
Malam ini Sagara tidak bisa tenang, ketika kedua saudaranya sudah tertidur dia masih saja memikirkan Sarah.
Sagara bukan tipe pemuda yang bisa terbuka seperti Arkananta, baginya apa yang dirasakan merupakan sebuah aib yang harus ditutupi.
Sagara kemudian melangkah keluar, entah kenapa juga tangannya reflek membawa busur tali.
"Apa - apaan, kenapa aku ada pikiran untuk menerobos Asrama Putri. Sungguh perbuatan tercela dan memalukan," umpat Sagara.
Namun, mulutnya memaki - maki tapi hati dan pikirannya tetap saja ingin melakukan apa yang dibencinya.
"Ah... sudahlah! Aku coba lihat sebentar saja," gumam Sagara kesal pada diri sendiri.
Sagara segera memencet tombol yang ada di bawah panah, seketika talinya sudah melesat dan menancap pada tembok. Mungkin terlihat sepele hanya tinggal pencet saja, tapi jika bukan orang yang sudah ahli tentu saja hal itu menjadi sesuatu yang sulit dan berujung kegagalan.
Karena takut sewaktu - waktu ketahuan, Sagara memakai jaket yang ada topi untuk menutupi kepalanya. Tak lupa masker dan kaca mata hitam.
Sagara langsung naik dan melihat sekeliling, ternyata di asrama putri juga sudah sepi sebab sebagian telah tertidur.
Sagara seperti seorang maling mengendap - endap menuju kamar Sarah dan Fayyola.
"Sungguh sudah gila aku, jika sampai ketahuan aku pasti dikuliti hidup - hidup oleh papaku," batin Sagara gemetar juga.
Dengan alat yang sudah disiapkan, dengan mudah Sagara membuka pintu yang sudah terkunci dari dalam.
Sagara membuka secara perlahan, dan melihat adiknya sudah tertidur pulas. Sedangkan Sarah tertidur tapi seperti tengah mimpi buruk.
Sagara gatal sekali ingin menyentuh dahi Sarah apakah masih panas atau sudah turun, tapi dia juga takut karena memang terlarang.
Sagara mengangkat kursi belajar secara perlahan tepat di samping ranjang milik Sarah.
"Anak kecil ini membuat aku melakukan hal konyol, wajah yang memelas dan tubuh lemas. Selalu mengganggu ketenangan pikiranku," batin Sagara.
Sarah tertidur tetap masih menggunakan jilbab, hidungnya sudah tidak bengkak dan wajahnya begitu cantik seperti gadis Mesir perpaduan dengan orang Asia.
Hampir dua jam Sagara berdiam diri dan hanya menunggu Sarah tertidur, sampai pada saat Sarah menggeliat dan selimutnya melorot. Betapa terkejutnya Sagara melihat gamis milik Sarah menyingkap ke atas, sehingga paha Sarah terlihat nampak mulus. Hampir saja Sagara mimisan, diapun segera memakai kaca mata hitamnya kembali biar tidak silau.
"Aku tidak menyangka jika ada hari dimana aku melakukan hal bodoh ini," gumam Sagara tersenyum sendiri.
Tapi setiap kali melihat kedua mata Sarah yang penuh arti saat menatapnya itu membuat Sagara penasaran, kira - kita apa yang sedang dipikirkan gadis itu mengenai dirinya?
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul dua, Sagara berniat kembali takut jika nanti ada yang bangun. Karena biasanya di jam sepertiga malam banyak yang melakukan sholat tahajjud dan mengaji.
Namun, Sagara juga tidak bisa membiarkan Sarah kedinginan seperti itu. Kemudian dengan nekat Sagara membenarkan lagi selimut milik Sarah sampai menutupi di leher. Dengan secepat kilat diapun pergi sebelum ketahuan massa.
Semua berjalan mulus sesuai rencana Sagara, tapi dia terkejut saat kembali ke kamar sudah ada Arka yang menghadangnya.
"Ah... Kamu mengagetkanku!" pekik Sagara.
"Dari mana kamu?" tanya Arkananta seperti seorang polisi yang hendak menginterogasi tersangka kejahatan.
"Tidak dari mana - mana, hanya keluar saja," jawab Sagara cuek.
"Jujurlah, kamu menerobos ke Asrama Putri kan?" duga Arkananta.
"Ngapain juga aku ke sana?" sergah Sagara mengelak.
"Aku tadi terbangun saat mendengar kamu membuka pintu kamar, aku penasaran karena gerak - gerik kamu mencurigakan. Makanya aku mengikutimu, tapi setelah kamu naik ke dinding pembatas kamu sudah menarik talimu terlebih dahulu. Jika tidak mungkin aku sudah menyusulmu," kata Arkananta serius.
"Mau apa kamu mengikutiku segala?" Segah Sagara kesal.
"Ya sama sepertimu, aku juga mau menemui Deby," jawab Arkananta terus terang.
"Bohong, baru kali ini kamu seperti ini dan itu setelah kamu mendengar jika Deby masuk Andromeda," ucap Arkananta menahan amarah dan cemburu.
Sagara menghembuskan napas berat, dia juga tidak ingin kalau sepupunya sampai mencurigai kakak dia menemui Deby. Sagara sebenarnya juga tahu kalau Arkananta menyukai Deby sejak dulu.
"Jika aku katakan aku ke sana bukan karena Deby, apa kamu percaya?" tanya Sagara menatap serius.
Arkananta berpikir, antara percaya dan tidak percaya.
Yudistira pun terbangun sebab mendengar suara adu mulut di malam hari.
"Astaga, kalian ini malam - malam ngapain sih ribut sekali? Aku mau tidur tahu," bentak Yudistira marah.
Sagara dan Arkananta merasa malu, sebab baru kali ini mereka sampai ribut hanya karena masalah perempuan.
"Eh, Sagara. Kamu ngapain berpenampilan seperti itu, dan untuk apa bawa busur tali segala. Dari mana kamu?" Selidik Yudistira.
"Ke asrama putri," sela Arkananta kesal.
__ADS_1
"What? Ngapain?" pekik Yudistira kaget.
"Tanya saja sendiri," balas Arkananta merebahkan tubuhnya ke tempat tidurnya sendiri.
"Sagara, jujurlah kamu ngapain ke sana?" tanya Yudistira penasaran.
"Baiklah, aku akan mengatakan yang sebenarnya. Asala kalian berdua janji jual setelah ini tidak akan membahas masalah ini lagi!" jawab Sagara.
"Baiklah," balas Yudistira dan Arkananta semakin penasaran.
Sagara merasa gugup juga, karena hal ini seperti merusak harga dirinya di depan kedua sepupunya.
"Aku hanya ingin melihat Sarah, karena aku masih khawatir gara - gara aku melempar dia dengan bola hidungnya sampai bengkak," ucap Sagara terbata.
Yudistira dan Sagara langsung tertawa terbahak - bahak, tidak disangka jika secara tidak langsung Sagara mengakui kalau dia menyukai Sarah.
Dok.. Dok... Dok...
"Tidur... Tidur, kalau tidak jangan mengganggu orang lain!"
Teriak penjaga keamanan sambil mengetuk pintu.
Sagara langsung meloncat ke kamar tidur dan mematikan lampu. Dia merasa bersyukur dengan teguran ini tidak akan membuat kedua saudaranya menanyakan ini dan itu.
***********************
Sarah memang selalu terbangun lebih awal di banding Fayyola, biasanya dia akan mandi, sholat sunnah dan menghafalkan Ayat Alqur'an sampai pagi.
"Tadi aku bermimpi ada Sagara yang menjengukku, sayangnya semua itu hanya mimpi. Lagian tidak mungkin baginya memiliki niatan seperti itu. Dan selama di asrama walaupun ingin juga terasa mustahil," batin Sarah agak bahagia walau hanya bertemu dalam mimpi.
Sarah berniat mengambil handuk yang di jemur di depan kamarnya, tapi betapa terkejutnya jika pintunya sudah tidak terkunci lagi.
"Kok aneh? Semalam Fayyola tidur duluan dan aku yakin kalau aku sudah menguncinya. Tidak mungkin ada maling kan?" batin Sarah terkejut.
Sarah mencoba membuka lemari, dan tidak ada satupun barang yang hilang.
"Loh, kursinya kok pindah di sini?" gumam Sarah semakin heran.
Karena tidak ada barang yang hilang maka Fayyola beranggapan pasti Fayyola semalam terbangun dan keluar lalu saat masuk lupa menguncinya. Masalah kursi Sarah juga mengira jika itu Fayyola yang semalam menghafalkan Al Qur'an atau belajar.
__ADS_1
Meskipun begitu perasaan Sarah bahagia tanpa alasan yang jelas, seakan dia baru saja bertemu dengan Sagara sungguhan.