CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 86


__ADS_3

Sedari tadi Kaysa tetap tersenyum ceria seperti biasanya, tapi begitu sampai di kamar sifat rewelnya kembali kumat.


"Kenapa istriku sayang? Kok tiba-tiba cemberut seperti ini?" tanya Alarik sambil membelai kepala Kaysa.


"Aku dan Anggun nikahnya duluan aku, tapi kenapa hamilnya duluan dia?" rengek Kaysa.


"Jadi kamu ingin hamil?" tanya Alarik terkejut.


"Iya! Aku juga ingin punya bayi mungil dan lucu," jawab Kaysa tegas.


"Kaysa, hamil itu tidak mudah. Apalagi saat melahirkan nanti rasanya sakit," jawab Alarik yang belum tega membuat istrinya kesusahan.


"Memangnya kamu pernah hamil? Pernah melahirkan?" cetus Kaysa kesal.


"Ya belum, aku hanya mendengar dari cerita orang lain," jawab Alarik.


"Apa jangan-jangan Kak Al sudah punya anak di luar dan tidak mau menambah anak dariku? Atau takut kalau anaknya nanti seperti aku yang suka bikin onar?" tanya Kaysa dengan nada meninggi.


"Eh, Anak di luar apa maksudnya? Istriku cuma satu. Dan jika nanti anak kita seperti kamu aku akan senang sekali, karena istriku ini cantik, menggemaskan dan patuh," jawab Alarik.


"Lalu kenapa tidak ingin segera punya anak?" tanya Kaysa.


"Baiklah... Baiklah, Ayo sekarang juga kita buat," jawab Alarik.


Dalam hati Alarik ingin tertawa, sebab cara istrinya meminta anak seperti saat Kaysa masih kecil yang meminta boneka mainan.


"Anak itu adalah anugerah dari Alloh, kita bisa berikhtiar tapi yang menentukan tetap Alloh. Seandainya tidak langsung diberi kamu jangan kecewa, harus sabar dan rajin membuatnya!" ujar Alarik setengah tertawa.


Kaysa kesal sekali, suaminya itu justru menganggap apa yang diinginkan dirinya sebagai candaan.


"Jangan merengut begitu, nanti anak kita jadi mudah ngambek bagaimana? Dan aku juga pernah mendengar, jika semakin hot buatnya nanti anaknya bisa cerdas," gurau Alarik mengerjai istrinya.


"Berarti Ayah dan Bunda dulu buatnya juga hot banget ya? Buktinya aku dan Syadev sangat cerdas," ucap Kaysa polos.


"Apa kamu sudah siap menjadi seorang ibu, Kaysa?" tanya Alarik serius.


Jujur saja Alarik sendiri juga harus siap mental menghadapi nanti jika Kaysa beneran hamil. Sebab karakter Kaysa yang mudah ngambek dan pemarah kalau sedang hamil bisa lebih parah lagi.


"Kalau aku tidak siap aku juga tidak memintanya kan?" jawab Kaysa ketus.


Alarik gemas juga dengan bibir monyong istrinya itu, rasanya ingin di gigit sampai lemas.


"Lalu kuliah kamu bagaimana?" tanya Alarik.


"Tidak perlu sekolah lagi aku juga sudah cerdas kok, lagipula banyak orang yang hanya lulusan SMA tetap hidup bahagia asal punya suami kaya," jawab Kaysa enteng.


Alarik hanya bisa terpana mendengar istrinya yang memang pandai bicara itu.


"Baiklah, ayo sekarang kita sholat sunah dulu dan jangan lupa berdo'a semoga nanti berdua bisa segera diberi momongan yang baik," bujuk Alarik.


Kali ini Alarik yang bersemangat, dia langsung mengambil air wudhu duluaan.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Di tengah malam Anggun tiba-tiba merintih dan menangis dalam tidur.

__ADS_1


Syadev yang juga sedang tertidur langsung terbangun.


"Jangan tinggalkan aku, suamiku. Jangan.. Jangan... Aku tidak sanggup sendiri..."


Syadev menghapus air mata istrinya dan memeluknya dengan erat.


Setelah dipeluk Anggun sudah terlihat tenang dan nyenyak kembali tidurnya.


Awalnya Syadev berpikir pasti dia bisa bertahan sendirian di luar negeri. Namun dia merasa menjadi suami egois karena hanya memikirkan diri sendiri.


Anggun istri yang baik, teramat baik sampai tidak pernah membantah dan semua yang dilakukan Anggun hanya untuk menyenangkan Syadev saja.


Syadev mulai membayangkan jika nanti Anggun ngidam pasti akan sungkan merepotkan orang lain. Ketika cek kesehatan saat semua istri bersama suaminya sedangkan dia tidak pasti akan membuat Anggun sedih dan stres. Karena Anggun perempuan yang hanya memendam sendiri perasaannya.


Dan yang lebih menyedihkan lagi saat nanti Anggun berjuang melahirkan anak tanpa suaminya juga akan menjadi beban yang berat.


Syadev yang awalnya patuh kini dia mencoba berpikir dua kali.


"Aku memang sudah melakukan kesalahan! Dan aku tidak boleh melakukan kesalahan lagi pada istriku. Aku harus menjadi seorang anak yang patuh tapi bukan berarti aku akan menyiksa istriku sendiri yang sedang hamil. Aku besok harus melakukan sesuatu, aku sudah berjanji pada Anggun untuk membahagiakan dia. Bukan membuat dia menanggung derita secara fisik maupun batin."


Waktu menunjukkan pukul sepertiga malam, biasanya jam segini kedua orang tuanya sudah bangun dan sholat tahajjud.


Syadev melepaskan pelukannya secara pelan-pelan dan bangkit dari tempat tidurnya. Kemudian Syadev langsung keluar menuju kamar tidur orang tuanya. Syadev bisa mendengar suara kedua orang tuanya yang baru selesai sholat malam. Syadev langsung mengetuk pintunya secara pelan-pelan.


Ketika pintu terbuka muncul Bundanya yang masih mengenakan mukena.


"Ada apa, Syadev. Kenapa malam-malam begini ke sini?"tanya Zhia.


Syadev langsung bersujud dan menyentuh kaki Bundanya dengan erat.


Syadev bersyukur karena yang membuka pintu adalah Bundanya, sebab Bundanya itu memiliki hati yang lembut dan mudah di bujuk. Apalagi kalau Bundanya setuju, Ayahnya sudah tidak bisa berkutik lagi. Memang Syauqi memiliki watak keras kepala, tapi Syauqi selalu takut pada istrinya.


Zhia seorang wanita yang pernah hamil dua kali, perempuan yang masih terlihat cantik itu sangat mengerti perasaan Anggun.


"Iya, Putraku. Bunda akan membujuk Ayahmu. Asalkan kamu mau berjanji untuk menjadi suami yang bertanggung jawab pada keluargamu nanti. Istri dan anak adalah amanah, kamu sebagai imam wajib mengarahkan mereka ke jalan yang benar!" jawab Zhia tegas.


"Iya, Bunda. Terima Kasih banyak, aku sangat menyayangimu, Bunda," balas Syadev bahagia.


Syadev berdiri dan memeluk Bundanya dengan erat.


"Sudah, sana kembali ke kamar dan sholat Sunnah dulu!" Perintah Zhia tersenyum lembut.


"Iya, Bunda," jawab Syadev patuh.


Syadev langsung kembali ke kamar dan melaksanakan perintah Bundanya.



Di dalam kamar sebenarnya Syauqi mendengar percakapan antara istri dan putranya. Syauqi tahu jika istrinya itu murah hati dan pemaaf. Setelah ini Syauqi yakin akan segera gantian di bujuk.


"Suamiku, sudah selesai sholatnya?" tanya Zhia tersenyum manis.


Syauqi sudah menduga, sebab semalam istrinya itu sedang marah padanya dan tiba-tiba berubah lembut.


Syauqi tahu takkan mampu baginya menolak kemauan istrinya, tapi dia juga berniat ingin mengerjai istrinya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Aku rasanya lelah sekali, memikirkan pekerjaan yang menumpuk dan memikirkan putra kita yang sembrono itu. Aku semakin tua seharusnya tidak boleh stress," ujar Syauqi dengan wajah memelas.


Zhia sebenarnya ingin tertawa, baru kali ini suaminya mengaku tua. Biasanya tidak terima jika dikatakan sudah tidak muda lagi.


"Mas Syauqi lelah mungkin kebanyakan bekerja malam, sebaiknya mulai sekarang kita kurangi jadwalnya saja," balas Zhia berpura-pura tenang.


Syauqi terkejut, awalnya dia mengira akan memanjakan dirinya dengan pijatan yang lembut. Ternyata malah istrinya itu berpikiran sampai kesitu.


"Tidak! Aku hanya butuh pijatan saja sebentar," jawab Syauqi cemas.


Zhia yang sudah hapal dengan trik suaminya itu menurut saja, asalkan nanti mau mengubah lagi hukuman pada Syadev.


Zhia mulai memijat kepala Syauqi.


"Dadaku juga…" pinta Syauqi.


Zhia mengalihkan tangannya dan mengelus dada suaminya.


"Turun… turun dikit…" pinta Syauqi sambil memejamkan matanya.


Zhia masih bersabar melakukan sesuai keinginan suaminya.


"Turun.. turun lagi..." ucap Syauqi tersenyum nakal.


Zhia yang sudah tidak tahan akhirnya berganti menggelitik pinggang suaminya.


Syauqi sampai menggeliat karena merasa geli.


"Sudah… sudah… aku geli sekali. Sudah, nanti aku bisa mengompol," teriak Syauqi.


"Makanya jangan suka mengerjai istri sendiri!" jawab Kaysa.


"Entah kenapa rasanya nikmat sekali," balas Syauqi.


"Langsung saja! Pokoknya jika Mas Syauqi tidak menarik hukuman itu pada Syadev maka selama satu setengah tahun kita juga libur melakukan itu," kata Zhia tegas.


" Apa? Tidak mungkin… Bagaimana bisa aku tidur tanpa belaian istriku," jawab Syauqi menggoda.


"Mas Syauqi, aku pernah merasakan hamil. Jadi aku tahu perasaan Anggun. Dia gadis yang lembut dan baik hati, kasihan jika saat hamil masih harus berjauhan dari suaminya! Lagi pula percayalah pada putra kita, dia pasti bisa lulus dalam waktu satu setengah tahun lagi," bujuk Zhia.


"Iya… Iya… Tapi sebagai gantinya sekarang kita bercinta dulu ya? Semalam aku sudah tersiksa karena dicuekin," rayu Syauqi.


"Eh, sebentar lagi sudah waktunya sholat subuh," ucap Zhia.


"Halah, nanti kita bisa mandi bersama. Telat sedikit juga tidak apa-apa. Lagian menyenangkan suami juga merupakan ibadah untuk istri," goda Syauqi.


Zhia kesal sekali dengan mulut suaminya itu, dengan gemas Zhia langsung menyerang bibir suaminya dan menggigitnya.


"Enak sekali gigitannya, sebagai rasa terima kasih akan ku gigit bibirmu yang bawah," balas Syauqi sambil menyingkap gamis istrinya.


Zhia menjerit karena takut suaminya benar-benar melakukannya. Mereka saling menyerang seperti dua kucing yang bertengkar.


Terima kasih atas dukungan kalian selama ini, maaf ya tidak bisa membalas komentar lain satu persatu. Tapi Author selalu senang membaca komentar kalian yang selalu membuat semangat .


Jangan Lupa Like dan Vote sebanyak-banyaknya ya🤗

__ADS_1


__ADS_2