
Malam ini kedua orang tua Yudistira dan Sagara pergi acara pesta. Makanya suasana menjadi sepi.
Yudistira dan Jamila fokus belajar di ruang keluarga, Fayyola fokus menghafalkan ayat suci Al Qur'an di ruang musholla, sedangkan Sagara bermain game bersama Valerio.
"Valerio, sudah larut malam. Sebaiknya kamu tidur duluan sana!" perintah Sagara.
"Oke, Kak," jawab Valerio patuh dan langsung tiduran.
Sagara sendiri keluar dari kamar, saat melewati ruang Musholla Fayyola hanya sendirian.
"Di mana Sarah?" batin Sagara penasaran.
Sagara mencoba ke kamar tamu, dan ternyata Sarah seorang diri tengah melamun menatap jendela.
"Sarah," sapa Sagara datar.
Sarah terperanjat kaget, gadis itu tampak salah tingkah dengan kedatangan Sagara yang tiba - tiba.
"Mencari Fayyola ya?" tanya Sarah gugup.
"Tidak, aku hanya tidak sengaja lewat sini dan tiba - tiba kepikiran lukamu. Apa masih sakit?" tanya Sagara merasa bersalah.
"Sudah baikan," jawab Sarah menunduk malu sebab hidungnya sedikit bengkak.
Sagara tahu jika Sarah malu mengakuinya, diapun segera pergi.
Sarah menghembuskan napas panjangnya, setiap kali berpapasan atau mengobrol dengan Sagara dirinya memang tidak bisa mengendalikan diri dan merasa sangat memalukan.
Tapi siapa sangka tiba - tiba Sagara datang lagi sambil membawa salep.
"Ini salep yang tadi di kasih dokter kenapa tidak kamu pakai? Biar hidung kamu bisa cepat cembuh," ucap Sagara juga salah tingkah.
"Eh, iya. Terima kasih," jawab Sarah sembari mengulurkan tangannya menerima salep itu.
Sagara semakin merasa bersalah, jika dilihat lebih dekat hidung Sarah terlihat merah dan membengkak. Pasti rasanya perih dan panas.
"Sarah, aku minta maaf. Tadi sore itu aku sungguh tidak sengaja," ucap Sagara sepenuh hati.
Sarah terkejut, sebab baru kali ini Sagara menampakkan wajah kelembutan.
"Tidak apa - apa, akulah yang tadi kurang hati - Hati. Jika aku lebih gesit seperti Jamila mungkin aku bisa menangkisnya," jawab Sarah tulus.
"Aku tahu tadi kamu hanya berniat menyelamatkan Fayyola kan? Terima kasih juga karena kamu sudah sangat baik terhadap adikku," balas Sagara.
Sarah merasa malam ini Sagara berbeda, biasanya hanya mau berbicara sedikit dan hal - hal yang penting saja.
"Fayyola sudah seperti adikku sendiri, apalagi kita satu kamar jadi setiap saat selalu bersama," balas Sarah.
"Kalau begitu cepat oleskan salep ini, biar besok lebih baikan," saran Sagara.
__ADS_1
"Iya, terima kasih," jawab Sarah senang diperhatikan seperti itu.
Sagara sadar jika berduaan di dalam kamar seperti ini terlalu lama tidak baik, jika ketahuan kedua orang tuanya tentu saja akan mendapat amarah yang besar meskipun tidak melakukan apapun.
"Kalau begitu aku tidur dulu ya," pamit Sagara.
"Iya," jawab Sarah tersenyum manis.
Sagara langsung bergegas pergi dan menghampiri Yudistira yang tengah mengajar Jamila belajar.
"Kamu dari mana?" tanya Yudistira.
"Jalan - jalan saja," jawab Sagara cuek.
"Eh ini penyelesaiannya bagaimana? Aku lupa rumusnya?" tanya Yudistira.
Sagara langsung menjelaskan cara jitunya dalam setiap menggarap tugas. Yudistira dan Jamila yang sedari tadi kebingungan kini mulai paham.
"Huft, aku mau marah sama Mama dan Papa. Kita ini dalam satu kandungan dan berasal dari orang tua yang sama. Bagaimana bisa otak kita ini berbeda?" keluh Yudistira kesal.
"Hey, tapi aku tidak punya kelebihan sepertimu. Misalnya berakting atau bermain alat musik, melukis, dan membaca gerak gerik orang lain," sergah Sagara.
"Wih, kamu bisa membaca gerak gerik orang lain? Bagaimana caranya?" tanya Jamila penasaran.
"Entahlah, itu sudah alami dengan sendirinya. Makanya aku sangat suka menjadi detektif, rasanya ada sesuatu yang menantang," jawab Yudistira.
Mengingat hal itu seketika Yudistira dan Sagara menjadi teringat kenangan Martin, papanya Deby.
"Pastinya dia sangat bersedih, karena dia sudah tidak punya siapa - siapa lagi," jawab Sagara ikut bersimpati.
"Kamu bawa ponsel? Sebaiknya kita video call saja, setidaknya menghibur dia sedikit agar tidak terlalu mengingat papanya," saran Yudistira.
"Baiklah," jawab Sagara langsung setuju.
Sagara mengeluarkan ponsel yang di simpan dalam sakunya, dengan cepat langsung memanggil Deby. Beberapa detik kemudian sudah langsung diterima.
"Apa?" tanya Deby lemas.
"Kamu belum tidur?" tanya Sagara.
"Sejak kapan kamu berubah perhatian seperti ini?" sergah Deby.
"Ya tidak apa - apa kan sesekali," sela Yudistira.
"Deby, kamu sudah memikirkannya? Bagaimana kalau kamu masuk sekolah di Andromeda dan tinggal di asrama bersamaku?" timpal Jamila.
"Mana mungkin aku bisa masuk ke sana, di sana hanya menerima muslim. Sedangkan kalau aku masuk muslim tentu saja aku akan kesulitan karena belajar dari nol, sedangkan di sana semuanya murid berbakat dan cerdas," jawab Deby lemas.
"Aku juga sama, biarpun aku muslim tapi aku kalah sama Fayyola yang baru SMP. Jika dibandingkan kamu lebih cerdas dariku, aku masuk kesini karena bantuan dari papanya Yudistira dan bidang olah ragaku," sela Jamila.
__ADS_1
"Aku pikir - pikir dulu deh, kalau begitu kamu semangat belajar ya biar bisa lolos tes" jawab Deby.
"Iya, kamu juga pikirkan baik - baik," balas Jamila.
"Deby, aku mau mengajari Jamila belajar dulu. Kamu temani Sagara mengobrol ya, katanya dia sedang patah hati," gurau Yudistira.
"Aish, Sagara itu tidak punya hati. Bagaimana bisa patah? Adanya dia yang membuat banyak gadis patah hati," sergah Deby mulai ceria.
"Apa kamu pernah merasakannya? Sampai kamu bilang seperti ini?" tanya Sagara kesal.
"Amit - amit deh, aku juga bukan tipe perempuan yang mellow," balas Deby.
"Hey, bisakah kalian jangan ribut? Konsentrasiku terganggu," protes Yudistira.
Sagara langsung beranjak pergi dan pindah ke ruang tamu.
Karena Sagara belum ngantuk dia memutuskan untuk mengobrol dengan Deby, karena besok juga dia sudah masuk asrama dan tidak akan bisa menghibur temannya itu.
Di sisi lain Sarah merasa kehausan, saat dia menuruni tangga hendak ke dapur tanpa sengaja melihat Sagara yang duduk bersandar di sofa ruang tamu sambil mengobrol asyik lewat telepon. Biarpun tidak melihat layar ponsel tapi dari suara perempuan itu Sarah tahu jika lawan bicara Sagara adalah Deby.
Sarah tiba - tiba merasa sakit, gadis itu merasa terlalu percaya diri karena menganggap jika Sagara perhatian padanya. Rupanya itu karena rasa bersalah saja.
"Jelas - jelas aku tahu jika Sagara menyukai Deby, tapi kenapa aku berpikir berlebihan?" batin Sarah meneteskan air matanya.
Sagara menyadari kedatangan Sarah, melihat gadis itu menangis Sagara langsung berpamitan pada Deby.
"Deby, sudah larut malam ini. Sebaiknya kamu tidur ya, aku juga mau tidur," pamit Sagara.
"Iya deh, mungkin aku juga akan segera menyusul ke sana kalau aku sudah yakin," balas Deby.
Sagara langsung berdiri dan mendekati Sarah yang matanya sudah memerah.
"Kamu kenapa turun malam - malam begini?" tanya Sagara penasaran.
"Aku mau ambil minum," jawab Sarah.
"Oh, lalu kenapa kamu menangis?" tanya Sagara cemas.
"Hanya merindukan kedua orang tuaku saja, karena lama kami tidak bertemu," balas Sarah berlalu pergi ke dapur meninggalkan Sagara seorang diri.
Sarah tidak kuasa berhadapan secara langsung dengan Sagara, rasanya konyol saja merasa marah padahal dia bukan siapa - siapanya Sagara. Bahkan Sarah juga hanya di anggap sebagai tamu saja.
"Aku harus bisa menghentikan perasaan ini, karena pada akhirnya akulah yang terluka. Aku harus sadar diri, siapa aku," batin Sarah.
Meskipun begitu hatinya terlalu lemah untuk pura - pura kuat, nyatanya semakin ingin melupakan justru perasaan itu tumbuh semakin dalam.
Sarah teringat saat kedua orang itu mengobrol tadi, tampak begitu dekat. Terlebih lagi ketika Deby memutuskan untuk pindah agama demi Sagara.
"Aku bukan siapa - siapa Sagara, bahkan aku juga baru mengenalnya. Sungguh tidak pantas bagiku memiliki perasaan seperti ini. Ini memang ujianku, semoga aku kuat dan bisa menyelesaikan hafalanku," batin Sarah menangis sesenggukan seorang diri sambil menyandarkan tubuhnya ke tembok samping kulkas.
__ADS_1
Sebenarnya Sagara melihat Sarah dari kejauhan, hatinya ikut perih melihat Sarah yang tampak begitu menderita.
"Sarah, aku akan membantumu untuk membuat kedua orang tuamu datang menengokmu," batin Sagara.