CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Pernikahan Dony dan Nindya


__ADS_3


Visual Dony dan Nindya


Sudah beberapa hari Zhia dan Syauqi tidur di kantor. Mereka selalu melewati setiap harinya dengan kemesraan dan kebahagiaan.


Besok adalah pernikahan Dony dan Nindy, Zhia masih kebingungan mau memberi hadiah apa, dia mencari-cari ide tetapi masih belum menemukan apa yang cocok untuk temannya.


Syauqi yang sedang sibuk bekerja menjadi cemas melihat istrinya yang terlihat gusar, dia segera menghampiri istrinya,


"Apa yang membuat kamu gelisah seperti ini?" tanya Syauqi perhatian.


"Pernikahan Nindy dan mas Dony besok! sebaiknya ngasih kado apa ya?" Zhia balik bertanya.


"Oalah, tak kirain ada masalah apa. Sudah jangan terlalu banyak pikiran! biar suamimu ini yang urus," jawab Syauqi santai.


"Mas Syauqi memangnya mau memberi kado apa?" tanya Zhia penasaran.


"Nindya setiap bepergian selalu berganti tas, berarti dia suka mengoleksi tas bermerk. Kalau Dony, dia akan aku belikan mobil sepertiku, hanya beda warna saja. Selama ini dia sangat menginginkannya," ucap Syauqi.


Zhia menurut saja, dia yakin jika pilihan suaminya yang terbaik.


"Sekarang tenangkan dirimu! jangan banyak pikiran. Semua sudah aku atur, besok kamu tinggal bersiap-siap saja!" timpal Syauqi.


Zhia akhirnya merasa lega, dia memeluk suaminya yang selalu bisa diandalkan.


Syauqi membalas pelukan istrinya, dia sendiri tahu jika wanita yang hamil mudah stress, panik dan emosian. Jadi dia selalu berkonsultasi dengan dokter lewat ponsel, dia selalu ingin memberikan yang terbaik untuk istri dan anak yang masih didalam kandungan.


"Mas, aku ingin batagor" bisik Zhia.


Syauqi tertawa, dia ingat jika 1 jam yang lalu istrinya makan nasi kuning,


"Baiklah, kamu berbaring disofa dulu sambil nonton televisi. Masih mau apa lagi? jus atau cemilan yang lainnya?" tanya Syauqi memastikan.


"Hem... jus alpukat, keripik singkong rasa balado dan martabak telor," jawab Zhia riang.


Syauqi tersenyum geli, karena nafsu makan istrinya sangat banyak.


Syauqi mencium kening Zhia, kemudian kembali ke meja kerjanya. Tak lupa dia langsung menelpon karyawannya untuk membeli pesanan Zhia.


Semua karyawan kantor sangat mengenal baik dengan karakter bos mereka, terlebih lagi rata-rata karyawan disana sudah bekerja sebelum Syauqi menjabat menjadi presdir.


Mereka sangat tunduk, tak ada karyawan yang berani bertatap mata dengan Syauqi kecuali Doni. Jika ada sedikit kesalahan saja harus siap dengan resikonya, namun Syauqi juga tidak main-main memberi gaji besar untuk karyawan yang berprestasi.

__ADS_1


Kedatangan Zhia membawa berkah tersendiri, karena suasana di perusahaan tidak mencekam seperti dulu. Syauqi mulai bisa tersenyum dan membalas sapaan mereka, bahkan jika ada karyawan magang yang melakukan kesalahan Syauqi memberi kesempatan untuk memperbaikinya.


Satu hari kemudian, mereka sudah bersiap-siap untuk menghadiri pernikahan Dony dan Nindya, acara dilangsungkan pada sore hari.


Zhia sangat menyukai gaun yang sudah disiapkan suaminya, dia yakin pasti harga gaun ini sangat mahal.


Dibantu perias panggilan dia mempersiapkan diri, sedangkan suaminya masih menunggu di luar.


Setelah selesai Zhia segera menemui suaminya.


Syauqi sampai ternganga, karena istrinya semakin cantik dan mempesona.


"Mas, kenapa melamun?" tanya Zhia heran.


"Tidak, aku hanya merasa kasihan pada pengantin wanita, karena dia kalah saing dengan kecantikan istriku," goda Syauqi tersenyum nakal pada istrinya.


Zhia langsung mencubit pinggang suaminya, walaupun dalam hatinya dia merasa tersanjung.


Dibalik sikap cueknya Syauqi, dia selalu romantis pada istrinya, setiap hari dia tak lupa mengatakan cinta dan memujinya.


Disepanjang perjalanan Syauqi tidak berhenti menggoda istrinya, dia sangat menikmati ekspresi Zhia yang sedang malu ataupun marah.


Sampai disana, semua tamu yang sudah dari tadi hadir menyambut Syauqi dan Zhia dengan hangat dan hormat, karena mereka adalah tahu paling spesial.


"Sepertinya mereka mau aku congkel matanya!" kata Syauqi kesal,


"Hei, Zhia sudah menjadi istrimu! mana berani mereka merebutnya darimu! "sindir kakak perempuannya yang ternyata sudah ada disamping Syauqi.


Zhia segera memeluk kakak iparnya, mereka memang jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.


"Zhia, sebentar lagi keluargamu juga sampai disini," kata Elly tersenyum ceria.


Elly juga terlihat semakin berisi, kehamilan dia hanya berjarak 1 bulan lebih sedikit dengan Zhia.


"Kak, pengantinnya sudah datang" kata Zhia bersemangat.


Pestanya sangat meriah dan mewah, Karena Dony dan Nindy juga termasuk dari keluarga orang kaya.


Saat acara memberi selamat, semua mempersilahkan Syauqi dan istrinya yang maju pertama,


"Selamat ya Don, Nin. Semoga kalian berdua hidup bahagia," kata Syauqi.


"Selamat ya, semoga kalian selalu rukun dan segera diberi keturunan. Dony, jaga baik-baik Nindy ya!" ucap Zhia tak kalah ikut bahagia.

__ADS_1


"Iya terimakasih banyak. Bro, terimakasih hadiahnya, kamu selalu tahu apa yang kuinginkan," jawab Dony tertawa riang.


Syauqi tidak merasa sayang mengeluarkan uang milyaran untuk hadiah Dony, karena dia sudah menjadi teman baik yang selalu tulus menemaninya saat kesusahan. Syauqi menyadari jika sikap dia sulit diterima orang lain, namun Dony selalu setia dan perduli padanya.


Semua berjalan lancar, Zhia juga bisa bertemu dengan keluarganya, namun ibunya tidak bisa datang.


"Bibi, Alifya kangen," kata Keponakan kecilnya manja.


"Bibi juga kangen,sayang" balas Zhia sambil menggendong Alifya.


"Mas, bolehkah Alifya saya ajak pulang kerumah? besok biar saya antar lagi" pinta Syauqi, dia tahu jika istrinya merindukan keponakannya.


"Alifya mau enggak?" tanya Rian pada putrinya.


Alifya langsung mengangguk, karena dia sangat ingin naik perahu lagi.


"Tapi janji ya? Alifya nggak boleh nakal!" nasihat Tia pada putrinya.


Alifya mengangguk lagi, dia tersenyum ceria.


"Jangan khawatir, Mbak Tia! disana ada teman baru, namanya Orlin." ucap Zhia.


"Baiklah kalau begitu. Dek Syauqi, besok biar aku saja yang menjemput Alifya! sekalian mengajak ibu jalan-jalan kesana." kata Rian.


Zhia semakin riang mendengar ucapan kakaknya.


"Baiklah, Mas Rian. Saya pamit pulang dulu ya?"


Mereka saling berpamitan, kemudian Syauqi menggendong Alifya dan mengajaknya pulang ke rumah.


Mereka memang sejak awal berniat pulang ke vila setelah acara pernikahan selesai, mereka tak tega juga lama-lama meninggalkan Orlin.


Diperjalanan Syauqi mampir ke mall dulu, dia ingin membelikan esuatu untuk Alifya dan Orlin.


Banyak pengunjung yang mengira jika Alifya adalah anak Syauqi dan Zhia.


Kemanapun mereka pergi, mereka selalu menjadi pusat perhatian, bukan karena ketampanan juga kecantikan mereka, akan tetapi keharmonisan mereka.


Zhia dulu selalu merasa malu, namun lama-kelamaan dia menjadi terbiasa. Ditatap sekian banyak orang,dia hanya fokus memilih baju dan mainan untuk anak perempuan.


* Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya, jangan lupa like, vote dan beri rating bintang 5. Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Authoor.


Mohon kritik dan sarannya juga, semoga kedepannya novel ini bisa lebih baik🙏*

__ADS_1


__ADS_2