CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Kenangan Mantan


__ADS_3

Di tengah jalan Syauqi mampir ke mall dulu. Dia berniat membeli mainan anak perempuan dan juga baju muslim perempuan.


"Mas, ini untuk siapa?" tanya Zhia heran.


"Jelas untuk Alifya, dia manis sekali seperti istriku," jawab Syauqi tersenyum senang.


"Mas Syauqi menyukai anak perempuan ya?" tanya Zhia.


"Iya, aku berharap anak kita perempuan dan aku ingin memberi nama dia Kaysa Malik. Perpaduan dari nama belakang kita,"jawab Syauqi sambil mengecup kening istrinya.


"Mas, inikan ditempat umum. Jaga sikap dong!" protes Zhia.


"Maaf, Istriku sayang," jawab Syauqi tanpa merasa bersalah.


"Mas Syauqi, bukankan setiap lelaki selalu bangga jika anak pertamanya adalah laki - laki?" tanya Zhia penasaran.


"Tidak juga, aku lebih senang anak perempuan karena sepertinya lebih mudah diatur dan tidak pembuat onar," jawab Syauqi.


"Mas Syauqi sedang menyindir diri sendiri ya?" ejek Zhia.


Syauqi hanya nyengir.


Sesampainya di kediaman keluarga Zhia, Syauqi segera memberikan oleh-oleh tersebut untuk Alifya. gadis sanagt imut itu sangat senang karena mendapat banyak hadiah.


"Terimakasih, Bibi Zhia, Paman Syauqi. Alifya suka sekali," ucap anak kecil itu riang sambil memainkan bonekanya.


"Iya, sama-sama sayangku. Dan ini untuk ibu, Mbak Tia dan dan Mas Rian," ucap Zhia membagikan hadiah yang dibelinya tadi.


Tia segera masuk ke dalam menyajikan minuman dan beberapa cemilan. Setelah semuanya duduk Tia sengaja memancing berharap semua tahu jika Zhia sudah hamil setelah menikah.


"Dek Zhia, setelah satu bulan menikah tubuh kamu semakin berisi. Apakah kamu sudah hamil?" tanya Tia.


Zhia sedikit terkejut, tapi Syauqi tahu maksud Mbak Tia. Dengan cepat Syauqi langsung menjawabnya.


"Alhamdulillah, Mbak Tia. Kita ke sini berniat memberi kabar tentang kehamilan Zhia," jawab Syauqi mantap.


"Istriku hampir pandai semuanya. Namun hanya satu yang tidak bisa, yaitu berbohong." batin Syauqi.


Semua mengucapkan Syukur Alhamdulillah, terlebih lagi ibunya yang langsung menangis bahagia.


Zhia tersenyum melihat kebahagiaan keluarganya.


"Terimakasih ya Alloh, karena engkau telah menyembunyikan aib hamba sehingga tidak memberi pukulan batin pada keluarga hamba yang lemah ini," bisik Zhia dalam hatinya.


**********************************


Mereka mengobrol dengan asyiknya sampai pukul sepuluh Malam.


Zhia baru tersadar kalau dia dan suaminya belum Sholat Isya'. Diapun berpamitan Sholat di Musholla kecil.


Zhia tersentak karena Foto keluarganya dan Mas Iyas saat di pantai dulu dipajang di dinding Musholla.


Hatinya seperti teriris pilu, foto itu adalah kenangan saat Zhia dilamar Iyas. Cinta pertamanya yang selalu melindungi dan menanti Zhia dari kecil.


"Mas Iyas, terimakasih atas segala pengorbananmu. Namamu akan selalu terukir di hidupku selamanya. Mata ini akan aku jaga seperti kamu yang menjagaku dulu," gumam Zhia dalam hati.


Hampir lima belas menit Zhia berdiri di depan foto. Zhia sama sekali tak menyadari jika Suaminya ada di belakangnya.

__ADS_1


"Zhia, apakah hatimu masih milik Iyas?


Apakah kamu juga masih menyalahkan aku yang telah memisahkan kalian berdua?"


Syauqi merasa panas hatinya melihat Zhia yang terus menatap foto Iyas.


Kemudian suara Tia menyadarkan lamunan mereka berdua.


"Kalian belum selesai sholat?"tanya Tia lembut.


"Baru mau mulai, Mbak Tia," jawab Zhia dengan wajah yang berubah muram.


Zhia dan Syauqi tahu jika Zhia bersedih karena mengingat Syauqi. Tetapi Tia yakin pasti Syauqi bisa membuat Zhia tersenyum lagi karena Tia tahu jika Zhia sudah mulai mencintai suaminya.


"Mbak Tia ke sini cuma mau bilang nanti jangan lupa pintunya dikunci ya! Assalamu'alaikum," pamit Tia.


"Wa'alaikum salam,"jawab Syauqi dan Zhia bersamaan.


"Ayo Zhia kita segera Sholat! Sudah larut malam," ajak Syauqi mencoba setenang mungkin.


Setelah Sholat Zhia mengajak mereka mampir sebentar di kursi kayu.


"Sudah malam sayang, nanti kamu kedinginan," kata Syauqi lembut.


"Sebentar saja Mas Syauqi, aku cuma mau memetik buah Anggur sepertinya banyak yang sudah masak," jawab Zhia lembut.


"Kalau kamu pengen makan buah anggur kenapa tadi tidak bilang? Kita bisa beli di toko buah," protes Syauqi dengan nada mesra.


"Beda, Mas Syauqi. Aku ingin makan buah ini karena yang menanam adalah Almarhum Ayahku," jawab Zhia memberi alasan.


"Ya sudah, duduklah! Biar aku yang petik," ucap Syauqi manis.


Syauqi sudah mendapat banyak buah. Namun Istrinya masih saja melamun.


Syauqi meletakkan buahnya di atas meja, kemudian dia menyuapi istrinya satu buah anggur dengan mulutnya.


"Mas Syauqi, bikin kaget saja," kata Zhia.


"Aku hanya ingin istriku sadar jika suaminya sudah selesai memetik buah anggur," kata Syauqi dingin, pemuda itu sudah mulai merasa cemburu.


Zhia merasa tak enak dan tahu apa yang sedang dipikirkan suaminya.


"Maafkan aku, Mas Syauwi. Bukan maksudku mengabaikan, hanya saja aku teringat semua pengorbanan Mas Iyas membuatku merasa bersalah," kata Zhia tak berani membohongi suaminya.


Syauqi menarik pinggang Zhia. Dipegangnya dagu istrinya kemudian Syauqi langsung mencium bibir lembut Zhia. Bahkan Syauqi saking gemasnya memasukkan lidahnya di rongga mulut dan menghisap lidah Zhia yang harum.


Zhia merasa malu jika ada orang yang lewat, saat dia mencoba melepaskan diri justru ciuman Syauqi semakin ganas dan lebih lama.


Setelah puas Syauqi berbisik di telinga Zhia.


"Aku tak melarangmu untuk mengingat Iyas. Namun tak kuizinkan hal itu membuat kamu bersedih. Pokoknya besok pagi kita langsung ke rumah Kak Elly saja," kata Syauqi berlalu pergi meninggalkan Zhia.


Zhia mengikuti suaminya dari belakang dan tak lupa juga dia mengunci pintunya.


Dia sampai melupakan buah anggur yang masih tertinggal di atas meja.


Setelah masuk ke kamar ternyata suaminya sudah memejamkan matanya. Zhia tahu jika suaminya cemburu.

__ADS_1


Zhia mencium kening Syauqi dan berbaring sambil memeluk suaminya.


"Selamat tidur ya, Mas Syauqi. Semoga mimpi indah," lirih Zhia dan diapun juga memejamkan matanya.


Syauqi menyunggingkan senyuman, pemuda tampan itu tidak menyangka jika Istrinya akan bereaksi seperti ini. Tadi Syauqi pura-pura tidur hanya untuk mengetes istrinya saja.


Syauqi tahu jika istrinya tadi belum puas makan Anggur, kemudian dia melepaskan pelukan istrinya dan keluar dari kamar.


Zhia merasa sakit di perlakukan seperti itu, baru kali ini Syauqi marah sampai tak ingin tidur dengannya.


Mata Zhia sudah memerah tapi ditahan untuk tidak menangis.


"Ternyata seperti ini rasanya diabaikan, dulu seringkali aku selalu mengabaikan Mas Syauqi saat dia masih mengejar ku. Namun aku menolaknya mentah-mentah," batin Zhia pilu.


Kemudian Syauqi masuk membawa piring yang berisi buah anggur.


"Istriku sayang, buahnya di makan dulu. Aku tak ingin anak kita nanti jadi ngileran," kata Syauqi lembut.


Wajah Zhia memerah karena malu. Dia langsung memeluk erat suaminya.


"Mas Syauqi, aku kira kamu marah. Maafkan aku ya, aku sangat menyayangimu," ucap Zhia manja.


Syauqi membalas pelukan istrinya dan memegang kepala istinya.


"Iya, aku juga sangat menyayangimu. Mana mungkin aku bisa tahan berlama-lama marah padamu, sekarang makanlah buah ini," kata Syauqi tersenyum senang.


hati Syauqi melayang karena baru saja istrinya mengucapkan kata sayang.


"Akhirnya kesabaranku selama ini bisa membuat kamu mencintaiku," bisik Syauqi dalam hati.


**********************************


Pagi harinya mereka berdua berpamitan. Walaupun sebenarnya Zhia masih sangat merindukan keluarganya tapi dia juga tak berani melawan perintah suaminya.


Keluarga Zhia tidak keberatan karena mereka mengira jika Syauqi orang yang sangat sibuk.


"Maafkan Zhia ya, Bu. Karena cuma sebentar di sini," ucap Zhia merasa bersalah, dia memeluk erat ibunya.


"Tidak apa-apa, Anakku sayang. Lagipula sekarang Masmu sudah bisa menyetir mobil sendiri. Kalau ada waktu kita bisa mengunjungi kalian," jawab Ibunya tersenyum ramah.


"Hore... Alifya suka naik perahu di Danau," timpal Alifya riang mencairkan suasana haru.


Setelah berpamitan Syauqi mengajak Istrinya ke Butik Kak Elly, karena semalam Kak Elly dan suaminya tidur di butik.


Di sana ada Nindy juga, melihat Zhia datang Nindy menyambutnya dengan hati riang.


Tak lama kemudian Nindy meminta Izin pada bosnya dan Syauqi untuk mengajak Zhia keluar sebentar. Sebenarnya Syauqi tak mengizinkan tapi Elly membela Nindy.


"Syauqi, jangan terlalu mengekang Zhia! Biarkan dia sesekali ngobrol dengan temannya juga. Lagian dia pasti jenuh selalu kamu kurung di Vila," sergah Elly.


Syauqi tak berkutik, diapun akhirnya terpaksa mengizinkan.


"Tapi jangan lama-lama dan jangan jauh-jauh. Jangan makan sembarangan atau .."


"Iya, Mas Syauqi. Assalamu'alaikum," potong Zhia, karena dia yakin pasti suaminya akan melarang ini itu.


Syauqi bukannya marah justru tersenyum dengan tingkah barusan istrinya yang sedikit cemberut.

__ADS_1


Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like, Vote dan beri rating bintang 5 ya🙏 Karena dukungan dari kalian semua sangat berarti bagi Author.


Mohon kritik sarannya juga, semoga Novel CINTA YANG TERPAKSA bisa berkembang lebih baik🤗


__ADS_2