
Sudah beberapa hari semenjak Kaysa dan baby tampannya menginap di rumah sakit. Kini dokter sudah mengizinkan keduanya pulang ke rumah.
Syauqi sendiri masih betah berlama - lama di sana, dia malah tidak ada niat untuk kembali ke rumahnya sendiri karena terlalu bahagia memiliki cucu pertama.
Siang malam Syauqi dan Zhia merawat Arkananta, sedangkan Alarik fokus merawat istrinya yang super rewel.
"Aku bosan, bingung mau ngapain," rengek Kaysa.
"Bagaimana kalau kita nonton drama kesukaan kamu saja? Aku temani deh," bujuk Alarik.
"Boleh, sekalian kupasin jeruk dan rambutan ya?" jawab Kaysa riang.
"Iya, sayang," jawab Alarik menggeleng - gelengkan kepalanya melihat istrinya bertingkah manja seperti anak kecil.
Alarik segera menelepon pelayannya untuk mengantarkan pesanan Kaysa ke kamarnya. Tak lama kemudian apa buah - buahan itu sudah datang.
Karena biar istrinya tertawa dan terhibur, Alarik sengaja memutar film romantis komedi.
"Wah… Film apa ini?" tanya Syauqi yang baru datang sambil mengendong Arkananta.
"Bagus, ayo Ayah ikutan nonton!" ajak Kaysa riang.
"Malas ah," jawab Syauqi keluar lagi.
"Eh, Ayah. Bunda di mana?" teriak Kaysa yang sedari tadi tidak melihat Bundanya.
"Bunda sedang menjemput Flora ke sekolah," jawab Syauqi.
"Tumben Ayah membiarkan Bunda kaur seorang diri," gumam Kaysa.
"Tidak sendirian kok, tapi bersama pak sopir dan pelayan Flora," jawab Alarik.
"Kok aku tidak tahu?" tanya Kaysa heran.
"Kamu kan tadi masih tidur," jawab Kaysa.
"Berarti sebentar lagi pulang dony. Bagaimana kabar anak itu ya? Aku sudah rindu juga dengan Flora," ujar Kaysa.
"Pasti baik - baik saja, sebab dia anak pendiam dan tidak suka bikin onar sepertimu," sindir Alarik.
"Coba bilang sekali lagi? Maka malam ini jangan tidur bersama aku dan Arkananta," ancam Kaysa.
__ADS_1
"Hanya bercanda, masa marah beneran," bujuk Alarik.
"Aku juga hanya bercanda," balas Kaysa tertawa dan senang karena sudah bisa mengerjai suaminya.
Alarik langsung memeluk dan mencium kening istrinya, tapi si Kaysa dengan nakalnya menarik kerah baju Alarik dan mencium bibir Alarik dengan mesra. Alarik sendiri yang merasa keenakan juga menikmati serangan istrinya yang agresif.
Saat Alarik dan Kaysa berciuman, Flora yang baru masuk ke kamar Kaysa langsung kaget disuguhi adegan panas kakak - kakaknya.
Panas dingin tubuh Flora membuat dia berkeringat. Karena tidak mau malu sendiri dia segera kembali dan masuk ke kamarnya sendiri.
"Kak Kaysa sama Kak Alarik ini, tidak tahu malu. Untung saja Bunda dan Ayah di luar mengajak Arkananta duduk di taman," batin Flora kesal pada diri sendiri.
Sesampainya di dalam kamar adegan kedua kakaknya yang tengah berciuman terus terbayang dalam pikirannya. Apalagi Flora memang baru kali ini melihat adegan panas itu.
Selama dua hari ini Flora diizinkan tidur di dalam UKS sekolah dan tidak mengikuti acara perkemahan. Jadi sekarang demamnya sudah turun. Hanya saja tubuhnya masih terasa lemas.
Flora ingin tidur tapi tidak bisa, kemudian dia teringat jika di dalam tas nya ada tumpukan novel hadiah dari Dewa.
Flora dengan riang langsung mengambil satu, akan tetapi begitu di lihat rupanya semuanya genre romance anak remaja.
"Aku dilarang membaca seperti ini sama Bunda, tapi kalau tidak aku baca rasanya sayang. Tidak apa - apalah aku nyoba baca, yang penting jangan sampai ketahuan Bunda," batin Flora.
Flora mulai membaca dari lembaran pertama sampai lembaran selanjutnya, dia diam - diam senyum sendirian seperti orang gila. Kadang tertawa, kadang menangis dan kadang juga hati ya ikut deg degan.
Kemudian Flora memejamkan kedua matanya, tiba - tiba terlintas dalam bayangannya saat dirinya di cium bibirnya oleh Dewa.
"Astaghfirullah… Kenapa aku membayangkan yang enggak - enggak, ini dosa," batin Flora menutup dan memilih menyimpan lagi semua novelnya di lemari.
Tapi bayangan saat dirinya dicium oleh Dewa itu sepertinya pernah dia rasakan, bahkan bibirnya juga merasa sensasi yang aneh.
🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗
Dewa sudah berada di Aceh lagi, dia sedang tiduran di kamar untuk menenangkan diri sendiri.
Dia memegangi otaknya yang di rasa sudah rusak, sebab bayangan Flora tak pernah mau beranjak dari ingatannya.
Terlintas kembali saat Flora ketakutan dan memeluk tubuhnya erat, kemudian malam saat dia kecup bibir lembut flora, serta saat dirinya menggendong tubuh ramping flora menempuh perjalanan yang panjang.
Dewa menepuk dadanya yang terasa perih, ada rindu… benci… dan perasaan ingin melindungi.
Dewa menjadi frustrasi dan sakit kepala. Sampai tiba - tiba suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
"Nak, Bangunlah, ayo sarapan dulu. Sudah siang ini," panggil Ibunya Dewa lembut.
"Masuklah, Bu. Pintunya tidak terkunci," jawab Dewa.
"Kamu rupanya sudah bangun dari tadi? Kenapa tidak keluar?" tanya Ibunya Dewa sambil membelai lembut kepalanya.
"Ibu, aku ingin bertanya sesuatu," ucap Dewa beralih tidur di paha ibunya.
"Katakanlah!" jawab Ibunya Dewa lembut.
"Jika kita membenci seseorang, tapi kita masih mempedulikannya lalu apa yang harus dilakukan?" tanya Dewa yang terlihat penuh kebimbangan.
Ibunya Dewa terkejut, sebab baru kali ini putra angkatnya itu membicarakan hal seperti itu. Biasanya yang diceritakan hanya seputar kegiatannya sehari - hari.
"Kamu pikirkan dulu baik - baik, apa yang membuat kamu bisa membencinya? Karena tidak akan ada rasa kebencian tanpa suatu alasan, dan jika kamu masih pempedulikannya itu tandanya orang yang kamu maksud masih ada dalam hatimu," tutur Ibunya Dewa sambil menunjuk dada Dewa dengan jarinya telunjuknya.
Seketika Dewa memegang dadanya, memang jauh di lubuk hatinya ada nama Flora. Akan tetapi yang membuat dirinya membenci Flora karena gadis itu adalah putri kandung Syauqi Malik.
"Ibu, apa kamu tahu apa penyebab mamaku meninggal?" tanya Dewa.
Ibunya Dewa terperanjat, sebab sudah lama sekali kisah itu lama terkubur.
"Mama kamu pendarahan saat melahirkanmu, ada apa? Ku merindukan mamamu?" tanya Ibunya Dewa ikut merasa kasihan.
"Aku hanya penasaran, bagaimana sikap mamaku? Karena sejak aku kecil sama sekali belum pernah melihat wajah mama secara langsung," jawab Dewa.
"Mamamu sangat cantik sekali, tubuhnya tinggi semampai dan hidung serta dagunya runcing seperti peri dari negeri dongeng. Dulu banyak sekali pemuda yang mengejar mamamu," ucap Ibunya Dewa penuh haru.
"Dan kenapa dengan bodohnya mama mencintai manusia berdarah dingin itu," batin Dewa kesal mengingat Syauqi Malik.
"Dewa… Semua ini sudah menjadi takdir, hidup dan mati sudah ada yang mengatur. Hidup kita di dunia ini hanya satu kali jadi pergunakan sebaik mungkin dan yang lebih penting lagi jangan lupa untuk bahagia," tutur Ibunya Dewa sambil membantu putranya untuk bangun.
"Makasih Ibu, walaupun aku tidak terlahir dari rahimmu tapi Inilah yang telah merawat serta membesarkanku hingga sekarang ini. Aku sangat menyayangimu, Ibu," ucap Dewa memeluk Ibunya dengan erat.
"Iya, sayang. Kamu adalah putra tunggal ku dan putra kebanggaanku. Jadi sekarang ayo sarapan dulu biar kamu semakin tumbuh dengan baik," bujuk Ibunya Dewa sambil menarik lengan putranya untuk berdiri.
Dewa tersenyum, sebab dia merasa sudah dewasa akan tetapi Ibunya selalu memperlakukannya seperti anak kecil. Tapi diam - diam dia menyukai perhatian seperti itu.
Terima kasih sudah membaca karya saya, jangan lupa Like, Vote dan komen ya😍 Sebab saran dan kritikan kalian sangat berarti bagi Author.
Oh iya, cerita Kejora dan Blue Sea judulnya CINTA YANG BERKARAT ada di aplikasi In*no*vel / Dre*am ya.
__ADS_1
Bagi ingin baca bisa tapi tidak ada aplikasinya bisa lewat Google kok kak. Tapi akan lebih baik jika lewat Aplikasinya secara lanslung dan masih free Koin ya.