CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 119


__ADS_3

Syauqi masih berpikir keras untuk memberikan nama yang menurutnya cocok untuk cucu pertamanya.


Zhia dan Alarik hanya diam saja menantikan Syauqi membuka mulutnya.


"Arkananta, aku ingin cucuku diberi nama Arkananta Malik. Kamu tidak keberatan kan jika nama akhirnya dari keluarga Malik?" tanya Syauqi.


"Tidak Ayah, aku justru senang. Apalagi sejak kecil aku juga memakai nama belakang Malik," jawab Alarik.


"Nama yang bagus," puji Zhia ikutan senang.


Malam semakin larut, para kerabat ada yang mulai berpamitan pulang.


"Syauqi, sebaiknya bawa istrimu pulang istirahat. Biar aku dan Tia yang menemani Alarik," kata Rian serius.


"Iya, Mas Ria," jawab Syauqi menurut.


Walaupun sebenarnya Syauqi belum mengobrol dengan Kaysa yang masih tertidur tapi dia juga khawatir dengan kondisi istrinya.


"Zhia, mari kita pulang ke rumah Alarik. Besok pagi kita bisa datang ke sini lagi," ajak Syauqi.


"Flora, Isnaini dan Alifya juga sebaiknya ikut kami ya?" kata Zhia lembut.


Ketiga gadis tersebut tidak berani menolak permintaan Zhia.


"Iya, semuanya bisa ikut pulang," kata Rian.


Akhirnya di sana hanya tinggal Alarik, Rian dan Tia saja.


Tiba - tiba ponsel milik Alarik berdering, rupanya ada panggilan video masuk dari nomor Syadev.


Setelah panggilan diterima langsung muncul gambar Syadev dan Anggun.


"Kak, katanya Kaysa sudah melahirkan?" tanya Syadev.


"Alhamdulillah sudah, bayinya laki - laki," jawab Alarik.


"Alhamdulillah, namanya siapa? Dan dimana Kaysa?" timpal Anggun yang perutnya kini juga sudah membesar.


"Arkananta Malik, yang memberi nama Ayah sendiri," jawab Alarik senang.


Alarik segera mengarahkan kamera belakangnya pada Kaysa yang masih tertidur serta putra lelakinya dari jendela pintu.


"Bayinya kurang terlihat jelas," protes Syadev.


"Belum diizinkan menemui secara langsung, apalagi melahirkan prematur," jawab Alarik.


"Yang terpenting sehat," jawab Syadev.


"Aku jadi tidak sabar ingin pulang ke Indonesia," sela Anggun.


"Makanya suruh suamimu untuk segera menyelesaikan pendidikannya," sindir Alarik.


Syadev tertawa, sebab perjuangannya sangat berat sekali kuliah tapi dalam waktu singkat. Sebab pelajaran yang harus dia pahami berlipat - lipat dibanding lainnya. Untung saja otak jeniusnya bisa menampung memori yang banyak.


"Aku mungkin sekitar enam bulan lagi baru bisa pulang," kata Syadev.


"Berarti setelah Anggun lahiran. Bagaimana? Sudah di USG belum, bayinya laki - laki atau perempuan?" tanya Alarik tak kalah semangat.

__ADS_1


"Belum tahu, bukankah Kaysa dan Anggun sepakat tidak mau melihat jenis kelamin terlebih dahulu? Katanya biar surprise gitu," jawab Syadev.


Alarik kembali tertawa, sebab memang menjadi kejutan jika selama hamil janinnya tidak diperiksa jenis kelaminnya. Jadi selama proses lahiran dalam hati bertanya - tanya apakan nanti seorang putra atau putri?


"Syadev, kamu harus lebih semangat belajar lagi. Biar bisa cepat pulang!" tutur Alarik.


"Iya, Kak Al," jawab Syadev patuh.


"Aku seperti melihat Paman dan Bibi Tia di belakang Kak Al?" sela Anggun yang penasaran dengan dua orang yang tengah tertidur sambil duduk di kursi dan bersandar pada tembok.


"Iya, tadi di sini ramai orang. Sekarang hanya tinggal Paman dan Bibi saja," jawab Alarik.


"Bagaimana dengan Bunda? Beliau sehat - sehat saja kan?" tanya Syadev.


"Alhamdulillah sehat, mereka sekarang sedang tidur di rumahku," jawab Alarik.


"Kalau begitu besok kirimkan salam untuk mereka. Ya sudah, kalau begitu sebaiknya Kak Al istirahatlah dulu. Mumpung istrimu yang rewel masih tertidur," canda Syadev.


"Sip! Assalamu'alaikum," jawab Alarik.


"Wa'alaikumsalam," balas Syadev dan Anggun.


Setelah itu sambungan telepone langsung terputus.


Sebenarnya Alarik merasa sangat lelah sekali, akan tetapi dia tidak bisa tidur. Apalagi setiap saat ada perawat yang mengecek kondisi putranya.


Alarik begitu ingin memeluk dan menimang putra mungilnya yang hanya 2,5 kg saja itu.


Dalam hatinya tidak berhenti mengucapkan puji syukur, walaupun lahir prematur tapi Arkananta sehat dan normal.


Setelah puas mengintip putranya, Alarik beralih menengok istrinya yang masih tidur. Kaysa terlihat pulas, mungkin efek dari obat yang harus diminumnya.


"Gadis nakal, sekarang kamu sudah menjadi seorang Ibu. Aku yakin kamu bisa menjadi ibu yang baik," gumam Alarik mencium lembut bibir istrinya.


"Mesum, dalam keadaan seperti ini bisa - bisanya mencari kesempatan dalam kesempitan," kata Kaysa sambil membuka mata.


"Maaf, gara - gara aku kamu jadi terbangun," ucap Alarik menyesal.


"Aku sudah bangun dari tadi kok," jawab Kaysa.


"Sejak kapan?" tanya Alarik kaget.


"Sejak pertama kamu mencium keningku, jika di total kamu sudah mencium keningku enam kali dan bibirku dua kali," jawab Kaysa.


"Kalau begitu aku tambah satu lagi biar pas tiga kali," balas Alarik mencium bibir istrinya.


"Aku haus," rengek Kaysa manja.


"Baiklah, aku akan mengambilkannya untukmu," jawab Alarik senang hati.


"Mulai besok harus cuti kerja, pokoknya aku cuma mau dilayani suamiku saja," pinta Kaysa.


"Iya... Iya..." jawab Alarik pengertian.


"Mau makan apa?" tawar Alarik.


"Buah apel saja, aku jenuh sekali jika harus berbaring di sini lama + lama. Aku ingin melihat putraku," rengek Kaysa.

__ADS_1


"Iya, aku tahu. Tadi aku sudah bertanya pada suster. Kata mereka besok pagi sudah bisa dipindahkan di sini, hanya saja kita masih belum bisa menggendongnya," jawab Alarik.


"Tidak apa - apa, yang terpenting bisa melihatnya saja aku sudah bahagia," jawab Kaysa.


Sebenarnya sebagai seorang Ibu Kaysa ingin menyusui putranya, tapi kondisinya saat ini masihbbelum memungkinkan.


"Tadi Ayah dan Bunda sudah sampai sini, tapi sudah aku suruh istirahat di rumah kita dulu. Barusan Syadev dan Anggun juga video call aku, tapi kamu sedang tidur pulas aku takut mengganggumu," kata Alarik sambil mengupas buah apel dengan pisau.


"Apaan, aku terbangun juga diganggu kamu," sindir Kaysa.


Alarik tertawa, sebab istrinya yang kelihatan lemah masih bisa mengajaknya berantem.


"I Love you," bisik Alarik sambil menyuapkan secuil apel pada mulut istrinya.


"Aku tahu," jawab Kaysa pura - pura cuek.


"Kok gitu sih," balas Alarik.


"Mendekatlah!" perintah Kaysa mesra.


Saat Alarik mendekatkan kepalanya Kaysa langsung mencium pipinya.


Alarik tertawa senang, sebab istrinya itu selalu membuat dirinya terhibur.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Di sisi lain Syadev tengah memijat telapak kaki istrinya yang mulai bengkak.


"Padahal Kaysa tidak, tapi kenapa aku begini ya?" tanya Anggun.


"Setiap orang yang hamil kan berbeda - beda, apa terasa sakit?" ucap Syadev balik bertanya.


"Sakit sih tidak, tapi terasa tidak nyaman saja," jawab Anggun.


"Makanya, mulai besok tidak udah ngapa - ngapain lagi. Biar aku saja yang melakukannya," pinta Syadev lembut.


"Jangan, semua itu kan sudah tugas istri," tolak Anggun secara halus.


"Merawatmu dan menjagamu juga kewajibanku. Lagipula nyuci pakai mesin, masak juga aku bisa kalau yang simpel - simpel," bujuk Syadev.


"Aku hanya takut mengganggu belajarmu," jawab Anggun lembut.


"Justru kalau kamu banyak beraktifitas aku jadi tidak bisa konsentrasi belajar," balas Syadev.


Anggun diam, wanita itu begitu penurut dan patuh pada suaminya.


Syadev sendiri baru ingat, jika dulu sewaktu Bundanya hamil Flora setiap pagi selalu di ajak jalan - jalan kaki.


"Bagaimana kalau besok pagi kita sempatkan untuk jalan - jalan kaki biar sehat, disekitar sini saja," ajak Syadev.


"Iya," jawab Anggun tersenyum senang.


"Kalau begitu aku buatkan makan siang dulu ya? Kamu tiduran saja. Setelah masak aku bangunkan," kata Syadev sambil mencium kepala istrinya.


Anggun tersenyum dan bahagia sekali karena suaminya begitu baik memperlakukannya. Semakin hari rasa cinta di antara mereka bertambah semakin besar.


Terima kasih sudah membaca karya saya. Jangan lupa like dan Vote ya๐Ÿค—

__ADS_1


Baca juga karya saya yang berjudul Scorpio ya, tidak kalah menarik๐ŸŒน


__ADS_2