
Dewa menjadi tidak bisa tidur, dia memilih duduk di depan tenda sambil menghangatkan diri dengan api unggun yang dia buat sendiri.
Sedikit - sedikit dia menengok ke belakang melihat apakah calon istrinya di masa depan itu sadar atau belum.
"Sepertinya anak buahku terlalu berlebihan mengerjai Flora. Gadis kecil ini sampai ketakutan setengah mati," batin Dewa ada sedikit rasa penyesalan juga.
Sedangkan Flora tiba - tiba saja menjerit keras. Dewa langsung masuk ke dalam tenda untuk melihat kondisi Flora.
"Flora... Flora... Bangunlah," kata Dewa mengguncangkan Flora yang sedang mengalami mimpi buruk.
Begitu Flora membuka mata gadis tersebut langsung bangun dan memeluk tubuh erat Dewa sambil terisak menangis.
"Ayah... Aku ingin pulang. Aku tidak mau di sini lagi," rengek Flora histeris.
Dewa begitu marah saat Flora menyebut dirinya sebagai Ayahnya, tapi kondisi Flora yang seperti ini sangat memiriskan hati.
Cukup lama juga Flora memeluk Dewa, membuat Dewa semakin berdetak kencang dan salah tingkah. Di sisi lain dia merasa kenyamanan dan kehangatan yang diberikan oleh gadis kecil itu.
"Flora, ini Kak Dewa. Kamu jangan takut, tenanglah. Aku akan menjagamu," bujuk Dewa.
Entah dari mana kata - kata itu terucap barusan, padahal otaknya sama sekali tidak ada pikiran seperti itu. Semuanya murni reflek dari lidahnya.
Flora yang menyadari sesuatu langsung melepaskan tangannya dari tubuh Dewa. Seketika Dewa merasa kedinginan kembali.
"Kak Dewa, kenapa bisa kamu?" pekik Flora kaget.
"Ini aku, memangnya kamu pikir siapa?" tanya Dewa.
"Lalu aku ada di mana?" tanya Flora kebingungan.
Tadi saat aku dan saudara - saudara aku mau pindah mencari tempat buruan yang baru tanpa sengaja melihat seseorang pingsan. Aku tidak menyangka jika itu kamu. Karena aku tidak mungkin malam - malam menggendong kamu dalam perjalanan jauh ya akhirnya aku mengajak kamu menginap di sini saja," jawab Dewa berbohong.
Flora benar - benar bersyukur jika bisa dipertemukan kembali Dengan Dewa. Jika tidak mungkin saat ini dirinya masih berada di tempat menyeramkan tadi.
"Jadi ini masih di tengah hutan?" tanya Flora ketakutan.
"Iya," jawab Dewa.
Flora langsung menggigil sampai seluruh tubuhnya gemeteran. Apa yang tadi dia alami adalah hal terburuk dalam sejarah hidupnya.
"Flora, kamu kenapa?" tanya Dewa beneran cemas.
"Aku takut... Aku takut... " rengek Flora masih terbayang - terbayang kejadian tadi.
"Jangan takut, kakak akan menjagamu," jawab Dewa seperti pada seorang adiknya sendiri.
Tiba - tiba saja perut Flora berbunyi, Dewa mendengar suara itu langsung tertawa pelan.
"Kamu lapar ya? Tunggu sini dulu akan aku Carikan makanan ya?" kata Flora beranjak mau pergi.
Tapi Flora dengan sigap langsung memeluk punggung Dewa dari belakang.
"Jangan! Jangan tinggalkan aku sendirian, lebih baik aku kelaparan dari pada ditinggal di sini," pinta Flora menangis.
Dewa tak mampu berkata apa - apa. Otaknya benar - benar sudah kongslet saat menyadari jika tangan Flora sedang melingkar di dadanya.
Karena takut jika ketahuan kalau jantungnya berdetak kencang Dewa segera melepaskan pelukan Flora secara perlahan.
__ADS_1
Kemudian berbalik dan gantian memegang kedua pipi Flora.
Untuk sesaat Dewa terpesona dengan kelembutan kulit serta kecantikan alami Flora yang seperti boneka Barbie.
"Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian, jika kamu takut ayo ikut aku keluar," kata Dewa begitu lembut.
Flora mengangguk patuh, setelah itu dia mengikuti Dewa keluar dari tenda.
"Sini duduk dekat api, biar tubuhmu hangat," kata Dewa lembut dan perhatian.
Semua itu bukan berakting, tapi asli dari dalam dirinya yang sudah tidak bisa dikendalikan memalui akal sehatnya.
"Semua makanan yang enak - enak terbawa di ransel saudara. Di sini hanya ada mie instan saja," kata Dewa.
"Tidak apa - apa, aku sangat suka mie instan," jawab Flora berubah senang.
Dewa terkejut, sebab Kanya karena mie instan gadis tersebut bisa ceria lagi.
"Baiklah, akan aku buatkan terlebih dahulu," kata Dewa tanpa sadar bibirnya ikut tersenyum.
Tak butuh waktu lama tiga bungkus mie instan di masak jadi satu wadah. Kemudian secangkir besar kopi susu.
"Masih panas! Tunggu sebentar," kata Dewa sambil menyerahkan sendok pada Flora.
"Di mana saudara - saudara kamu? Kenapa terlihat sepi.
"Mereka sedang berburu, paling kembali ke sini kalau sudah pagi," jawab Dewa santai.
Sebenarnya alasan itu terlalu dipaksakan. Sebab jika berburu mal hari sulit terlihat. Tapi ternyata Flora begitu mudah percaya tanpa rasa curiga.
"Gadis yang begitu lugu dan polos," batin Dewa.
"Tidak, di dekat api rasanya hangat," jawab Flora.
Dewa juga merasa hangat, tapi kehangatannya sangat berbeda dengan pelukan Flora tadi. Pelukan gadis tersebut selain hangat juga terasa begitu nyaman.
"Kak, maafkan aku karena tadi begitu lancang memeluk kakak," ucap Flora malu dan memerah wajahnya.
"Tidak apa - apa," jawab Dewa santai.
"Kata Bunda seorang laki - laki dan perempuan yang bukan saudara tidak boleh saling bersentuhan. Jadi aku sudah sangat merugikan kakak, maafkan aku ya kak?" ucap Flora merasa bersalah.
Dewa begitu terkejut dengan penuturan Flora barusan.
"Jadi, selama ini kamu tidak pernah bersentuhan dengan lelaki lain?"
Hanya saja pertanyaan barusan tidak bisa terucap dari bibir Dewa. Dia merasa konyol jika menanyakan pertanyaan tersebut. Tapi hatinya tiba - tiba saja senang.
"Sudah hampir dingin, ayo kita makan bersama," ajak Dewa.
Flora dengan senang hati menerima tawaran tersebut. Dewa begitu tahu jika Flora sangat menyukai mie instan, setelah sisa separuh dia pura - pura sudah kenyang.
"Kamu habiskan ya? Aku sudah kenyang," kata Dewa.
"Iya," jawab Flora patuh.
"Penurut sekali Flora, membuat aku jadi ingin melindunginya... Astaga... Kerasukan apa aku ini?" batin Dewa dilema.
__ADS_1
Selesai makan mereka juga saling berbagi minuman satu gelas. Jika seperti ini mereka persis seperti sepasang anak muda yang sedang pacaran.
"Flora, sebaiknya sekarang kamu tidur. Besok pagi aku akan mengantarmu sampai ke desa. Setelah di sana kamu bisa bertanya tempat di mana perkemahan. Dengan begitu kamu tidak akan membuat guru - gurumu cemas," saran Dewa.
"Aku takut, sebaiknya kita di sini sampai pagi saja," jawab Flora mengingat kembali wajah hantu yang seram tadi.
"Memangnya apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu begitu takut seperti ini?" tanya Dewa pura - pura tidak tahu.
"Tidak... Jangan bahas ini lagi. Aku takut nanti dia kembali," jawab Flora trauma.
Dewa menjadi sangat kasihan melihat Flora yang terguncang jiwanya.
"Tapi kalau di sini terus kena angin malam. Nanti kamu sakit," balas Dewa.
"Aku takut... " Rengek Flora lagi.
"Ya sudah, ayo aku temani di dalam. Kamu jangan takut karena aku tidak akan macam - macam padamu," kata Dewa serius.
"Iya," jawab Flora yang begitu percaya pada Dewa.
Tenda pribadi Dewa hanya muat untuk tiga orang, jadi Dewa menaruh Ransel di tengah - tengah agar Flora bisa tidur dengan nyaman tanpa cemas.
"Ayo tidurlah, aku akan duduk dan menjagamu," kata Dewa lembut.
Flora merasa nyaman, secara perlahan rasa takutnya mulai lenyap. Begitu mata di tutup dirinya sudah tertidur nyenyak.
Sedangkan Dewa masih terjaga dan terus menatap wajah Flora yang jika semakin dilihat semakin menarik.
"Flora, jika kamu tahu niat aku sebenarnya apa kamu akan membenciku?" batin Dewa sedih.
Tiba - tiba Flora merintih seperti mimpi buruk. Dewa mencoba membangunkan Flora tapi gadis itu tak kunjung bangun. Bahkan saat di raba kening flora sangat panas.
"Dingin... " gumam Flora.
Dewa langsung mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Flora. Akan tetapi dia belum pernah merawat orang sakit. Jadi dia tidak tahu harus berbuat apa.
Namun, melihat Flora yang masih menggigil membuat Dewa reflek menyingkirkan ransel dan tidur di samping Flora sambil memeluk gadis tersebut dengan erat.
"Maafkan aku, Flora," bisik Dewa menyesali tindakannya.
Flora yang demam tinggi mulai mengigau dan memanggil - manggil Ayah dan Bundanya. Bahkan Flora juga membalas pelukan Dewa. Saat gadis tersebut membalikkan badan secara tidak sengaja kening Flora menyentuh bibir Dewa.
Dewa sangat terkejut, tubuhnya reflek tidak mau berpindah dalam posisi seperti itu.
Bahkan Dewa justru mulai mencium rambut Flora yang wangi, kemudian kening, mata, hidung. Dan terakhir bibir lembutnya Flora.
Saat mencium bibir Flora Dewa ketagihan, tapi dia ingat jika selama ini Flora tidak pernah bersentuhan dengan lelaki lain.
"Aku harus menghentikan sekarang juga!" batin Dewa memalingkan tubuhnya dan menaruh ransel di antara mereka. Dewa menggigit bibirnya sendiri sebab sensasi kenikmatan masih menjalar dan merusak otak nya.
"Aku harus bersabar. Sekarang Dia masih kecil. Cepat atau lambat aku pasti akan memilikinya," batin Dewa sambil tidur.
Sedangkan di tempat perkemahan masih damai, karena Ninis dan Murni masih belum sadarkan diri. Bius yang diberikan pada kedua gadis tersebut begitu kuat dan bertahan lama.
Kedua gadis tersebut masih tergeletak pingsan tak jauh dari tenda. Anak buah Dewa sengaja membuat mereka seperti di culik oleh hantu. Agar tidak curiga Ninis dan Murni juga diletakkan di tempat yang berbeda.
Terima kasih sudah setia membaca karya saya, jangan lupa like dan Vote yaπ€π€π€
__ADS_1
Mohon kritik dan saran juga, semoga karya saya kedepannya bisa menjadi lebih baik lagiππ