
Beberapa bulan kemudian
Wisuda kelulusan baru saja selesai, Kaysa mendapatkan juara umum. Suatu kebanggaan bagi keluarga Syauqi Malik. Apalagi Syadev yang berada di luar negeri juga mendapatkan juara satu dan bahkan nilainya mampu mengalahkan murid-murid unggulan dari sekolah lainnya.
Kali ini Kaysa mengaku kalah, sebab dia sudah berusaha tapi tetap Syadevlah yang lebih baik.
"Tidak ku sangka Syadev memiliki otak jenius yang terpendam. Mungkin karena aku, jadi dia terpaksa menyembunyikannya selama ini. Tapi untunglah sekarang dia sudah membuat keputusan yang tepat, sebab jika dia berada di sisiku pasti akan mengalah terus-menerus untuk membuat aku senang," batin Kaysa.
Alarik dan Syadev tidak datang dalam acara perpisahan, karena mereka mempunyai kesibukan masing-masing yang tidak bisa ditinggal.
Syadev mendapat banyak tawaran dari berbagai Universitas favorit, mungkin saudara kembar Kaysa sedang memilih mana yang cocok untuk dirinya.
Sedangkan Alarik masih di luar negeri untuk mengurus pekerjaannya.
Di sisi lain Anggun bersedih, meskipun gadis itu mendapat juara dua tapi nilainya tidak cukup untuk memperoleh beasiswa masuk Universitas A jurusan kedokteran.
"Aku gagal memperoleh beasiswa, untuk bisa kuliah pasti membutuhkan biaya yang banyak. Sedangkan tabunganku hanya sedikit," batin Anggun pilu.
"Jangan menyerah, Anggun. Meskipun tidak bisa masuk jurusan kedokteran setidaknya kamu harus berusaha untuk kuliah, agar menjadi orang sukses," hibur Kaysa.
"Iya, Kaysa. Terima kasih ya," ucap Anggun tegar.
Semua bersuka cita, sebab Darren dan Zahra juga lulus dengan nilai yang lumayan bagus.
"Kamu mau kuliah di mana?" tanya Kaysa pada sepupunya.
"Masih bingung juga, tapi Umi nyaranin kuliah di universitas yang dekat saja. Di tempatnya Kak Alifya," jawab Zahra.
Meskipun Universitas tempat Bundanya dulu menimba ilmu itu bagus. tapi Kaysa sama sekali tidak berminat.
"Kamu di mana?" tanya Zahra gantian.
"Di universitas A kota A. Biar dekat dengan Kak Al," jawab Kaysa antusias.
"Aku yakin kamu bisa, di sana hanya murid cerdas seperti kamu yang bisa masuk" ucap Zahra.
"Selamat tinggal ya semua, setelah ini aku akan menyusul Syadev ke Amerika," sela Darren tak kalah bersemangat.
Zahra terlihat bersedih, tapi karena demi masa depan kekasihnya gadis itu mencoba tersenyum untuk menyemangati seseorang yang dicintainya itu.
Tidak terasa waktu begitu cepat, dari SD sampai SMA mereka bersama, kini mereka akan berpencar menggapai impian masing-masing.
"Darren, jaga dirimu baik-baik ya? Dan kamu harus bisa menjaga hatimu juga untuk Zahra! Kalua kamu berani mendekati perempuan lain aku akan langsung ke Amerika dan menghajar kamu," kata Kaysa serius.
"Iya, Kaysa. Aku akan selalu setia pada Zahra. Dan kamu juga jaga diri baik-baik, jangan membuat ulah lagi ya," jawab Darren haru.
__ADS_1
Darren meskipun sudah bisa menerima Zahra tapi jauh di lubuk hatinya masih ada sisa cinta untuk Kaysa. Bagaimanapun juga Kaysa adalah cinta pertama Darren semenjak kecil.
"Nenek membuat syukuran untuk kelulusan kalian, ayo kita segera ke sana," kata Zhia bersuka ria.
"Benarkah? Sayang Syadev tidak di sini," ucap Kaysa senang bercampur sedih.
"Tidak apa-apa, nanti kita bisa video call dengan Syadev," bujuk Zhia pada putrinya.
Keluarga Darren dan Zahra juga ikut ke rumahnya Nenek Kaysa, karena di sana memang sedang di adakan syukuran.
"Anggun, ayo ikut!," ajak Darren.
"Tidak, itu kan acara keluarga," jawab Anggun merasa sungkan.
"Ayolah!" kata Kaysa sambil merangkul Anggun menuju mobil.
Anggun tidak bisa menolak lagi kalau Kaysa sudah memaksa seperti ini.
Tiga mobil segera meluncur ke rumah nenek Kaysa, di sana sudah ada beberapa tetangga yang sudah hadir.
Kaysa langsung berlari seperti anak kecil ketika melihat neneknya duduk manis menemani para tamu undangan.
"Nenek... Kaysa rindu," teriak Kaysa.
"Cucuku yang cantik, peluk nenek sayang," jawab nenek Kaysa terharu.
"Terima kasih sudah membuat acara syukuran untukku dan Syadev. Tapi Syadev belum bisa pulang, Nek," ucap Kaysa
"Tidak apa-apa, yang terpenting Syadev sudah sembuh nenek merasa bersyukur," jawab Nenek Kaysa menangis bahagia.
"Selamat ya keponakanku tersayang, semoga nanti kamu bisa menjadi orang yang sukses," ucap Paman Rian sambil mengelus kepala Kaysa penuh kasih.
"Iya, Paman. Terima kasih, di mana Bibi Tia dan Kak Alifya?" tanya Kaysa.
"Mereka di dalam sedang menyiapkan makanan untuk para tamu," jawab Paman Rian ramah.
"Aku masuk dulu ah membantu mereka," kata Kaysa riang.
Bibi dan Kakak sepupu Kaysa merasa kaget dengan kedatangan Kaysa yang sengaja mengejutkan mereka.
"Kaysa! Untung piringnya tidak terjatuh," pekik Alifya terkejut.
"Ha... ha... Maaf, Kak. Aku tidak tahan kalau tidak iseng sedikit," ucap Kaysa.
"Anak ini! Sudah dewasa masih saja suka mengerjai orang," sela Bibi Tia tersenyum ramah.
__ADS_1
Kaysa langsung memeluk bibinya dan mencium pipinya. Bibi Tia hanya tertawa karena keponakannya itu memang menggemaskan.
Zahra dan Anggun ikut menyusul ke dapur, mereka berdua berjabat tangan dengan hormat pada Bibi Tia dan Alifya.
"Apa kabar kalian?" tanya Alifya ramah.
"Alhamdulillah, baik Kak," jawab Zahra dan Anggun serempak.
"Kak Alifya, katanya Zahra mau masuk ke universitas kakak. Mohon bantuannya ya?" kata Kaysa yang tahu isi hati Zahra yang pemalu.
"Baiklah," jawab Alifya tersenyum senang.
"Ayo semuanya, bawa makannya ke luar, sepertinya semua tetangga sudah hadir," ajak Bibi Tia bersemangat.
Ke empat gadis berhijab itu segera melaksanakan perintah.
Acara Syukuran berjalan khidmat, di akhir acara Nenek Kaysa mengucapkan beberapa kata untuk mereka.
"Terima kasih karena kalian semua sudah hadir dalam acara syukuran kelulusan cucu- cucu saya, meskipun saudara kembar Kaysa tidak bisa datang tapi Alhamdulillah saya sudah bahagia mendengar kabar kalau dia sudah sembuh. Terima kasih atas do'a kalian selama ini, semoga kita semua di beri umur panjang, kesehatan dan Rizki yang lancar," kata nenek Kaysa tak kuasa menahan air matanya.
Keluarga Syauqi Malik, keluarga Doni dan Keluarga Elly juga ikut menangis, bahkan Kaysa yang super bandel juga berlinang air matanya.
Setelah selesai para tetangga berpamitan pulang.
"Kalian cepat bantu Kak Alifya!" kata Nindya pada anak-anak gadis.
"Kaysa, kenapa tidak ikut membantu?" tegur Zhia pada putrinya.
"Bunda, aku mau video call sama Syadev," rengek Kaysa.
"Tidak apa-apa Tante, kami bertiga sudah cukup," sela Alifya.
"Ayo Kaysa! Tante juga tidak sabar melihat Syadev," sergah Elly mendekati keponakannya.
Zahra, dan Anggun bergegas membantu Alifya membawa gelas dan piring kotor ke dapur lagi.
Sedangkan Kaysa merasa malas, dia justru mengambil ponselnya dan menghubungi saudara kembarnya.
"Coba nanti kalau Syadev melihat Anggun lewat video call bagaimana reaksinya ya?" batin Kaysa penasaran.
**Jangan lupa Like dan Vote sebanyak-banyaknya yaa🤗 Maaf untuk sekarang belum bisa crazy up, anak saya sedang sakit. Insyaallah nanti bisa Crazy up lagi kalau anak saya sudah baikan. Mohon do'anya yaa... Semoga kita semua terhindar dari virus Corona yang tengah melanda.
Menurut kalian semua bagaimana reaksi Syadev nanti saat melihat Anggun lewat ponsel.
A. Menyapa karena sudah ingat
__ADS_1
B. Masih pura-pura lupa
Jangan lupa di komen Ya🤗**