CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 12


__ADS_3

Sudah hampir sebulan Kaysa tidak mengunjungi neneknya, jadi setelah dia melihat neneknya tersebut hatinya merasa bahagia.


“Kaysa, setiap melihatmu nenek merasa bertambah muda,” ucap neneknya tersenyum senang.


“Apa aku tidak, Nenek?” tanya Syadev merasa iri.


“Tentu saja kalian semua,” jawab Nenek tertawa riang.


Tadi di sepanjang perjalanan Kaysa dan Syadev di peringatkan Bunda mereka supaya tidak bertengkar, karena nenek mereka yang sudah lanjut usia. Jadi sekarang kedua anak kembar itu bisa menahan diri untuk mengunci mulut mereka.


“Mari silahkan dinikmati terlebih dahulu, sambil menanti Ibu dan Ayah pulang dari kondangan,” ucap Alifya ramah.


“Wah, apakah kue-kue ini kamu yang membuatnya, Alifya?” tanya Syauqi karena takjub dengan rasa masakannya.


“Iya, Paman Syauqi. Setiap pulang sekolah aku sering membantu ibu, jadi lama-kelamaan aku bisa sendiri,” jawab Alifya malu-malu.


“Itu bagus, kalau kamu suka suatu saat nanti bisa membuka usaha sendiri,” timpal Zhia memberi semangat kepada keponakannya.


“Flora, lihatlah Kak Alifya. Kamu harus bisa mencontohnya, jadi anak perempuan jangan cuma pintar dandan saja. Tapi juga harus pandai memasak,” sela Syadev yang berbicara pada adiknya dengan nasihat yang baik.


Entah kenapa Kaysa merasa panas, dia seakan merasa tersindir. Namun karena dia tidak ingin membuat neneknya terkejut akhirnya Kaysa menahannya sekuat mungkin.


“Kalian tahu tidak, dulu Ayah bisa tertarik dengan Bunda karena masakannya yang sangat lezat,” kata Syauqi pada anak-anaknya.


“Seandainya Ibu jelek apakah Ayah akan tetap menyukai ibu?” tanya Kaysa penasaran.


“Dulu ibu kalian sangat polos, tidak bisa dandan sama sekali. Tapi Ayah tetap mencintainya dan segera ingin menikahinya,” jawab Syauqi tersenyum senang.


“Ibu tanpa berdandan juga masih terlihat cantik,” sergah Kaysa.


Semua yang mendengar Kaysa menjadi tertawa. Karena Zhia memang sangat cantik.


“Cucu-cucu perempuan nenek semuanya juga cantik,” puji ibunya Zhia tersenyum senang.


“Yang paling cantik siapa, Nek?” tanya Kaysa antusias.


“Flora, dong!” sela Syadev.


Kaysa ingin membalas, tapi Bundanya sudah melirik sebagai kode untuk menjaga sikap. Kaysa hanya diam mengunci bibirnya rapat-rapat.


“Nek, apa telur ayamnya sudah menetas?” tanya Flora.


“Sudah, anak-anak ayam sudah semakin banyak sekarang,” jawab Nenek Orlin tertawa senang.


“Kalau Flora pengen lihat ayo Kak Alifya antar?” saran Alifya bersemangat.


“Iya, Ayo kak Syadev, Kak Kaysa dan Kak Darren,” ajak Flora riang.


Kaysa langsung berdiri, karena dia tidak mau melihat anak ayam. Sebab dia takut mengingat masa kecilnya yang membuat anak-anak ayam mati karena dipaksa berenang.


“Kalian bersenang-senanglah dulu! Aku ingin tiduran di kamar Kak Alifya saja,” sela Kaysa meninggalkan semua orang.


Kamar Alifya adalah bekas kamar Bundanya Kaysa, di sana Kaysa tiduran dan menelepon Kakak pertamanya.


“Ada apa?” tanya Alarik lembut.


“Tidak, hanya sedang kesal saja,” jawab Kaysa manja.


“Oh, kalau lagi bahagia berbagi dengan Darren? Tapi jika sedang marah di limpahkan pada Kakakmu ini?” goda Alarik.

__ADS_1


“Jadi kakak cemburu?” tanya Kaysa tertawa.


“Tentu saja, kamu bilang kakakmu ini adalah tunanganmu,” goda Alarik lagi.


Kaysa tertawa, dia tahu jika Kakaknya bergurau untuk menghibur dirinya.


“Kamu kesal kenapa?” tanya Alarik kemudian.


“Tadi aku di sindir Syadev, masa dia bilang di depan semua orang kalau jadi anak perempuan jangan hanya pinta dandan, tapi juga memasak,” jawab Kaysa cemberut.


“Itu memang benar, seperti Bunda yang cantik dan pandai memasak,” cetus Alarik.


“Tapi aku tidak suka memasak, kan bisa menyuruh koki,” jawab Kaysa kesal.


“Kenapa kamu marah begitu? Takut kalau nanti tidak ada yang menyukai?” goda Alarik.


“Tidak ada yang suka aku juga tidak peduli,” ucap Kaysa jutek.


“Kamu tenang saja! Suatu saat kalau kamu sudah besar pasti mengerti, jika cinta itu tanpa alasan. Bukan karena apa atau apa,” hibur Alarik menahan tawa.


“Kak Al, kamu berbicara seperti itu kaya pernah jatuh cinta saja,” sergah Kaysa.


“Tentu saja, tapi Kakak saat ini hanya fokus untuk sukses dulu “ jawab Alarik serius.


Kaysa mengira, jika perempuan yang disukai kakaknya pasti seperti Bundanya yang cantik dan lemah lembut.


“Ayah kita kaya raya, Kak Al tinggal pilih perusahaan mana yang mau diambil,” sergah Kaysa.


Alarik tertawa lagi, kali ini lebih keras.


“Kamu masih terlalu kecil untuk memahami semua ini, suatu saat kakak pasti akan memberitahumu,” jawab Alarik hampir keceplosan.


“Tentang apa, Kak?” tanya Kaysa sangat penasaran.


“Entahlah, karena aku lebih suka kesenangan tanpa bersusah payah,” balas Kaysa asal-asalan.


“Bagaimana dengan kakimu, apa masih sakit?” tanya Alarik perhatian.


“Sudah sembuh, semua berkat Kakak yang mengolesi minyak tawon itu,” ucap Kaysa riang.


“Tuh, Kakak sudah berbaik hati tapi kamu malah marah,” goda Alarik.


“Salah sendiri Kakak pergi tanpa pamit dulu!” cetus Kaysa merasa kesal lagi.


“Kamu kan masih tidur, mana mungkin Kakak tega mengganggu kamu. Sekarang giliran kamu, bagaimana kamu mau berterima kasih pada kakakmu ini,” pinta Alarik.


“Emmuacchh... “


Ucap Kaysa memberikan ciuman jarak jauh. Kemudian gadis itu tertawa.


“Dasar anak nakal! Kakak sendiri juga dikerjai, sekarang tidur dulu sana! Kakak sudah mau mempelajari materi dulu. Karena besok sudah mulai bekerja,” pamit Alarik.


Tanpa menjawab Kaysa langsung menutupnya.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Alarik sedang menenangkan hatinya yang seperti genderang mau perang.


Dag... Dig... Dug... Duar...

__ADS_1


“Celaka, aku mulai memiliki hasrat pada adikku sendiri. Meskipun ciuman jarak jauh tadi hanya lewat telepon biasa tapi serasa menembus sampai relung hatiku.”


Alarik sadar, jika di balik sikap nakal adiknya sebenarnya gadis itu juga melindungi dirinya dari hal-hal yang di larang agama. Hanya saja Kaysa berani berbuat seperti itu karena menganggap Dia sebagai kakaknya.


“Jika seperti ini terus aku takut jika suatu saat tidak bisa mengendalikan diriku, bocah itu tidak sadar jika kelakuan sembrononya bisa membangkitkan birahiku. Mulai sekarang aku harus berjaga jarak untuk sementara ini.”


Lamunan Alarik terbuyar karena bel yang berbunyi di pintu kamarnya.


Alarik segera membuka pintu tersebut.


“Selamat siang, perkenalkan saya adalah Syarif. Saya utusan dari Tuan Syauqi Malik untuk mendampingi dan membantu Anda di sini,” ucap lelaki seumuran dengan Ayah angkat Alarik.


“Iya, silahkan masuk. Ayah saya sudah memberitahu semuanya,” jawab Alarik sambil mengajak tamunya duduk di sofa.


“Kamar hotel saya ada di sebelah ruangan Anda, jadi saat Anda ada keperluan Apapun Anda bisa memberitahu saya. Karena saya juga ditugaskan menjadi Asisten pribadi Anda,” kata Syarif tegas tapi sopan.


“Terima kasih, karena bantuan Anda kedepannya sangat berarti bagi saya. Sementara ini biarlah saham Ayah di perusahaan Mandala masih dengan nama Anda. Karena saya ada suatu rencana dulu,” ucap Alarik berwibawa.


“Baiklah, Tuan Alarik,” jawab Syarif patuh.


“Apakah Anda membawa berkas yang semalam di minta Ayah?” tanya Alarik serius.


“Sudah, saya taruh semuanya di sini,” jawab Syarif sambil memberikan barang yang di minta.


“Terima kasih, silahkan jika Anda masih ada urusan yang lain. Saya akan mempelajari ini terlebih dahulu,” kata Alarik.


“Iya, Tuan Alarik. Jika nanti Anda butuh apapun tinggal hubungi. Karena saya dua puluh jam selalu siap untuk Anda,” jawab Syarif kemudian berlalu pergi keluar dari kamar Alarik.


“Siap dua puluh empat jam? Apa orang itu tidak punya anak istri?” batin Alarik menjadi penasaran.


Namun melihat setumpuk berkas yang baru saja di terima Alarik langsung menepis pikiran yang lain. Dia langsung fokus pada tujuannya.


Beberapa menit kemudian Alarik mendapat pesan masuk, dia menghentikan pekerjaannya dan mengambil ponsel tersebut.


Orlin


Tadi Tante Zhia menelepon, kalau Minggu depan kamu dan sekeluarga akan ke rumahku. Kamu pengen aku masak in apa?


Alarik


Terserah kamu! Yang terpenting rasanya enak.


Orlin


Baiklah, kalau begitu makanan favorit kamu saja ya yang seperti biasanya.


Alarik


Iya, aku kerja dulu ya


Orlin


Fighting!


Alarik


Terima kasih


Alarik hanya tersenyum membaca pesan itu, Orlin adalah gadis yang baik. Dulu saat masa kuliah di Jerman gadis itu selalu membawakan masakan Indonesia. Karena meskipun Alarik dari kecil sudah di luar negeri tapi lidahnya masih cocok dengan selera Indonesia.

__ADS_1


“Orlin gadis yang baik, tapi kenapa aku justru tertarik pada adikku sendiri?”


Jangan lupa Like dan Vote ya🙏 Karena dukungan dari kalian semua sangat berarti bagi Author🤗


__ADS_2