CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 58


__ADS_3

Perjalanan yang panjang membuat Syadev merasa letih, apalagi dia sama sekali tidak bisa tidur. Pikirannya selalu terbayang wajah Anggun. Dia hanya takut jika nanti istrinya diganggu Teguh lagi. Karena biarpun pemuda itu sudah di hajar habis-habisan tapi tidak ada yang tahu jika Teguh masih berani mendekati Anggun lagi.


"Sebaiknya aku segera mandi, setelah itu tiduran sambil menelpon istriku."


Syadev bergegas menuju kamar mandi, Setelah selesai dia keluar, dan ada suara bel dari pintunya.


Syadev tahu itu pasti pelayan yang mengantarkan makan siang untuknya. Dia segera membukakan pintu tersebut.


Selama di Amerika Syadev tinggal di sebuah hotel mewah milik teman Ayahnya. Sebenarnya dia merasa tidak terlalu nyaman, bukan karena tempatnya tapi biaya sewanya yang setinggi langit.


Namun bagi Syauqi Malik soal harga bukan masalah besar, yang terpenting adalah kehidupan Syadev bisa terjamin.


Syadev mulai makan, biarpun dia bukan tipe orang pemilih, tapi lidahnya tetap menyukai masakan tanah air sendiri.


"Nanti kalau sudah ada Anggun aku akan meminta dia memasak untukku," batin Syadev tersenyum sendiri.


Selasai makan dia segera minum dan berbaring di tempat tidurnya, Syadev ingin memberi kabar pada istrinya jika dia sudah sampai di Amerika dengan selamat.


Baru saja nomor Anggun mau pencet, tapi sudah kedahuluan panggilan lain dari saudara kembarnya.


"Apa?" tanya Syadev.


"Kok apa? Kamu malas mengangkat teleponku?" pekik Kaysa nyaring, sampai kuping Syadev terasa sakit.


"Bukan begitu, kamu ini pengantin baru. Dan di sana sudah malam. Pastinya kamu mau menemani tidur suamimu kan?" goda Syadev.


"Diam, aku tonjok kamu. Sebaiknya kamu ceritakan kehidupanmu di sana," pinta Kaysa mengalihkan pembicaraan.


Syadev tersenyum, dia tahu jika dirinya dijadikan alat agar Kaysa tidak dikerjai suaminya.


Karena Syadev terlalu sayang pada saudara kembarnya, dia merasa sulit menolak permintaan Kaysa yang sering aneh-aneh.


Syadev mulai menceritakan semuanya secara detail, bahkan bibir Syadev sudah merasa lelah untuk berbicara tapi Kaysa masih saja terus bertanya ini dan itu.


Saat Syadev melirik jam di dinding, matanya melotot. Dia baru sadar jika dia dan Kaysa sudah telpon-telponan sampai berjam-jam.


"Kaysa, sudah ya? Aku mau istirahat dulu," ucap Syadev.


"Nggak mau, pokoknya jangan di tutup," tolak Kaysa.


"Besok lagi, aku juga masih banyak urusan. Dan sekarang aku mengantuk," jawab Syadev dengan nada memohon.


Tanpa mendengar jawaban Kaysa, Syadev langsung mematikan sambungan teleponnya.


Syadev tahu jika saat ini pasti Kaysa kesal padanya, tapi dia juga memikirkan istrinya yang sedang menunggu kabar darinya.


Syadev baru mau memanggil nomor Anggun, lagi-lagi Kaysa terus menelpon, sudah di tolak masih meneror terus dengan banyak panggilan.


Syadev menjadi kesal, dia langsung memblokir nama Kaysa agar gadis itu tidak mengganggu lagi.

__ADS_1


"Sorry, Kaysa. Besok aku buka blokirannya lagi," bisik Syadev setengah tertawa membayangkan Kaysa yang mengamuk.


Syadev membaringkan tubuhnya dengan posisi yang senyaman mungkin, kemudian dia menelpon istrinya dengan rasa bahagia. Namun ternyata istrinya tidak menjawab panggilannya tersebut. Bergantian memanggil ke nomor Zahra juga tidak di angkat.


"Sial, di Indonesia sudah larut malam. Mereka pasti sudah tidur. Kaysa, kamu ini memang pengganggu saja," batin Syadev sambil membanting ponselnya di ranjang yang empuk.


Syadev mencoba memejamkan matanya tapi sulit.


"Sebaiknya aku melihat-lihat rumah yang akan aku beli dulu. Aku juga butuh perabotan agar nanti Anggun tidak kesulitan."


Syadev mengambil jaketnya dan keluar dari kamar hotelnya.


"Apa sebaiknya aku beli mobil saja ya? Dengan begitu aku bisa kemana-mana dengan bebas."


Di sana sebenarnya Syadev sudah ada mobil sekaligus sopirnya, tapi dia tahu jika mobil itu adalah milik perusahaan yang biasa di pakai untuk urusan bisnis utusan Ayahnya.


Syadev lebih memilih membeli sendiri yang simpel dan sesuai dengan seleranya.


"Bagaimana cara aku menghindari pengawasan dari Ayah?"


Syadev bingung, karena dia tinggal di sekitar wilayah kantor cabang yang bekerja sama dengan perusahaan Ayahnya. Jadi dia tahu jika mereka mengenal Syadev.


Akhirnya Syadev punya ide yang lebih baik, yaitu sekolah di luar kota yang jauh dari wilayah kenalan Ayahnya. Dengan begitu Syadev bisa keluar dari hotel dan tidak perlu memakai mobil dan sopir dari perusahaan.


Syadev langsung membeli mobil terlebih dahulu tanpa memberi tahu siapapun, dia takut jika mereka melapor pada Ayahnya.


Kaysa kesal sekali, karena suaminya masih belum pulang walau sudah larut malam. Tadinya pamit mau ke kantor sebentar tapi ternyata lama.


Setelah kepergian suaminya, Kaysa menelpon Anggun dan Zahra yang tidur sekamar. Tak henti-hentinya Kaysa merasa iri sebab mereka berdua bisa bersama.


Sampai kedua temannya pamit tidur, Alarik masih belum pulang. Akhirnya Kaysa gantian menelpon saudara kembarnya sampai pukul dua malam.


kaysa mencoba menelpon lagi suaminya, tapi hasilnya masih sama, panggilan tidak terjawab.


Akhirnya Kaysa tertidur dengan sendirinya sambil membawa ponselnya.


Antara sayup-sayup Adzan subuh, Kaysa juga bermimpi sedang di cium dan dipeluk Alarik. Namun semakin lama ciuman itu terasa semakin nyata.


"Kaysa, ayo bangun. Sholat subuh dulu," ucap Alarik lembut.


Kaysa langsung membuka mata karena terkejut.


"Kak Al baru pulang?" tanya Kaysa kesal.


"Iya, maaf tidak sempat mengabari sebab ponselku tertinggal di kantor. Tadi Orlin pingsan dan keadaannya kritis, karena keluarganya di luar negeri aku tidak tega meninggalkannya sendirian di rumah sakit," jawab Alarik.


"Sakit apa?" tanya Kaysa panik.


"Jantung lemah," jawab Alarik berbohong.

__ADS_1


Sebenarnya Orlin sakit depresi yang berat, di tambah berhari-hari nafsu makannya memburuk membuat Orlin semakin lemah. Alarik takut jika Kaysa mengetahuinya maka istrinya itu akan merasa bersalah. Karena penyebab sakitnya Orlin adalah perniakahan Alarik dan Kaysa.


Alarik kasihan pada Orlin, tapi pemuda itu juga tidak ingin membuat istrinya bersedih. Apalagi tadi Orlin tidak mengizinkannya untuk memberitahu tentang sakitnya pada keluarganya di London.


"Papa dan Mama baru saja berangkat ke London, kasihan jika mereka tiba-tiba balik lagi ke sini. Apalagi pekerjaan Papa sudah banyak uang terbengkelai," kata Orlin yang masih melekat di ingatan Alarik.


Rendra dan Nayla memang pulang di acara pernikahan Alarik dan Kaysa. Mereka berdua juga memberikan restu dengan sukacita. Meskipun begitu Alarik tahu dalam hati mereka terluka.


Selesai sholat subuh, Alarik ketiduran. Kaysa tahu mungkin semalaman suaminya tidak tidur karena menjaga Orlin.


Pukul setengah tujuh Kaysa sudah dandan cantik bersiap-siap masuk kuliah, jauh dari Bundanya membuat dia bebas memakai baju yang ngetren. Meskipun begitu Kaysa tetap mengenakan jilbab.


Kaysa membangunkan suaminya secara perlahan.


"Kak Al, bangun. Mau ke kantor apa tidak?" tanya Kaysa.


"Iya," jawab Alarik bergegas ke kamar mandi.


Kaysa menyiapkan baju kantor suaminya. Meskipun dia tidak bisa memasak tapi ada soal fashion dia ahli.


Alarik tersenyum puas karena baju kantornya sudah siap di atas ranjang. Nemun sebelum pemuda itu memakainya, Alarik langsung memeluk dan mencium bibir Kaysa dengan mesra.


"Lipstik aku jadi belepotan," rengek Kaysa.


"Biarin, aku hanya mau minta ganti rugi semalam," jawab Alarik langsung mencium bibir Kaysa lagi.


Kaysa langsung mendorong dada suaminya sambil cemberut.


"Kak Al yang meninggalkan aku!" rengek Kaysa.


"Maaf ya? Semalam aku terlalu panik, dan ponsel aku juga tertinggal," pinta Alarik memohon pengertian.


"Kalau begitu kita mampir ke RS dulu yuk?" ajak Kaysa riang.


"Jangan dulu! Saat ini Orlin masih terlalu lemah. Dokter melarang ada orang yang masuk ke ruangannya kecuali tenaga medis. Kau saja hanya menunggu di luar," ucap Alarik berbohong.


"Maafkan aku Kaysa, tapi ini yang terbaik untuk kamu dan Orlin."


Alarik mencium lagi Kaysa sampai puas, bahkan baju Kaysa menjadi acak-acakan.


Sebenarnya di balik sikap Kaysa yang biasa, hatinya merasa ada sesuatu yang mengganjal. Tapi dia percaya jika suaminya sangat mencintainya, sedangkan Orlin juga orang yang baik.


"Rapikan dulu lipstikmu! Aku juga akan memakai pakaian dulu. Setelah sarapan aku antar ke Universitas ya?" kata Alarik mesra.


"Iya," jawab kaysa tersenyum manis.


Alarik yang melihat senyuman maut Kaysa tidak tahan untuk mencium bibir itu lagi.


"I love you," bisik Alarik sepenuh hati.

__ADS_1


__ADS_2