CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 90


__ADS_3

Pesta pernikahan dari keluarga Syauqi Malik yang kedua lebih mewah, sebab kali ini Kaysa benar-benar menyiapkannya dengan sangat istimewa meskipun dalam waktu yang singkat.


Syadev sedari tadi hanya menatap istrinya yang semakin memukau dengan gaun pengantin rancangan Nindya, mamanya Darren.


"Gaun rancangan Tante Nindya memang keren," puji Kaysa yang juga memakai gaun dari butik tantenya.


"Iya, indah sekali. Sangat cocok dengan Anggun," timpal Zahra.


"Tenang saja, nanti saat pernikahan kita aku akan meminta mama merancang gaun yang paling spesial," sela Darren.


Ucapan Darren membuat orang-orang yang berada di sekitar ikut tertawa geli, membuat Zahra merasa malu.


Acara berlngsung dengan meriah, Anggun seolah berada dalam alam mimpi bisa merasakan pernikahan yang sangat mewah. Bahkan di hadiri oleh orang-orang dari kelas atas.


Para tamu undangan yang dari Alumni SMA Nusantara merasa terkejut saat mereka mendapatkan undangan, apalagi semasa sekolah Anggun tidak mencolok dan terbilang gadis biasa yang miskin. Namun siapa sangka Anggun bisa menikah dengan Syadev yang sangat populer di sekolah masa itu.


Siska dan Maya yang baru saja masuk ke ruang pesta hanya bisa menatap iri, sebab sebelumnya keduanya itu sering meremehkan dan membully Anggun.


"Selamat ya, Syadev, Anggun. Semoga kalian berdua bahagia," ucap Siska yang memaksakan diri untuk tersenyum.


"Selamat ya, semoga kalian segera mendapatkan momongan," timpal Maya tak kalah irinya.


"Iya, sama-sama. Aku doakan kalian bisa segera menyusul," balas Anggun tulus.


"Terima kasih ya sudah datang," timpal Syadev.


Siska dan Maya segera mencari tempat duduk, karena antrian tamu undangan lain yang hendak memberi selamat masih sangat panjang.


Namun antrian berikutnya yang membuat terkejut itu adalah kedatangan Orlin dan Reki. Mereka justru tampak seperti pasangan yang sudah menikah karena memakai baju yang senada. Reki memakai jas warna dongker, begitu juga dengan Orlin yang tak kalah keren memakai gaun dongker.


Alarik dan Kaysa yang berada di sebelah Syadev juga ikut senang, keduanya merasa jika di antara Reki dan Orlin ada sesuatu.


"Suamiku, sepertinya Kak Reki dan Kak Orlin sedang pendekatan," bisik Kaysa.


"Semoga saja," jawab Alarik tak kalah senang.


"Woy… gosipin apa kalian?" tegur Orlin yang sudah merasa.


"Tidak, ayo Kak Orlin segera ajak Kak Reki duduk menikmati hidangan dulu," balas Kaysa ramah.


Para tamu dari kerabat terdekat sengaja di jadikan satu agar bisa saling mengobrol. Di sana Reki dan Orlin mendapatkan sambutan hangat. Reki sebenarnya merasa malu luar biasa untuk menghadapi semua orang, akan tetapi senyuman Orlin seolah memberi kekuatan untuk berani dan melawan rasa takut.


"Ayo duduk sini, dekat Tante," pinta Zhia ramah pada Orlin dan Reki.


"Kalian sangat serasi sekali, semoga segera dapat kabar baik juga ya" timpal Syauqi.


Reki tidak tahu mengapa keluarga Syauqi Malik sangat ramah dan hangat, padahal dirinya sudah banyak kesalahan pada Alarik.


Reki hanya bisa tersenyum canggung karena ada perasaan was-was di dalam hatinya.


"Aku senang Kakak datang," sapa Alarik sambil menepuk pundak kakak sepupunya dengan senyuman yang tulus.


"Iya, terima kasih sudah mengundangku," jawab Reki terharu. Oh.. Betapa menyesalnya dirinya ketika dulu sering membully Alarik saat kecil.


"Ayo silahkan dinikmati hidangannya," ucap Kaysa pada semua kerabatnya.


Kaysa yang semalam mendengar curhatan dari Zahra tentang Darren yang mengajak menikah tiba-tiba tidak tahan untuk membocorkannya. Bibirnya itu memang suka keceplosan.


"Om Dony, Darren kemarin melamar Zahra Loh. Kira-kira pernikahan mereka akan diadakan kapan?" tanya Kaysa lantang.

__ADS_1


Darren yang sedang meminum langsung tersedak, pemuda itu memang berniat menikahi Zahra. Akan tetapi bukan dengan cara seperti ini.


"Benarkah?" tanya Fauzi memastikan sambil menatap ke arah Darren.


Saat itu tubuh Darren serasa tubuhnya mengkerut dan mengecil.


"Mau menikahi anak orang kira-kira sudah bisa bertanggung jawab apa belum?" goda Elly.


"Wah… wah… Anak papa sudah minta kawin, papa sih oke-oke saja. Asalkan kamu sudah siap," timpal Dony yang mengira semua itu hanya lelucon.


"Aku serius, Pa. Aku memang ingin menikahi Zahra lalu membawanya ke Amerika," jawab Darren tegas.


Kini giliran Dony yang tersedak, papa Darren tersebut tidak menyangka jika putranya sudah mau menikah di usia muda.


"Eh, pernikahan itu bukan hanya sekedar saling mencintai loh. Kalian juga harus siap secara lahir dan batin. Darrennya sudah siap, Zahranya sudah siap belum," sergah Nindya yang melihat Zahra masih terlihat ragu.


Zahra hanya menunduk diam, gadis itu memang mencintai Darren semenjak kecil. Namun untuk sebuah pernikahan dirinya masih belum siap.


"Sepertinya Zahra masih belum siap, sebaiknya di tunda sampai mereka lulus kuliah saja," sela Elly yang mengetahui isi hati putrinya.


"Iya, lagi pula kalian ini masih terlalu muda," jawab Nindya yang setuju dengan ucapan bosnya tersebut.


"Tante Elly, Tante Nindya, aku dan Syadev masih muda tapi sudah menikah. Kenapa Meraka belum diijinkan?" sergah Kaysa tidak mengerti.


"Kaysa, meskipun kamu masih muda tapi suami kamu sudah matang dan dewasa. Seandainya ada permasalahan keluarga Alarik bisa meredam emosimu. Syadev dan Anggun biarpun masih muda mereka juga sudah berpikiran dewasa. Sedangkan Darren dan Zahra semenjak kecil mereka terbiasa hidup manja, Tante masih ragu jika membiarkan mereka menikah di usia dini," jawab Elly memberi pengertian.


"Iya, apalagi Daren belum lulus kuliah. Bagaimana nanti dia akan mencari nafkah untuk istri dan anaknya?" timpal Nindya.


"Kalian ini seperti tidak tahu anak muda jaman sekarang saja! Iya, saat ini mereka menerima menunda pernikahan, tapi siapa yang tahu besok mereka kawin lari?" ujar Syauqi yang membuat kedua orang tuanya Darren dan Zahra jadi cemas.


Syadev yang merasa tersindir hanya bisa menunduk malu. Untungnya saudara kembarnya itu bisa menahan diri untuk tidak menggoda Syadev. Sebab Kaysa sedang fokus memperjuangkan kisah cinta Darren dan Zahra.


"Ayahku memang keren tahu pemikiran anak muda," bela Kaysa.


"Iya.. Ayahku akan selalu muda terus," timpal Kaysa.


Semua jadi tertawa melihat kenarsisan Ayah dan anak tersebut.


"Om Dony, otak Darren itu pas-pasan. Kalau kuliah di Amerika butuh waktu lama untuk lulus. Beda dengan Syadev yang aku yakin satu setengah tahun lagi bisa selesai. Nah, nanti kalau Syadev pulang bagaimana dengan Darren? Lebih baik sih biarkan Darren menikah dengan Zahra dan kuliah di Indonesia. Suruh saja Darren kerja sampingan di perusahaan Ayah, nanti jika Syadev sudah menggantikan posisi Ayah biar Darren yang juga menggantikan posisi Om Dony," kata Kaysa lantang.


Dony selalu kesal dengan anak kembar Syauqi malik, yang satu pendiam tapi sekali bicara susah dikalahkan sedangkan yang satunya banyak omong tapi masuk akal. Intinya sama-sama susah dikalahkan semua.


"Iya, Pa. Kalau Syadev nanti pulang duluan aku juga tidak mau di sana sendirian. Biarkan aku pindah kuliah ke sini dan bekerja di kantor Om Syauqi. Dengan begitu aku akan belajar bertanggung jawab untuk menafkahi Zahra nanti," pinta Darren serius.


Zahra yang awalnya ragu menjadi terkesima dengan kesungguhan Darren. Gadis itu tidak tega juga membiarkan kekasihnya berjuang seorang diri.


"Umi, Abi. Aku sudah siap menikah. Tadi aku hanya takut jika kalian berdua belum marah," pinta Zahra lembut.


"Kamu serius?" tanya Fauzi.


Zahra mengangguk mantap.


Elly menatap ke arah Syauqi, dengan mantap pula Syauqi menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana, Dony?" tanya Fauzi.


"Aku terserah anak-anak saja, sebagai orang tua aku hanya bisa berdo'a dan mendukung mereka. Harapanku hanya anakku bisa hidup bahagia saja itu sudah cukup," jawab Dony santai.


"Baiklah, kalau begitu nanti kita bahas lagi yang lebih resmi," ujar Fauzi.

__ADS_1


Elly yang awalnya ragu tidak bisa berkata apa-apa lagi, perempuan itu tidak ingin kejadian adiknya yang menghamili Zhia akan menimpa lagi pada putrinya. Sebab anak jaman sekarang memang sering bertindak sembrono.


Semua ikut senang melihat hubungan Darren dan Zahra yang terbilang lancar, sebab kedua orang tua mereka juga teman dekat.


Reki dan Orlin jadi baper sendiri dan merasa kalah dengan Darren dan Zahra yang masih muda tapi memiliki keberanian


Saat berangkat menuju pesta tadi Reki sebenarnya mulai sadar dirinya tertarik pada Orlin, akan tetapi untuk menyatakan cintanya Reki takut. Sebab Orlin adalah gadis baik dan cerdas, sedangkan dirinya salah seorang yang penuh keburukan di masa lalu.


Apalagi kini Reki yang berstatus pengangguran membuat Reki takut melangkah lebih jauh. Kini dia hanya bisa memikirkan bagaimana cara bisa hidup mandiri terlebih dahulu dan mendapatkan kepercayaan untuk bisa bertanggung jawab menjadi seorang imam. Sebab Orlin anak tunggal dari keluarga ternama juga.


Kemudian datang juga Bima bersama Inge. Syadev dengan senang hati mempersilahkan kedua temannya itu untuk duduk.


Syadev memberikan kode untuk Bima duduk di samping kursi Alifya yang masih kosong.


Dengan penuh semangat pemuda itu langsung meluncur ke sana sebelum kedahukuan Inge.


Akan tetapi Inge menjadi duduk di samping Darren, membuat pemuda itu ketar ketir Zahra akan cemburu.


"Ma, Zahra sangat mengagumi rancangan mama. Dia tadi sampai ngiler saat melihat Anggun memakai gaun pengantin itu," kata Darren keras, seolah memberi Zahra keyakinan jika antara Darren dan Inge tidak ada hubungan apa-apa.


"Tenang saja, untuk calon menantu mama nanti akan dibuatkan gaun terbaik," balas Nindya senang hati.


"Terima kasih," timpal Zahra tersenyum malu.


Inge yang tidak punya perasaan apa-apa pada Darren juga tidak merasa cemburu, sebab tipe gadis itu bukan cowok seperti Darren.


Kemudian mereka semua sibuk ngobrol masing-masing. Bima yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan berusaha mengajak gadis yang duduk di sampingnya itu untuk berkenalan.


"Kamu saudara sepupu Syadev ya, perkenalkan nama aku Bima," ucap Bima sopan.


"Iya, namaku Alifya," jawab Alifya ramah.


Namun Rian yang melihat putrinya hendak di dekati seorang pemuda segera beraksi.


"Putriku, sepertinya Anggun kelelahan. Ajaklah dia istirahat ya," pinta Rian lembut.


"Iya," jawab Alifya patuh.


Alifya segera mendekati Anggun dan mengajak adik iparnya itu untuk beristirahat terlebih dahulu. Sebab dari tadi Syadev dan Anggun tidak bisa duduk karena tamu yang terus berdatangan, demi menghormati para tamu kedua penganti itu berdiri menyambut kedatangan mereka.


Bima merasa sudah K O, dia sadar jika keluarga Alifya bukan keluarga seperti lainnya yang membiarkan putri mereka mengenal pemuda asing.


Syauqi yang dari tadi diam saja tapi bisa tahu keadaan sekeliling, dia langsung tersenyum melihat Reki dan Bima yang sedang berupaya mengejar gadisnya. Syauqi berharap agar mereka semua tidak meniru jejak langkahnya yang melanggar hukum dan aturan.


"Ayah, kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Flora gadis yang sedari tadi juga hanya diam.


"Ayah sedang bahagia, kedua kakak kamu sudah menikah. Nanti giliran kamu yang akan menikah, kira-kira pangeran seperti apa yang putriku harapkan?" goda Syauqi.


"Flora masih kecil, belum saatnya bagi dia untuk memikirkan hal seperti itu. lebih baik fokus belajar karena jodoh nanti Alloh yang mengatur," tutur Zhia lembut.


Flora hanya mengangguk patuh, gadis itu memang sejak kecil selalu penurut. Flora baru ABG yang bahkan belum tahu apa itu cinta. Sebab dia gadis yang sangat lugu dan polos seperti bundanya.


Kemudian Alarik melihat paman dan keluarga barunya masuk ke ruang pesta. karena Syadev dan Anggun sedang beristirahat Alarik langsung bangkit untuk menemui pamannya terlebih dahulu.


Reki yang sedang duduk manis di samping Orlin langsung di ajak Alarik.


"Kak, ayo kita sambut paman," pinta Alarik tersenyum cerah.


Reki ragu, tapi ketiga Orlin tersenyum manis padanya Reki seolah di beri kekuatan untuk maju ke depan.

__ADS_1


**Maaf ya ,sudah dua hari tidak up. kemarin Author kurang sehat.


selamat membaca, dan tunggu kelanjutan ceritanya ya, jangan lupa Like dan Vote. karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author**.


__ADS_2