CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Rahasia Cinta


__ADS_3

Deby baru saja mendapat kabar baik jika dia diterima menjadi murid Andromeda, tapi dia justru meringkuk di ujung tempat tidur samping menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Entah kenapa hatinya begitu merasa kosong ketika mendengar kabar jika Sarah dan Arkananta akan dijodohkan. Dulu dia memang pernah mendengar secara langsung saat di mobil jika Maminya Arka menginginkan calon mantu yang hafal Al-Qur'an dan lemah lembut. Sedangkan Deby sadar jika dia gadis tomboy yang baru saja bisa huruf Hijaiyah. Itupun dia merasa kesulitan karena memang baru kali ini mengetahuinya.


"Apalah aku jika dibandingkan dengan Sarah, tentu sangat beda jauh. Arka, awal aku masuk ke sini aku merasa hidupku tidak sendiri lagi. Namun, setelah aku tahu jika kamu akan dijodohkan dengan Sarah hatiku merasa kosong dan hampa lagi," batin Deby pilu.


Jamila yang baru selesai mandi merasa heran kenapa temannya itu menangis.


"Deby, kenapa kamu bersedih? Seharusnya kita senang karena sudah lolos. Setelah ini kita di suruh ke kantor buat ukur baju seragam sekolah, berapa menyenangkan bukan? Seragam di sekolah Andromeda sangat keren seperti di drama Korea hanya versi islami," bujuk Jamila.


Deby menatap Jamila dengan pandangan kosong.


"Jamila, pernahkan kamu menyukai seseorang?" tanya Deby lemas.


"Maksud kamu menyukai seorang pemuda? Bagiku itu merupakan hal yang sangat mewah dan bahkan tidak kepikiran sama sekali. Sejak kecil aku hidup susah, jadi sibuk membantu orang tua untuk menutupi kebutuhan harian serta membayar hutang. Hidupku keluargaku juga abru saja mulai tenang setelah aku mendapat bantuan dari Yudistira," jawab Jamila jujur.


"Yudis tampan dan baik hati, apa kamu tidak menyukainya?" sela Deby penaran.


"Perempuan mana yang tidak akan suka dengan pemuda seperti Yudis yang memiliki segalanya? Berdarah biru, kaya raya, berbakat dan sangat tampan. Justru aku malah takut dengan kesempurnaan itu, karena aku sadar siapa aku ini. Lagipula tujuan aku di sini untuk belajar, menjadi orang sukses dan bisa mengangkat derajat orang tua," jawab Jamila mantap.


"Kamu keren, mungkin karena sejak kecil aku terbiasa dimanjakan jadi begitu aku hanya sebatang kara aku merasa sangat rapuh," gumam Deby pilu.


"Eh, siapa bilang kalau kamu ini sebatang kara? Kamu masih punya aku, dan teman - teman yang lain," bujuk Jamila.


"Terima kasih, Jamila," jawab Deby memeluk temannya itu.


"Lagian kamu bisa merasakan tidak, saat ikut pengajian rasanya hati menjadi damai dan semakin ingin terus memperbaiki diri dan memperdalam ilmu agama?" tanya Jamila serius.


Deby terdiam, dia masih belum merasakan apa yang barusan diucapkan oleh Jamila. Karena niat awal dia datang ke sini hanya demi Arkananta. Kini dia sadar jika hal itu sebuah kesalahan besar.


"Jamila, kamu benar. Hidup ini bukan hanya tentang cinta," gumam Deby.


"Aku sangat penasaran, siapa pemuda yang kamu maksud itu? Apakah Sagara?" duga Jamila.


"Bukan, aku memang terlihat dekat dengannya tapi karena kami memiliki hobi yang sama," sergah Jamila.


"Jangan - jangan Yudistira," duga Jamila lagi.

__ADS_1


"Bukan juga, lagian aku merasa kalau Yudistira malah naksir kamu," sergah Deby tertawa.


"Dasar kamu, lagi serius malah becanda gini," ucap Jamila kesal.


"Aku lebih dari serius loh," jawab Deby.


"Dan aku tidak akan terbujuk oleh rayuan gombalmu," bantah Jamila ketus.


"Aha... Siapa yang sedang merayuku," balas Deby mulai tertawa riang.


Jamila yang melihat tawa Deby juga ikut senang. Karena sosok Deby memang lebih cocok seperti ini.


"Eh tunggu, kalau bukan Sagara, bukan Yudistira berarti pemuda yang kamu sukai itu Arkananta ya?" duga Jamila yang kali ini membuat Deby tersipu malu.


"Nah benar, ternyata kamu naksir sama dia. Terus pemuda yang malam - malam datang menemuimu untuk membujuk kamu ke sini itu dia? Waktu itu Arkananta bukankah sudah pulang? Dan rumahnya di luar kota kan?" tanya Jamila semakin penasaran.


"Maka dari itu, aku baru sadar jika ada sosok lelaki yang selalu peduli padaku. Bahkan dia pernah demi aku sampai lengannya terluka kena tembak," jawab Deby terharu.


"Oh, aku ingat. Lalu kalau kamu dan Arka saling menyukai apa yang membuat kamu sedih?" tanya Jamila polos.


"Jangan bilang begitu, setiap.orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing - masing. Tapi aku lihat antara Sarah dan Arka tidak ada hubungan apapun, lagipula semalam Arka sudah bilang cinta padamu, jadi kamu harus berjuang agar kelak bisa diterima di keluarga Arkananta," bujuk Jamila.


"Entahlah, jangankan bisa hafal Al-Qur'an. Menghafalkan huruf Hijaiyah saja aku sudah kesulitan," keluh Deby.


"Kamu kita aku yang dilahirkan sudah beragama Islam juga bisa mengaji? Kita sama, belajar dari nol. Jika dibandingkan otak kamu justru lebih cerdas dariku," sergah Jamila.


"Tapi mengingat Arka dan Sarah yang dijodohkan aku menjadi lemas," gumam Deby.


"Aku yakin kamu sosok gadis yang kuat dan tidak mudah menyerah," ucap Jamila memberi semangat.


******************************


Arka baru saja pulang dari Vila milik kakeknya, dan dia tadi juga bertemu dengan Fayyola di sana.


Begitu kembali ke kamar asrama bibirnya tidak berhenti untuk tersenyum.


"Hey, kamu kenapa? Masuk tidak salam asal nyelonong dan senyum - senyum sepeti orang gila," tanya Yudistira heran.

__ADS_1


"Kalian tahu tidak, jika kata Fayyola Deby sudah masuk ke sini," ucap Arkananta bersemangat.


"Serius?" pekik Yudistira dan Sagara bersamaan.


"Iya, dia juga baru saja masuk Islam," balas Arkananta bungah.


"Alhamdulillah," timpal Yudistira dan Sagara ikut merasa senang dan lega, jadi Deby tidak akan merasa kesepian lagi.


"Oh iya, itu siapa temannya Fayyola itu? Kata mami malah baru saja pulang dari rumah sakit," ucap Arkananta.


"Sarah? Sakit apa?" tanya Sagar terlihat panik.


"Kalau tidak salah tipes, tadi Mami aku yang menjemput dia dari rumah sakit. Soalnya kedua orang tuanya begitu sibuk dan hanya bisa menjaga selama tiga hari. Setelah itu mereka kembali ke Mesir," jelas Arka.


Sagara tampak gelisah, membuat kedua saudaranya curiga.


"Sagara, apa kamu mulai jatuh cinta?" tanya Yudistira.


"Konyol," balas Sagara berlalu pergi.


Namun, Sagara merasa gelisah dan cemas, tapi dia juga bingung mau berbuat apa. Tidak ada alasan baginya untuk merasakan hal seperti itu.


"Sarah, pandangan matamu kepadaku seperti aku sudah melukaimu. Sebenarnya apa yang terjadi kenapa aku juga aneh seperti ini. Aku sungguh tidak tenang," batin Sagara kesal pada diri sendiri.


Sedangkan Yudistira dan Arkananta saking bisik - bisik membicarakan tentang Sagara yang bersikap aneh.


"Aku rasa Sagara suka Sarah," bisik Arka.


"Akupun juga merasa begitu, sama halnya kamu yang menyukai Deby," balas Yudis.


"Oke, aku tidak menyangkalnya. Tapi apa kamu berani mengakui jika kamu suka Jamila?" tantang Arka.


Yudistira terdiam, sebab dia juga masih bingung dengan perasaanya sendiri.


"Surat apa yang kamu berikan pada Jamila?" buruk Arkananta menggoda.


"Sial, Fayyola itu ember juga," batin Yudistira kesal.

__ADS_1


__ADS_2