CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 28


__ADS_3

Alarik terbangun kesiangan karena semalam lembur kerja. Hampir saja dia telat melaksanakan sholat subuh.


Jam enam Alarik bersiap-siap memakai baju kerja, sambil mengenakan dasi bibirnya tidak bisa berhenti tersenyum.


"Sampai dalam mimpi pun Kaysa masih saja menggodaku. Aku sangat merindukannya, tapi aku harus sabar menunggu beberapa bulan lagi," batin Alarik.


Meskipun setiap malam sering video call tapi mereka berdua hanya saling melihat lewat layar ponsel. Pemuda tampan itu penasaran apakah Kaysa semakin tinggi atau tidak.


Namun tanpa di duga, tiba-tiba ada tangan yang memeluk erat tubuhnya dari belakang. Wangi parfum seseorang yang ada di belakangnya itu sangat familiar.


"Selamat ulang tahun, ini hadiahnya baru datang," teriak Kaysa riang.


Alarik langsung berbalik menatap wajah Kaysa yang bertambah cantik, tinggi badan gadis itu masih sama tapi bodynya terlihat dewasa, semakin padat dan berisi di bagian tertentu.


"Kaysa! Kamu dengan siapa ke sini?" pekik Alarik saking terkejutnya.


Pemuda itu tidak bisa membayangkan, jika pagi begini sudah sampai di hotelnya lalu jam berapa gadis itu berangkat dari kotanya?


"Kak Al tidak senang melihatku ya?" tanya Kaysa berubah lemas dan tidak bersemangat.


"Bu... Bukan begitu," jawab Alarik yang masih banyak pertanyaan.


Namun Kaysa langsung memeluk pemuda di depannya itu penuh kasih sayang.


Takkk....


"Rupanya sikap manja kamu masih belum hilang juga," ucap Alarik sambil menjitak kepala Kaysa.


"Ya sudah, aku pulang duluan,"ucap Kaysa ngambek sambil berlalu pergi.


Dengan reflek Alalarik menarik tangan Kaysa dan mendekap gadis yang sudah terlihat semakin dewasa itu penuh kasih sayang.


"Aku merindukanmu, Kaysa. Sangat merindukanmu," lirih Alarik.


"Nah, gitu dong. Jadi perjuanganku untuk sampai di sini tidak sia-sia," jawab Kaysa tertawa.


"Tapi kamu ke sini dengan siapa?" Alarik penasaran.


"Syadev dan Anggun, tapi mereka sedang pergi ke Universitas A," jawab Kaysa santai.


"Sudah minta izin Ayah dan Bunda? Aku takut mereka marah karena aku sudah melanggar perjanjian lagi. Yang waktu ulang tahun kamu dulu itu ternyata Ayah sudah tahu loh," kata Alarik senang sekaligus cemas.


"Syadev sudah minta izin, lagian yang menemui kan aku bukan Kak Al. Yang punya janji juga juga Kak Al, bukan Aku." jawab Kaysa seenaknya.


"Anak nakal," ucap Alarik mencubit pipi Kaysa.


"Auh, sakit," pekik Kaysa.


"Wah, tidak sia-sia Kak Al menghabiskan banyak uang untuk beli skincare. Wajahmu terlihat semakin mulus dan kinclong," puji Alarik tulus.


"Tentu saja, Kak Al harus bangga karena punya kekasih seperti aku yang sangat cantik ini," jawab Kaysa bangga pada diri sendiri.


"Ayo duduk dulu! Kamu pasti belum sarapan kan?" ajak Alarik bungah.


Pok... Pok...


Kaysa menepuk tangan dua kali, kemudian datang dua pelayan yang membawa kue ulang tahun beserta minuman.


"Taruh sini saja, kalian boleh keluar!" perintah Kaysa.


Alarik senang karena mendapat kejutan dari kekasihnya di hari ulang tahunnya itu.


Namun sebelum Alarik meniup lilin, ternyata ada Orlin yang tiba-tiba masuk sambil membawa kue juga.


"Kaysa, kamu sejak kapan di sini?" tanya Orlin terkejut.


"Tadi sampai di sini pukul enam pagi, ayo Kak Orlin bergabung sekalian dengan kami," ajak Kaysa ramah.


"Kamu juga sudah menyiapkan kue? Aku semalam membuat kue ini," kata Orlin.


"Jadi ini buatan Kak Orlin sendiri? Wah, indah sekali, pasti rasanya enak," puji Kaysa tulus.

__ADS_1


Alarik merasa gugup juga, karena selama ini belum memberi tahu pada sahabatnya tentang hubungannya dengan Kaysa. Karena setiap ingin membahas itu selalu ada saja halangannya. Dan akhirnya Alarik menjadi lupa.


Pertama Alarik meniup lilin milik Kaysa, setelah itu gantian meniup milik Orlin.


"Selamat ulang tahun Al, semoga semakin sukses dan bahagia," ucap Orlin.


"Iya, terima kasih," jawab Alarik tersenyum ramah.


"Kaysa, kenapa kamu baru kali ini datang ke sini? Padahal Syadev sudah dua kali loh," tanya Orlin penasaran.


"Entahlah, Ayah dan Bunda memang tidak adil," jawab Kaysa cemberut.


"Bagaimana kabar kamu dan Gio? Apa kamu masih bersamanya?" tanya Orlin lagi.


Kaysa terkejut, karena ternyata Orlin belum tahu tentang hubungannya dengan Alarik.


Tiba-tiba ponsel Alarik berdering, ternyata panggilan dari Tuan Rendra, Papanya Orlin.


"Selamat ulang tahun, Alarik. Semoga panjang umur dan sehat selalu," ucap Rendra dan Nayla secara bersamaan.


"Terima kasih, Tante Nayla, Om Rendra," jawab Alarik bahagia.


"Apa Orlin sudah menemuimu?" tanya Nayla penasaran.


"Sudah, Tante. Ada Kaysa juga," jawab Alarik sambil menyerahkan ponselnya pada Kaysa.


"Apa kabar, Tante, Om. Bagaimana kabar kalian berdua?" tanya Kaysa riang.


"Alhamdulillah baik, kamu sendiri bagaimana?" tanya Nayla.


"Aku juga baik. Sini Tante, Om Rendra. Kita makan kue sama-sama," ajak Kaysa ramah.


Nayla dan Rendra hanya tertawa karena saat ini mereka masih di London.


Kaysa segera mengembalikan ponselnya pada pemiliknya.


"Alarik, kamu dan Orlin sudah sama-sama dewasa. Kapan kalian menikah?" goda Nayla.


Deg...


"Papa, Mama. Kita mau makan kue dulu ya? Keburu masuk kantor," sergah Orlin malu-malu.


"Baiklah, tapi Mama saranin kalian segera menikah. Karena tidak baik jika terus berduaan tanpa hubungan yang sah," ucap Nayla bersemangat.


"Iya, Ma, Pa. Selamat beraktifitas ya, jaga kesehatan kalian," jawab Orlin bersemangat.


Kemudian Alarik segera mematikan ponselnya.


"Mari kita potong kuenya," ajak Orlin riang.


Alarik memotong kue tersebut, dan menyuapi ke Kaysa.


Tapi dengan tangkas Kaysa segera menepisnya dengan pelan.


"Sebaiknya suapan pertama untuk Kak Orlin saja," tolak Kaysa lembut, mencoba tersenyum manis.


"Sebaiknya Kaysa saja, kamu kan adik kesangannya Alarik," sela Orlin malu-malu.


"Aku hanya adik saja, sedangkan Kak Orlin seseorang yang selalu menemani Kak Al selama ini," sergah Kaysa.


Jlebb...


Dada Alarik merasa sesak sekali, ucapan Kaysa barusan sangat menyakiti hatinya. Tapi pemuda itu sadar jika semua ini kesalahannya dia sendiri sampai semua orang berpikir lain tentang kedekatannya dengan Orlin.


"Kak Orlin, sebaiknya kalian menikmati kuenya berdua saja ya! Sepertinya sudah kesiangan, takut kalau Syadev dan Anggun menunggu lama di Universitas A," kata Kaysa sambil berdiri.


"Kaysa, kamu makan kuenya sedikit dulu," ucap Orlin.


"Aku bawa punyaku saja. Biar nanti ku bagikan pada pada Syadev dan Anggun. Biar Kak Al memakan punya Kak Orlin, karena buatan sendiri pasti lebih enak dan istimewa," jawab Kaysa tersenyum tegar.


Kaysa segera berlalu pergi sambil membawa kue yang tadi sudah di berikan pada Alarik.

__ADS_1


Setelah bertahun-tahun menjalani hubungan dengan Alarik, dia baru sadar akan sesuatu.


"Aku ini terlalu naif, bagaimana mungkin aku baru sadar kalau mereka berdua begitu dekat. Dari kecil Kak Al selalu memenuhi keinginanku, aku yakin dia juga terpaksa memilihku karena takut membuat aku bersedih dan marah. Akulah yang kejam, karena aku jadi penyebab kemunduran pernikahan mereka. Kak Orlin lebih dewasa dan lebih baik dariku, dia lebih cocok jadi pendamping Kak Al," batin Kaysa yang hatinya merasa panas karena cemburu.


Satu menit kemudian Alarik baru sadar dengan kejadian barusan, pemuda itu segera menyusul Kaysa. Tapi gadis yang di carinya sudah menghilang dari pandangan.


Orlin mengikuti Alarik dan menarik kemeja bagian punggung pemuda tersebut.


"Al, kamu mau ke mana? Sebaiknya kita makan kuenya dulu, semalaman aku sudah begadang membuatnya demi kamu loh," bujuk Orlin.


"Sebaikanya aku selesaikan urusanku dengan Orlin terlebih dahulu, sebelum masalah ini semakin rumit," batin Alarik.


Pemuda itu segera mengajak Orlin masuk ke kamar hotel dan mereka memakan kue bersama.


Alarik sebenarnya tidak tega juga, karena selama ini Orlin selalu perhatian padanya. Namun hatinya juga tidak bisa berbohong, jika cintanya sudah terpatri sejak kecil hanya untuk Kaysa.


"Orlin, sebenarnya aku mencintai Kaysa," kata Alarik pelan.


"Apa?" pekik Orlin tertawa, gadis itu mengira jika sahabatnya sedang bercanda.


"Aku serius, Orlin. Selama ini yang aku cintai adalah Kaysa," timpal Syadev dengan wajah serius.


Tawa Orlin seketika lenyap dari bibirnya. Gadis itu menatap mata Alarik seolah tidak percaya.


"Dia adik kamu, Al!" pekik Orlin.


"Tapi memang inilah kenyataannya, aku mencintai Kaysa. Aku sudah berjanji untuk menikahinya, makanya selama ini aku tidak di izinkan bertemu dengannya sampai dia lulus SMA," ungkap Alarik sambil menunduk.


"Tidak mungkin! Kamu hanya bercanda denganku kan? Lalu apa arti diriku bagimu selama ini?" kata Orlin menangis pilu.


"Kamu sahabatku, aku juga menyayangimu tapi hanya sebatas sahabat saja," jelas Alarik.


"Semua orang menganggap kita ini pasangan, bahkan ke dua orang tuaku juga berharap supaya kita segera menikah. Lagi pula Kaysa masih kecil, dia juga belum lulus SMA, Alarik. Kaysa juga berpacaran dengan Gio," kata Orlin mencoba meyakinkan Alarik.


"Tapi aku tetap ingin menantinya. Maafkan aku, Orlin. Semoga kamu bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dariku," hibur Alarik mencoba menenangkan Orlin yang terisak lumayan keras.


"Bagaimana mungkin bisa? Aku menyukaimu sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Jadi selama delapan belas tahun aku terus menantimu, hanya dirimu!" kata Orlin menangis sampai bahunya terguncang.


Alarik semakin merasa bersalah, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Seandainya saat ini Kaysa yang menangis seperti itu pasti dirinya sudah ingin memeluk erat dan meminjamkan dada bidangnya untuk bersandar padanya.


Tapi jika Orlin, tubuh dan hatinya langsung menolak walau hanya sekedar mengelus kepalanya atau menyentuhnya.


Alarik semakin kebingungan, dia tidak mungkin meninggalkan Orlin yang seperti itu, tapi dia juga sangat mengkhawatirkan Kaysa.


"Apa yang harus aku lakukan? Apa sebaiknya aku mengantar Orlin pulang terlebih dahulu setelah itu baru mencari Kaysa. Pasti saat ini anak itu sedang bersama Syadev," batin Alarik yang sedang dilema.


"Orlin, mari aku antarkan pulang. Sebaiknya hari ini kamu tidak usah masuk kerja. Tenangkan dirimu terlebih dahulu!" kata Alarik.


Orlin mematuhinya, gadis itu merasa senang. setidaknya Alarik masih punya rasa perhatian padanya.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Kaysa turun dari taxi dengan membawa kui itu. Namun karena pikirannya tidak fokus, saat di gerbang Universitas A dirinya menabrak seseorang.


Bruak...


Kuenya terjatuh.


Kaysa yang dari tadi menahan luka dan sakit menjadi meluap emosinya karena melihat kuenya tergeletak di tanah.


"Bukan hanya aku saja, tapi kini kuenya sekarang juga hancur berantakan."


Kaysa langsung menangis dengan keras.


Pemuda yang bertabrakan dengan Kaysa tadi menjadi ketakutan dan cemas.


"Kaysa! Maafkan aku, akan aku ganti kuenya sekarang juga. Kamu jangan menangis lagi!" ucap pemuda itu panik.


Kaysa merasa tidak asing dengan suara pemuda di depannya, matanya terbelalak sangat dia melihat wajah cemas pemuda di depannya itu.

__ADS_1


**Terima kasih sudah mendukung Author selama ini. Jangan lupa like dan Vote sebanyak-banyaknya yaaa🙏


Oh iya, menurut kalian siapa pemuda yang bertabrakan dengan Kaysa tadi? Di komen yaaa🤗**


__ADS_2