
Akhirnya pesawat yang di nanti-nantikan Syadev datang juga, irama jantung Syadev mulai berseru hampir menjebolkan dadanya.
Beberapa saat kemudian Anggun nampak dari kejauhan. Seperti anak kijang yang hendak di panah, Syadev melesat dengan kecepatan tinggi dan langsung memeluk tubuh Anggun dengan erat.
"Istriku, akhirnya kamu datang juga," ucap Syadev.
"Aku merindukanmu," balas Anggun tak kalah bahagia.
Darren yang melihat sepasang kekasih tengah melepas kerinduan itu merasa iri juga, sebab Zahra berada jauh darinya.
"Hey, ini di tempat umum. Ayo kita segera pulang," tegur Darren.
Syadev hanya melirik tajam ke arah Darren, sebab ucapan temannya barusan itu membuat Anggun merasa malu.
Pengalaman pertama Anggun pergi ke tempat asing membuat istri Syadev itu kebingungan.
"Kenapa? Jangan takut! Ada aku," ucap Syadev menenangkan sambil meraih koper milik Anggun.
"Darren, bawakan ini!" ucap Syadev lagi pada Darren.
"Kamu kan suaminya? Kenapa aku?" jawab Darren cemberut.
"Kamu sudah tinggal dan makan gratis di rumahku, setidaknya bayar dengan tenagamu," jawab Syadev tertawa.
"Kamu ini perhitungan sekali!" balas Darren mau tak mau membawakan koper milik Anggun.
"Nah gitu dong! Kalau tidak mau kamu boleh pindah ke hotel atau apartemen lain," sindir Syadev.
"Kamu tidak lihat aku sudah bawa kopernya?" sentak Darren berjalan cepat mendahului sepasang kekasih itu.
Syadev hanya tertawa, sebab berhasil mengerjai Darren.
"Apa tidak kasihan? Aku bisa bawa sendiri," ucap Anggun.
"Sudahlah! Kamu pasti lelah setelah perjalanan jauh. Lagi pula biar dia sesekali bekerja sedikit. Saat hari luang hanya telpon-telponan dengan Zahra saja!" kata Syadev kesal.
Sesampainya di Amerika, Darren hanya mengurung diri di kamarnya. Pemuda itu diam-diam menangis karena merindukan orang tuanya. Syadev maklum, selama ini pemuda itu memang anak yang sangat dimanjakan.
Darren juga tidak terlalu lancar bahasa Inggrisnya, jadi pemuda itu selalu menempel pada Syadev setiap keluar rumah. Soal nyali Syadev memang selalu bisa diandalkan.
Syadev memang istimewa, semenjak kecil sudah bisa berpikiran dewasa. Berbeda jauh dengan Kaysa, meskipun saudara kembarnya itu juga cerdas tapi tingkahnya sampai sekarang masih ceroboh dan manja.
Sesampainya di tempat parkir, Syadev segera membukakan pintu untuk Anggun.
"Ayo masuklah!" pinta Syadev.
"Iya, terima kasih. Ini mobil siapa?" ucap Anggun.
"Mobil kita," jawab Syadrv berlalu masuk lewat pintu samping.
__ADS_1
Dari belakang Darren hanya bisa melihat kemesraan pengantin baru yang sudah berpisah selama seminggu itu. Darren kemudian mencoba menghubungi Zahra, tapi sayangnya tidak mendapat jawaban.
Syadev diam-diam tertawa melihat temannya yang sedang galau. Dari kaca atas kepalanya Dia bisa melihat setiap tingkah Darren yang lucu.
"Darren, kemarin Zahra menitipkan sesuatu untukmu," ucap Anggun yang baru mengingat sesuatu.
"Iyakah? Apa?" tanya Darren berubah cerah.
"Aku tidak diberitahu, barangnya juga dibungkus," jawab Anggun.
Syadev mendengar percakapan antara istrinya dan temannya itu juga baru ingat, jika Darren nanti malam ulang tahun.
Syadev segera bergegas menuju rumah, sebab dia ingin membelikan kado. Karena setiap tahun Darren juga tidak pernah telat memberikan hadiah padanya juga pada Kaysa.
Sesampainya di rumah, Syadev segera membawa koper milik Anggun ke kamarnya.
"Ini kamar kamu, sebaiknya kamu istirahat dulu. Nanti aku ambilkan makanan dulu," kata Syadev berlalu pergi.
Di rumah yang ukurannya tidak terlalu besar itu ada tiga kamar, yang paling ujung sudah di tempati Darren, sedangkan dua kamar yang saling berdempetan di tempai Syadev dan dirinya.
Anggun merasa sedikit kecewa, sebab mereka berdua sudah menikah. Namun Syadev tidak mau tidur sekamar.
"Apa karena dia takut terjadi sesuatu sampai membuat aku hamil ya?"
Kemudian Anggun tersenyum, gadis itu merasa bodoh karena telah berpikiran jauh. Anggun kemudian ingat jika mereka masih kuliah dan keluarga suaminya di Indonesia belum mengetahui tentang pernikahan ini.
Kemudian Anggun memutuskan untuk mandi terlebih dahulu biar segar. Setelah keluar dari kamar mandi, di atas mejanya belajar sudah ada sepiring nasi lengkap dengan lauknya. Bahkan juga ada segelas air putih dan segelas susu.
Anggun hanya tersenyum dengan perhatian suaminya, tapi sayangnya Syadev sudah tidak ada lagi.
Anggun segera merias diri, gadis itu sudah bisa memakai make up natural ala Zahra. Batu kemudian makan dengan lahab, sebab di dalam pesawat Anggun sama sekali tidak punya nafsu makan. Pikirannya was-was dan sangat merindukan Syadev.
Setelah makan Anggun berniat melihat kamar suaminya, tapi ternyata di sana kosong.
"Kamu mencari Syadev?" tanya Darren saat melintasi depan kamar Anggun dan Syadev.
"Iya, dia di mana?" tanya Anggun penasaran.
"Tidak tahu, sepertinya tadi aku mendengar suara mobil ke luar dari pekarangan rumah," jawab Darren kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya sendiri.
Tapi beberapa detik kemudian Darren kembali menghampiri Anggun.
"Di mana?" tanya Darren antusias.
"Apanya?" tanya Anggun kaget tak mengerti.
"Suatu yang diberikan Zahra," jelas Darren tak sabar.
"Oalah, tanyanya yang jelas dong," jawab Anggun tertawa.
__ADS_1
Anggun segera mengambil barang itu yang masih tersimpan di dalam kopernya, lalu menyerahkan pada Darren yang sudah menunggu di depan kamarnya.
"Ini, cepetan di buka! Aku mau lihat dong," kata Anggun penasaran.
"Tidak, aku mau membukanya nanti malam bersama Zahra," tolak Darren.
"Zahra saja tidak di sini, kamu pelit ah. Aku kan yang sudah jauh-jauh membawanya sampai sini," kata Anggun kesal.
"Sekali tidak ya tidak!" jawab Darren tertawa senang sambil berlari dan masuk kembarnya sendiri.
Anggun kesal juga, sebab Zahra saat di tanya juga tidak menjawab.
Anggun tiba-tiba merasa kesepian, gadis itu mencoba menelpon suaminya. Namun nada dering ponsel Syadev terdengar dari dalam kamar suaminya.
"Ponselnya aja ketinggalan, sebenarnya Syadev kemana? Kenapa tidak pamit terlebih dahulu?" batin Anggun penasaran.
Akhirnya Anggun kepo dengan ponsel milik suaminya, dengan iseng Anggun membuka WhatshApp.
Mata Anggun terbelalak, sebab ada satu pesan yang baru di buka.
Inge
Santai, aku tidak akan bilang pada siapapun. Nanti kita bertemu di tempat biasa ya?
Anggun sangat penasaran dengan gadis yang bernama Inge, apalagi setelah di cek foto profilnya, gadis itu terlihat sangat cantik.
"Tempat biasa? Apa mereka selama ini diam-diam sering bertemu? Pantas saja Syadev jarang menghubungi aku," batin Anggun cemas.
Anggun menjadi gelisah, karena gadis yang bernama Inge juga berbahasa Indonesia.
Anggun berniat ingin bertanya pada Darren, tapi gadis itu menahan diri. Dia mencoba percaya pada Suaminya.
Jangan lupa Like dan Vote 🙏🙏
Maaf baru bisa up dikit, batre low. Nanti di ganti yaa🤗🤗🤗
Menurut kalian siapa Syadev pergi kemana?
a. Menemui Inge
b. Membeli kado
Siapa Inge?
a. Anak teman Ayahnya
b. Calon tunangan Syadev
Di komen yaaa🤗🤗🤗
__ADS_1