CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 70


__ADS_3

Kaysa merasa marah karena ada orang berani-beraninya menindas kakak sepupunya, dengan kecepatan tinggi dia mengendarai mobilnya menuju Universitas Zahra.


Sampai di sana Kaysa tetap di dalam mobil untuk menunggu sepupunya selesai kuliah.


Ponsel Kaysa bergetar, ternyata ada pesan dari suaminya. Namun Kaysa memilih tidak membukanya biar dikira sedang tidur.


Sepuluh menit kemudian seseorang yang ditunggunya muncul, Zahra terlihat berjalan paling belakang karena menahan rasa sakit.


Kaysa segera keluar dari mobil dan berjalan menghampiri sepupunya.


Kedatangan Kaysa sangat menarik perhatian, selain mobilnya yang super wah juga pakaian yang dari kerudung sampai sepatunya semuanya merk terkenal. Di tambah kecantikan wajahnya yang di atas rata-rata serta polesan make up yang sempurna.


Mata kaum lelaki sampai melotot, mereka tidak mengira jika Kaysa sudah menikah.


Sedangkan yang perempuan hanya bisa menatap iri melihat Kaysa yang bak supermodel.


Zahra begitu melihat kedatangan Kaysa sangat terkejut, tali bukannya mendapat pelukan atau sapaan manis. Kaysa justru langsung mengangkat rok Zahra sampai di lutut.


"Kaysa! Apa-apaan, ini di depan umum," pekik Zahra menarik roknya ke bawah.


"Kenapa dengan kedua lututmu? Dan telapak tanganmu? Cepat katakan! Kalau tidak jangan sebut aku sepupumu lagi!" tanya Kaysa menahan amarah.


Zahra mau tak mau menjawab juga, karena baginya kemarahan Kaysa lebih gawat dibanding kemarahan kakak kedua perempuan yang kemarin membulinya.


"Sepertinya Kakak senior, mereka mengira aku menggoda Kak Mahen. Mantan kakak kelas kita di SMA Nusantara," jawab Zahra jujur.


"Mahen? Mantannya Versa? Yang dulu pernah kamu cium itu?" pekik Kaysa, suaranya yang keras membuat sebagian orang mendengarnya.


"Hust, jangan keras-keras! Malu aku," sergah Zahra memerah wajahnya.


Tiba-tiba lewat Rahma, Zahra ingat jika kemarin gadis itu bersembunyi saat dirinya di bully.


"Rahma, sini sebentar!" pinta Zahra.


Rahma mendekat sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Gadis itu terlihat ketakutan.


"Jangan takut! Ayolah ke sini," pinta Zahra lagi.


"Ada apa?" tanya Rahma.


"Kemarin yang membully aku itu siapa? Aku yakin kamu pasti mengenalnya," tanya Zahra.


"Aku memang tahu, tapi aku takut jika nanti aku juga kena bully," jawab Rahma menunduk.


"Tenanglah! Selama ada aku tidak akan ada yang berani membullymu!" sela Kaysa dengan gaya keren.


Rahma yang melihat Kaysa bisa tahu jika gadis di depannya itu bukan orang sembarangan.


"Yang kemarin itu Kak Lola dan Vanya, Kak Vanya adalah kakak kandungnya Qila. Makanya dulu semasa SMA tidak ada yang berani melawan Qila, sebab Kakaknya sangat populer dan kejam," jelas Rahma.


"Wah... Wah... Sehebat apakah dia? Aku jadi penasaran," balas Kaysa tertawa mengejek.

__ADS_1


"Tapi kamu sendirian, sedangkan Kak Vanya punya banyak teman," sela Rahma.


"Kamu belum tahu siapa aku," jawab Kaysa angkuh.


Rahma tetap masih merasa takut, sebab dulu selama di SMA dirinya juga pernah menjadi korban bully Qila. Namun karena demi beasiswa Rahma terpaksa satu Universitas lagi dengan Qila. Hanya saja kali ini Qila dan teman-temannya sudah bosan membullynya.


"Di mana mereka?" tanya Kaysa.


"Maksudnya Kak Vanya dan Kak Lola? Mereka belum selesai kuliah. Dia satu jurusan dengan Kak Alifya, sepupu Zahra," jawab Rahma.


"Wah kebetulan, aku juga merindukan Kakak sepupuku," sela Kaysa semakin bersemangat.


"Jadi kalian ini saudara semua?" tanya Rahma terkejut.


"Iya," jawab Zahra.


Rahma juga mengenal Alifya, jika dilihat Kakak senior dan teman sekelasnya kalem dan berpakaian biasa. Namun berbeda dengan Kaysa yang serba wah.


"Ayo, kita ke kelas Kak Alifya?" ajak Kaya tak sabar.


"Ayo," jawab Zahra tidak takut. Gadis itu merasa marah juga saat kemarin dipermalukan di hadapan teman-teman serta Kakak senior yang lain.


"Aku ikut," ucap Rahma.


"Tidak takut lagi?" ejek Kaysa.


Rahma hanya tersenyum, gadis itu entah kenapa baru mengenal Kaysa tapi sudah memiliki kesan yang mendalam. Seakan dalam jiwa Kaysa ada aura kekuatan yang besar.


Sesampainya di sana, rupanya pelajaran baru saja selesai. Kaysa dengan cepat menghadang ke depan pintu, semua orang yang berada di dalam kelas menatap Kaysa dengan rasa penasaran. Apalagi para pemuda uang langsung terpesona dalam pandangan pertama.


"Hay Kak, tapi kita melepas rindunya nanti saja. Aku ingin bertemu dengan Vanya dan Lola," kata Kaysa tanpa basa-basi.


Alifya yang belum tahu mengenai kejadian kemarin merasa terkejut, sebab perempuan itu lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan dari pada mengobrol omong kosong dengan teman-temannya.


"Dari mana kamu kenal mereka?" tanya Alifya penasaran.


"Baru tahu namanya saja, tapi aku ingin segera mengenalnya," kata Kaysa.


Rupanya kedua orang yang tengah jadi topik mendengar juga obrolan mereka, Vanya dan Lola segera mendekati Kaysa dengan senyuman sombong.


"Hay... Hay... Ada yang mencari kita rupanya, eh, ada adik Zahra juga," sapa Lola dengan gaya centilnya.


Tanpa mengucapkan sepatah kata Kaysa langsung memukul tepat di hidung Lola sampai berdarah.


"Ahh... Kurang ajar," teriak Lola.


Semuanya terkejut, karena tiba-tiba ada orang yang mengamuk.


Vanya ingin membalas menampar Kaysa, tapi dengan cepat Kaysa menepis dan justru gantian menarik rambut lawannya.


"Kaysa, ada apa ini? Sudah hentikan!" Erika Alifya cemas, tapi Kaysa sama sekali tidak menghiraukannya.

__ADS_1


Kaysa melepaskan dengan kasar sampai Vanya tersungkur.


"Setiap luka yang kalian berikan pada Zahra akan aku balas dua kali lipat. Ayo kalian maju bersama," tantang Kaysa.


Orang-orang yang melihat malah tidak melerai, mereka semua penasaran apakah gadis asing itu bisa mengalahkan Vanya dan Lola.


Akhirnya mereka bertiga berkelahi, Kaysa yang dari kecil sudah latihan bela diri sama sekali tidak mendapatkan pukulan. Sedangkan kedua musuhnya sudah babak belur. Kaysa memang dari awal sengaja mengincar wajah mereka agar bonyok.


Akhirnya datang orang yang berani melerai, dia adalah dosen yang baru saja selesai mengajar di kelas sebelah.


"Ada apa ini? Kenapa kalian berkelahi?" bentak Dosen yang terkenal Killer.


Kaysa sama sekali tidak takut, dia justru tersenyum senang.


"Pak, Gadis itu bukan mahasiswi sini. Tiba-tiba saja datang mengamuk," ucap salah satu temannya Vanya.


"Dia gila paling," timpal teman Vanya yang lainnya.


"Maafkan saya, Pak. Dia adalah sepupu saya. Biar saya yang bertanggung jawab atas semua ini," pinta Alifya memohon.


Kaysa hanya geleng-geleng kepala melihat kakak sepupunya yang terlalu lembut dan baik hati itu.


"Selama siang, Pak. Perkenalkan, nama saya Kaysa Malik. Putri Syauqi Malik. Saya dari Universitas A, saya sengaja datang ke sini karena memberi pelajaran pada Vanya dan Lola. Mereka berdua telah membully Zahra tanpa alasan. Siapapun orangnya, jika itu termasuk Anda sendiri yang berani menyentuh Keluarga Syauqi Malik akan kami lawan," kata Kaysa lantang.


Dosen Killer yang bernama Ramli itu hanya tersenyum manggut-manggut, membuat semua anak didiknya merasa heran dan penasaran.


"Kenapa Anda tersenyum, Pak? beri kami keadilan?" protes Vanya.


"Kamu kenapa kemarin membully Zahra?" tanya Pak Ramli dengan tatapan tajam.


"Maaf, Pak. Kami hanya tersinggung saja, sebab dia sebagai adik junior tapi tidak menghargai Senior," bela Lola.


"Mereka bohong, Pak. Saya saksinya, sebenarnya karena Zahra berteman dengan Kak Mahen. Jadi mereka berdua membully Zahra karena merasa iri," jelas Rahma memberanikan diri. Kali ini gadis itu tidak mau hanya pasrah melihat temannya ditindas.


Vanya dan Lola langsung melirik Rahma dengan penuh kebencian.


"Saya mau ajukan kasus ini pada rektor. Dan saya juga yakin, apabila Ayah saya tahu jika keponakan tersayangnya di bully di Universitas ini maka Ayah akan menghentikan donasinya," Ancam Kaysa.


Pak Ramli yang biasanya garang pada anak didiknya kini tidak berkutik di depan gadis kecil.


"Sebagai Dosen di sini, saya mewakili Vanya dan Lola untuk meminta maaf. Tapi Bapak sarankan untuk tidak mengajukan kasus ini, sebab jika nanti donasi dari Tuan Syauqi berhenti bagaimana nasib yang lainnya? Kebanyakan yang mendapatkan Beasiswa di sini adalah anak yang kurang mampu. Biar nanti bapak akan mengirim Lola dan Vanya atas kesalahan mereka, dan jangan sampai orang lain yang terkena imbasnya."


Sebenarnya Kaysa juga hanya menggertak saja, sebab jika tidak menggunakan nama Ayahnya mungkin dia akan dilaporkan polisi. Namun dia juga berharap Ayahnya tidak tahu mengenai masalah ini, sebab dia nanti dimarahi habis-habisan karena telah mengacau.


"Ini peringatan terakhir bagi kalian, Kak Alifya dan Zahra adalah keponakan Syauqi Malik. Jika ada yang berani mengganggu maka saya pastikan akan langsung dikeluarkan dari Universitas ini, termasuk yang menganggu Rahma juga," kata Kaysa tepat di depan wajah Vanya dan Lola.


"Terima kasih atas kerja samanya, sekarang saya akan bawa kedua anak didik saya yang bersalah ini untuk segera mendapatkan hukuman," ucap Pak Ramli segera membawa Vanya dan Lola pergi.


Alifya hanya bengong saja atas kejadian ini, sedangkan Kaysa tanpa rasa bersalah menarik mereka untuk pergi dari jelas tersebut.


"Ayo, kalian bertiga akan aku traktir makan siang. Pesanlah sepuas kalian, nabati akan aku ajak ke restoran yang super lezat," ucap Kaysa riang.

__ADS_1


Kaysa sudah menghabiskan banyak energi untuk berkelahi dan banyak bicara. Dia merasa sangat lapar dan harus segera diisi tenaganya.


Jangan lupa Like dan Vote ya🤗🤗


__ADS_2