
Flora merasa malu kenapa tadi bisa menangis, selama ini dia selalu bisa berpura - pura kuat dan masa bodoh dengan pernikahan itu.
"Kak Dewa, anggap saja aku tidak pernah bercerita mengenai hal ini ya? Sungguh memalukan aku sampai menangis seperti ini," ucap Flora.
"Menangis lah jika kamu bersedih, tidak perlu pura - pura kuat jika kenyataanya kamu memang tidak kuat," bujuk Dewa.
Ah… Dewa merasa bermuka dua, di belakang menusuk Flora sedangakan di depan memberikan dorongan untuk semangat.
"Jangan pernah menceritakan hal ini pada siapapun juga ya?" pinta Flora.
"Iya, aku janji. Ngomong - ngomong cita - cita kamu apa?" tanya Dewa penasaran.
Flora menatap ke langit - langit dinding. Mengingat tentang cita - cita dia berubah tersenyum dan membayangkan dirinya sudah menggapai impian itu.
"Aku ingin menjadi penulis, dan kelak berkeliling dunia menceritakan setiap kisah yang pernah aku singgahi. Makanya sejak kecil aku giat belajar berbahasa asing," jawab Flora.
"Wah… Keren sekali cita - cita kamu, apakah kamu sudah mulai membuat karya?" tanya Dewa penasaran.
"Sudah, tapi hanya aku simpan sebagai kenangan pribadi dulu," jawab Flora.
"Kenapa tidak mencoba dikirimkan ke penerbit? Siapa tahu bisa di bukukan," saran Dewa.
"Aku masih belum percaya diri, lagi pula itu malah seperti curhatan diriku sendiri," jawab Flora tertawa.
"Kisah nyata?" tanya Dewa.
"Iya, jadi setiap yang pernah aku lalui aku buat cerita. ada juga loh pas waktu aku tersesat di hutan, aku jadi merinding jika mengingat semua itu," balas Flora.
"Kan sudah berlalu lama, apa masih belum hilang ketakutannya?" tanya Dewa.
"Aku mudah trauma, sesuatu buruk yang pernah aku alami setelah itu akan memberikan kegelisahan sendiri," ujar Flora.
"Contohnya?" tanya Dewa semakin ingin mengenal Flora.
"Hantu, kegelapan, sendirian, dan… Cinta," jawab Flora.
__ADS_1
"Cinta? Bukankah kamu belum pernah jatuh cinta?" tanya Dewa tidak mengerti.
"Memang, tapi setiap kali mengingat jika nanti aku akan menikah dengan orang asing sejak itu pula aku takut jatuh cinta," jawab Flora.
Dewa kasihan tapi juga senang soal ini.
"Flora, jika aku katakan kalau aku jatuh cinta padamu bagaimana?" tanya Dewa serius.
"Jangan bercanda, kita ini guru dan murid," sergah Flora tertawa.
"Tapi aku sungguh jatuh cinta padamu, sejak awal kita bertemu. Semenjak kamu masih kecil," kata Dewa menatap mata Flora.
Entah kenapa tiba - tiba Flora merasa hatinya berdebar - sebar. Biasanya jika ada pemuda lain yang menyatakan cinta seperti ini dia akan santai, tapi kali ini menjadi salah tingkah.
"Jangan! Jangan katakan cinta lagi," pinta Flora.
"Aku cinta padamu… Aku cinta padamu … Aku sangat mencintaimu, Flora," teriak Dewa dengan tatapan lembut.
Dalam hitungan detik, semua beban terasa lenyap. Dewa memejamkan mata dan merasakan kebebasan ini. Ternyata belenggu yang selama ini menjeratnya adalah cinta terpendam yang sulit untuk diucapkan.
Arkananta sebenarnya sudah bangun sejak terganggu dengan teriakan Dewa, tapi anak kecil itu pura - pura tidur karena tidak ingin mengganggu. Arkananta sangat menyukai Dewa, baginya akan menyenangkan jika nanti setiap hari bermain bersama.
Flora memang ada sedikit rasa nyaman, tapi dia tidak mungkin membuka hati untuk Dewa sedangkan dirinya akan menikahi pemuda bernama Daichi.
Dewa menjadi gemas karena flora menutup kupingnya, entah setan apa yang merasukinya tapi Dewa mendekap tubuh Flora dan mencium bibir lembut itu dengan penuh perasaan. Gairah Dewa semakin memuncak dan membuat bagian tubuhnya yang paling sensitif itu menegang keras.
Flora meronta dan ingin mencoba melepaskan diri, tapi justru Dewa semakin khilaf dan memeluk tubuh ramping itu sambil menguras habis bibir Flora yang terasa menggairahkan.
Flora menangis, seketika Dewa melepaskan tangannya.
Flora dengan tenaga kuat menampar Dewa.
"Aku sangat menghormatimu sebagai seorang Kakak, tapi mulai detik ini aku membencimu. Karena baru kali ini ada orang yang menghina aku seperti ini," kata Flora tajam dan berlalu pergi.
Flora seketika mengingat keponakannya yang masih tidur, tapi Flora tidak punya keberanian untuk kembali.
__ADS_1
Flora yakin, nanti Dewa akan mengantar Arkananta pulang.
Sampai di rumah Flora mengurung diri di dalam kamar, dia menangis kenapa hal itu secara tiba - tiba terjadi.
Flora menyesal kenapa tadi mau ke rumah Dewa.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Paginya Flora tetap berangkat kuliah seperti biasanya, kemudian dia mendengar dari temannya jika tadi ada Dosen yang bernama Dewa katanya akan pindah tugas.
Flora merasa lega, tapi juga ada rasa kehilangan. Perasaan itu sulit untuk diartikan.
"Flora, kenapa kamu bengong? Ayo kita ke perpustakaan," ajak Rendy.
"Iya," jawab Flora.
Flora mengiringi langkah Rendy dengan tatapan kosong, bahkan saat Rendy belok arah tapi Flora masih saja berjalan lurus.
"Flora," panggil Rendy.
Flora segera terperanjat dan baru sadar jika dia keblabasan.
"Kamu kenapa? Jujur saja ya, semenjak ada kabar kalau Pak Dewa pindah kamu menjadi aneh, sebenarnya ada hubungan apa antara kamu dengannya?" tanya Rendy.
"Tidak apa - apa," jawab Flora langsung masuk ke perpustakaan.
Flora memang membenci dosennya itu, tapi di sisi lain jika mengingat kebaikan yang pernah dilakukan oleh Dewa membuat Flora dilema.
Sedangkan Dewa pagi ini setelah menyerahkan surat pengunduran diri dia langsung membereskan barang - barang dan memesan tiket pesawat.
Dewa menyerah, dia tidak ingin menjadi orang egois. Dia tahu jika kini Flora membencinya, sehingga Dewa memilih pergi dan pulang ke rumah orang tua angkatnya.
"Demi kenyamanan kamu, aku akan pergi. Sampai bertemu lagi di pelaminan, Flora. Kamu selamanya hanya akan menjadi milikku," batin Dewa.
**Terima kasih sudah membaca Karya saya, jangan lupa Like, Vote dan komen ya🤗
__ADS_1
Duh... Sesuai permintaan kalian yang minta Flora dan Dewa untuk menikah. Jadi dipercepat saja ya... Author juga sudah tidak sabar menceritakan malam pertama mereka. kira - kira enak saat jadi Dewa atau Daichi yaa? Ayo... Di komen dongggg 🤗🤗🤗 Author Sudah Berusaha Crazy up nihhhh
Dan besok sudah tanggal 1, Scorpio mulai lanjut lagi yah. Buruan yang belum baca di baya juga yah...