CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 69


__ADS_3

Sudah dua hari Kaysa dan Alarik menginap di rumah mini Syadev, mereka berdua memutuskan untuk segera kembali ke Indonesia. Karena masa Kaysa izin libur kuliah hampir habis.


Di bandara Kaysa merasa berat berpisah sekaligus bahagia melihat saudaranya ada yang menjaga.


"Syadev, terima kasih selama ini kamu sudah banyak berkorban untuk aku. Maafkan aku yang terlalu banyak menyusahkanmu," ucap Kaysa tulus.


Semua terkejut, sebab tidak biasanya Kaysa berbicara seperti itu.


"Aku juga minta maaf karena tidak mengabarimu tentang pernikahanku. Dan jujur saja, sebenarnya tidak ada kamu yang suka membuat ulah hari-hari aku terasa membosankan," jawab Syadev tersenyum kalem.


Kali ini Darren merasa seperti mau kiamat, sebab pemuda itu adalah saksi hidup betapa Kaysa dan Syadev sering bertengkar dan jarang akur. Sedangkan kini sepasang saudara kembar itu berbicara dengan manis.


"Nah, begini dong. Seharusnya sejak dulu kalian berdua akur seperti ini. Dilihatnya enak gak bikin pusing kepala," sela Alarik ikut bahagia.


Syadev dan Kaysa hanya tertawa mengingat pertengkaran mereka di masa kecil. Dan kini keduanya sudah semakin dewasa, masa-masa yang terlewati menjadi kenangan terindah yang tidak akan pernah terlupakan.


"Anggun, jagalah Syadev ya! Aku percaya kamu bisa menjadi istri yang baik untuknya," pinta Kaysa.


"Iya, Kakak ipar," jawab Anggun patuh.


Kaysa tertawa sendiri dirinya di panggil Kakak ipar, karena belum terbiasa rasanya aneh saja di telinganya.


"Kami pamit dulu ya? Kalian tetap semnagat belajarnya," kata Alarik sambil melambaikan tangan.


"Rindukan aku ya?" timpal Kaysa.


Syadev, Anggun dan Darren hanya bisa melepas kepergian mereka dengan rasa kehilangan yang dalam.


"Darren, kenapa kamu menangis? Apa kamu masih menyukai Kaysa?" tanya Anggun penasaran, sebab hadis itu tak hanya sekali dua kali memergoki Darren yang mencuri pandang ke arah Kaysa.


"Bicara apa kamu, aku kan sudah punya kekasih Zahra. Lagi pula Kaysa sudah menikah dengan Kak Al," jawab Darren sewot.


"Aku kan cuma bertanya, kenapa kamu marah?" sindir Anggun.


Syadev hanya tertawa ngakak melihat Anggun dan Darren yang berkelahi. Syadev baru tahu rasanya mendengarkan perdebatan orang, menyebalkan dan bikin pusing kepala. Sedangkan dirinya dan Kaysa dulu hampir tiap detik beradu mulut.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Sudah hampir setengah bulan Orlin berada di rumah sakit, kini tubuhnya semakin kurus dan wajahnya juga pucat. Meskipun begitu keadaannya jauh lebih baik.


"Aku konyol sekali, mengharapkan seseorang yang jelas-jelas sama sekali tidak bisa aku miliki. Alarik, lalu bagaimana caraku untuk melupakanmu?"


Orlin sudah menyerah, tapi bukan berarti cintanya pada Alarik dengan mudahnya bisa luntur begitu saja. Karena dari kecil rasa cintanya sudah terpatri pada Alarik, dia sama sekali tidak memiliki teman lelaki. Sebab jika ada pemuda yang mendekatinya pasti akan di hindari.


Namun rupanya semua itu sia-sia, sebab Alarik hanya menganggap dirinya sebatas teman. sedangkan seluruh jiwa raga Alarik hanya diserahkan kepada Kaysa, gadis yang selama ini sangat disayangi seperti adik kandung sendiri.


"Aku tidak bisa membenci Kaysa, tapi aku membenci diriku sendiri yang berharap pada orang yang salah."


Mengenai sakitnya Orlin memang sengaja tidak di beritahukan pada keluarga Syauqi. Sebab Rendra dan Nayla tidak ingin membuat sahabat mereka jadi merasa bersalah dan cemas.


Ini semua bukan kesalahan Alarik dan Kaysa, Rendra dan Nayla yang pernah muda tahu jika cinta tidak bisa dipaksakan.


"Orlin, setelah kamu membaik kita ke London saja ya?" pinta Nayla cemas.


"Iya, nanti masalah kerja kamu bisa menggantikan posisi Papa yang sudah tua ini," kata Rendra serius.


Namun Orlin justru tertawa, karena Papanya masih terlihat ganteng tapi mengaku sudah tua.


"Papa jangan bercanda, aku masih belum banyak pengalaman. Bagaimana mungkin aku bisa mengerjakan pekerjaan Papa," jawab Orlin.


"Papa yakin kamu pasti bisa," bujuk Rendra.


Orlin berpikir sejenak, dia tahu niat kedua orang tuanya baik. Mereka ingin Orlin menghindar dari rasa sakit karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Namun Orlin juga menyadari, lari dari masalah tidak akan mengubah apapun.


"Aku harus bisa membuktikan pada diri sendiri untuk bisa menghadapi rasa sakit ini."


"Tidak, Pa. Aku tetap akan di sini dan bekerja seperti biasanya. Papa jangan khawatir, aku sudah besar dan bisa menjaga diri sendiri dengan baik," jawab Orlin mantap.


Rendra dan Nayla hanya bisa menghembuskan napas karena tidak berhasil membujuk Orlin.


"Bagaimana kabar nenek Laila?" tanya Orlin.


"Sehat, tapi karena semakin tua jadi tubuhnya tidak kuat perjalanan jauh. Ayolah kamu balik ke London saja! Apa kamu tidak kangen pada nenek?" bujuk Rendra lagi yang masih ingin mencoba.


"Ya rindu, nanti kapan-kapan aku main ke London. Tapi untuk saat ini aku menyelesaikan pekerjaan dulu," jawab Orlin kekeh.


Rendra tidak tahu lagi harus bagaimana, sedangkan dia juga tidak bisa berlama-lama di Indonesia.


"Besok aku sudah keluar dari rumah sakit, jadi Papa dan Mama bisa kembali ke London," kata Orlin tahu apa yang dipikirkan orang tuanya.

__ADS_1


Rendra dan Naila memeluk putri mereka dengan erat, sebab mereka berdua juga pernah merasakan kehilangan orang yang disayangi.


"Kalau begitu Papa cari makan dulu, Mama di sini aja nemenin Orlin!" pinta Rendra.


Nayla hanya mengangguk tanda setuju, setelah itu Rendra segera keluar dari ruangan tersebut.


"Orlin, kamu jangan patah semangat ya! Jadikan pengalaman pahit ini sebagai cambuk agar hatimu semakin teguh dan kokoh. Percayalah, kelak kamu akan menemukan cinta sejati dan hidup bahagia," tutur Nayla lembut.


"Apa Mama pernah mengalaminya?" tanya Orlin.


"Mama bisa bicara seperti ini karena Mama juga pernah merasakannya, tapi kemudian Mama bertemu Papa kamu dan kami hidup bahagia sampai sekarang," jawab Nayla.


Orlin mengerti, Papanya juga pernah mengalami hal yang sama. Namun kini juga bisa bahagian setelah bertemu dengan Mama tirinya.


"Iya, Ma. Tapi bisakah Mama menceritakan tentang orang yang meninggalkan Mama itu?" pinta Orlin penuh harap.


Sebenarnya Orlin sudah tidak ingin mengungkit masa lalu lagi, tapi karena melihat wajah putrinya yang antusias Nayla tidak tega membuat Orlin kecewa.


"Dulu Mama nakal, pernah kecanduan narkotika dan hidup bebas. Sampai Mama bertemu dengan seorang pemuda alim bernama Iyas, dia pemuda yang baik dan lain dari yang lain membuat Mama jatuh cinta pada pandangan pertama. Demi dia Mama pindah kuliah, tapi ternyata dia sudah mencintai gadis lain sejak kecil, yaitu Tante Zhia."


"Tante Zhia? Lalu kenapa Tante Zhia menikah dengan om Syauqi?" tanya Orlin semakain penasaran.


"Iyas meninggal karena kecelakaan," ucap Nayla hanya sampai di situ, dia tidak ingin menceritakan secara detail karena terlalu menyakitkan.


"Dan akhirnya Tante Zhia bersama Om Syauqi, Mama dengan Papa ya? Tapi kenapa hubungan Mama dan Tante Zhia sangat baik, bukannya dulu adalah saingan?" tanya Orlin tak mengerti.


"Karena Iyas dan Tante Zhia sahabat sejak kecil," jawab singkat.


Orlin mulai merasa baikan setelah mendengar kisah mamanya, dia berharap kelak bisa menemukan seseorang yang mencintai dia apa adanya. Seperti cintanya Tante Zhia dan Om Syauqi, serta cintanya Mama dan Papanya.


Kemudian Rendra masuk, Papa Orlin itu kaget karena melihat perubahan pada putrinya secara mendadak.


"Orlin, kenapa kamu tiba-tiba bersemangat seperti itu?" tanya Rendra.


"Jelas semangat, karena makanan yang sudah di tunggu-tunggu akhirnya datang juga," gurau Orlin.


"Maaf lama, tadi Papa melihat Omnya Alarik. Katanya Putra pertamanya mencoba bunuh diri. Untung saja nyawanya masih bisa di selamatkan.


"Reki ya? dia memang orang jahat, tapi kasihan juga karena ibunya masuk penjara sedangkan Papanya ternyata punya wanita simpanan yang anaknya sudah besar," kata Orlin.


Orlin tahu jika anak dari istri kedua Omnya Alarik adalah Gionino, mantan pacar Kaysa.


Orlin tidak ingin ambil pusing mengenai kehidupan orang lain, dia saat ini lebih memilih untuk memulihkan badannya dan segera melakukan aktifitas seperti biasanya.


"Aku harus bahagia, aku pasti bahagia tanpa Alarik."


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Hari berikutnya Zahra makan bersama dengan Mahen lagi, sebab pemuda itu dengan sengaja menghampirinya ke kelasnya.


Zahra merasa ada yang aneh dari tadi, seperti ada mata yang seolah mengikutinya.


Sepulang kuliah Zahra seperti biasa menanti pak sopir datang menjemputnya, tiba-tiba datang mobil berwarna hitam yang berhenti tepat di depan Zahra.


"Ayo aku antarkan pulang?" ucap Mahen.


"Terima kasih Kak atas tawarannya, tapi sopir aku sudah menjemput," tolak Zahra halus.


"Baiklah kalau begitu, aku pulang duluan ya," pamit Mahen.


"Iya, Kak. Silahkan!" balas Zahra.


Tak berapa lama ada seseorang yang mendorongnya dari belakang, sampai Zahra roboh. Kedua lutut dan kedua tangannya sampai lecet dan berdarah. Ketika Zahra ingin bangkit tubuhnya di dorong lagi.


Zahra hanya bisa meringis menahan sakit, dari kejauhan dia melihat Rahma yang hanya menatapnya sambil bersembunyi di balik pohon.


Kebanyakan di sana juga hanya murid baru seperti dirinya. jadi mereka tidak berani membantu Zahra. Karena dua orang yang mendorong Zahra barusan adalah senior yang populer.


"Apa salah aku Kak?" teriak Zahra yang masih terduduk menahan ngilu kakinya.


"Ini hanya peringatan, jangan pernah mendekati Mahen lagi!" bentak salah satu dari mereka.


"Kamu anak baru tapi bernyali tinggi ya!" timpal perempuan yang satunya.


Zahra tidak mau ditindas lagi, sebab dia merasa tidak punya salah. Mengenai hubungan dia dan Mahen juga hanya sebatas teman.


Zahra langsung berdiri, dia ingin menjadi perempuan yang pemberani seperti Kaysa.


"Kalau aku dekat dengan Kak Mahen memangnya kenapa? Aku dan dia sudah mengenal sejak aku masuk SMA. Memangnya kamu siapa berani-beraninya melarang aku dekat dengannya?" teriak Zahra membela diri.

__ADS_1


Karena merasa di permalukan, senior yang paling cantik hendak menampar Zahra, tapi Zahra dengan sigap menangkisnya. Namun Zahra tidak menduga jika senior yang satunya ukut-ikutan melayangkan sebuah tamparan. Karena Zahra tidak siap, maka pipinya itu seketika memerah saat terkena tamparan yang keras.


Zahra merasa pipinya panas dan perih. Sedangkan kedua senior yang barusan membully nya malah tertawa puas.


Tiba-tiba sopir yang menjemput Zahra datang, kedua gadis itu segera kabur.


"Nona, maaf bapak telat. Karena tadi ban bocor," kata Pak sopir merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Pak," jawab Zahra mencoba tersenyum.


"Tangan Nona kenapa berdarah?" tanya Sopir itu cemas.


"Barusan terjatuh, jangan bilang pada siapa-siapa ya? Takutnya mereka khawatir," pinta Zahra.


"Iya, Nona," jawab Pak Sopir patuh.


Namun Pak Sopir itu curiga, masa jatuh tapi wajah majikannya itu memerah seperti bekas tamparan. Sedangkan dirinya juga melihat ada dua orang perempuan yang kabur.


"Kasihan, Nona Zahra. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa."


Sesampainya di rumah Zahra langsung masuk ke dalam kamar. Untung kedua orang tuanya sedang ke luar kota, jadi dia tidak takut ketahuan.


Meskipun mendapat luka tapi harinya puas tadi bisa melawan, karena selama ini dia hanya bisa diam dan diam saat di bully orang lain.


Zahra lalu mencuci bekas darah tadi dan mengobati lukanya sendiri.


"Kebetulan besok hari libur, aku jadi tidak perlu masuk kuliah."


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Sepulang dari Amerika Kaysa dan Alarik memutuskan ke rumah orang tuanya terlebih dahulu, karena mereka berdua mau memberikan oleh-oleh untuk Ayah, Bunda dan Flora.


Namun siang harinya Alarik di minta Ayahnya untuk ke kantor, membantu urusan sebentar.


"Sayang, aku ke kantor Ayah dulu ya? Sebaiknya kamu tidur siang saja," pamit Alarik.


"Iya," jawab Kaysa patuh.


Setelah kepergian suaminya, dia merasa jenuh juga. Sebab Bunda dan Flora sedang tidur siang.


Kaysa melihat garasi mobil, ternyata mobil miliknya sudah tidak ada. Namun di sana ada mobil keluaran terbaru yang lebih bagus darinya.


Kaysa bertanya pada salah satu pelayan.


"Itu mobil milik siapa?" tanya Kaysa.


"Milik Tuan Syauqi, tapi hanya di pakai saat jalan-jalan berdua dengan Nyonya Zhia saja," jawab Pelayan.


"Dasar Ayah, selalu merasa masih remaja saja!" batin Kaysa tersenyum geli.


Kaysa semakin penasaran ingin mendekati mobil baru tersebut. Awalnya hanya menyentuh saja, kemudian membuka pintu dan duduk di sana.


"Ah, nyaman sekali. Selera ayah memang luar biasa."


Lalu tiba-tiba Kaysa ingat jika dia juga membeli oleh-oleh untuk Zahra.


"Apa aku ke sana sekarang ya? Sekalian mencoba mobil baru Ayah." batin Kaysa mengambil kesempatan mumpung keluarganya tidak ada.


Kaysa segera ke kamar, meengganti baju dengan yang baru di belinya. Tak lupa menambahkan make up agar semakin cetar membahana.


"Sempurna," ucap Kaysa puas pada penampilannya.


Dia segera mengambil oleh-oleh untuk Zahra dan pergi.


Namun sayangnya sepupunya itu masih belum pulang kuliah.


"Pak, biasanya Zahra dijemput jam berapa?" tanya Kaysa pada sopir Zahra.


"Biasanya sepuluh menit lagi, tapi karena Bapak tidak ingin terjadi sesuatu pada Nona Zahra Bapak mau menjemput sekarang," kata Pak sopir cemas.


"Memang apa yang terjadi?" tanya Kaysa penasaran.


Pak sopir itu memang tidak menceritakan pada Orang rumah, tapi jika dengan Kaysa bapak setengah baya itu sudah akrab.


Begitu tahu apa yang terjadi dengan sepupunya, emosi Kaysa langsung mendidih sampai ubun-ubun.


"Pak, biar aku yang menjemput Zahra!"


Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya yaaa? Di tebak yahhh

__ADS_1


__ADS_2