
Hari berikutnya Sagara dan Arkananta serius ingin menghafalkan Al - qur'an. Sehingga setiap malam keduanya memiliki kesibukan baru.
Berbeda dengan Yudistira yang tengah memikirkan cara bagaimana mendekati Jamila, di sisi lain dia juga takut kalah. Bayangkan saja tiga hari tanpa uang hidup akan sulit. Terlebih lagi harga dirinya akan hilang jika sampai kalah dengan adiknya sendiri.
"Apa aku nekat menemuinya di saat istirahat sekolah saja ya? Lagipula aku bisa mencari alasan untuk kepentingan Arka dan Deby," batin Yudistira girang.
Pagi harinya Yudistira memulai aksinya, dia nekat ke kelas Arkananta. Padahal dia tahu jika sepupunya itu sudah di kantin bersama Sagara untuk sarapan pagi.
"Jamila," panggil Yudis.
"Ada apa?" tanya Jamila heran.
"Apa kamu lihat Arka?" tanya Yudis basa - basi.
"Aku baru saja datang, aku tidak tahu," jawab Jamila jujur.
"Oh, ya sudah kalau begitu," gumam Yudistira.
"Oh iya," jawab Jamila paham.
"Eh tunggu, apa kamu satu kamar dengan Deby?" tanya Yudistira pura - pura tidak tahu.
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Jamila penasaran.
Yudistira agak lebih mendekat, mumpung di kelas saat itu sedang tidak ada orang.
"Nanti malam jam 12 kamu temani Deby ke belakang Asrama ya, Arka mau menjelaskan hal penting. Intinya Arka hanya menyukai Deby, bahkan dia kemarin sampai menemui orang tuanya meminta agar perjodohan itu dibatalkan. Dan Arka juga menerima tantangan orang tuanya untuk menghafalkan Alqur'an jika mau menolak perjodohan itu."
"Wah, Arka keren sekali," detak Jamila.
"Ingat nanti malam, Jangan sampai ketahuan ya," bisik Yudistira berlalu pergi.
Jamila hanya mengangguk kemudian berlalu pergi, sebab peraturan di sekolah tersebut adalah antara murid perempuan dan lelaki harus ada jarak. Meskipun begitu tetap boleh saling berkomunikasi jika ada sesuatu yang penting saja. Makanya meskipun di sana merupakan anak - anak yang sangat modern tapi mereka di didik untuk bisa mentaati peraturan.
Yudistira kembali ke kantin untuk menemui kedua saudaranya dengan wajah cerah.
"Hey, kenapa senyum - senyum begitu?" tanya Arka heran.
"Nanti aku kasih tahu," bisik Yudistira melirik ke arah Sagara.
Akan tetapi Sagara cuek seolah tidak peduli.
"Oh, ayo kita segera sarapan kalau begitu. Kami sudah mau habis nih," sela Arka.
__ADS_1
"Yup," balas Yudistira.
*******************************
Jamila juga pergi ke kantin putri untuk menemui Deby, sebagai anak baru tentu saja tidak begitu memiliki banyak teman. Di sana juga ada Sarah dan Fayyola juga. Mereka bertiga tampak begitu serius.
"Kalian mengobrolkan apa?" tanya Jamila penasaran.
"Mengenai perjodohan Kak Sarah dan Aekananta, satu asrama heboh," jawab Fayyola.
"Sarah, apa kamu menyukai Arka?" tanya Jamila memastikan.
Sarah dengan sigap langsung menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Kalau begitu kamu hubungi saja kedua orang tuamu untuk membatalkan perjodohan itu," saran Jamila.
"Sudah, tapi orang tuaku tetap kekeh," balas Sarah menunduk sedih.
Jamila menoleh ke arah Deby, teman sekamarnya itu juga tampak sedih.
Jamila masih menahan diri soal pembicaraan tadi dengan Yudistira, sebab jika Sarah tahu kalau Yudistira sama sekali tidak menyukainya takutnya nanti Sarah tersinggung dan merasa malu.
"Kalian sudah selesai makan ya?" tanya Jamila mengalihkan pembicaraan.
"Kalian kembali ke kelas duluan tidak apa - apa, biar Deby saja yang menemani. Lagi pula waktu bagi kalian berdua yang banyak hafalan pasti sangat penting," tolak Jamila lembut.
"Oh iya, aku belum begitu lancar. Dan nanti siang sepulang sekolah harus setor. Kalau begitu aku kembali dulu ya," pamit Fayyola.
"Aku juga," timpal Sarah.
"Iya, sampai berjumpa lagi saat nanti istirahat," jawab Jamila.
Jamila langsung berdiri untuk memesan makanan, sedangkan Deby masih melamun sambil minum teh angetnya.
Setelah kembali dengan semangkok bubur ayam Jamila langsung menegur Deby.
"Kamu kenapa melamun terus?" tanya Jamila.
"Entahlah, tapi setiap kali bertemu Sarah hatiku sakit. Sedangkan aku juga tidak mungkin menghindarinya karena dia sama sekali tidak bersalah," gumam Deby.
"Tadi aku bertemu Yudistira loh," bisik Jamila.
"Selamat ya, karena kisah cintamu begitu mulus," jawab Deby lemas.
__ADS_1
"Eh, kisah cinta apaan. Dia menemuiku karena membahas tentang kamu dan Arka," sergah Jamila.
"Palingan mau bilang kalau dia menyukaiku bukan Sarah, itu sama saja tidak merubah apapaun. Karena pada akhirnya Arka akan bersama Sarah dan aku akan dipandang sebagai pelakor bahkan teman makan teman," balas Deby.
"Kamu dengerin dulu, kemarin tuh Arkananta sampai menemui kedua orang tuanya loh. Dia meminta untuk dibatalkan perjodohan itu. Dan orang tua Arka setuju asalkan Arka mau menghafal Al - Qur'an. Kamu seharusnya senang dengan perjuangan Arka," bisik Jamila.
"Kamu serius kan? Bukan sedang menghiburku?" tanya Deby masih ragu.
"Itu yang tadi dibilang Yudistira, dan nanti malam jam 12 malam kita di suruh ke belakang asrama. Arka mau menemuimu dan bicara secara langsung," ucap Jamila serius.
Deby diam saja, tapi dari raut wajahnya gadis itu tampak lebih cerah dan tersenyum riang.
"Bukannya larangan ya kita bertemu murid putra selain jam sekolah?" tanya Deby.
"Iya, kalau ketahuan. Kalau tidak ya tidak," jawab Jamila.
"Aku tidak menyangka kamu memiliki nyali juga," gumam Deby.
"Demi kamu, aku juga jadi tidak semangat jika melihat kamu setiap saat melamun dan murung," balas Jamila.
"Ah... Terima kasih," ucap Deby.
"Makanya mulai sekarang jangan berprasanhka buruk dulu," bujuk Jamila.
"Sebaiknya aku bilang ke Sarah dan Fayyola apa tidak ya?" tanya Deby bingung.
"Tidak usah, mereka berbeda dengan kita. Mereka berdua gadis alim yang taat peraturan, berbeda dengan kita," Segah Jamila.
"Kamu benar, aku juga tidak enak jika Sarah tahu kalau aku dan Arkananta itu ada hubungan," balas Deby.
"Tapi ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya ya, setelah ini kita juga harus berusaha seperti mereka," timpal Jamila tertawa.
"Iya," balas Deby ikut tertawa.
Setelah Jamila selesai sarapan bel tanda masuk berbunyi, mereka berdua segera berpisah.
Jamila sendiri satu kelas dengan Arka, tapi mereka tidak pernah saling menyapa karena memang tidak dekat.
Sedangkan Sagara dan Deby juga biasa saja, mengobrol paling jika membahas hal yang sesuai hoby mereka seperti dulu.
Deby memulai hidupnya benar - benar dari nol, dia tidak punya keluarga melainkan teman. Untung saja papanya meninggalkan banyak harta sehingga untuk kebutuhan masa depan Deby tidak perlu khawatir lagi.
"Pa, apa papa menyalahkan aku karena pindah keyakinan? Tapi semakin aku belajar justru semakin aku ingin mendalaminya. Aku jadi ingin menjadi wanita muslimah sungguhan bukan karena Arka, walaupun awalnya demi dia tapi secara perlahan hatiku sendiri yang menginginkan. Ternyata Islam itu indah, Pa. Ku harap papa mengerti," batin Deby.
__ADS_1