CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Kepolosan Deby


__ADS_3

Tiba-tiba saja ponsel Deby berbunyi, ternyata panggilan dari sopir papanya.


"Ada apa, Deb?" tanya Arkananta penasaran.


"Aku di suruh pulang sekarang," jawab Deby resah.


"Aku anterin yuk, aku kan bawa mobil sendiri. Yang lainnya biar menyelesaikan makan dulu," tawar Arka.


"Iya," jawab Deby langsung setuju.


Di sepanjang perjalanan Deby terlihat murung, membuat Arkananta cemas.


"Ada apa? Kenapa kamu gelisah?" tanya Arka.


"Sopir papa tadi nyuruh aku pulang dan kelihatan gemetar suaranya, seperti sedang di ancam," ucap Deby curiga.


"Papa kamu di mana?" tanya Arkananta itu cemas.


"Papa jam segini ya sedang di kantor kepolisian," jawab Deby.


"Sebaiknya berpikir positif saja," bujuk Arkananta.


Arka memang mengagumi sosok perempuan yang pemberani seperti Deby, hanya saja kedua orang tuanya itu memberikan persyaratan jika mencintai gadis harus yang berjilbab dan juga muslim. Sedangkan Deby beda agama, tentu Arka tidak berani secara terang - terangan bilang menyukainya di depan orang tuanya. Dan sampai sekarang Arka masih merahasiakan perasaanya itu dari siapapun, jika ketahuan dia takut akan dijodohkan. Apalagi maminya sering sekali memperkenalkan Arka dengan para gadis yang cantik dan anggun.


"Arka, terima kasih sudah mengantarkan aku," ucap Deby.


"Iya, sama - sama," jawab Arka.


Tapi belum sempat Arka menjalankan mobilnya tiba - tiba terdengar suara jeritan Deby. Arka langsung turun dari mobil dan berlari ke halaman rumah Deby yang sangat luas.


"Astaga, siang bolong begini berani-beraninya membuat kerusuhan di rumah kepolisian?" gumam Arka geleng - geleng kepala.


"Cepat kembalikan barang kami! Jika tidak sopirmu ini akan aku tembak!" gertak salah satu dari mereka sembari menodongkan pistol ke kepala sopirnya Martin.


Para pembantu dan juga pekerja Martin sudah jongkok dipojokan sebab takut dengan pistol yang mengarah ke mereka.


"Barang apa?" tanya Deby cemas.


"Flash dish, bukannya ada di rumah ini? Kami sudah melacaknya," gertak mereka.


Deby ingat jika dia memang sudah mengambil barang itu, siapa sangka hal ini akan membawa petaka.


"Baik aku ambil, tapi jangan lukai mereka!" ucap Deby.


Dua orang mengawal langkah Deby dari belakang, sedangkan Arkananta tidak bisa berkutik. Karena jika salah perhitungan bisa membahayakan nyawa banyak orang.


Setelah Deby memberikan barang yang di cari, para penjahat itu segera membawanya sebagai jaminan keselamatan.


"Tunggu, kalau mau bawa sebaiknya aku saja!" pinta Arkananta.


"Tidak, biar aku saja," timpal Deby.


Akhirnya Deby dan Arkananta di bawa berdua.


"Cepat hubungi si tua Martin itu, jika tidak melepaskan bos maka putrinya akan di bunuh!"


"Siap,"


Ternyata memang tidak semudah itu mengalahkan para penjahat itu, padahal kemarin sudah merasa tenang sebab berhasil menangkap pemimpin kelompok. Ternyata masih banyak anak buah yang tersebar.


Nyali mereka memang tinggi, karena di siang hari masih berani bertindak. Padahal di rumah Deby juga terpasang CCTV.


Deby dan Arkananta di bawa ke sebuah hutan. Dan mereka berdua di ikat di pohon yang besar.

__ADS_1


"Deby, kamu bawa ponsel?" tanya Arka.


"Tidak, tapi aku punya jam tangan yang bisa digunakan untuk berkomunikasi," bisik Deby.


"Apapun yang terjadi bilang kalau kita sudah kabur dan jangan biarkan papa kamu kemari. Tadi tanpa sengaja aku mendengar mereka hendak membunuh papamu untuk balas dendam," bisik Arka


"Iya," gumam Deby semakin cemas.


Makanya sampai langit hampir gelap Martin belum datang, papanya Deby itu mengira jika putrinya sudah selamat dan sedang bersembunyi.


Deby sengaja melakukan hal itu sesuai perintah Arka, gadis itu takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada papanya.


"Aku sudah bisa melepaskan diri, tapi aku menunggu mereka lengah terlebih dahulu. Jangan gegabah dan kamu bersikap tenanglah!" saran Arkananta.


Entah kenapa ketakutan Deby seketika hilang, tidak disangka Arkananta yang sering membuat onar tapi bisa bersikap serius dan tenang dalam keadaan seperti ini.


Para penjahat berjumlah empat, tapi mereka terlihat sudah terlatih dan pastinya pandai ilmu bela diri. Terlebih lagi di tangan mereka juga ada pistol.


Saat mereka berniat sibuk makan, Arkananta dengan cepat melepaskan diri dari ikatan tali. Baginya yang sudah berlatih sejak kecil sangat mudah melepaskan diri. Dengan secara diam - diam dia membantu Deby melepaskan ikatan.


"Ayo kita lari," bisik Arkananta.


Deby dan Arka lari secara bersamaan, tapi salah satu dari penjahat menyadari dan berteriak.


"Mereka kabur!"


Sontak saja para penjahat yang hendak makan itu berlarian mengejar, bahkan menembakkan peluru secara membabi buta karena hari memang sudah mulai gelap.


Arka sengaja berlari di belakang tubuh Deby, sebab melindungi jika ada peluru yang melesat. Dan perkiraanya itu benar, satu peluru menancap di lengan Arka.


Arka berteriak kesakitan, tapi dia tetap mencoba berlari.


"Tidak! Arka kamu terluka!" pekik Deby.


"Kamu larilah, biar aku yang menghadang mereka!" perintah Arka.


Mereka berdua berbelok arah ke samping, untung saja Deby memiliki jam canggih, selain untuk komunikasi juga bisa menunjukkan arah jalan akurat lengkap dengan gambarnya.


"Kita tunggu di sini, aku sudah memberitahu anak buah papaku untuk menjemput kita dengan banyak polisi biar aman," ujar Deby.


"Wih keren," gumam Arka melihat jam milik Deby.


"Iya, ini penemuan baru Sagara," jawab Deby.


Entah kenapa Arka tiba-tiba merasa cemburu.


"Deby, apa kamu menyukai Sagara?" tanya Arkananta serius.


"Tentu saja, dia jenius dan memiliki hobi yang sama denganku," jawab Deby tanpa pikir panjang.


Arkananta sangat kesal, karena marah dia mencium bibir Deby seketika.


"Arka!" pekik Deby marah sekaligus kaget.


"Ah.… Sakit..." rintih Arka.


"Jangan pura - pura deh," sergah Deby.


Tapi sesaat kemudian Arka pingsan, Deby lupa jika tadi Arka terkena tembakan.


"Astaga, Arka... Arka..." Panggil Deby sambil menangis.


Deby langsung saja memeluk Arka, gadis itu kebingungan harus melakukan apa karena langit sudah mulai gelap.

__ADS_1


*******************************


Arkananta terbangun dan merasakan tubuhnya berada di tempat yang nyaman dan empuk.


Dia membuka sedikit matanya dan menemukan jika Deby tengah duduk di sisinya dan tertidur pulas.


Arka melirik ke jam dinding, ternyata sudah pukul 11 malam. Dan di sana hanya ada Deby seorang diri.


"Arka, kamu sudah sadar," gumam Deby terbangun.


"Iya, aku dimana?" tanya Arka.


"Ini di kantor kepolisian, mau di bawa ke rumah sakit terlalu jauh. Untung saja tadi papa juga membawa dokter polisi," jawab Derby.


"Aku mau pulang, nanti orang tuaku mencariku," sergah Arka.


"Aku sudah memberitahu mereka, tapi aku tidak memberitahu kalau kamu terluka. Aku sangat takut pada keluargamu, maaf," bisik Deby.


"Justru kamu melakukan hal yang benar, kamu tahu sendiri kan bagaimana rempongnya mamiku?" balas Arka tersenyum tenang.


"Terus bagaimana dengan penjahat yang tadi? Apa sudah tertangkap?" tanya Arka penasaran.


"Iya sudah," jawab Deby tiba-tiba gugup teringat ciuman tadi. Bagaimanapun juga baru kali ini ada seseorang yang berani. menciumnya.


"Wajahmu kenapa memerah? Apa kamu sakit atau juga terkena tembakan?" sela Arka panik.


"Tidak, aku hanya... Hanya penasaran kenapa tadi kamu mencium aku?" tanya Deby terbata.


"Oh, itu karena... Aku marah," jawab Arka juga mulai gugup.


"Marah kenapa? Apa salahku padamu?" tanya Deby tak mengerti.


"Aku tidak rela jika kamu menyukai Sagara, dan juga lelaki lain," jawab Arka merasa berdebar - debar.


Deby sendiri merupakan gadis tomboy, sejak kecil sudah terbiasa bermain dengan lelaki. Justru dia merasa kurang cocok berteman dengan perempuan karena baginya sangat membosankan.


"Kenapa aku tidak boleh menyukai Sagara atau lelaki lain?" tanya Deby polos.


"Karen aku menyukaimu bodoh!" balas Arka kesal.


"Aku juga menyukaimu," ucap Arka.


"Benarkah?" tanya Arka senang.


"Iya, sama seperti aku menyukai Sagara dan Yudistira. Berteman dengan kalian sangat seru dan tidak membosankan," timpal Deby.


"Astaga, sudahlah," ujar Arka kesal.


Ternyata Deby yang terlihat keren hanya sampulnya saja, akan tetapi pikirannya masih begitu polos. Bahkan tidak tahu apa itu cinta.


"Hey, kenapa marah lagi?" tanya Deby.


"Tidak, aku mau tidur," jawab Arka memalingkan wajahnya.


"Hurt, cowok aneh," gumam Deby merengut.


Kemudian Arka menoleh lagi ke arah Deby.


"Eh, tapi kamu jangan bilang ke riang lain mengenai aku yang suka kamu ya!" pinta Arkananta serius.


"Aku akan bilang kesemua orang jika kamu menyukaiku," ejek Deby.


"Kamu! Coba berani mengatakannya aku akan menciummu lagi!" ancam Arka.

__ADS_1


Kini giliran Deby yang terdiam dan merasa canggung.


Deby sendiri tidak tahu bagaimana perasaanya, yang jelas dia menyukai Arka tapi juga lebih senang dekat dengan Sagara yang memiliki hobi sama. Intinya Deby bingung dengan perasaanya sendiri.


__ADS_2