
Di sebuah perbukitan di lereng gunung terdapat sekolah dari SMP sampai Universitas beserta asramanya, di bangun oleh keluarga Syauqi Malik dan di namakan Sekolah Andromeda.
Meskipun terletak di perkampungan akan tetapi sekolah tersebut menjadi sekolah favorit yang menjadi incaran orang-orang dipenjuru daerah. Sebab barang siapa yang dapat lulus dari sekolah tersebut sudah pasti masa depannya terjamin. Karena selain menyediakan beasiswa kuliah lanjutan keluar negeri juga ada perusahaan besar yang siap menerima.
Akan tetapi untuk masuk ke sekolah tersebut tidaklah mudah, di sana pangkat dan latar belakang keluarga tidak ada artinya. Hanya anak yang berprestasi dan berbakat saja yang dapat lolos seleksi.
Setiap tahunnya beribu-ribu anak mencoba mendaftar, tapi hanya ratusan saja yang diterima. Dan yang paling istimewa lagi adalah di sana siap memberikan beasiswa penuh bagi anak yang kurang mampu asalkan memenuhi syarat kualitas di sekolah Andromeda.
Di sekolah Andromeda ada tiga murid yang paling populer, bukan karena mereka merupakan cucu pemilik sekolah. Akan tetapi mereka memiliki prestasi dan juga bakat yang sangat menakjubkan.
Mereka adalah Arkananta, Yudistira dan juga Sagara. Kemanapun pergi mereka selalu bersama kecuali saat belajar, sebab bakat dan potensi mereka sangat berbeda. Meskipun begitu Mereka memiliki kegemaran yang sama, yaitu menyelinap keluar di malam hari untuk membantai kejahatan. Padahal usia mereka baru belasan tahun dan duduk di kelas 3 SMA.
"Arka, nanti malam kita keluar yuk?" ajak Yudis.
"Kemana?" tanya Arka kurang semangat.
"Kemana saja, aku bosan sekali jika terkurung di sini," balas Arka.
"Jangan deh, hari ini akan ada upacara penyambutan murid baru. Nanti malam pasti akan ada acara lagi, kalau sampai kita tidak terlihat hukuman apalagi yang akan kita dapat," sela gara.
Meskipun kakek mereka merupakan pemilik sekolah akan tetapi peraturan tetap peraturan, jika mereka melanggar hukum akan mendapat hukuman sesuai yang sudah tercantum.
Walaupun menjadi idola, mereka juga sering mendapat hukuman. Dari membersihkan kamar mandi, mengepel kantor, memotong rumput di lapangan. Akan tetapi hal itu justru menjadi harapan untuk murid perempuan, karena bisa melihat tiga cowok tampan merupakan pencuci mata yang paling segar.
"Sebelum sekolah kita ke kantin yuk, aku lapar sekali?" ajak Arka.
"Kamu ini, masih pagi begini sudah lapar," sindir Sagara, akan tetapi dia dan Yudistira tetap mengikuti.
Sesampainya di kantin, terjadi perbincangan yang heboh.
"Ada murid baru di sebelah, ya ampun cantiknya seperti bidadari,"
__ADS_1
"Sebelah? Maksud kamu anak SMP. Jadi selera kamu anak kecil ya,"
"Kamu bilang begini karena belum melihatnya, nanti akan aku tunjukkan. Jangan salahkan aku jika mulutmu nanti sampai menganga dan tidak bisa dikembalikan seperti semula,"
Anak lelaki yang memakai seragam SMA sedang pada heboh dengan kedatangan murid baru. Sedangkan bagi ketika cucu Syauqi hanya menyeringai seolah mengejek. Bagi mereka wanita cantik tidak ada gunanya jika tidak memiliki kemampuan istimewa.
Tak lama kemudian datang seorang gadis dan lelaki sebaya yang sama-sama memakai seragam SMP. Kehadiran mereka menjadi pusat perhatian. Apalagi murid siswi berjilbab putih itu tampak sangat cantik mempesona.
"Kakak," sapa kedua anak kembar itu kepada Arkananta, Yudistira dan juga Sagara.
Mereka bertiga menoleh, ternyata adik sepupu mereka yang baru masuk ke sekolah
Mengikuti ajaran baru.
Tak hanya mereka bertiga, akan tetapi hampir semua anak yang sedang membicarakan gadis cantik tadi juga ikut menoleh. Sebab yang mereka bicarakan kini ada di depan mata, tapi mereka terkejut sebab gadis SMP itu merupakan cucu pemilik sekolah.
"Valerio, Fayyola, kalian jadi masuk ke sini?" tanya Yudis yang paling ceria.
"Iya, kalau tidak nanti kakek marah," jawab Valerio.
"Om Dewa dan Tante Flora apa masih di sini?" tanya Arka.
"Tidak, setelah mengantarkan kami katanya mereka mau mampir ke Vila kakek lagi," jawab Fayyola polos.
"Valerio, sebaiknya kamu ajak adikmu ke area SMP saja. Di sini banyak buaya yang siap memangsa domba kecil," perintah Sagara serius.
"Tunggu, kenapa buru-buru menyuruh mereka pergi? Lagian siapa yang akan berani mengganggu adik kesayangan aku?" sela Arka.
"Sudahlah, karena kita jarang bertemu ayo kita makan bersama saja. Nanti akan aku traktir," ajak Yudistira.
Valerio dan Fayyola segera duduk bergabung dengan kakak sepupu mereka.
"Fayyola, kalau ada yang berani mengganggu kamu jangan segan untuk bilang pada kakak ya? Akan aku hajar mereka," tutur Arka yang paling jago seni bela diri dan juga olah raga.
__ADS_1
Fayyola hanya tersenyum saja, sebab andaikan dia di ganggu tentu saja kakak kembarnya tidak akan tinggal diam saja. Valerio memang mirip dengan papanya, sedangkan Fayyola juga sama-sama kalemnya seperti mamanya.
"Kak Arka, tahun depan apakah Natasya akan masuk ke sekolah ini juga?" tanya Valerio.
"Entahlah, kalian tahu sendiri bagaimana wataknya. Andaikan kakek yang memaksa juga belum tentu mau," jawab Arka.
"Natasya itu cantik, tapi sayangnya melakukannya tomboy," gumam Yudistira.
"Dia masih kecil, nanti juga akan ada waktunya baginya untuk berubah," timpal Fayyola membela satu-satunya sepupu perempuannya.
"Kak Saga, apa kamu sudah berhasil memecahkan soal game yang seminggu lalu aku kirimkan?" tanya Valerio.
"Aku belum sempat buka, akhir-akhir ini kakak sedang mengerjakan suatu karya seni," jawab Sagara berubah antusias jika membicarakan tentang penemuan.
"Apa itu?" tanya Valerio antusias.
"Ada deh, ini bukan mainan anak kecil," jawab Sagara menahan tawa.
"Ah, Kak Saga begitu deh," rengek Valerio.
"Baiklah, karena kamu memaksa nanti malam datang ke tempat rahasiaku. Tapi ingat, jangan bawa Fayyola. Karena dia anak perempuan.
"Saga, apa kamu yakin akan menunjukkan pada Valerio?" tanya Yudis cemas.
"Yah, asalkan Valerio berjanji tidak akan menceritakan pada siapapun," jawab Sagara santai.
"Iya, Kak. Aku janji akan menjaga rahasia ini," balas Valerio bersemangat.
Fayyola diam saja dan sama sekali tidak tersinggung, sebab sebagai perempuan kalem dia lebih tertarik bawa novel dari pada membahas urusan lelaki.
"Sudah selesai, sekarang kalian segera kembali ke kelas kalian. Sebentar lagi kita akan upacara," kata Arka menengahi perbincangan.
"Iya, kak," jawab Valerio dan Fayyola patuh.
__ADS_1
Akhirnya kedua anak kembar yang masih ABG baru masuk kelas SMP itu segera beranjak pergi. Setiap kaki Fayyola melangkah pasti akan ada mata lelaki yang memandang gadis kecil itu dengan tatapan kagum. Karena kecantikan Fayyola memang mampu mengalahkan bunda, tante bahkan neneknya sendiri di masa muda mereka. Makanya Valerio sejak kecil pula sudah diwajibkan oleh papanya untuk bisa ilmu bela diri dan menjaga adik kembarnya.