
Yudistira ikut merasa bahagia dengan kemenangan Jamila, dengan begitu seseorang yang disukainya bisa memiliki jalan untuk menggapai cita - cita.
"Dari mana kalian?" tanya Sagara yang baru selesai mandi.
"Menonton pertandingan bulu tangkis Jamila," jawab Yudistira.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Sagara penasaran.
"Tentu saja jagoanku menang," balas Yudistira.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Sagara dengan wajah cuek.
Yudistira sudah tidak kaget lagi dengan sikap saudara kembarnya yang seperti itu. Bukan karena Sagara tidak peduli, melainkan pemuda itu memang sulit untuk menunjukkan keramahan.
Malam harinya saat ketiga generasi Syauqi baru selesai setor hafalan Al - Qur'an dari musholla. Mereka bertiga di hadang seseorang yang sebaya.
"Yudis, tunggu!"
"Ada apa, Rik?" tanya Yudistira kalem.
"Apa benar kalau Jamila itu kekasihmu?" tanya pemuda bernama Riko.
"Kata siapa?"
Yudistira sampai kaget setengah mati sebab tiba - tiba mendapat kabar seperti itu.
"Kata Jamila sendiri," balas Riko.
Yudistira terdiam saja, dia tidak menyangka jika Jamila mengakui hal itu. Tapi ada sedikit perasan senang juga jika itu merupakan sebuah kebenaran.
Sedangkan Riko tersenyum melihat wajah Yudis yang tampak kaget itu.
"Sudah aku duga, mana mungkin kamu berselera dengan mantan wanita penghibur itu," gumam Riko.
"Apa? Kamu tahu dari mana kalau Jamila mantan wanita penghibur?" tanya Yudistira lebih terkejut lagi.
"Via dan Sasa, aku juga di suruh mereka menanyakan hubungan kamu dan Jamila yang sesungguhnya. Dan dugaanku ternyata benar, Jamila hanya mengaku - ngaku biar tidak dibully lagi," ujar Riko tertawa mengejek.
Arkananta dan Sagara hanya geleng - geleng kepala merasa miris dengan nasip Riko selanjutnya.
__ADS_1
Arkananta sudah sangat geram, apalagi sampai dia mendengar kalau ada yang membully Jamila dan mengungkit masa lalunya.
Buakkk... buuakk... buak.…
Yudistira langsung memukul Riko di bagian mulut dan perut.
"Yudis, kenapa kamu memukulku?" rintih Riko memegang perutnya yang sakit sekali.
"Bilang kepada Visa dan Sasa agar besok pagi menemuiku di belakang kelas mereka. Dan satu lagi, jangan pernah sekali - kali kamu mengganggu Jamila. Dia memang kekasihku dan tidak ada satupun yang bisa menindasnya!" ancam Yudis dengan tatapan tajam.
"Iya... Iya... Maafkan aku karena sudah salah."
Riko gemetar kemudian berlalu pergi.
"Sudah, ayo kita balik!" ajak Sagara santai.
"Aku kesal sekali," umpat Yudistira.
"Yah, akupun juga akan melakukan hal sama jika ada yang menindas pacarku," balas Arkananta.
Pagi harinya Yudistira ditemani kedua sudah menunggu menunggu di belakang kelas Sasa dan Via. Kedua gadis tersebut tidak berani untuk tidak datang setelah menyinggung mereka.
Belum sempat Sasa melanjutkan ucapannya Yudistira sudah memotong.
"Siapa kamu sudah berani membedakan status di sini? Sekarang jika dibanding denganku apa kamu masih bisa sombong? Di sekolah ini sudah jelas, tidak ada yang boleh mengungkit soal latar belakang keluarga. Hanya kemampuan dan prestasilah yang menentukan. Dan satu lagi, kenapa kamu menargetkan Jamila? Jika kamu lelaki aku sudah ingin menghajar kamu habis - habisan. Aku bisa sabar, tapi jika kamu di luar batas maka aku juga tidak akan segan lagi. Jangan kira aku takut hanya karena papa kamu Guru BK. Sungguh memalukan sekali, jadi catat baik - baik di otak kamu! Jangan pernah sentuh Jamila lagi apalagi sampai mengatakan sesuatu yang buruk tentangnya. Mulai sekarang aku mengawasimu ya!" ancam Yudistira kemudian berlalu pergi.
Sagara berlalu pergi mengikuti Yudistira, sedangkan Arkananta masih belum puas.
"Via, Sasa. Aku sarankan agar kamu tidak menyentuh Jamila lagi. Kamu kira aku tidak tahu jika kamu mengadukan kebohongan pada papamu mengenai Deby? Yudis mungkin masih melepaskanmu, tapi aku tidak!" Kata Arkananta tajam.
Arkananta semalam memang sudah menebak jika terjadi sesuatu pada Jamila justru Deby yang akan bertindak. Sedangkan Deby tipe perempuan yang susah mengontrol emosi. Makanya saat malam, Arkananta meminta ke satpam untuk melihat CCTV.
Paginya Arka menyerahkan CCTV langsung ke kepala sekolah. Hanya saja Arka meminta pada Kepala Sekolah untuk merahasiakan dulu, ingin membuktikan jika Kepala BK akan membela putrinya atau membela kebenaran.
Untung saja kepala sekolah setuju dengan usul Yudistira. Karena sekolah Andromeda merupakan sekolah anti pembulian terhadap murid miskin. Mereka menyamaratakan untuk membangun bibit unggulan yang benar - benar dari prestasi.
Terlebih lagi Andromeda juga kental akan agama, sehingga untuk murid putri diwajibkan bersikap santun. Berkelakuan buruk sedikit saja nanti sudah menjadikan catatan merah. Berbeda dengan lelaki, jika nakal sedikit agak biasa. Karena pada dasarnya anak lelaki lebih sulit di atur.
**********************************
__ADS_1
Deby dipanggil ke ruang BK, dia disidang atas tuduhan sudah penyerangan terhadap dua teman. Tentu saja hal itu langsung heboh, sebab Deby juga merupakan anak yang baru.
Jamila juga ikut di sidang, sebagai saksi. Sedangkan Via dan Sasa membawa dua teman lain yang dibayar untuk menjadi saksi palsu.
"Pak, ini hanya salah paham saja. Kami sebenarnya tadi hanya becanda saja. Karena kelewatan makanya kami sampai terjatuh, dan kami yakin Deby tidak sengaja, " ucap Sasa takut.
"Iya, kami sudah memaafkan mereka. Wajar saja jika kelakukan Deby masih agak liar, karena dia juga merupakan anak baru," timpal Via sedikit sombong karena kepala BK merupakan papanya sendiri.
Deby ingin tertawa, melihat sandiwara mereka. Sedangkan Jamila sudah memegang erat lengan Deby sebab takut jika beasiswanya dicabut.
"Deby, Jamila. Kalian dengar? Sebaiknya kalian berdua segera meminta maaf, dengan begini bapak tidak akan melanjutkan kasusnya," kata Kepala BK tegas.
Deby menyeringai, dia sama sekali tidak takut jika dianggap buruk karena melawan gurunya sendiri. Tetapi dia sungguh tidak terima jika diperlakukan tidak adil begini. Meskipun setelah ini tidak mendapat hukuman tapi nanti pada akhirnya dia dan Jamila akan mendapat cap buruk oleh penghuni asrama putri. Dan bisa - bisa mereka berdua dikucilkan.
"Saya tidak mau minta maaf, dan saya minta kasus ini tetap dilanjutkan. Karena pada dasarnya saya hanya membela diri saat ditindas oleh mereka," jawab Deby tangguh.
Jamila terkejut, Kepala BK beserta Visa dan Sasa juga kaget.
"Apa kamu yakin? Nanti jika ditemukan kesalahan kamu dan Jamila bisa dikeluarkan. Karena di sini membully teman lain merupakan sebuah pelanggaran terbesar," ucap Kepala BK sengaja menakuti.
"Saya siap, Pak. Tapi jika ditemukan bahwa mereka yang salah duluan maka mereka juga akan mendapatkan hukuman yang setimpal kan, Pak? Meskipun yang melakukan pelanggaran adalah putri Bapak sendiri?" tantang Deby.
Kepala BK terkejut, sebab baru kali ini ada yang berani melawannya.
Kemudian Kepala BK melapor kepada Kepala sekolah, memberikan laporan sesuai yang diucapkan oleh putrinya.
Dan pada akhirnya justru Kepala BK yang dipecat sebab dianggap kurang bijaksana dan tidak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Begitu juga dengan Via, Sasa beserta kedua saksi palsu.
"Kita selamat kali ini, aku sudah tegang sekali," ucap Jamila.
"Kita harus berterima kasih pada Yudistira dan Arka, mereka berdua mencoba sebaik mungkin untuk melindungi kita," jawab Deby.
"Loh, kamu tahu darimana?" tanya Jamila kaget.
"Fayyola, sehabis sholat subuh Fayyola di panggil Arka dan memberitahukan agar kita tidak takut," jawab Deby.
"Kok aku nggak dikasih tahu?" pekik Jamila.
"Yah... Karena aku sengaja ngerjai kamu," ejek Deby.
__ADS_1
"Ih, kamu selalu begitu deh," balas Jamila memukul lengan Deby.