CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 124


__ADS_3

Tidak hanya sekedar fokus belajar saja tapi otak Syadev mampu meresap ilmu - ilmu di Universitas dengan cepat. Bahkan Profesor di sana sampai heran terbuat dari apa kepala Syadev.


Rupanya Syauqi sudah bisa menebak seperti apa putranya tersebut. Sebab jika dituntut justru Syadev bisa berkembang semakin pesat. Karena sejak kecil Syadev selalu santai dan tidak ada pikiran untuk bersaing dengan orang lain. Makanya Syauqi tidak mengizinkan Syadev pulang sebelum menyelesaikan study nya di Amerika.


"Syadev, tidakkah kamu lelah siang malam terus belajar?" tanya Anggun cemas.


"Tidak, sayang. Karena aku juga menyukainya. Semakin aku belajar ternyata aku semakin sadar jika apa yang aku pelajari masih terasa kurang dan kurang, aku jadi semakin penasaran ingin mendalaminya," jawab Syadev berambisi.


Anggun bahagia jika suaminya memiliki semangat yang tinggi, tapi dia juga cemas karena Syadev menjadi semakin berkurang waktu tidurnya untuk belajar.


"Suamiku, aku ingin sekali makan rujak buatan sendiri," kata Anggun.


"Mau rujak buah apa?" tanya Syadev menutup laptopnya.


Anggun senang karena rencananya berhasil, dia hanya ingin suaminya santai sejenak dan tidak menggebu - nggebu memeras otak.


"Di kulkas masih ada buah - buahan kok, nanti aku yang kupas kamu bikin sambalnya ya?" ajak Anggun.


"Kamu duduk bersantai saja di sini, biar semua aku yang siapkan. Tidak akan lama kok," jawab Syadev sambil mencium kening istrinya.


Tapi Anggun tetap mengikuti langkah suaminya dan berjalan menuju dapur.


"Rasa akan lebih nikmat jika kita tahu prosesnya," ujar Anggun.


"Iya... iya... Tapi sambil duduk di kursi saja. Nanti biar aku yang mencuci. Kalau kamu butuh apa - apa tinggal bilang saja biar aku yang ambil," ucap Syadev perhatian.


Anggun setiap hari selalu di buat berdebar - debat hatinya oleh Syadev, sebab suaminya itu selalu bermulut manis dan begitu memanjakannya.


"Suamiku..." panggil Anggun.


"Butuh apa?" tanya Syadev langsung datang menghampiri Anggun.


"Butuh kamu," jawab Anggun malu - malu.


Syadev yang merasa dikerjai istrinya langsung mencium bibir Anggun cukup lama. Anggun sendiri juga membalas ciuman suaminya dengan segenap perasaan.


"Sudah? Nanti tidak jadi - jadi loh rujaknya," sindir Syadev.


"Seharusnya aku yang berkata seperti itu" jawab Anggun malu dan kesal.


"Ah... Bilang saja mau lebih kan?" goda Syadev.


Anggun memerah malu dan pura - pura fokus mengupas mangga setengah masak.


Syadev melanjutkan lagi membuat sambal, dia sekarang sudah sangat cocok sekali menjadi peran seorang suami sekaligus Ayah.


Dari belakang Anggun senyum - senyum sendiri menatap punggung suaminya.


Dulu semasa SMA suaminya tersebut berambut gondrong dan berwarna pirang. Sikapnya juga dingin, kaku, dan cuek. Akan tetapi sekarang sudah sangat berubah. Syadev lebih hangat, murah senyum dan ramah pada siapapun.


Anggun tiba - tiba saja seperti di tarik magnet, dia berdiri dan mendekati suaminya. Kemudian memeluk punggung Syadev dengan manja.


"Hey... Hey... Ada apa ini? Tumbenan manja - manja begini?" tanya Syadev sambil memegang tangan Anggun yang melingkar di perutnya.


Anggun diam saja, tapi pipi sebelahnya dia tempelkan ke punggung seperti seekor kucing.


Syadev hanya mendiamkan istrinya saja, dia lalu melanjutkan aktifitasnya.

__ADS_1


Syadev tahu, saat hamil sikap seorang wanita selalu ingin di manja dan lebih diperhatikan. Walaupun Anggun perempuan mandiri tapi naluri seorang wanita tetap butuh perhatian dan kasih sayang.


"Mungkin anak kita perempuan ya? Karena selama hamil kamu maunya dimanja terus," ucap Syadev.


"Memangnya yang boleh manja hanya anak perempuan saja?" tanya Anggun.


"Jelas dong, seorang lelaki tidak boleh manja. Tapi boleh sih, kalau sama istrinya," kata Syadev ngakak.


Anggun sendiri menikmati rasa penasarannya, sebab saat cek ke dokter kandungan dia hanya ingin tahu janinnya sehat atau tidak. Selebihnya mengenai jenis kelamin atau apapun dia meminta Dokter untuk merahasiakannya dulu.


Akan tetapi sang dokter menyambut kedatangan Anggun dengan ceria, dia selalu bilang jika janin yang ada di perut istri Syadev sangat sehat sekali.


Beberapa menit kemudian semuanya sudah jadi, Syadev mengajak istrinya makan rujak di depan rumah.


"Wah... Enak sekali," ucap Anggun.


"Makanlah yang banyak," jawab Syadev tersenyum puas.


Anggun sangat menyukai buah - buahan, sebab sejak awal hamil hanya itu yang bisa di makan. Baru setelah usia kandungan menginjak empat bulan rasa mual dan ingin muntah sudah berhenti. Akan tetapi Anggun tetap merasa enggan makan nasi, jadi dia paling makan roti, jagung manis rebus atau ubi rebus. Selebihnya susu, buah - buahan dan cemilan.


"Mungkin sebentar Darren dan Zahra juga akan memiliki anak," kata Syadev tersenyum ngikik.


"Wah... Berarti mereka sudah..." pekik Anggun menutup mulutnya sendiri.


"Sudah apa?" goda Syadev.


Anggun menggeleng - gelengkan kepalanya karena merasa malu. Sebab selama ini Zahra selalu curhat jika dirinya dan Darren belum pernah melakukan hubungan intim.


"Darren memang payah..." gumam Syadev menertawakan sahabatnya.


"Payah kenapa?" tanya Anggun penasaran.


Anggun diam - diam juga ingin tertawa, tapi dia tahan karena takut tersedak.


"Syadev, kalau kamu sudah selesai belajar apa kamu akan langsung mengambil alih perusahaan?" tanya Anggun yang sebenarnya sudah tahu jawabannya.


"Iya dong, siapa lagi memangnya kalau bukan aku? Ada apa memangnya?" tanya Syadev balik.


Anggun diam, dia bisa membayangkan jika suaminya itu memakai baju kantor, kemduain menjabat sebagai pimpinan perusahaan yang besar. Pasti akan sangat terlihat keren dan semakin gagah. Dalam hatinya jadi ada perasaan takut jika nanti suaminya tergoda wanita lain yang lebih darinya.


"Ada apa?" tanya Syadev yang bisa melihat raut wajah istrinya berubah muram.


"Dulu semasa SMA banyak sekali gadis - gadis yang mengejarmu. Dan janji jika kamu sudah menggantikan posisi Ayah pasti kamu akan tampak lebih keren dan mempesona. Pastinya akan semakin banyak perempuan yang mengejarmu. Jaman sekarang wanita sudah tidak mempedulikan jika lelaki yang dikejarnya itu sudah beristri atau belum," kata Anggun ingin menangis.


Syadev terkejut dengan penuturan istrinya, sebab baru kali ini Anggun mengungkapkan isi hati nya. Dia kini sadar seorang wanita juga memiliki rasa cemburu dan curiga. Hanya saja ada yang diungkapkan dan ada pula yang dipendam.


Syadev bangkit dari kursi dan duduk di lantai menghadap istrinya. Kemudian kepalanya dia sandarkan pada paha istrinya.


"Aku tahu aku mempesona, tapi bukan berarti aku mudah tergoda. Kamu sudah mengenalku sejak SMA. Jadi kamu bisa tahu bagaimana sikapku pada perempuan lain," bujuk Syadev menenangkan istrinya.


"Tapi nanti kamu akan bertemu dengan wanita - wanita hebat dan lebih segalanya dariku," kata Anggun yang sudah takut pada bayangan.


"Kalau begitu setiap aku pergi kemana saja kamu bisa ikut bersamaku, nanti kita ajak anak kita sekalian. Ah... Membayangkan saja aku sudah tidak bisa berpisah dengan istri dan anakku walau satu menit," ucap Syadev sambil mencium perut Anggun.


Anggun memeluk kepala suaminya, dan mencium rambut Syadev berkali - kali.


"Aku setuju, bukankah dulu Bunda juga seperti itu? Aku ingat cerita Bunda, katanya waktu kamu dan Kaysa masih kecil pernah mengacak - acak kantor gara - gara ada karyawan yang berniat menggoda Ayah. Aku jadi berharap punya anak kembar. Jadi jika nanti ada perempuan yang menggodamu aku punya dua prajurit yang siap membasminya," kata Anggun tak bisa menahan tawa.

__ADS_1


"Aku juga tidak sabar menantikan hari itu, entah kenapa aku memiliki firasat jika anak kita memang kembar," jawab Syadev masih berada dalam dekapan istrinya.


"Beneran lo ya, kemanapun kamu pergi aku mau ikut. Sekalipun sedang bekerja," kata Anggun memastikan.


"Iya... Iya..." jawab Syadev patuh.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Pukul lima pagi Dewa sudah bangun, langit masih tampak gelap.


Dewa melihat ke arah Flora yang menggigil kedinginan, tapi setelah di sentuh keningnya terasa sangat panas.


"Astaga... Demammu semakin parah," kata Dewa panik.


Dewa mengambil ponselnya tapi ternyata mati karena kehabisan baterai. Dia jadi bingung bagaimana cara untuk menghubungi anak buahnya.


"Kalau dibiarkan saja pasti akan semakin parah," batin Dewa ketakutan.


Mau tidak mau Dewa harus segera membawa Flora keluar dari hutan dan mencari pengobatan.


"Flora... Bangunlah," bisik Dewa lembut.


Tapi Flora hanya merintih dan mengeluh kepalanya pusing dan tubuhnya lemas.


Dewa langsung membantu Flora untuk bangun, setelah itu dia menggendong Flora dan menempelkan tubuh gadis itu di punggungnya.


"Bertahanlah, aku akan segera membawamu ke rumah sakit," kata Dewa.


Flora melingkarkan tangannya erat ke leher Dewa, sedangkan dagu gadis tersebut bersandar pada bahu kanan Dewa.


Sedekat ini, membuat jantung dewa berdetak kencang.


"Kamu sebaiknya tidur saja, dan jangan takut karena ada aku yang akan melindungi mu," bujuk Dewa.


Melindungi? Dewa merasa konyol telah mengucapkan hal itu. Sebab niat dia yang sebenarnya untuk menyakiti Flora dan menjadikan gadis itu alat balas dendam.


Tapi kali ini rasa dendamnya bisa terlupakan saat melihat Flora tak berdaya. Bahkan dalam sekejap tubuh Dewa menjadi kuat menggendong Flora dan menyusuri jalan setapak di hutan. Tiada rasa lelah sedikitpun, padahal perjalanan masih sangat jauh.


Dewa mulai merasakan perasaan yang aneh, hembusan napas Flora seakan sudah menyatu pada tubuhnya. Bahkan saat dia mengingat ciuman pertamanya semalam membuat hatinya berdesir tak karuan.


Setelah berhasil keluar dari hutan langit mulai terang.


"Flora, buka matamu. Lihatlah pemandangan di depan kita!" kata Dewa lembut.


Biarpun Flora tertidur saat Dewa memanggil namanya gadis itu bisa mendengar. Saat Flora membuka mata ternyata di depannya terlihat pemandangan yang sangat indah. Matahari baru saja terbit dari balik pegunungan.


"Indah sekali," gumam Flora dengan suara serak.


Mendengar suara itu membuat Dewa semakin menyesali diri sendiri karena telah mempermainkan gadis kecil.


Dewa lalu segera melanjutkan perjalanan menuju desa terdekat, karena rumah sakit masih jauh jadi terpaksa Dia membawa Flora ke puskesmas.


Dia meminjam charger milik satpam, saat hape bisa dinyalakan dia segera menelepon anak buah.


Sambil menunggu Flora di periksa oleh dokter, Dewa menyuruh anak buah untuk melakukan banyak tugas.


Ada yang di suruh laporan ke gurunya Flora agar mereka tidak heboh. Ada juga yang di suruh membeli makanan.

__ADS_1


**Jangan lupa Like dan Vote ya🤗 Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author.


Tetap nantikan kisah Selanjutnya, semoga kalian suka🙏**


__ADS_2