
Syauqi mengantar kedua anaknya sampai di depan kelas, tapi pelajaran masih belum dimulai karena bel sekolah belum berbunyi.
“ Kalian berdua tidak apa-apa kan?” tanya Syauqi kepada kedua anaknya.
"Tidak apa-apa, Ayah," jawab Kaysa dan Syadev secara bersamaan.
"Nanti jangan bilang sama Bunda, ya? Takutnya Bunda jadi khawatir dan banyak pikiran," ucap Syauqi.
"Terimakasih, Ayah. Syadev kira Ayah akan marah," jawab Syadev.
"Tidak, Ayah bangga karena kalian berdua menjadi anak-anak Ayah yang hebat. Tapi lain kali jangan berantem lagi karena kalian masih kecil," tutur Syauqi lembut.
"Ayah, kenapa tidak masukkan saja Kaysa dan Syadev dipelatihan bela diri. Jadi Ayah tidak perlu khawatir lagi," pinta Kaysa sambil tersenyum manis.
Selain istrinya, kedua anaknya ini juga bisa membuat hati Syauqi luluh. Setiap permintaan yang terucap dari bibir mereka tak mampu Syauqi menolak.
"Baiklah, nanti Ayah akan mencari guru yang terhebat. Ayo sekarang kalian masuk dulu!" jawab Syauqi sambil mendorong lembut pundak kecil kedua anaknya.
Tapi Kaysa dan Syadev berbalik lagi menarik lengan Syauqi supaya jongkok. Kemudian secara bersamaan kedua anak kecil itu mencium pipi Ayahnya.
Cupp...
"Terimakasih, Ayah," teriak Kaysa dan Syadev sambil berlarian masuk ke kelas.
Syauqi tertawa, kebahagiannya tidak bisa diungkapkan hanya dengan kata-kata. Sepanjang jalan menuju kantor dia hanya tersenyum-senyum sendirian mengingat tingkah kedua anaknya yang polos dan ceria.
"Kebahagian paling sempurna di dunia ini ketika sudah memiliki buah hati. Kehadiran mereka menghangatkan hatiku," batin Syauqi.
************************************
Zhia baru saja mendapat telepon dari Nindya, dia sangat terkejut dan sedikit marah. Bukan kepada kedua anaknya tetapi pada suaminya yang sama sekali tidak memberi kabar.
"Anak-anak wajar jika berbuat ceroboh dan sembarangan, tetapi sebagai orang tua wajib meluruskannya supaya kelak menjadi anak yang baik. Kenapa Mas Syauqi tidak menghubungi aku? Atau mungkin sedang sibuk ya? Baiklah aku harus bersabar. Yang terpenting kata Nindy kedua anakku tidak apa-apa."
Semenjak menjadi seorang Ibu, Zhia menyibukkan diri dengan memasak dan membuat cemilan untuk keluarganya. Baginya sangat puas jika suami dan anak-anaknya makan lahab.
Siang harinya Kedua anaknya yang baru kelas satu SD sudah pulang sekolah.
"Assalamu'alaikum," sapa Kaysa dan Syadev.
"Wa'alaikumsalam," jawab Zhia lembut seolah tidak tahu apa-apa.
Zhia memeluk mereka, diam-diam dia ingin memastikan jika kedua anaknya tidak terluka.
"Ayo mandi, Sholat Dzuhur kemudian makan siang!" pinta Zhia tersenyum hangat.
"Iya, Bunda," jawab Mereka secara bersamaan.
Kedua anak kembar Zhia sangat mandiri. Mereka bisa melakukan apa-apa sendiri. Hanya saja Zhia sedikit butuh kesabaran untuk menghadapi putrinya yang kadang keras kepala.
Zhia sudah menyiapkan makanan dan buah buahan. Setelah kedua anaknya selesai makan Zhia mengajak mereka mengobrol di ruang santai.
__ADS_1
"Sebaiknya aku bertanya nanti saja kalau Mas Syauqi sudah pulang," batin Zhia.
"Kaysa, tadi Bunda membeli jilbab bagus, putriku ini pasti akan terlihat lebih cantik kalau memakainya," bujuk Zhia lembut.
"Tidak, Bunda. Memakai jilbab itu ribet. Kaysa jadi tidak bisa bergerak bebas kalau memakai pakaian yang panjang juga," tolak Kaysa manja.
"Eh, anak perempuan di wajibkan menutup auratnya sayang," bujuk Zhia lagi tidak mau menyerah.
"Tidak, Bunda. Kaysa kan masih kecil," tolak Kaysa lagi.
"Tapi Kak Alifya dan Kak Zahra masih kecil juga sudah memakai jilbab," ucap Zhia.
"Pokoknya Kaysa tidak mau, Bunda," tolak Kaysa sambil memonyongkan bibirnya.
Zhia menarik napas, memang butuh kesabaran ekstra untuk membujuk putrinya yang keras kepala ini.
Syadev hanya diam saja, dia lebih tertarik menonton kartun di televisi sambil ngemil.
****************************************
Pulang kerja sampai di vila sudah Adzan Maghrib, Syauqi segera mandi dan menyusul keluarga kecilnya yang sudah menantinya untuk sholat berjamaah.
Syauqi sebagai kepala keluarga sudah pandai mengaji, karena selama bertahun-tahun ini dia juga belajar tentang ilmu agama lebih dalam lagi dari Kakak iparnya, yaitu Fauzi.
Selesai sholat Zhia mengajari Kaysa mengaji, sedangkan Syadev dibimbing Ayahnya.
Mereka baru keluar dari Musholla setelah sholat Isya'.
"Kenapa Bunda sibuk sendirian? Di mana Bik Mus dan Bik Tri?" tanya Syauqi heran.
""Bik Mus sakit, sekarang sedang diantar Bik Tri dan Pak supir ke rumah sakit," jawab Zhia sambil menaruh makanan di atas meja.
"Kasihan, mereka sudah terlalu tua. Apa sebaiknya mereka disuruh pensiun saja ya? Nanti aku akan memberi uang untuk menjamin masa tua mereka," ucap Syauqi serius.
"Aku setuju, Mas. Aku juga tidak masalah mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Dari pada menganggur aku malah bosan dan jenuh," jawab Zhia sambil duduk di kursi meja makan.
"Kalau soal masak aku izinkan, tapi untuk bersih-bersih rumah dan yang lainnya aku tetap mau mencari pembantu," jawab Syauqi tegas.
Kalau Syauqi sudah seperti itu, Zhia langsung diam mengalah. Zhia tahu jika suaminya sangat menyayanginya, mana mungkin tega membiarkan istrinya kelelahan.
Kemudian Kaysa dan Syadev baru turun. Dua anak kembar itu segera bergabung bersamanya orang tuanya.
Selesai makan malam mereka duduk di ruang keluarga.
"Oh iya, Bunda lupa tanya. Bagaimana hari pertama kalian sekolah?" Zhia memandang kedua anaknya yang menunduk.
"Pasti menyenangkan ya punya teman baru?" sela Syauqi menutupi kesalahan kedua anaknya.
Zhia kecewa, karena hanya dia sendiri yang tidak diberitahu.
Tapi lama-kelamaan Syadev tidak tahan juga berbohong pada Bundanya.
__ADS_1
"Maaf, Bunda. Semua ini kesalahan Syadev. Tadi Syadev berkelahi di sekolah," ucap Syadev lirih, anak lelaki itu tidak berani menatap mata Bundanya.
Zhia sangat terkejut, tadinya dia mengira jika yang berkelahi adalah putrinya. Karena selama ini Syadev pendiam dan suka ketenangan.
"Tidak, Bunda. Sebenarnya yang memulai duluan adalah Kaysa. Syadev berkelahi karena melindungiku. Tapi kami berdua hanya bermaksud menolong Dareen karena dia di jahati kakak kelas," timpal Kaysa yang juga tidak berani menatap mata Bundanya.
Zhia merasa lega, karena kedua anaknya berkata jujur.
"Niat kalian untuk menolong teman itu sudah baik, tapi kalian berdua ini masih kecil. Lain kali kalau dihadapkan masalah seperti ini lagi kalian harus melapor pada guru, jangan bertindak sendirian. Bunda hanya menghawatirkan kalian berdua," tutur Zhia.
"Bunda, Kaysa sama Syadev mau belajar bela diri ya?" tanya Kaysa yang sudah kembali ceria.
"Tidak! Nanti kalian pasti akan berkelahi terus," tolak Zhia seketika.
Kaysa dan Syadev langsung murung. Syauqi melihat kesedihan kedua anaknya rasanya tidak tahan.
"Bunda sayang, izinkanlah mereka! Lagian itu penting untuk mereka. Suatu saat kalau mereka sudah besar mereka bisa menjaga diri sendiri, apalagi untuk anak perempuan kita yang cantik ini. Kamu tidak mau kan kalau dia nanti digangguin anak laki-laki yang merayunya?" bujuk Syauqi untuk meyakinkan istrinya.
Zhia jadi teringat kenangan pahit di masa lalunya, dia tidak ingin anak putrinya mengalami nasib yang sama.
"Dulu aku terlalu lemah sampai tidak bisa menjaga diriku sendiri," batin Zhia.
"Baiklah, tapi untuk Kaysa ada persyaratannya," kata Zhia yang membuat kedua anaknya langsung mengangkat wajah mereka.
"Apa, Bunda? Apa, Bunda?" tanya Kaysa antusias.
"Mulai sekarang harus memakai jilbab," kata Zhia tegas.
Kaysa berpikir untuk beberapa saat, kemudian dia mengangguk setuju.
"Iya, Bunda," jawab Kaysa lemas.
Syadev tertawa melihat saudarinya. Karena selama ini Kaysa selalu menolak memakai jilbab.
Kaysa hanya melirik saja karena kesal ditertawakan.
Syauqi seketika tersenyum melihat wajah cerah kedua anaknya.
"Mas Syauqi, kenapa kamu sebahagia itu? Tidakkah ada penjelasan kenapa tadi aku tidak diberitahu masalah anak-anak?" sindir Zhia merasa kesal.
Senyum Syauqi mendadak hilang, wajahnya berubah menjadi cemas,"
"Ayah, Bunda. Aku mau mengerjakan PR dulu," teriak Kaysa sambil berlari.
"Aku juga, selamat malam Ayah, Bunda," timpal Syadev yang juga segera kabur.
"Anak-anak itu. Sikap licik siapa yang dicontoh? Ayahnya berniat menolong malah sekarang ditinggalkan saat bermasalah," batin Syauqi.
Zhia masih melirik tajam ke arah Syauqi. Membuat Daddy tampan itu salah tingkah.
Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like, Vote dan beri Bintang 5 ya🙏 Karena dukungan kalian semua sangat berarti bagi Author.
__ADS_1
Mohon kritik dan sarannya juga semoga Novel CINTA YANG TERPAKSA bisa berkembang lebih baik lagi.