CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 116


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, Zhia dan Syauqi tinggal di Singapura dan menghabiskan waktu bersama. Tak tanggung - tanggung Syauqi memberikan perawatan yang terbaik meskipun menghabiskan banyak biaya. Namun, usaha dia tidak sia - sia. Walaupun belum sembuh secara total akan tetapi penyakit Zhia bisa di tahan sehingga tidak semakin bertambah parah.


"Mas, aku dengar dua hari lagi Orlin akan menikah dengan Reki. Aku ingin sekali bisa pulang dan menghadiri acara mereka. Karena selama ini aku sudah menganggap Orlin sebagai putriku sendiri," pinta Zhia lembut.


"Baiklah, aku tahu kamu pasti juga sudah merindukan anak - anak. Aku akan meminta salah satu dokter terbaik menjadi dokter pribadimu," jawab Syauqi Malik tersenyum manis pada istrinya.


"Bukankah aku sudah tidak apa - apa? Menyewa dokter pribadi pasti butuh biaya banyak," sela Zhia.


"Kamu memang sudah baikan, tapi masih belum sembuh total. Aku tidak mau ada kesalahan yang nanti membuat kita menyesal. Percayalah padaku, soal biaya itu bukanlah hal yang sulit bagiku," bujuk Syauqi.


Karena tidak ingin membuat suaminya cemas Zhia pun mematuhi perintah Syauqi.


"Baiklah, aku patuh saja pada suamiku yang luar biasa ini," jawab Zhia.


"Nah, begini kan aku jadi tenang," balas Syauqi sambil mencium kening istrinya.


"Kalau begitu kapan kita akan pulang?" tanya Zhia tak sabar.


"Kamu istirahatlah, biar aku yang mengatur semuanya," pinta Syauqi langsung berpamitan pergi.


Sambil berjalan keluar dari apartemennya Syauqi mengambil ponselnya dan menelepon teman terbaiknya.


"Don, pesankan tiket ke kota Alarik. Aku akan pulang besok pagi!" perintah Syauqi.


"Syukurlah kamu akan pulang, otakku ini sudah mau kongslet memikirkan tugasmu," jawab Dony antusias.


"Meskipun aku pulang tapi aku sudah pensiun dari pekerjaan. Sekarang aku hanya ingin fokus menemani istriku saja," jawab Syauqi.


"Apa? Jangan kejam padaku! Aku tidak dapat gaji sebanyak ini tak apa - apa. Aku lebih memilih bekerja seperti dulu. Aku juga punya istri yang setiap malam butuh pelukanku," rengek Dony.


"Istrimu kan sehat! Lagipula ada Darren yang membantu kamu kan?" sergah Syauqi.


"Hey... Putraku tak secerdas putramu. Tetap saja akulah yang menyelesaikan semuanya," rengek Dony.


"Sudah jangan lemah begitu! Sebentar lagi Syadev juga akan pulang, setelah itu kamu bisa bersantai," jawab Syauqi santai.


"Kamu tidak punya perasaan sama sekali," balas Dony mendesah.


"Sudah jangan mengeluh! Harusnya kamu bersyukur bisa menjadi orang kepercayaan ku," bujuk Syauqi.


"Iya... Aku sangat bersyukur menjadi orang kepercayaan ku. Sehingga aku bisa menggantikan pekerjaanmu dan mendapatkan gaji besar. Bahkan setiap malam tidak ada waktu untuk pulang," kata Dony bermulut manis tapi tajam.


"Haiya... Bukankah Nindya setiap malam menemanimu di kantor kan? Lagi pula di sana juga ada kamar yang lebih nyaman dari kamar di rumahmu," sindir Syauqi.


Dony kalah telak, tidak menyangka jika temannya itu bisa tahu semuanya.


"Sudahlah! Aku masih banyak pekerjaan. Aku akan menyiapkan tiket dulu untukmu!" ketus Dony langsung mematikan teleponnya.


"Berani - beraninya dia berbicara seperti itu pada bosnya sendiri!" umpat Syauqi kesal.


Tapi setelah itu Syauqi Tertawa, sebab dia menyadari kadang terlalu keterlaluan memberikan tugas pada Dony.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Usia kandungan Kaysa sudah menginjak delapan bulan, dia dan Anggun sengaja tidak melakukan USG agar nanti bisa menjadi kejutan apakah anak mereka nantinya leki - laki atau perempuan.


Semenjak kembalinya Dewa ke Aceh pemuda itu tidak pernah ada kabarnya lagi. Bahkan saat Kaysa menghubungi juga tidak bisa.

__ADS_1


"Kak, katanya besok Ayah dan Bunda akan pulang," teriak Flora karena terlalu senangnya.


"Benarkah?" tanya Kaysa bersemangat.


"Iya, baru saja Ayah yang meneleponku," jawab Flora.


"Curang... Kenapa aku tidak diberitahu duluan," rengek Kaysa cemburu.


"Tadi Ayah sudah menelepon Kakak, tapi kata Ayah nomor kakak sedang sibuk terus," jawab Flora.


"Oh iya, tadi kakak menelepon Dewa. Tapi masih tidak bisa dihubungi," ucap Kaysa tertawa ngakak.


"Kakak kenapa sih sering bangat hubungi Kak Dewa, jangan - jangan kak Kaysa naksir dia ya?" goda Flora.


"Hush! Mana ada, cinta kakak hanya untuk Suamiku seorang. Aku hanya penasaran kenapa dia tiba - tiba menghilang," jawab Kaysa.


"Mungkin sibuk sekolah kakak, lagi pula sebentar lagi Kak Dewa akan masuk universitas," kata Flora.


"Mungkin saja," jawab Kaysa.


"Oh iya, kakak mau memberikan hadiah apa pada Kak Orlin dan Kak Reki?" tanya Flora.


"Sesuatu yang spesial," jawab Kaysa tertawa sendiri.


"Mari sekarang kita beli bersama - sama kak, aku juga butuh bantuan kakak untuk memilih kado yang bagus," ajak Flora.


"Iya, sayang. Kakak ganti baju terlebih dahulu ya? Kamu juga siap - siaplah!" jawab Kaysa.


Flora tersenyum senang, dia segera menuju kamarnya dan berganti pakaian.


"Kak Kaysa sudah izin Kak Alarik?" tanya Flora.


"Sudah, dong. Tapi lewat pesan singkat. Kakak iparmu itu sedang sibuk sekali," jawab Kaysa.


Setelah mereka berdua sampai di Mall, mereka segera memilih yang sekiranya cocok untuk Hadiah.


Tapi yang namanya Kaysa, masih hamil saja tetap bingung memikirkan penampilan untuk besok.


"Kenapa Kakak gelisah seperti itu?" tanya Flora.


"Perutku gendut sekali, dan pipiku super chubby," rengek Kaysa.


"Namanya juga orang hamil, Kak. Jadi wajar saja," jawab Flora yang justru sikapnya lebih dewasa.


"Nggak mau, aku mau berpenampilan yang cantik," sergah Kaysa frustasi.


"Kakak tenanglah, kak Kaysa itu selalu cantik. Jadi tidak perlu cemas," bujuk Flora.


"Kamu bohong," cetus Kaysa.


"Kalau tidak percaya tanya Kak Alarik saja," bujuk Flora.


"Aku tidak mandi seminggu saja Kak Al pasti bilang aku tercantik," ejek Kaysa.


Flora tertawa riang sekali, saat gadis cilik itu tanpa dengan menoleh ke samping tiba - tiba dia merasa seperti ada seseorang yang dengan memotret ke arahnya.


"Kak, tadi seperti ada orang yang memotret kita," ucap Flora.

__ADS_1


"Wah, sejak kapan adikku ini mulai narsis seolah memiliki banyak penggemar?" ledek Kaysa.


"Aku serius kak," jawab Flora.


"Bisa saja orang yang kamu maksud itu sedang Selvy, sekarang kan dikit - dikit Selvy terus di posting ke sosial media," ujar Kaysa.


Apa yang barusan dikatakan oleh Kaysa ada benarnya juga. Flora tidak merasa takut lagi.


Setelah puas berbelanja mereka beedua segera menuju kasir, akan tetapi tiba - tiba saja perut Kaysa terasa aneh.


Semakin lama semakin sakit, Kaysa memegang perutnya dan keringat bercucuran banyak mengalir dari dahinya.


"Kakak kenapa?" tanya Flora panik.


"Mulas... Dan sakit sekali," rintih Kaysa.


Flora menghiraukan belanjaannya, gadis remaja itu segera menelepon kakak iparnya.


"Kak, Kak Kaysa kesakitan" ucap Flora.


"Sekarang kalian dimana?" jawab Alarik cemas.


"Kami masih di mall. Akku akan langsung mengajak Kak Kaysa ke rumah sakit saja," kata Flora buru - buru.


Flora langsung mengajak Kakaknya untuk turun ke bawah menuju parkiran mobil.


"Nona, bagaimana dengan belanjaan kalian?" teriak salah satu pelayan.


Flora buru - biru mengeluarkan kartu miliknya dan segera mengajak kakaknya pergi.


"Nona, ini belanjaan kalian?" tanya pelayan tersebut.


"Taruh saja di sana, nanti akan aku ambil," jawab Flora tak peduli pada belanjaannya.


"Kakak masih bisa berjalan?" tanya Flora.


Kaysa mengangguk berat, dia memaksakan dirinya sendiri untuk melangkah. Setelah tertatih - tatih akhirnya mereka berhasil juga sampai di mobil.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Dewa sedang tiduran di dalam kamarnya sambil melihat foto - foto, saat tiba - tiba dia mendapatkan telepon dari anak buahnya.


"Bos, anak Syauqi Malik yang sedang hamil tadi buru - buru keluar karena kesakitan. Dan sepertinya mereka sedang menuju rumah sakit," ucap salah satu anak buah.


"Ikuti saja mereka," jawab Dewa.


"Mobil mereka sepertinya mogok di tengah jalan, Bos. Dan gadis remaja keluar mencari taxi tapi tidak ada. Apa kami tabrak saja gadis itu biar kakinya patah?"


"Mau mati kau! Jangan pernah berani bertindak tanpa perintah dariku. Sekarang cepat kamu bantu mereka, awas kalau kamu berani menyentuh mereka," bentak Dewa.


"Iya, bos."


"Dan laporkan apapun setiap pergerakan mereka," perintah Dewa.


Setelah itu Dewa menutup sambungan teleponnya, setelah itu dia memegang kepalanya yang terasa berdenyut sakit.


"Ahhh..." teriak Dewa penuh amarah.

__ADS_1


__ADS_2