CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 111


__ADS_3

Bima mendapat kabar jika Ayahnya Syadev akan berlibur bersama istrinya dalam waktu yang lama. Dia menjadi kebingungan harus bagaimana.


"Aku di sini masih asing, tidak punya kenalan yang pandai mengaji."


Akhirnya Bima menelepon Syadev, akan tetapi yang mengangkat adalah Anggun, perempuan yang pernah dicintainya secara diam-diam.


"Syadev dimana?" tanya Bima yang sudah biasa menghadapi Anggun tanpa rasa canggung.


"Dia kuliah, ada keperluan apa?" tanya Anggun balik.


Karena Bima sudah tidak ada jalan lain diapun terpaksa menceritakan isi hatinya pada Anggun.


"Aku serius mencintai Alifya, aku tidak ingin menyesal seperti dulu saat aku mencintaimu tapi aku pendam. Hanya saja Paman Rian memberikan Syarat aku harus pandai mengaji jika ingin mendekati putrinya. Sedangkan aku sudah lama hidup di luar negeri yang bebas," keluh Bima.


Anggun tersenyum, betapa hebatnya kekuatan cinta yang mampu merubah kepribadian seseorang.


"Aku mengenal Kak Alifya seperti apa, dia hanya akan patuh pada keputusan Paman Rian. Jadi yang pertama Kak Bima lakukan adalah mendekati Paman Rian. Aku rasa hanya sekedar pandai mengaji saja tidak cukup. Apalagi kamu usianya di bawah Kak Alifya, pasti Paman meragukanmu menjadi kepala rumah tangga," kata Anggun serius.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Bima cemas.


"Paman Rian kan juga guru mengaji, setiap sore banyak anak-anak yang mengaji di Musholanya. Jadi kamu mendingan mengaji padanya saja," saran Anggun.


"Aku takut... Pandagannya padaku seperti serigala yang hendak mencabik domba," jawab Bima ngeri.


"Paman Rian memang tegas seperti itu, jangankan kamu. Bunda Zhia yang adiknya saja juga selalu takut," balas Anggun setengah tertawa.


"Apa tidak ada saran lain?" tanya Bima penuh harap.


"Menurut aku sih itu jalan satu-satunya, sekalian kamu menunjukkan keseriusanmu pada Kak Alifya," jawab Anggun.


"Baiklah, akan kubuktikan jika aku lelaki sejati. Nanti tolong berikan aku alamat yayang Alifya ya?" pinta Bima.


Mendengar Alifya dipanggil yayang, Anggun seketika tertawa.


"Oke deh, semoga kamu berhasil. Semangat ya?" jawab Anggun menyemangati.


"Iya, terima kasih banyak atas sarannya. Kirim salam buat Syadev ya? Pasti dia sibuk sekali," ucap Bima merasa sedikit lega.


"Iya, suamiku sangat sibuk sekali. Siang malam hanya fokus belajar terus," jawab Anggun.


"Gila... Dia tidak belajar saja sudah canggih. Nanti bisa-bisa dia menyaingi profesornya," ucap Bima serius.


"Iya, suamiku memang hebat," balas Anggun bangga.


"Aku do'akan semoga anak kamu juga secerdas Syadev. Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya ya?" pamit Bima.


"Iya, terima kasih," jawab Anggun senang membayangkan anaknya seperti suaminya.


Bima langsung menyiapkan beberapa baju dan barang-barang keperluan di tas ransel yang besar.


"Oke, Paman ... Aku datang," kata Rian penuh semangat.


Sore harinya Bima beneran menuju rumah Alifya, dalam sekali pandang saja dia sudah merasa damai dengan keadaan yang sederhana dan bersahaja.


"Aku semakin ingin mengenal bagaimana kelurga Alifya."


Kediaman Rian terlihat sepi karena mereka tengah sholat berjamaah di mushola pinggir rumah, begitu mereka selesai Rian merasa kaget karena sudah ada Bima yang berdiri di depan rumah.


"Assalamu'alaikum," ucap Bima sopan.


"Wa'alaikumsalam," jawab semua orang.


Alifya tiba-tiba merasa gemetar karena gugup, sedangkan Rian bersikap kaku.


"Ada apa kesini?" tanya Rian tegas.


Bima sudah ketakutan setengah mati dengan tampang Rian, akan tetapi demi Alifya dia mencoba memberanikan diri.


"Paman, aku ingin belajar mengaji bersama Paman," pinta Bima dengan tatapan memelas.

__ADS_1


Alifya dan Rian terkejut, sedangkan Tia menahan tawa karena baru kali ini ada pemuda bernyali besar setelah Syauqi.


"Apa kamu yakin mau belajar padaku?" tanya Rian dengan tatapan sangar.


"I... Iya... aku yakin, Paman. Demi Alifya," jawab Bima.


"Baiklah, tapi kenapa kamu bawa tas besar?" tanya Rian heran.


"Aku ingin menjadi santri di sini," jawab Bima.


"Apa? Jadi kamu mau tinggal di sini?" pekik Rian.


"Iya, Paman. Selama aku belajar di sini aku bisa disuruh apapun juga," kata Bima serius.


Sebenarnya Rian tidak masalah kalau Bima belajar mengaji dengannya, akan tetapi soal menginap sulit diterima.


Namun, Tia sebagai seorang perempuan yang memiliki toleransi tinggi sangat menghargai niat baik Bima.


"Mas, tidak apa-apa. Biarlah dia belajar di sini. Dengan begitu kita bisa lebih mengenal bagaimana sifat dia yang sebenarnya," bujuk Tia.


"Baik aku izinkan, tapi jangan pernah berani macam-macam pada Alifya," ancam Rian dengan tatapan tajam.


"Iya, terima kasih banyak, Paman," ucap Bima senang.


Bima yakin, jika dia terus berusaha pasti Bapaknya Rian yang terlihat sangar itu secara perlahan akan merestuinya.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Sepulang bekerja Reki menghampiri ke ruang kantor Papanya untuk membahas tentang lamaran.


"Ada apa, Nak?" tanya Faisal.


"Pa, apa papa punya waktu?" tanya Reki sopan.


Faisal yang melihat perubahan sikap putranya merasa sangat terharu. Papanya Reki tersebut langsung memeluk putranya dengan erat sambil menepuk punggung Reki.


"Punya waktu banyak untukmu, Nak. Ada hal penting apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Faisal.


"Bagus itu kalau kamu sudah punya niatan baik, bagaimana kalau kita ajak Mama dan adik kamu?" tanya Faisal pelan-pelan.


"Iya, Pa. Mereka sekarang menjadi keluargaku juga," jawab Reki tersenyum riang.


Faisal bahagia sekali, akhirnya kebahagiaan yang diinginkan selama ini bisa terwujud juga.


Reki juga bahagia karena kini papanya sering memberikan perhatian yang lebih, tidak seperti dulu yang hanya sibuk bekerja di luar kota.


"Bagaimana kalau pulang ke rumah bersama Papa? Kita bisa makan malam bersama," bujuk Faisal.


"Iya, Pa. Ayo kita pulang sekarang," jawab Reki tanpa keberatan.


Mereka berdua pun segera meninggalkan kantor Mandala dan menuju rumah Faisal yang baru.


Di sana Gio serta Mamanya menyambut dengan hangat. Reki dan Gio diperlakukan sama membuat keduanya tidak saling cemburu.


"Kak, kenapa tidak tinggal disini saja dari pada sendirian?" tanya Gio ramah.


"Aku sebentar lagi mau menikah, tentu saja tidak sendiri lagi nanti," jawab Reki senang.


"Pasti dengan Kak Orlin," tebak Gio.


"Iya dong, siapa lagi memangnya?" canda Reki.


"Acara lamarannya kapan?" tanya Mamanya Gio ikutan senang.


"Makanya sekarang mau membahas soal lamaran, kiranya waktunya kapan ya yang bagus? Karena kita akan berkunjung ke London," tanya Faisal.


"London? Aku ikut," sela Gio bersemangat.


"Iya," jawab Reki senang.

__ADS_1


"Kamu maunya kapan, Reki?" tanya Mamanya Gio.


"Aku ingin secepatnya," jawab Reki serius.


"Kalau begitu bagaimana jika besok?" tanya Faisal.


"Iya.. Iya... Besok aku tidak ada acara penting," sela Gio.


"Yang mau lamaran aku kenapa kamu yang senang seperti ini?" sergah Reki tertawa.


"Aku belum pernah ke London, tentu saja aku senang," jawab Gio.


"Baiklah, besok ya? Aku akan segera menyiapkan tiketnya," kata Faisal senang.


"Iya, Terima kasih, Pa," ucap Reki senang.


"Ayo sekarang kita makan malam," ajak Faisal tersenyum puas.


Reki sangat bahagia sekali dengan keluarga barunya, dia berharap setelah menikah nanti juga bisa memberikan kebahagiaan bagi istri dan anak-anaknya.


Reki bersyukur memilih memaafkan dan berlapang dada dari pada dendam. Dia selalu mengingat ucapan Orlin, jika kebencian hanya akan menghalanginya menuju kebahagiaan.


Tiba-tiba saja Reki merindukan Orlin, dua hari tidak bertemu membuat dirinya sudah hampir gila.


"Kak, malam ini tidur saja di sini," pinta Gio.


"Baiklah, tapi sekarang aku mau menelepon kakak iparmu dulu," jawab Reki tersenyum senang.


"Yah... Yang jomblo sepertiku mau menelepon siapa?" ujar Gio kesal.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Kaysa, Alarik dan Flora mengantarkan kedua orang tua mereka sampai di Bandara. Akan tetapi ketiga anak tersebut mencoba menahan air mata agar Bunda mereka tidak cemas.


"Selamat bersenang-senang, Ayah dan Bunda. Kalian jangan khawatir soal Flora, karena aku pasti akan menjaganya dengan baik," ucap Kaysa berakting riang.


"Terima kasih sayang, kamu juga jaga diri baik-baik ya? Sekarang kamu sedang hamil, jadi jangan bertingkah sembrono lagi," tutur Zhia keibuan.


Kaysa dan Flora memeluk Bunda mereka dengan erat. Mereka berdua sangat takut kehilangan Bunda tercinta.


"Alarik, aku percayakan Kaysa dan Flora padamu. Dan ingat, bilang saja sama Syadev kalau Ayah dan Bunda sedang liburan. Jadi suruh dia segera lulus karena Ayah sudah tua waktunya untuk pensiun," kata Syauqi serius.


Alarik sedih, tapi juga ingin tertawa saat Ayahnya mengakui tua kalau soal mengurus pekerjaan. Tapi Alarik paham jika Ayahnya tersebut bermaksud agar jangan membicarakan soal penyakit Bunda pada Syadev. Karena nanti bisa membuat Syadev gelisah dan mengganggu belajarnya di Amerika.


"Iya, Ayah. Ayah dan Bunda jangan khawatir," jawab Alarik tegas dan sopan.


"Ayah jangan lupa kirimkan makanan yang enak dari sana ya?" pinta Kaysa.


"Kamu ini, sempat-sempatnya memikirkan makanan," ejek Alarik.


"Biarin," jawab Kaysa.


Sebenarnya Kaysa ingin menangis dan berteriak marah kenapa Bundanya yang lemah lembut dan penyabar itu bisa sakit, berat jiwanya menerima kenyataan ini.


Zhia merasakan ada sesuatu yang disembunyikan, akan tetapi dia tetap menahan diri dan mengikuti sandiwara mereka biar seolah-olah dia tidak tahu apa-apa.


"Bunda sangat menantikan kelahiran cucu-cucu Bunda. Membayangkan saja rasanya Bunda sudah bahagia, betapa lucunya mereka nanti jika mereka seperti Kaysa dan Syadev yang suka bikin onar," kata Zhia tersenyum tegar.


Kaysa, Alarik dan Flora menunduk menahan tangis, sedangkan Syauqi justru sudah berlinang air mata.


"Kenapa menangis?" tanya Zhia.


"Aku hanya membayangkan jika mereka nakal semua seperti Kaysa pasti akan membuat aku cepat beruban" canda Syauqi ditengah tangisnya.


"Suamiku, meskipun kamu nanti beruban tetap akan menjadi pria tertampan di dunia," jawab Zhia.


Syauqi langsung memeluk istrinya dengan erat. Diciuminya kepala Zhia penuh kasih sayang.


"Ayah, seharusnya yang mendapat pelukan itu aku. Karena yang di ajak jalan-jalan kan Bunda," protes Kaysa mewek.

__ADS_1


Syauqi tertawa, dia beralih memeluk Kaysa dan Flora secara bersamaan.


Jangan lupa Like dan Vote ya💜💜💜💜


__ADS_2