
Sagara dan Arkananta malam ini baru saja selesai setor hafalan mereka, dan Arkananta merasa iri dengan daya ingat Sagara yang lebih cepat darinya.
"Jangan lesu begitu, kamu harus semangat," bujuk Sagara.
"Iya," jawab Arkananta tidak ingin mudah menyerah.
Setelah keduanya sampai di kamar, Yudistira ternyata sedang sibuk mencari sesuatu.
"Apa yang kamu cari?" tanya Saga heran.
"Busur tali, kenapa tidak ada semua?" tanya Yudis cemas.
"Kan tinggal ada satu, dan terakhir kalinya yang memakai Sagara," sela Arkananta.
"Sudah aku buang," jawab Arka cuek.
"Ah kamu, pasti bohong deh," sergah Yudistira.
"Cari saja kalau sampai ketemu," balas Sagara.
"Aku tahu disimpan dimana, tapi sebelumnya beritahu aku dulu kamu mau kemana?" sela Arkananta penasaran.
"Deby ingin mengobrol penting denganmu, jam 12 malam kita ditunggu di belakang asrama," jawab Yudistira.
"Yang mau diajak mengobrol Arka kenapa kamu yang terlihat paling bersemangat?" sindir Sagara.
"Itu bukan urusanmu, sudah kamu tidur sana," sergah Yudis kesal.
Sagara memposisikan dirinya senyuman mungkin ke ranjang sambil menutup matanya.
"Baiklah, aku ambil dulu. Tapi ini masih jam sembilan," balas Arka semakin ceria.
"Iya, kita bisa tiduran terlebih dahulu sambil menunggu orang - orang pada tidur," balas Yudistira.
Arkananta langsung memasang alarm di jam nya dan meletakkan tepat di dekat kupingnya agar nanti bisa bangun, tapi membayangkan wajah Deby membuatnya tidak bisa tidur nyenyak.
Detik jam terdengar begitu keras, dan Arkananta merasa begitu lama sekali.
Jam 12 kurang 20 menit, alarm berbunyi dan Arkananta langsung membangunkan Yudistira.
"Hey, bangun," bisik Arka.
"Iya," jawab Yudistira yang justru sudah tertidur nyenyak.
__ADS_1
Mereka berdua mengambil jaket, kemudian mengendap - ngendap agar tidak ketahuan penjaga malam.
Hanya dengan satu tali mereka berdua bergantian memanjat tembok yang begitu tinggi. Ternyata Deby dan Jamila juga baru sampai di sana.
"Wah, kalian berbakat menjadi maling," gumam Jamila.
"Kalau aku curi hatimu bagaimana?" goda Yudis.
"Kalau kamu bisa," sergah Jamila tertawa lirih.
"Eh, kita menjaga jarak yuk, berikan mereka waktu," bisik Yudistira mencari kesempatan.
"Iya," jawab Jamila langsung setuju.
Kini Yudistira hanya berduaan dengan Jamila, entah kenapa pemuda itu tidak bisa berkutik setelah bertemu langsung. Padahal sebelumnya Yudistira telah menyiapkan kata - kata yang romantis.
"Yudistira, terima kasih. Berkat kamu aku bisa masuk ke sekolah yang luar biasa ini," ucap Jamila.
"Iya, sama - sama. Aku juga berterima kasih kepada keluargamu yang sudah menolong aku."
Yudistira merasa lidahnya kelu, untuk menyatakan cinta saja rasanya begitu sulit.
"Yudis, biasanya jam segini kamu ngapain di asrama putra?" tanya Jamila.
"Yah... Palingan hanya main game. Semenjak kematian papanya Deby kami bertiga tidak pernah keluar lagi," jawab Yudistira.
"Eh, jangan bicara seperti itu. Kamu juga gadis yang kuat, jika tidak mana mungkin waktu itu kamu berani ke kota demi membayar hutang keluargamu," sergah Yudistira.
"Itu karena terpaksa, sebenarnya aku sangat takut. Dipikir - pikir kenapa kamu waktu itu memilihku, bukan yang lain untuk mencari informasi?" tanya Jamila penasaran.
"Karana waktu itu kamu tampak begitu polos dan masih malu - malu, coba aku mengajak yang sudah berpengalaman. Pasti begitu masuk kamar aku langsung diserang," balas Yudistira tertawa.
"Berarti kamu biasa ke tempat seperti itu ya?" tanya Jamila terkejut.
"Iya, tapi tidak seperti yang kamu pikirkan loh. Aku ke sana untuk mencari informasi saja," sela Yudistira.
"Eh, mereka berdua tampak serius sekali. Kira - kira membicarakan apa ya?" tanya Jamila menoleh ke arah Deby dan Sagara.
Yudistira mengamati wajah Jamila yang ternyata lebih cantik memakai hijab.
"Aku cinta padamu," bisik Yudistira keceplosan.
"Apa?" tanya Jamila menatap Yudistira.
__ADS_1
"Pasti ya Arkananta bilang ke Deby kalau aku cinta padamu," jawab Yudistira yang juga menjadi salah tingkah.
"Oh," balas Jamila.
Yudistira bisa merasakan dari gerak - gerik Jamila jika gadis itu bukan tipe cewek yang mudah baperan, sepertinya memang akan sulit untuk mendekati Jamila.
"Jamila, akhirnya kamu jadi ikut renang atau bulu tangkis?" tanya Yudistira teringat sesuatu.
"Buku tangkis, oh iya kenapa waktu itu kamu melarang aku ikut renang?" tanya Jamila sangat penasaran.
"Karena kalau renang kamu nanti memakai baju yang sangat ketat, sedangkan menurut aku kamu lebih cantik memakai pakaian longgar dan tertutup seperti ini. Demi kebaikanmu juga," jawab Yudistira salah tingkah.
"Aku tahu maksud kamu, di sini selain sekolah umum aku juga diajari mengaji dan ilmu agama. Sedikit - sedikit aku mulai paham. Dan Yudis, mungkin setelah ini kamu dan Arka jangan datang kemari lagi ya. Karena aku dan Deby juga sedang belajar dalam proses perubahan," pinta Jamila.
Yudistira terkejut, tidak menyangka jika Jamila merupakan sosok gadis yang bertekad kuat.
Yudistira semakin mundur untuk menyatakan cinta yang di dasarkan oleh taruhan itu. Dia sadar jika yang sudah dia lakukan merupakan sebuah kesalahan, sama saja dengan merusak dan mengganggu Jamila yang hendak berubah dan belajar.
"Jamila, kamu harus semangat ya. Semoga kamu bisa mencapai cita - citamu," ucap Yudistira memutuskan untuk mengentikan niat buruknya.
"Iya, aku tidak boleh mengecewakan semua orang. Apalagi untuk masuk ke sini merupakan sebuah kesempatan besar dan langka, jadi aku akan memanfaatkan sebaik mungkin," balas Jamila.
"Rencana kamu setelah lulus mau bagaimana?" tanya Yudistira penasaran.
"Aku ingin bisa berprestasi dan mendapat beasiswa kuliah. Aku dengar Universitas Andromeda sangat bagus," jawab Jamila penuh harap.
"Kamu pasti bisa, yang perlu kamu lakukan hanyalah berusaha dan berdoa. Satu lagi saran aku, jangan kamu pacaran ya? Karena hal itu hanya akan mengganggu konsentrasimu," saran Yudistira.
"Iya, aku sama sekali tidak ada niatan begitu. Bagiku hidup bukan hanya tentang cinta. Melainkan perjuangan untuk membuat diri sendiri lebih berkwalitas dan membanggakan kedua orang tuaku," balas Jamila.
"Astaga, aku ke sini berniat mengajak dia pacaran tapi malah akhirnya aku menyarankan dia untuk tidak pacaran," batin Yudistira menertawakan dirinya sendiri yang sangat payah.
"Jamila, itu baru temanku," balas Sagara hanya bisa memberikan dukungan dan semangat.
"Apa kamu juga tidak punya pacar? Di Asrama putri bertebaran gadis cantik dan memiliki latar belakang hebat," tanya Jamila.
"Belum kepikiran seperti itu, aku juga mau fokus belajar. Lagian sekarang Sagara dan Arkananta sudah menghafalkan Al Qur'an, aku merasa akan menyesal jika aku menyia - nyiakan masa muda," jawab Yudistira serius.
"Aku yakin kamu pasti bisa, Yudistira. Kamu sebenarnya hebat, hanya saja kamu kurang motivasi sehingga terkalahkan oleh rasa malas," bujuk Jamila.
"Kamu benar, bagaimana kalau kita berdua berlomba dalam kebaikan?" tantang Yudistira.
"Iya, aku mau. Tapi kalau di suruh menghafalkan Al Qur'an aku belum tentu mampu," jawab Jamila.
__ADS_1
"Jangan memaksakan diri, yang penting kamu bisa belajar membaca dan sedikit - sedikit memahaminya serta mengamalkannya itu juga sudah baik. Aku juga harus belajar begitu," balas Yudistira.
Pada akhirnya mereka hanya sebatas memberi semangat dan dorongan untuk memperbaiki diri menjadi manusia yang baik. Namun justru hal itulah yang membuat keduanya semakin dekat.