
Keluarga Alarik selalu ramai dan seru, bukan karena putra mereka yang nakal, melainkan sang Mama Kaysa yang selalu ada - ada saja tingkahnya.
Hari ini akan ada pesta ulang tahun temannya Arkananta, tak hanya sang anak saja yang mendapat undangan tapi Kaysa sendiri juga.
Kaysa seperti biasanya berpenampilan muslimah tapi bergaya modis, meskipun sudah memiliki anak satu tapi Kaysa masih terlihat cantik. Hanya saja kini dandanannya tidak berlebihan seperti dulu, Kaysa lebih menyukai make up yang terlihat natural karena merasa sudah menjadi seorang ibu.
"Arka, kamu sudah membeli kado belum?" tanya Alarik perhatian.
"Belum, Pi. Kata Mami nanti sekalian mau berangkat saja," jawab Arkananta sopan.
"Baiklah, kamu jangan nakal ya?" pinta Alarik.
"Siap, Pi," balas Arkananta patuh.
"Loh, mamimu kemana? Katanya pesta di mulai jam setengah dua. Sekarang sudah jam satu lebih, nanti masih perjalanan dan membeli kado," tanya Alarik heran.
"Iya, Mami lama banget, dari tadi dandan belum selesai juga," jawab Arkananta yang sudah tidak sabaran.
Lagi dibicarakan akhirnya Kaysa muncul juga dengan senyuman yang merekah.
"Tuh mami, sudah cantik sekali," ucap Alarik sembari menggoda.
"Iya dong, harus tampil cantik karena nanti di sana bertemu cowok - cowok tampan temannya Arka," jawab Kaysa agak centil.
"Mi, ayoo buruan nanti kita terlambat," rengek Arkananta.
"Papi antar ya? Nanti kalau acaranya sudah hampir selesai papi jemput lagi," tawar Alarik perhatian.
Karena memang sedang libur bekerja Alarik merasa jenuh berada di dalam rumah tanpa istri dan putra tercintanya.
"Oke deh," jawab Kaysa sembari memberikan ciuman jarak jauh.
Seketika Alarik memerah wajahnya karena merasa malu ditertawakan oleh putranya.
"Mamimu ini selalu sembarangan deh," tukas Alarik menahan malu.
"Kenapa? Ini namanya kemesraan kita, biarpun sudah punya anak kita tetap selalu romantis," balas Kaysa menggoda.
"Nggak malu ditertawakan putramu?" tanya Alarik lagi.
"Tidak, karena nanti Arkananta juga mendapat jatah kecupan kasih sayang sendiri," jawab Kaysa.
"Mi, kalau di depan teman - teman jangan memperlakukan aku seperti anak kecil. Aku malu jika dikatakan anak mami," protes Arka dengan menahan kekesalan.
__ADS_1
"Loh, memangnya kalau bukan anak mami kamu anaknya siapa? Dan kamu ini juga masih anak kecil kan?" goda Kaysa.
"Mi, maksudku jangan dikit - dikit nyium dikit dikit nyium. Aku malu," rengek Arkananta.
"Sudah… Ayo kita berangkat," sela Alarik menyudahi pertengkaran istri dan putranya.
Kaysa memang selalu tidak bisa menahan diri, saat putranya itu bertingkah lucu, patuh, pintar bibirnya itu tidak tahan untuk mencium Arkananta. Walaupun Arka sendiri sudah berkali - kali protes tapi Kaysa masih belum bisa menghilangkan kebiasaanya.
Dan lebih parahnya lagi dengan Alarik Kaysa juga seperti itu. Pernah di suatu acara pesta, saat datang seorang rekan kerja yang terlihat genit pada Alarik dengan penuh percaya diri Kaysa memperkenalkan dirinya.
"Perkenalkan, saya Kaysa Malik. Saya adalah istri dari Presdir Alarik Mandala,"
Bukan hanya sekedar memperkenalkan diri dengan ucapan, lebih parahnya sambil merangkul lengan suaminya dan mencium pipi Alarik dengan mesra.
Alarik yang sangat tahu sifat istrinya hanya bisa tersenyum. Jika di tegur justru nanti Kaysa akan mencak - mencak dan marah tujuh hari tujuh malam mogok berbicara.
Dalam perjalanan Alarik hanya senyum - senyum sendiri melihat istrinya ini. Biarpun kadang sangat menjengkelkan tapi juga selalu dirindukan.
"Mi, sebaiknya aku memberi hadiah apa ya?" tanya Arkananta bingung.
"Temanmu itu suka mainan apa?" tanya Kaysa.
"Dia suka sekali film Ultraman," jawab Arka.
"Iya, Mi. Beli itu saja, beli dua ya Mi? Biar nanti kembaran sama aku," rayu Alarik.
"Mintalah pada papimu," sergah Kaysa.
"Pi…" panggil Arkanta dengan suara manja.
"Iya… Iya… Tapi kamu harus lebih rajin belajar jangan hanya main melulu. Nilai kamu juga harus ditingkatkan, dulu papi dan mamimu sering mendapat juara," jawab Alarik.
"Iya, Pa," jawab Arkananta patuh.
Arka memang tidak begitu menyukai belajar mata pelajaran. Karena hobinya itu olah raga dan bercita - cita menjadi Atlit. Meskipun begitu Alarik dan Kaysa tidak pernah lelah mengingatkan putra mereka untuk memikirkan pelajaran karena itu juga penting.
Setelah mereka membeli robot, mobil keluarga Alarik segera menuju ke tempat pesta ulang tahun.
Dan di akhir puncak acara di adakan lomba kekompakan antara ibu dan anak.
"Mi, kita harus menang ya?" ucap Arkananta yang memiliki jiwa membara.
"Iya dong," jawab Kaysa tak kalah antusias.
__ADS_1
Bukan masalah hadiah, tapi jika menang dalam suatu hal merupakan kebanggaan tersendiri bagi Kaysa. Karena sejak kecil Kaysa selalu ingin menjadi yang terbaik.
"Ayo… Sekarang untuk si ibu berdiri di bagian kanan sedangkan si anak berdiri di bagian kiri. Berdirinya harus saling berhadapan dan jangan sampai tertukar dengan pasangan lain ya?" ucap MC memberi perintah.
MC mulai membacakan sebuah pertanyaan dan meminta sang ibu dan anak untuk menjawab di kertas. Tidak banyak, hanya 5 pertanyaan saja tapi membuat wajah mereka berdebar - debar.
Setelah selesai kertas tersebut dibacakan secara bersama - sama.
Dan dari setiap pasangan ibu dan anak paling banyak 3 nomor yang jawabannya sama.
"Wah… Mami yakin kita bisa sama semua jawabannya,"ujar Kaysa percaya diri.
"Iya, Mi," timpal Arkananta.
MC mulai membacakan jawaban milik Kaysa dan Arka, dan ternyata sampai nomor empat jawaban mereka sama.
Kaysa dan Arka merasa senang dan tos, karena mereka berdua sudah Asti mendapat juara satu. Akan tetapi orang - orang tertawa di saat MC membacakan jawaban ke 5.
"Pertanyaan nomor lima, hal yang paling diinginkan oleh anak. Jawaban sang ibu adalah menjadi Atlet. Dan jawaban dari anak adalah mendapat adik perempuan,"
Kaysa begitu malu, apalagi teman - temannya menertawakannya.
"Kaysa, tuh, anak kamu sudah menginginkan adik,"
Banyak sekali sindirian yang menyerah Kaysa saat itu, sampai Kaysa tidak tahan lama - lama berdiri di sana.
Bahkan saat acara selesai, ketika Alarik menunggu di depan rumah juga mendapat godaan dari para ibu - ibu.
Alarik sendiri merasa santai saja, karena sesungguhnya dia sendiri juga menginginkan anak lagi untuk menambah keramaian.
Di dalam perjalanan pulang Kaysa hanya diam saja, sedangkan Arkananta berceloteh menceritakan tentang pesta kepada papinya.
Setelah sampai di rumah, Arkananta turun duluan dan berlari masuk ke rumah sambil menenteng robot baru serta kota hadiah lomb tadi. Begitu Kaysa juga mau turun, Alarik menahan lengan istrinya.
"Bagaimana?" tanya Alarik mesra.
"Bagaimana apanya?" tanya Kaysa heran.
"Malam ini ya? Kita membuat adik baru," goda Alarik.
Meskipun Kaysa tengilnya minta ampun tapi kalau di ratu suaminya seperti itu tetap saja merasa malu.
Terima kasih sudah berkenan membaca karya saya🥰
__ADS_1