
Berangkat sekolah Kaysa masih belum diizini membawa mobil sendiri, jadi pagi ini dia menumpang pada saudara kembarnya.
Kaysa merasa aneh, biasanya Syadev selalu bersikap jutek tapi akhir-akhir ini sedikit berubah dan sering tersenyum sendiri.
“Syadev, apa kamu salah makan?” tanya Kaysa.
“Hah?” balas Syadev yang tidak ngeh dengan pertanyaan saudaranya.
“Sudahlah, kurasa kamu sedang jatuh cinta, jadi otakmu sedikit gengser,” ejek Kaysa.
“Yang jatuh cinta itu aku apa kamu?” balas Syadev menggoda.
“Apaan sih,” jawab Kaysa jutek.
“Lagian kamu ini seperti tidak ada cowok lain saja, kenapa suka pada Kakak sendiri,” gurau Syadev.
“Apa kamu pernah melihat pemuda yang lebih tampan dari Kak Al? Cerdas, penyabar, dan dewasa? Hah?” tanya Kaysa kesal.
“Memang sih, tapi sepertinya aku juga tidak jauh berbeda dengannya. Ahaa” ucap Syadev tertawa.
Kaysa semakin penasaran, karena Syadev biasanya juga tidak pernah tertawa seriang ini.
“Syadev, aku semakin yakin jika kamu sedang menyukai seseorang. Pasti Anggun ya?” tanya Kaysa serius.
Sruaaaaattt....
Syadev mengerem mendadak, untung saja di belakang mobil mereka tidak ada kendaraan lain.
“Gila! Kalau aku tidak memakai sabuk pengaman pasti sudah benjot kepalaku,” umpat Kaysa.
“Kamu bercandanya tidak lucu,” jawab Syadev kesal, kemudian menjalankan mobilnya secara perlahan.
“Kalau memang ucapanku tadi tidak benar seharusnya kamu juga tidak bersikap berlebihan seperti tadi. Ini juga bukan dirimu yang seperti biasanya,” sergah Kaysa.
Syadev hanya diam tidak mau merespons, karena sesungguhnya dirinya itu sedang salah tingkah. Syadev terlalu malu untuk mengakui jika dirinya memang mulai tertarik pada Anggun.
Sampai di depan sekolah, mereka berdua melihat Anggun yang baru turun dari sepeda motor gede.
Setelah sampai di parkiran Anggun segera menghampiri Kaysa dan Syadev.
“Kaysa, tadi aku melihat Kak Gio sedang mampir di toko bunga. Kamu siap-siap terkejut ya?” ucap Anggun.
“Mana mungkin aku terkejut. Sudah kamu beritahu kok,” jawab Kaysa tertawa.
“Anggun, kamu pintar sekali memilih ojek online yang muda dan tampan,” gurau Syadev.
“Dia bukan ojek online, tapi Kak Teguh yang kemarin aku ceritakan,” jawab Anggun.
Syadev kaget, ada perasaan nyeri di dadanya. Rasa sakit yang sulit dijelaskan. Karena baru kali ini Putra Syauqi Malik itu merasakan perasaan seperti ini.
Entah datangnya dari mana, tiba-tiba jilbab baru Anggun di tarik seseorang dari belakang.
“Kamu ini! Memang perempuan murahan dan rendahan. Sudah merebut Syadev sekarang juga masih berhubungan dengan Teguh,” maki Siska penuh amarah.
Syadev melepaskan cengkeraman Siska dan menghempaskan tangan gadis itu dengan keras, hampir saja Siska terjatuh kalau tidak segera ditangkap Maya dari belakang.
“Baru juga selesai dihukum, sekarang sudah berani menindas Anggun bahkan di depan mataku sendiri. Kali ini aku akan membuat kamu di keluarkan sekolah,” ancam Kaysa.
“Ayo hajar aku kalau berani! Aku juga akan pastikan dirimu sendiri yang keluar sekolah,” jawab Siska tanpa rasa takut.
“Nilaiku sangat bagus, dengan mudah aku bisa masuk ke sekolah unggulan yang lain,” ejek Kaysa puas.
“Tapi ini adalah antara aku dan Anggun, tidak ada urusannya denganmu,” balas Siska garang.
Hari ini suasana hati Kaysa sedang bagus, jadi dia masih bisa mengendalikan emosi.
Putri Syauqi Malik itu malah tertawa melihat Siska yang memiliki keberanian untuk melawan dia.
Anggun yang takut terjadi masalah lagi segera mendekati Siska dan Maya.
“Siska, kamu jangan berbuat hal yang bisa merugikan dirimu sendiri! Bukankah dulu aku pernah bilang jika aku dan Kak Teguh sudah seperti saudara, tadi aku di antar sekolah karena sekalian dia mau mampir ke SMP mengambil ijazah,” ucap Anggun tenang.
“Dan kamu jangan pernah bilang kalau orang lain merebut aku darimu lagi! Memangnya sejak kapan aku menjadi milikmu? Kita saja bahkan tidak saling mengenal,” timpal Syadev dengan tatapan dingin. Kemudian pemuda itu berlalu pergi seorang diri.
Kaysa menggandeng Anggun dan menariknya supaya meninggalkan Siska dan Maya.
Saat mereka berdua melewati kelasnya Zahra, mereka berdua melihat Zahra sedang duduk lesu di bangkunya.
Kaysa dan Anggun pun berbelok menghampiri Zahra.
“Apa kamu sakit?” tanya Kaysa.
“Tidak, aku hanya sedih saja karena Darren sedang sakit,” ucap Zahra lemas.
__ADS_1
“Benarkah? Apa parah?” tanya Kaysa terkejut.
“Masih dirawat di rumah sakit. Katanya sih sakit tipes,” jawab Zahra.
Tiba-tiba bel tanda masuk sekolah berbunyi, Kaysa dan Anggun segera kembali ke kelas mereka sendiri.
Namun sudah lima menit lebih gurunya belum juga datang, di kelas lain juga sama saja. Karena pagi ini diadakan rapat guru secara dadakan.
“Syadev, bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja. Darren sedang sakit,” ucap Kaysa cemas.
“Ayo cepat!” jawab Syadev bergegas berdiri dari bangkunya.
Kaysa memanggil Anggun kemudian menghampiri ke kelas Zahra.
Ketiga gadis itu segera ke parkiran karena sudah ditunggu Syadev.
“Anggun, kamu duduk di depan! Aku ada hal penting yang ingin kubicarakan dengan Zahra,” ucap Kaysa segera masuk lewat pintu belakang.
Syadev tahu jika saudara kembarnya itu sedang mengerjainya, tapi kali ini Syadev malah merasa senang.
Sesampainya di rumah sakit, mereka berempat segera menuju ke ruang inap Darren. Di sana juga ada Dony dan Nindya yang sedang menunggu putra mereka.
“Assalamu'alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
“Darren, kenapa kamu bisa sakit?” tanya Kaysa cemas.
“Dari dulu aku memang sudah terbiasa seperti ini kan?” jawab Darren yang masih ramah dan tersenyum. Hanya saja tubuhnya lemas.
Kaysa merasa bersalah, semua karena ulah dia kemarin yang membuat temannya itu syok.
“Kaysa, mendekatkah sini!” pinta Darren manis.
“Maafkan aku, Darren?” jawab Kaysa sambil mendekat.
Darren tersenyum manis dan tetap ceria seperti biasanya.
“Kenapa kamu minta maaf? Kamu juga tidak punya salah terhadapku. Oh iya, aku dengar dari Papa katanya kamu sekarang dengan Kak Al ya? Jujur saja aku lebih merasa lega dari pada dengan Kak Gio,” ucap Darren tegar.
“Apa maksud kalian?” tanya Anggun dan Zahra yang belum mengerti.
Kaysa tertawa lirih, dia juga merasa tidak enak dengan kedua orang tua Dony yang masih di rumah sakit.
“Ya ampun, bagaimana bisa dari Kakak menjadi calon suami?” tanya Zahra.
“Bagaimana dengan Kak Gio juga?” timpal Anggun.
Kaysa hanya cengengesan dan menunduk karena merasa malu dan sungkan.
“Kenapa kalian bisa ke sini? Bukankah masih jam sekolah?” sela Dony pada teman-teman putranya.
“Jam kosong Om, Dony,” jawab Syadev.
“Bagaimana kalau kalian di sini saja menemani Darren? Kalau ada temannya semoga Darren bisa cepat sembuh. Hari ini Om Dony dan Tante Nindya juga ada pekerjaan yang sebenarnya tidak bisa ditinggalkan,” tanya Dony.
“Siap, Om Dony dan Tante Nindya silahkan berangkat bekerja,” jawab Syadev.
Dony dan Nindya tersenyum lega, mereka berdua segera berpamitan dan pergi dari rumah sakit.
“Kaysa, apa kamu sudah bilang pada Kak Gio?” tanya Darren penasaran.
Belum sampai Kaysa menjawab, ponsel dia sudah berbunyi.
“Baru juga diomongin, orangnya langsung telepon,” cetus Kaysa sambil mengangkat panggilan dari pacarnya.
“Kamu di mana?” tanya Gio.
“Di rumah sakit, Darren sedang sakit,” jawab Kaysa.
“Jangan ke mana-mana, aku akan segera menyusul,” jawab Gio lalu mematikan ponselnya.
Kaysa menarik napasnya dalam-dalam, dirinya tidak tahu apa yang harus diucapkan nanti. Meskipun Kaysa memang tidak menyukainya tapi hati nuraninya juga tidak tega menyakiti Ketua OSIS itu.
“Kaysa, jamu harus berani! Kamu harus yakin dengan pilihanmu,” ucap Darren memberi semangat.
“Terima kasih, Darren,” jawab Kaysa terharu. Karena temannya itu bisa menerima keadaan dan tidak membencinya.
Lima belas menit kemudian Kaysa mendapat telepon jika Gio sudah menunggu di parkiran.
“Aku menemui Kak Gio dulu ya? Anggun, katanya tadi kamu mau ambil ijazah, minta di antar Syadev saja mumpung ada waktu kosong. Biar Zahra yang menemani Darren,” ucap Kaysa memberi isyarat pada Anggun.
Anggun sangat mengerti, dia tahu jika temannya itu bermaksud untuk memberikan waktu berduaan bagi Zahra dan Darren.
__ADS_1
“Syadev, apa kamu bisa mengantar aku?” tanya Anggun pada Syadev.
“Baiklah,” jawab Syadev.
“Baru kali ini aku mengakui kecerdikan Kaysa, dengan begini Zahra bisa mendekati Darren dan aku sendiri bisa dekat dengan Anggun,” batin Syadev yang sama sekali tidak merasa keberatan.
“Hati-hati ya? Terima kasih karena kalian sudah mengunjungi aku,” kata Darren tersenyum riang.
“Cepat sembuh ya?” ucap Kaysa lembut.
Mereka segera meninggalkan Darren dan Zahra berduaan di rumah sakit.
Sesampainya di parkiran Kaysa merasa tidak enak karena Gio memberinya bunga dan kue kesukaannya,
“Dari mana kamu bisa tahu kalau aku suka kue?” tanya Kaysa.
“Ya harus tahu semua tentang pacarku sendiri,” jawab Gio riang.
Kaysa semakin merasa dilema, apalagi saat dia mendapat pesan dari Alarik di ponselnya.
ALARIK
Semangat belajar sayang, i Miss u
Kaysa segera menaruh ponselnya di dalam tas, kemudian memberanikan diri untuk mengatakan kebenaran hatinya.
“Kak Gio, ayo kita jalan-jalan,” ajak Kaysa.
“Iya, kamu mau ke mana?” tanya Gio antusias.
“Kebin binatang saja, aku ingin melihat burung Cendrawasih dan Merak,” jawab Kaysa.
“Baiklah, kemanapun kamu ingin pasti aku antar,” jawab Gio sambil membukakan pintu untuk Kaysa.
Di dalam mobil Kaysa terhanyut dalam pikirannya sendiri, batinnya sedang merangkai kata-kata yang sekiranya bisa diterima Gio.
“Kenapa kamu terlihat murung? Apa sedang tidak enak badan?” tanya Gio perhatian.
Kaysa hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
“Kenapa aku merasa lemah, rasanya tidak tega jika memutuskan Gio yang terlihat sedang bahagia ini."
Setengah jam kemudian mereka berdua sampai di tempat tujuan. Gio segera membeli karcis dan mengajak Kaysa masuk.
Karena bukan hari libur, keadaan di sana tidak ramai. Hanya ada sedikit pengunjung.
Kaysa sengaja mengajak pacarnya ke tempat yang lebih tenang.
“Kak Gio, sebelumnya aku mau meminta maaf. Karena aku telah berbuat hal yang salah padamu,” ucap Kaysa.
“Kesalahan apa?” tanya Gio tak mengerti.
“Sebenarnya aku menerima kamu supaya Darren tidak jadi menembak aku, karena aku tidak ingin membuat persahabatan kami rusak jika aku menolaknya,” kaya Kaysa menunduk.
Gio merasa kecewa, tapi pemuda itu masih bisa tersenyum tegar.
“Tidak masalah, yang terpenting aku masih bisa bersamamu dan aku juga ingin membuat kamu menyukaiku secara perlahan,” jawab Gio.
“Maaf, Kak Gio. Aku tidak bisa,” ujar Kaysa lagi, matanya tidak berani melihat ke arah Gio.
“Jangan pernah katakan putus Kaysa! Aku benar-benar tulus mencintaimu,” pinta Gio dengan suara yang memohon.
“Kak Gio, aku tidak bisa memberi harapan pada orang lain. Karena hatiku dari dulu sudah untuk Kak Alarik,” jawab Kaysa lemah.
“Kamu sedang mengerjaiku kan?” tanya Gio tertawa.
“Tidak, Kak Al bukanlah Kakak kandungku. Dia anak angkat dan aku baru mengetahuinya,” jawab Kaysa.
Gio yang tadinya tertawa langsung terdiam pucat.
“Kenapa kamu bisa Setega ini padaku? Apa kamu berniat untuk balas dendam padaku?” tanya Gio lagi yang matanya sudah memerah.
“Maafkan aku, Kak Gio. Saat menerimamu aku tidak punya niatan untuk balas dendam. Tapi kini aku menyadari tentang perasaanku sendiri. Aku tidak mau memberikan harapan palsu padamu, karena nanti lukamu akan semakin bertambah dalam,” ucap Kaysa merasa bersalah.
“Baiklah, aku akan menerima kenyataan ini. Tapi aku minta satu hal, jangan pernah bilang putus! Setelah ulang tahun kamu, aku yang akan pergi darimu, jadi dalam waktu seminggu ini biarlah aku merasa bahagia bisa bersamamu walau sesaat,” pinta Gio memohon.
Kaysa terdiam, dia merasa tak tega melihat Gio sang Ketua OSIS yang biasanya tegas dan berwibawa tapi kini tak berdaya di hadapannya.
“Aku mohon, Kaysa. Untuk satu Minggu ini biarkan aku memiliki kenangan indah bersamamu sebelum aku pergi,” pinta Gio lagi.
Dengan terpaksa Kaysa menerima permintaan Gio, sebagai menembus kesalahannya juga untuk menyelamatkan harga diri Ketua OSIS itu di depan teman-temannya.
**Terimakasih sudah like dan Vote ya🤗 Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author.
__ADS_1
Bagi yang belum jangan lupa ya🙏**