang sebenarnya tapi Zhia tidak menerimanya.


Malam ini Zhia tidur memunggungi suaminya, saat dipanggil Syauqi dia juga tidak meresponnya.


"Sayang, aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya khawatir jika kamu terlalu cemas dan banyak kepikiran," ucap Syauqi lembut.


Zhia mulai berpikir, masalah tidak akan pernah selesai jika hanya diam saja.


"Mas, namanya seorang Ibu akan selalu menghawatirkan anaknya saat tidak di sisinya. Dan aku berhak tahu semua tentang anakku. Aku tidak mau jika Mas Syauqi menyembunyikan apapun dariku," ucap Zhia kesal.


Semarah-marahnya Zhia tetap nada suaranya lembut, hanya bedanya raut wajahnya cemberut. Namun Syauqi sudah merasa takut dan gelisah jika senyum di wajah istrinya menghilang.


"Iya... iya, Istriku sayang. Aku tidak akan mengulangi lagi. Maafkan aku ya? Jangan cemberut lagi, ayo senyum... senyum," bujuk Syauqi sambil menggelitik pinggang istrinya.


Zhia merasa kesal, tapi dia juga tidak bisa menahan rasa geli. Dia langsung berdiri dan menyerang balik suaminya.


Syauqi yang melihat istrinya sudah mulai mencair hatinya menjadi lega. Dia langsung mengecup lembut bibir istrinya yang manis.


Zhia masih merasa kesal, dia memalingkan wajahnya supaya suaminya tidak seenaknya sendiri.


Namun Syauqi tidak mau menyerah, dia mendekap tubuh istrinya sampai tidak bisa bergerak.


"Ayolah sayang, hujan yang deras seperti ini enaknya menghangatkan diri," rayu Syauqi.


"Tidak, aku masih marah padamu," jawab Zhia ketus.


"Marahnya dilanjutkan besok lagi, sekarang di pending dulu ya?" pinta Syauqi sambil melepaskan jilbab istrinya.


Zhia tetap menolak sedangkan Syauqi semakin memaksa. Akhirnya mereka berdua seperti kucing yang sedang bertengkar mesra.


Duarrrr...


Suara petir menyambar dengar keras. Beberapa detik kemudian pintu kamar digedor-gedor berulang kali.


Zhia tersenyum, akhirnya bisa lepas dari cengkeraman suaminya yang nafsunya sedang membara.


Syauqi segera turun dari ranjang dan membuka pintunya.


Kemudian muncul dua anak kembarnya yang menangis karena ketakutan.


"Ayah... aku takut," rengek Kaysa.


"Ayah, malam ini kita tidur sama Ayah, Bunda, ya?" pinta Syadev.


Syauqi tersenyum getir sambil mengandeng kedua tangan anak-anaknya.


"Sini kesayangan Bunda, jangan takut lagi!" ucap Zhia sambil memeluk kedua anaknya.


Akhirnya malam ini Syauqi harus mengalah demi kedua anaknya.


Zhia tersenyum mengejek ke arah suaminya.


"Ada saatnya keinginanmu tidak bisa kamu dapatkan, Mas."


***************************************


Pagi harinya mereka sudah terbangun, sholat subuh bersama dan melakukan aktifitas masing-masing.


Syauqi dan Zhia memanggil kedua pembantu mereka yang sudah usia lanjut.


"Terimakasih, Bik Mus, Bik Tri. Karena selama ini kalian sudah mengabdikan diri pada keluargaku. Aku sebenarnya merasa berat pisah dengan kalian, tapi di usia tua kalian sudah saatnya untuk istirahat. Ini adalah sejumlah uang untuk kalian berdua, gunakanlah untuk menyenangkan diri kalian sendiri karena selama ini sudah bekerja keras," ucap Syauqi yang matanya memerah.


Suasananya menjadi haru, Zhia tak bisa berkata-kata. Perempuan lembut itu juga hanya memeluk kedua pembantunya sambil terisak menangis.


Kaysa dan Syadev turun ke lantai bawah, mereka berdua sudah memakai seragam sekolah.

__ADS_1


"Ayah, kenapa semuanya menangis?" tanya Kaysa heran.


"Bik Mus dan Bik Tri sudah saatnya Istirahat, Sayang," ucap Syauqi.


"Jadi mereka tidak akan di sini lagi?" tanya Syadev,"


"Iya, tapi kita sewaktu-waktu bisa menengok ke rumah mereka," jawab Syauqi menenangkan ke dua anaknya.


Bik Mus dan Bik Tri bergantian memeluk Kaysa dan Syadev.


***********************************


Zhia duduk bersantai sambil menonton televisi. Tadi pagi sebelum suaminya berangkat bekerja dia sudah diwanti-wanti untuk tidak melakukan pekerjaan rumah kecuali memasak. Karena suaminya sudah menelpon jasa pembantu dari yayasan.


Pukul sembilan bel berbunyi, Zhia segera keluar dan menemui tamunya.


Berdiri seorang wanita cantik seusia Zhia, rambutnya pendek lurus dengan pakaian yang ketat.


"Selamat siang, benarkah ini kediaman Tuan Syauqi Malik?" tanya wanita itu tersenyum ramah.


"Iya, dan saya istrinya. Nama saya Zhia. Anda siapa dan ada keperluan apa?" ucap Zhia ramah.


"Nama saya Isti, saya adalah calon pembantu dari yayasan," jawab wanita yang bernama Isti.


"Baiklah, silahkan masuk," kata Zhia tersenyum riang.


"Terimakasih, Nyonya Zhia," jawab Isti.


Zhia mengantar pembantunya ke kamar bekas pembantu lamanya.


"Silahkan pilih kamar yang mana! Sekarang istirahat saja dulu, nanti dua jam lagi temui saya ya!" ucap Zhia ramah.


**********************************


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya Isti ramah.


"Tidak usah, pekerjaan kamu hanya membersihkan rumah, mencuci pakaian dan menggosoknya saja," ucap Zhia lembut.


"Iya, Nyonya," jawab Isti berlalu pergi.


Kaysa dan Syadev memasuki vila, dia terkejut dengan kedatangan orang baru.


"Anda siapa?" tanya Kaysa.


"Saya pembantu baru di sini, Nona. Nama kalian siapa anak manis?" tanya Isti mengakrabkan dirinya.


"Aku Kaysa, dia Syadev," jawab Kaysa berlalu pergi.


Zhia sudah menyelesaikan hidangannya di atas meja, dia segera memanggil ke dua anaknya yang baru saja sholat Dzuhur.


"Ayo makan dulu kesayangan Bunda!" ucap Zhia.


"Iya, Bunda," jawab Kaysa dan Syadev bersama.


Zhia merasa senang karena putrinya yang keras kepala menepati janjinya untuk memakai jilbab.


"Bunda, nanti malam tidak lupa kan ada acara ulang tahun di rumahnya Kak Zahra?" tanya Kaysa.


"Tidak lupa, tapi Bunda juga belum membeli kado. Bagaimana kalau nanti sore nunggu Ayah pulang ya?" bujuk Zhia.


"Iya, Bunda," jawab Kaysa.


Syadev hanya diam saja, dia tidak minat dengan hal seperti itu. Semuanya dia hanya menuruti keputusan kakaknya.


Selesai makan, ponsel Zhia berbunyi. Dia segera mengangkatnya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Mas Syauqi" sapa Zhia tersenyum manis.


"Wa'alaikum salam, anak-anak sudah pulang?" tanya Syauqi yang terlihat lelah dari layar ponsel.


"Sudah, baru saja selesai makan siang. Ada apa, Mas. Kenapa video call?" tanya Zhia penasaran.


"Tidak bolehkan aku merindukanmu?" ucap Syauqi yang sempat-sempatnya menggoda.


"Mas, ada anak-anak. Jangan seperti itu" protes Zhia menahan malu.


Syauqi tertawa, seketika rasa lelah dalam dirinya lenyap setelah melihat wajah cantik istrinya.


"Apa Ayah tidak merindukanku juga?" tanya Kaysa Manja, wajah mungilnya sudah menyembul di layar.


"Tentu saja, Ayah juga sangat merindukan Putri Ayah yang sangat cantik dan Putra Ayah yang sangat tampan," jawab Syauqi senang.


"Ayah kapan pulang? Kita belum membeli kado untuk Kak Zahra," rengek Kaysa.


"Baiklah, kalian siap-siap dulu! Ayah akan pulang sekarang juga," jawab Syauqi lembut.


"Ayah, aku juga pengen beli ponsel. Semua teman-teman Kaysa sudah punya," pinta Kaysa manja.


"Aku juga, Ayah," timpal Syadev yang tiba-tiba menempel pada kakaknya.


"Hey, jangan menggeser aku dong," teriak Kaysa pada Syadev.


"Aku tidak menggeser, Kaysa!" balas Syadev dingin.


"Kakak, panggil Kakak! Aku ini Kakakmu dek Syadev," bentak Kaysa.


"Tidak mau, kita hanya selisih lima menit," jawab Syadev santai.


"Kalau kalian berantem maka tidak akan mendapatkan ponsel yang kalian inginkan," ucap Syauqi menengahi pertengkaran kedua anaknya.


Sebenarnya Daddy tampan itu menahan tawa melihat tingkah lucu Syadev dan Kaysa. Yang satunya berteriak-teriak dan yang satunya dingin cuek.


"Mas Syauqi, mereka masih terlalu kecil untuk diberikan ponsel," protes Zhia.


"Tidak apa-apa, Istriku sayang. Yang terpenting mereka tetap disiplin dalam menjalankan kewajibannya," jawab Syauqi.


Zhia berpaling melihat wajah kedua anak kembarnya yang memohon dengan tatapan memelas, hatinya sebagai seorang Ibu luluh juga.


"Tapi janji, kalau sampai lupa sholat dan belajar nanti ponselnya Bunda sita!"ancam Zhia memberi peringatan.


Syadev dan Kaysa langsung memeluk Bundanya dengan erat.


"Loh, Ayah kok tidak dapat pelukan?" sindir Syauqi yang merasa iri.


"Makanya Ayah cepatlah pulang!" balas Kaysa.


Sejam kemudian Syauqi sudah sampai vila, hanya demi pelukan kedua anaknya dia sampai mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Ayah..." teriak Kaysa dan Syadev memeluk ayah mereka.


Zhia dan kedua anaknya sudah berdandan menghadiri pesta. Syauqi sangat terpesona melihat kecantikan istrinya yang tidak memudar meskipun sudah beranak dua.


"Ayo! Kita langsung berangkat," kata Syauqi.


Syauqi menggiring keluarga kecilnya untuk masuk ke mobil.


Dari kejauhan, terlihat dua pasang mata yang menatap dengan iri.


Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like, Vote dan beri rating Bintang 5 ya🙏 Karena dukungan dari kalian semua sangat berarti bagi Author.


Mohon kritik dan sarannya juga, semoga Novel CINTA YANG TERPAKSA bisa berkembang lebih baik🤗

__ADS_1


__ADS_2