CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hati Perempuan


__ADS_3

Kepulangan Yudistira membuat semua keluarga dan kerabatnya menangis haru, sebab membayangkan putra pertama Syadeva yang diculik seakan seperti mimpi buruk.


Namun, kedatangan Jamila juga merupakan sebuah kejutan bagi Sagara dan Arkananta. Sebab keduanya ingat jika Jamila merupakan sosok gadis yang bekerja disebuah tempat hiburan malam.


"Yud, aku rasa kalian ini takdir. Karena sudah dua kali dipertemukan dengan kisah yang sangat melankolis," ujar Arkananta serius.


"Kamu ini terlalu banyak menonton drama, bisa saja ini hanya kebetulan," jawab Yudistira santai.


"Eh, apa kamu masih ingat wajah pemimpinnya Roji?" sela Sagara yang lebih tertarik mengobrol hal yang baginya lebih penting dibanding seorang gadis.


"Ingat dong," jawab Yudistira.


"Kalau begitu kamu coba lukis, siapa tahu bisa memberikan petunjuk!" Pinta Sagara.


"Baiklah, tapi besok saja. Aku masih merasa lelah sekali," balas Yudistira.


"Terserah kamu, tapi lebih cepat itu juga lebih baik," ujar Sagara.


"Sagara, kamu ini sedang sibuk ngapain sih?" tanya Arkananta penasaran.


"Hanya melihat - lihat saja, ini barang langak loh. Deby mendapatkannya di tempat lelang dengan harga yang lumayan mahal," jawab Sagara.


"Wah, disaat aku tidak ada kamu beraninya menikung dari belakang aku," sindir Arkananta.


"Siapa yang pergi dengannya? Kemarin aku ke Aceh membantu Om Dewa ya. Kalau mau marah sama Yudis tuh yang pergi dengannya," jawab Sagara santai.


"Sialan kamu! Apa kamu kira aku mau apa pergi ke tempat membosankan seperti itu kalau tidak ditipu. Justru gara - gara kamu juga aku diculik," sergah Yudistira kesal.


"Tapi kan kamu senang dapat bertemu dengan Jamila lagi," goda Arkananta.


"Kamu ini bagaimana sih? Kenapa malah balik menyerang aku," pekik Yudistira semakin kesal.


"Sudah ayo kita tidur, besok pagi kita akan pergi ke Vila kakek," sela Sagara menghentikan keributan di tengah malam.


Kamar Sagara dan Yudistira berada di satu ruangan, tapi milik Sagara sengaja ada ranjang tingkat sebab Arkananta sering main ke sana.


Ketiga generasi Syauqi tersebut segera tidur.


*******************************


Jamila merasa sungkan berada di tempat Yudistira yang baginya sangat megah dan mewah. Apalagi di sana juga ada banyak sekali kerabat yang tengah menginap.


Pagi harinya semua keluarga Malik pergi ke Villa, sedangkan Jamila dan Sarah memilih untuk tidak ikut sebab mereka berdua bukan dari bagian keluarga.


"Nama kamu siapa? Kemarin kita belum sempat berkenalan?" tanya Sarah.


"Aku Jamila, kamu siapa?" balas Jamila.


"Aku Sarah, jadi kamu juga mau sekolah di Andromeda ya? Berarti nanti kita bisa satu asrama," ujar Sarah sopan.


"Apa di sana sekolahnya besar?" tanya Jamila penasaran.


"Sini, aku punya foto dan juga semua informasi mengenai sekolah Andromeda," ajak Sarah sambil membuka laptopnya.


Jamila merasa takjub, ternyata sekolah yang hendak ditujunya memiliki kualitas yang sangat bagus.


"Sepertinya di sana hanya perkumpulan untuk orang kaya saja," gumam Jamila merasa minder.


"Siapa bilang? Di sana status kaya dan miskin tidak ada fungsinya. Tapi semua dilihat dari prestasi dan kemampuan. Jadi bukan hanya masalah IQ tinggi saja, tapi juga bakat dari berbagai bidang," jawab Sarah menjelaskan.

__ADS_1


"Wah, kalau begitu aku bisa merasa santai sekolah di sana. Karena aku sempat khawatir jika nanti aku di bully gara - gara aku anak orang yang tidak mampu," ujar Jamila.


"Kamu tidak perlu cemas, di sana juga banyak kok anak yatim piatu dari panti asuhan. Intinya yang penting kita giat belajar agar bisa mendapat prestasi yang baik," bujuk Sarah.


"Kamu kelas berapa?" tanya Jamila penasaran.


"Tiga SMP," jawab Sarah tersenyum manis.


"Wah, aku kira kamu seumuranku kelas tiga SMA. Soalnya postur tubuh kamu malah lebih tinggi dariku," pekik Jamila kaget.


"Mungkin karena karena gen orang tuaku, mereka juga tinggi - tinggi badannya," jawab Sarah.


"Kamu sangat cantik sekali, seperti gadis Mesir," puji Jamila.


"Orang tuaku juga dari Mesir," balas Sarah tertawa.


"Pantas saja," ucap Jamila semakin terkejut.


"Kamu juga cantik, manis sekali ala perempuan Jawa. Walaupun dipandang terus menerus tidak membosankan," balas Sarah jujur.


"Ah tidak," gumam Jamila merasa malu.


"Sepertinya kamu sudah dekat dengan Kak Yudistira ya?" tanya Sarah penasaran.


"Kami hanya teman biasa kok, bertemu secara kebetulan. Apa kamu suka padanya?" jawab Jamila balik bertanya.


"Ah tidak! Aku saja malah tidak kenal dengannya. Kami hanya sebatas tahu saja," pekik Sarah kaget.


Tak lama kemudian datang Deby, gadis itu juga cantik dan memiliki tubuh yang tinggi seperti model. Gaya pakaian selalu tomboy tapi terkesan sangat menarik.


"Di mana Sagara?" tanya Deby tanpa basa - basi.


"Oh, sudah lamakah perginya?" tanya Deby lagi.


"Sudah sejak pagi," balas Sarah.


Deby langsung menelepon Sagara.


"Saga, aku sudah di rumahmu nih. Buruan kamu balik sebentar," pinta Deby di telepon.


Tak lama kemudian Deby menutup teleponnya dan duduk bergabung dengan Sarah dan Jamila di taman depan rumah.


"Oh iya, perkenalkan nama aku Deby. Nama kalian siapa?" tanya Deby dengan gaya santai dan percaya diri.


"Aku Jamila,"


"Aku Sarah,"


"Kalian saudara Sagara?" tanya Deby penasaran.


"Bukan," jawab Sarah dan Jamila secara bersamaan.


"Kami temannya Fayyola," timpal Sarah.


"Sepupunya Sagara itu ya," gumam Deby.


Cukup lama juga menunggu, akhirnya datang sebuah mobil sport di halaman rumah. Kemudian keluar dua pemuda yang sama - sama tampan.


"Weh, ternyata kamu hoby sekali menemui Sagara," sapa Arkananta setengah cemburu.

__ADS_1


"Apaan, aku hanya mau mengambil barangku saja," jawab Deby santai.


"Aku ambilkan barangmu dulu ya," sela Sagara segera berlalu pergi.


"Eh, keren sekali kamu liburan ke luar negeri. Dapat oleh - oleh apa aku?" sindir Deby.


"Tentu saja ada untukmu, kemarilah!" jawab Arkananta mengambil sesuatu dari sakunya.


Deby dengan lincah segera mendekat dan berdiri di depan Arkananta.


"Ulurkan tanganmu!" pinta Arkananta.


Deby melakukan apa yang diminta Arkananta, setelah itu dia memakaikan sebuah gelang.


"Ini bukan gelang biasa, jika tersesat akan bisa saling terhubung. Seperti magnet yang tarik menarik," jelas Arka.


"Wih keren," ujar Deby.


"Ini satu lagi untuk Sagara, kamu berikan padanya yah. Aku mau ke toilet sebentar," sela Arkananta berlarian.


Sarah yang melihat itu seketika memanas hatinya, ingin bersikap biasa tapi hati terluka. Sarah benar - benar mengira jika Sagara dan Deby sepasang kekasih. Sebab Arkananta membelikan hadiah pasangan untuk mereka berdua.


Tak lama kemudian Sagara muncul, hanya di depan Deby saja pemuda itu tidak acuh. Karena Deby selalu membahas soal hobi jadi mereka berdua nyambung.


"Nih, nanti aku kirimkan lewat email ya mengenai penjelasannya," kata Sagara serius.


"Oke, terima kasih banyak. Dan ini oleh - oleh dari Arkananta. Dia tadi keburu ke toilet jadi menitipkan ke aku. Katanya biar kita kalau di culik lagi mudah dilacak tanpa membuat lawan curiga. aku pakaikan ya, tampilannya juga keren. Hanya seperti gelang kayu biasa," kata Deby panjang lebar.


"Silahkan!" jawab Sagara mengulurkan tangannya.


Jamila fokus melihat ke arah Sarah, kini gadis itu tahu kalau Sarah diam - diam menyukai Sagara.


"Kalau begitu aku pulang ya," pamit Deby.


"Mobilmu mana?" tanya Sagara.


"Aku naik taksi, mobilku sedang di bengkel," jawab Deby.


"Biar aku antar saja, sekalian ada hal penting yang mau aku bahas bersama papamu," tawar Sagara.


"Oke deh, dengan senang hati," jawab Deby riang.


Kemudian Arkananta datang, mereka segera pergi.


"Sarah, kamu menyukai Sagara ya?" bisik Jamila.


"Tidak," jawab Sarah jujur.


"Eh, bohong itu dosa loh," goda Jamila.


Sarah hanya diam saja, dia malu sekaligus sedang patah hati.


"Tidak apa - apa kalau kamu menyukai dia, itu wajar dan hak asasi manusia," ujar Jamila.


"Tapi dia menyukai gadis bernama Deby itu, mereka memiliki.hibi yang sama dan sangat serasi," jawab Sarah sedih.


"Kamu tidak perlu iri dengan orang lain. Setiap insan memiliki keistimewaan sendiri. Dan kita hanya perlu menjadi diri sendiri untuk mendapatkan cinta sejati. Kita tidak perlu berubah dan meniru orang lain, karena kita adalah kita, " saran Jamila.


"Wah, benar. Lagi pula kita juga masih terlalu muda untuk memikirkan hal seperti itu," jawab Sarah mencoba tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2