
Hampir 8 bulan Nayla berobat di London, akhirnya dia bisa berjalan dengan normal, meskipun dia tidak lagi bisa mengandung seorang anak, namun dia bersyukur karena dipertemukan dengan Rendra yang kini menjadi suaminya, Rendra sangat baik dan selalu perhatian padanya.
Seperti yang sudah direncanakan jauh-jauh hari, Nayla dan Rendra pulang ke Indonesia.
Mereka sudah tidak sabar memberi kejutan kepada Mamanya Rendra dan Orlin, namun saat melewati di depan vila Syauqi, Rendra merasa penasaran karena banyak orang di sana, dia segera menghentikan mobilnya dan mengajak Nayla keluar.
Pengasuh Orlin sangat terkejut melihat tuannya yang sudah pulang dengan membawa seorang wanita cantik, dia segera berlari menghampiri tuannya,
"Tuan Rendra, bagaimana kabar Anda? dan siapa wanita cantik di samping Anda?" tanya Bik Imah secara beruntun.
"Alhamdulillah baik, nanti aku perkenalkan wanita di sampingku ini setelah di rumah. Apa Mama dan Orlin juga di sini?" Rendra tersenyum geli melihat pengasuh putrinya yang merasa penasaran karena pertanyaannya belum di jawab.
"Nyonya Laela dan nak Orlin masih di sekolah, pulangnya nanti sekitar jam 10 siang,Tuan," jawab Bik Imah tersenyum ramah.
"Di sini sedang ada acara apa, Bik Imah? kenapa sangat ramai," tanya Rendra penasaran.
"Nyonya Zhia sudah melahirkan bayi kembar, itu bayinya sedang di jemur," jawab bik Imah sambil tangannya mengarahkan ke dua bayi yang sedang di kelilingi banyak orang.
Rendra dan Nayla segera menyapa semua orang, setelah itu mereka masuk ke rumah untuk menemui Syauqi dan Zhia.
Cukup lama Nayla mengobrol dengan Zhia, setelah itu dia berpamitan dulu karena sudah saatnya Orlin pulang sekolah.
Nayla dan Rendra segera keluar dari rumah dan menemui pengasuh putrinya,
"Apa mama dan Orlin sudah pulang, Bik Imah? tanya Rendra.
"Belum, Tuan. Mungkin sebentar lagi," jawab bik Imah.
"Mas Rendra, Bagaimana kalau kita yang menjemput?" tanya Nayla lembut sambil memegang lengan suaminya.
"Baiklah," jawab Rendra dengan mata berbinar, dia bahagia karena istrinya sudah menganggap Orlin sebagai putrinya sendiri.
Bik Imah hanya menatap kepergian tuannya, dia sangat penasaran, siapakah wanita yang sedang bergandengan tangan dengan Rendra, karena mereka berdua terlihat sangat mesra.
Sedangkan Rendra terpaksa mencari lokasi sekolah putrinya dengan Google Maps, karena dia juga belum pernah ke sana.
Sampai di depan sekolah, Rendra dan Nayla segera turun, tak berapa lama kemudian terdengar bunyi bel tanda pelajaran sudah berakhir.
Seperti sekawanan burung yang keluar dari sangkar, murid-murid TK berhamburan keluar sambil bersorak bergembira.
Rendra kemudian melihat putrinya yang sedang bergandengan tangan dengan neneknya.
Orlin yang baru keluar dari kelas juga terkejut melihat kedatangan papanya, dia segera berlari memeluk papanya dengan erat,
"Papa, Orlin kangen sekali," teriak Orlin manja.
__ADS_1
"Iya, sayang. Papa juga merindukan Orlin, Papa senang sekali sekarang Orlin sudah bisa berlari," jawab Rendra menangis haru, dia segera menggendong putrinya, dan mencium pipinya.
Rendra segera bersalaman dengan Mamanya, begitu pula dengan Nayla.
Laela ikut menangis, apalagi dia tahu jika seseorang yang di bawa putranya bukanlah sekedar teman biasa, karena selama ini Rendra tidak pernah sedekat itu dengan perempuan lain kecuali mendiang istrinya dan perempuan yang saat ini di sampingnya.
"Pa, siapa tante cantik yang bersama papa ini?" tanya Orlin polos.
Rendra segera menurunkan putrinya,
"Ayo kita pulang dulu, nanti Papa beri tahu," jawab Rendra membuat Putrinya penasaran.
"Nek, Orlin mau ikut mobil papa saja ya?" pamit gadis kecil itu seakan tak mau terpisah dari papanya.
Laela hanya mengangguk, dia segera masuk ke mobilnya sendiri,
"Pak sopir, kita jalan duluan!" perintah Laela pada sopirnya.
Sepeninggalannya mobil Laela, Rendra segera mengajak istri dan anaknya masuk ke dalam mobilnya, di sepanjang perjalanan Orlin tak berhenti mengoceh karena penasaran dengan Nayla,
"Tante cantik pacarnya papa ya?" tanya Orlin.
Nayla tersenyum, dia merasa jika putri tirinya sangat lucu dan ceria, seperti dirinya di masa kecil,
Orlin yang semula ceria menjadi sedikit bersedih.
"Orlin, dia memang bukan pacar Papa, tetapi istri Papa," timbal Rendra.
Orlin yang semula bersedih sangat terkejut,
"Mama? Orlin punya sekarang punya mama?" kata Orlin penuh semangat.
"Iya sayang, sekarang panggil Mama Nayla ya?" ucap Nayla keibuan, dia memeluk Orlin dengan segenap kasih sayang.
"Hore... Orlin punya mama sekarang, mulai besok tidak ada teman yang mengejek Orlin lagi di sekolah," kata Orlin ceria.
"Mengejek? memang kenapa?" tanya Rendra penasaran.
"Teman-temanku yang menemani sekolah adalah mamanya, sedangkan Orlin... nenek terus. Mereka yang jahat sering mengejek kalau Orlin tak punya mama," rengek Orlin, membuat Rendra semakin merasa bersalah, Rendra selama ini tidak tahu jika anak sekecil itu di bully teman-temannya disekolah.
"Jangan bersedih lagi sayang, mulai besok biar Mama Nayla yang mengantar Orlin sekolah, siapa yang berani mengganggu Orlin lagi nanti Mama Nayla hajar," ucap Nayla ikutan emosi.
"Memangnya Mama Nayla bisa berkelahi?" tanya Orlin polos.
"Tentu sayang, Mama Nayla sangat jago berkelahi, Papa saja kalah," sindir Rendra tersenyum nakal pada istrinya.
__ADS_1
Nayla seketika merasa malu, karena dia menjadi ingat pada janjinya sendiri.
Sudah berbulan-bulan Rendra dan Nayla menikah, namun mereka belum pernah melakukan hubungan selayaknya suami istri.
Meskipun Nayla sudah sembuh sebulan yang lalu, namun dia masih merasa malu untuk membuka bajunya sendiri di depan suaminya.
Setiap Rendra meminta, Nayla selalu bilang jika sebaiknya malam pertama mereka saat sudah di Indonesia.
Dan sepertinya Rendra selalu mengingat janji itu, di setiap kesempatan Rendra mengedipkan mata sebelahnya dan tersenyum nakal pada Nayla, dia memberi kode jika nanti malam adalah saat yang istimewa.
Nayla malu dan kesal, karena suaminya menggoda di depan anaknya sendiri,
"Mama kenapa wajahnya memerah?" tanya Orlin.
"Mungkin karena kepanasan sayang," jawab Nayla asal-asalan.
"Nanti kalau sudah sampai di vila cuacanya berubah sejuk," jawab Orlin yang menganggap perkataan Nayla tadi serius.
"Iya sejuk, tetapi jika malam hari menjadi sangat dingin," sindir Rendra.
Nayla semakin merasa kepanasan.
"Pa, berarti sebentar lagi Orlin punya Adel dong?" tanya Orlin polos.
Rendra terkejut, dia bisa melihat perubahan ekspresi Nayla yang sedikit muram,
"Sayang, Papa dan Mama Nayla sudah sepakat tidak mau memiliki anak lagi, karena kami ingin seluruh kasih sayang dan perhatian di curahkan hanya kepada Orlin, kalau orlin punya adik pasti nanti perhatiannya terbagi," jawab Rendra tenang, dia tersenyum manis memberikan semangat pada istrinya.
Nayla tersenyum ceria lagi, dia bersyukur memiliki suami yang sangat perhatian.
Sesampainya di vila, rupanya Laela sudah menyiapkan hidangan makan siang yang spesial, dan saat Rendra mengumumkan kalau Nayla adalah istrinya, Laela sama sekali tidak terkejut,
"Mama sudah tahu dari awal, karena selama ini Rendra tidak pernah dekat dengan wanita. Selamat datang ya menantuku yang cantik, mama hanya berharap semoga kamu bisa menerima Rendra apa adanya, dan bisa menganggap Orlin sebagai putrimu sendiri," ucap Laela menangis terharu.
Nayla langsung memeluk ibu mertuanya dengan suka cita, dia senang karena kehadiran dia di sambut hangat.
Bik Imah yang selama ini setia bekerja pada Rendra juga ikut menangis, dia bahagia karena do'anya selama ini di kabulkan.
9
Terima kasih sudah berkenan membaca novel karya saya, jangan lupa di like dan Vote ya🤗
Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Authoor.
Dan mohon kritik dan sarannya juga, semoga novel CINTA YANG TERPAKSA bisa berkembang menjadi lebih baik lagi😘
__ADS_1