
Sore harinya Arkananta berniat untuk pulang, sebab dia takut membuat orang tuanya cemas. Apalagi Mami dan papinya mengira jika dia masih menginap di rumah om Syadeva.
‘’Deb, aku harus pulang. Dan masalah tanganku yang terluka ini kamu jangan bilang kesiapapun ya!’’ pinta Arkananta dengan tatapan serius.
‘’Arka, bukankah besok kamu masih ada final lomba renang? Apa kamu masih mau ikut?’’ tanya Deby cemas.
‘’Tentu saja, memangnya kenapa?’’ ucap Arkananta balik bertanya.
‘’Jangan dulu, kesehatanmu itu lebih penting. Lagian koleksi piala kamu sudah banyak di rumah. Hal itu tidak bisa dibadingkan dengan nyawamu! Semalam kata dokter lukamu ini cukup parah dan kamu dilarang untuk banyak gerak,’’ sergah Deby cemas.
‘’Apa kamu khawatir padaku?’’ tanya Arkananta menatap Deby lekat.
Deby menjadi gugup dan salah tingkah, sebagai gadis tomboy baru kali ini dirinya merasa seperti itu di hadapan lawan jenisnya.
‘’Jika kamu katakan kalau kamu khawatir padaku maka aku tidak akan ikut lomba besok,’’ timbal Arka dengan senyuman yang menggoda.
Deby tidak terbiasa dengan situasi seperti ini, tapi gadis itu juga tidak akan membiarkan temannya dalam bahaya. Apalagi Arkananta terluka sebab ingin melindunginya.
‘’Baiklah, aku khawatir dengan keselamatanmu. Jadi besok jangan ikut lomba ya?’’ Pinta Deby malu – malu.
Arkananta tersenyum lebar, tidak menyangka jika gadis yang biasanya keras kepala dan memiliki harga diri tinggi itu bisa mengalah.
‘’Baik, tapi sebagai gantinya besok apakah kamu mau menemaniku jalan – jalan?’’ ucap Arkananta penuh harap.
‘’Kemana?’’ tanya Deby terkejut.
‘’Ke taman bermain, aku ingin sesekali kamu merasakan indahnya kesenangan. Karena selama ini hidupmu sangat membosankan seperti Sagara,’’ jawab Arka blak – blakan.
Deby memang sejak kecil berambisi menjadi kepala polisi seperti papanya, dan gadis itu juga tertarik terhadap peralatan canggh dan penemuan – penemuan hebat seperti Sagara. Makanya sejak pertama kali bertemu dengan Sagara Deby sudah mengaguminya dan senang berteman dengannya. Hanya saja Deby lebih dekat dengan Arka, sebab Sagara hanya mau membuka mulut jika membahas tentang sesuatu yang menurutnya penting.
‘’Baiklah, besok mau pergi jam berapa?’’
Debby mau tak mau menenyetujui juga.
‘’Jam setengah sembilan aku jemput kamu di rumahmu,’’ jawab Arkananta senang.
‘’Kamu kan sakit, biar aku saja yang menjemputmu,’’ sergah Deby.
‘’Eh jangan! Aku kan bisa minta di anterin sopir,’’ tolak Arkananta.
Walaupun orang tua Arkananta lebih santai dibanding orang tua sikembar Yudistira dan Sagara tetapi mereka juga tidak akan mengizinkan dirinya mendekati gadis yang berbeda agama. Namun, Arkananta memiliki tekad untuk membuat Deby suatu saat mau masuk islam, dan hal pertama yang harus dilakukan adalah mendekati secara perlahan dan membuat Deby mencintainya. Dengan begitu kedepannya dia bisa lebih mudah untuk menggiring Deby menjadi gadis muslimah.
‘’Sekarang kamu mau pulang kemana?’’ tanya Deby.
‘’Ke rumah Sagara dulu,’’ jawab Arkananta.
‘’Kebetulan kalau begitu, aku juga ada kepentingan dengannya,’’ balas Deby.
‘’Kepentingan apa?’’ tanya Arka curiga.
__ADS_1
‘’Kamu seperti tidak tahu saja, kalau dengannya paling yang kami bahas adalah soal penemuan atau semacam alat – alat canggih,’’ sergah Deby kesal.
‘’Oh, aku kira…’’ guman Arka nyengir sendiri.
‘’Kamu kira apa?’’ tanya Deby sangat penasaran.
‘’Tidak apa – apa. Ayo antarkan aku sekarang juga, dan jangan lupa bawa barang yang hendak kamu diskusikan dengan Sagara,’’ ajak Arkananta mengalihkan pembicaraan.
‘’Barangnya ada di rumah, jadi kita mampir terlebih dahulu ya,’’ jawab Desty.
Kedua anak semaja itu segera berpamitan lalu pulang ke rumah Deby, setelah itu baru menuju ke kediaman Syadeva.
Fayyola, Jamila dan Sarah baru saja selesai pulang jalan – jalan, karena hari itu adalah ulang tahun Sarah jadi dia mentraktir kedua temannya.
Sagara dan Yudistira sedang duduk santai di ruang tamu sambil menyantap hidangan buatan mama mereka, yaitu pastel yang dicocol sambel beserta tahu isi.
‘’Hey, kalian dari mana? Kenapa baru pulang, anak gadis tidak baik bepergian sampai sore begini,’’ tegus Yudistira dengan gayanya sang tenang dan santai.
‘’Kami jalan – jalan, Kak Sarah ulang tahun jadi dia mentraktir kami,’’ jawab Fayyola duduk sambil mencomot satu pastelnya.
Sagara langsung melirik, tidak di sangka jika Sarah sekarang ulang tahun.
‘’Loh, kok kamu juga tidak di traktir?’’ goda Yudistira.
‘’Maaf,’’ ucap Sarah menunduk malu.
‘’Kamu semakin pintar saja,’’ decak Yudis.
‘’Iya, dong. Kak Valerio kemana kok tidak kelihatan?’’ tanya Fayyola yang enggan untuk pergi, sebab duduk sambil nyemil sangat enak.
‘’Main game tuh, di kamar,’’ jawab Yudistira.
‘’Pantas saja dia betah di sini, di rumah mana berani main terus,’’ timpal Fayyola.
‘’Sudah biarkan saja, lagi pula besok kalau sudah kembali ke asrama akan dipadatkan dengan banyak tugas,’’ bujuk Yudistira.
‘’Benar juga sih,’’ balas Fayyola.
‘’Jamila, aku tadi sudah meletakkan buku – buku aku di kamarmu, kamu pelajari karena sangat berguna untuk tes besok. Jika ada yang tidak dipahami kamu bisa tanya aku atau Sagara,’’ ucap Yudistira berubah serius.
‘’Iya, terima kasih banyak karena kamu sudah banyak membnatu aku,’’ jawab Jamila senang.
‘’Eh, kalian sudah datang. Ayo ini di makan lagi, persdiaan di dapur masih banyak,’’ sela Anggun yang baru muncul sambil membawa dua piring.
‘’Tante ini seperti mama saja, sudah punya banyak pelayan masih saja suka masak ke dapur,’’ ujar Fayyola.
‘’Dari pada jenuh, lebih baik mencari hiburan,’’ jawab Anggun.
‘’Om Syadev belum pulang juga ya?’’ tanya Fayyola penasaran.
__ADS_1
‘’Belum, bisanya sih sekitar jam setengah enam,’’ jawab Anggun lalu beranjak pergi ke dapur lagi.
Tak lama kemudian datang Arkananta dan Deby.
‘’Wih, ada acara apa ini ramai – ramai?’’ sapa Deby.
‘’Sedang merayakan ulang tahun Sarah,’’ gurau Yudistira.
‘’Cie, selamat ulang tahun ya, Sarah,’’ timpal Deby.
‘’Iya, terima kasih,’’ jawab Sarah mencoba tersenyum.
‘’Deby, kamu bawa apa?’’ tanya Sagara yang sedari tadi hanya diam saja.
‘’Ini barang yang kemarin kau maksud,’’ jawab Deby menyerahkan barang tersebut.
‘’Ayo kita cek sekarang,’’ ajak Sagara tanpa basa- basi.
Deby langsung mengikuti Syadev, sedangkan Arkananta bergabung dengan saudara lainnya. Arkananta tahu jika sepupunya itu hanya minat dengan barang yang dibawa, bukan dengan Deby nya.
‘’Lengan kamu kenapa?’’ tanya Yudis curiga, sebab legan yang satunya sedari tadi terlihat kaku.
‘’Oh tidak apa – apa, hanya kram saja. Besok aku tidak ikut pertandingan final,’’ jawab Arka mencoba bersikap biasa.
‘’Apa tidak sayang?’’ sela Jamila heran.
‘’Tidak apa – apa, aku ikt dalam keadaan cidera seperti ini juga pasti akan kalah. Dari pada mempermalukan diri sendiri lebih baik aku tidak ikut saja,’’ jawab Arkananta sekenanya.
Namun Yudistira tidak semudah itu percaya, sebab selama ini Arkananta memiliki ambisi yang besar. Apalagi urusan perlombaan apapun yang terjadi tidak pernah mau kalah.
‘’Aku harus bicara padamu, ayo ikut kau ke kamar,’’ ajak Yudistira tanpa basa – basi.
Arkananta menghembuskan napasnya, memang berat untuk membohongi sepupunya yang satu itu. Sebab selain berbakat berakting Yudistira juga bisa melihat gerak - gerik orang yang sedang berbohong.
Sesampainya di dalam kamar sebelum Yudistira membuka mulut Arkananta sudah duluan memeperlihatkan lengannya yang terbungkus perban.
‘’Kenapa ini?’’ tanya Yudistira kaget.
Arkananta menceritakan semuanya, tanap di tambah atau dikurangi.
‘’Astaga, padahal pemimpin mereka sudah ditangkap tapi anak buah mereka masih bisa bertindak,’’ cetus Yudistira kesal.
‘’Kita tunggu hasil Sagara saja, katanya di dalam benda itu ada rahasia. Hanya saja Deby sudah mencoba untuk membuka sandinya tapi tidak bisa,’’ jawab Arka.
‘’Kita harus percayakan semua ini pada Sagara, aku yakin dia bisa,’’ balas Yudistira.
‘’Jangan bilang pada om dan tante ya, terlebih lagi kedua orang tuaku,’’ pinta Arkananta.
‘’Iya, aku tahu,’’ balas Yudistira paham.
__ADS_1