CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Jodoh yang ditakdirkan


__ADS_3

Visual Nayla Latief.



Pak Latief tak mengira jika Rendra mengabaikan rapat penting demi melihat putrinya, namun kedatangan Rendra tak mengubah apapun. Nayla masih berdiam diri di dalam kamar.


3 jam Rendra membujuk Nayla, namun gadis itu masih tidak mau membuka pintunya.


Semua orang menjadi cemas, terlebih mamanya Nayla yang sedari tadi tak berhenti menangis,


"Bagaimana ini, Pa?" rengek mamanya Nayla.


"Papa juga tidak tahu harus bagaimana lagi! Papa sangat khawatir, dari tadi pagi Nayla belum makan," jawab pak Latief gelisah.


Rendra mencoba mencari ide,


"Pak, apakah di kamar Nayla ada jendela?" tanya Rendra.


"Ada, tetapi kamar Nayla di lantai dua, pasti sulit untuk naik ke atas." jawab pak Latief ragu.


Rendra memiliki secercah harapan, dia segera meminta pembantu keluarga Nayla untuk menyiapkan tangga.


Dari bawah Rendra melihat jika jendela kamar Nayla terbuka, dia segera naik dan menerobos masuk.


Hampir saja Rendra terjatuh karena kakinya terpeleset, namun dengan tangkas tangannya langsung meraih jendela yang setengah terbuka.


Kejadian barusan membuat orang tua Nayla jantungan, mereka ngeri jika membayangkan anak orang sampai terjatuh dari ketinggian lantai dua.


Sedangkan Rendra langsung masuk ke kamar Nayla, dia melihat gadis itu tergeletak dibelakang pintu, dipanggil-panggil namanya sama sekali tidak ada respon, pipinya di tepuk pelan juga tidak terbangun.


Rendra segera membuka pintu, dia menggendong Nayla keluar dari kamarnya,


"Pak, siapkan mobil segera! Kita bawa putri Anda ke rumah sakit!" pinta Rendra setengah berlari.


Tanpa perlu bertanya, pak Latief segera melaksanakan perintah Rendra.


Sesampainya di rumah sakit, Nayla langsung ditangani dokter spesial. Pak Latief rela mengeluarkan semua hartanya asal putrinya bisa selamat.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian dokter itu keluar, dia berkata jika Nayla terguncang, sehingga luka lama di kepalanya membuat Nayla tak sadarkan diri. Terlebih lagi kondisi Nayla yang lemah karena belum makan.


Hampir 1 jam Nayla pingsan, setelah dia sadar kedua orang tuanya segera masuk dan meminta Nayla makan. Namun Nayla memalingkan wajahnya, dia kecewa, dia marah kenapa selama ini kedua orang tuanya berbohong, mengatakan jika Iyas baik-baik saja.


Nayla selama ini sudah berharap lebih, supaya segera sembuh dan menemui seseorang yang dicintainya. Namun semua angan-angannya selama ini seperti debu yang berterbangan.


"Nak, marahlah pada kami! kami sadar jika kami salah. Tapi makanlah walau sedikit! supaya tubuh kamu kuat," pinta pak Latief.


Namun Nayla hanya diam dan tak mau menatap wajah kedua orang tuanya.


Rendra yang melihat kondisi Nayla semakin tak tega,


"Pak, mungkin Nayla masih marah. Sebaiknya Anda membiarkan dia tenang dulu! Biar saya yang membujuknya," bisik Rendra supaya Nayla tak mendengar.


Pak Latief mengajak istrinya keluar dari ruangan, dia tahu jika mereka masih di sana Nayla tidak mau makan.


Rendra memindahkan kursinya di dekat Nayla,


"Nayla, jika di dunia ini semua orang bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, maka tak akan ada lagi orang yang terluka, seperti kamu dan aku." kata Rendra.


Nayla masih diam, namun Rendra tahu jika Nayla mendengarkannya,


Nayla menjadi penasaran,


"Memangnya apa yang terjadi padamu?" tanya Nayla lemah.


Rendra dalam hati tersenyum, karena akhirnya Nayla terpancing juga untuk merespon dirinya,


"Makanlah! nanti sambil aku lanjutkan ceritanya" pinta Rendra.


Nayla menurut, Rendra tersenyum senang. Dia merasa jika Nayla seperti Orlin, jika putrinya susah makan maka dia akan menyuapi sambil mengisahkan dongeng.


Nayla mau membuka mulutnya juga, tetapi dia fokus dengan cerita Rendra.


Rendra menceritakan tentang kisah cintanya yang terlarang, istrinya yang meninggal setelah melahirkan, juga tentang papanya yang ternyata bukan ayah kandungnya.


Nayla menangis terharu, dia juga tak bisa membayangkan jika dirinya dalam posisi Rendra.

__ADS_1


Sedangkan Rendra tersenyum senang, karena makanan yang di piring sudah habis.


"Makanya kamu harus bersyukur masih punya orang tua yang sangat menyayangimu, mereka sengaja menyembunyikan kebenaran supaya kamu memiliki semangat untuk hidup. Seiring berjalannya waktu, luka hatimu bisa terobati dengan sendirinya. Dan kamu bisa menemukan seseorang yang tulus mencintaimu," tutur Rendra menasihati.


"Tetapi sekarang aku tak lebih seperti gadis cacat yang bahkan tidak bisa memberi keturunan, mana ada orang yang mau menikahiku" kata Nayla sedih, dia merasa putus asa.


"Siapa yang bilang kamu cacat? lihatlah! wajahmu cantik, kakimu beberapa bulan juga sudah normal. masalah keturunan carilah seorang duda sepertiku yang sudah memiliki anak, maka kamu tak perlu bingung lagi," jawab Rendra mantap.


Nayla langsung memerah wajahnya mendengar penuturan Rendra, dia tidak tahu apa maksud Rendra barusan.


"Menikahlah denganku! walaupun kamu belum bisa mencintaiku tetapi aku yakin seiring berjalannya waktu hatimu bisa terbuka untukku, aku tidak akan menuntut apapun kecuali kamu bisa menganggap Orlin seperti anakmu sendiri," Rendra tidak tahu dari mana dia memiliki keberanian untuk melamar Nayla dalam kondisi seperti ini, namun dia juga berharap semoga gadis tersebut menerimanya.


Nayla tercengang, dia tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan, Nayla seperti patung yang tidak bisa berfikir.


Diluar kedua orang tua Nayla menguping, mereka segera masuk dan membujuk Nayla untuk menerimanya.


"Nak, terimalah! Mama yakin Rendra bisa menjaga dan membahagiakanmu," bujuk mamanya Nayla.


"Sayang, demi untuk menyelamatkan kamu, hari ini Rendra meninggalkan rapat yang sangat penting, kamu tahu kan dia disini sedang merintis usaha baru? dia sampai menyia-nyiakan peluang besar demi kamu," timpal papanya Nayla.


"Nayla, untuk menikah tidak harus berpacaran atau mengenal berpuluh-puluh tahun dulu. Yang terpenting adalah hati kita siap, yakin, dan niat karena beribadah, insyaalloh Alloh akan memberikan kebahagiaan," bujuk Rendra meyakinkan Nayla.


Meskipun awalnya Nayla ragu-ragu, namun dia jadi teringat dengan temannya. Zhia, meskipun dia sudah mencintai Iyas sejak kecil namun pada akhirnya dia menikah dengan orang lain. Dia sadar jika takdir jodoh bukan dirinya sendiri yang mengatur.


Nayla menangis, dia terenyuh karena ada orang yang bisa menerima apa adanya,


"Baiklah, aku juga akan berjanji untuk menyayangi dan menganggap Orlin seperti anakku sendiri," jawab Nayla.


Kedua orang tuanya tersenyum senang, akhirnya putrinya memiliki masa depan yang cerah.


Rendra juga tidak kalah bahagianya, akhirnya dia menemukan teman hidupnya dan seorang ibu untuk putrinya, dia yakin jika Nayla bisa menjadi ibu yang baik untuk putrinya.


"Nayla, sebaiknya kita segera menikah secara hukum agama dulu! supaya aku bisa halal untuk menjagamu. Nanti setelah kamu sembuh total kita langsung kembali ke Indonesia dan merayakan pernikahan kita " saran Rendra.


"Papa sangat setuju, itu adalah rencana yang bagus," jawab pak Latief.


Sedangkan Nayla hanya tersipu malu, meskipun seorang duda tetapi Rendra juga tampan dan yang terpenting bisa menerima dia apa adanya.

__ADS_1


* Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya, jangan lupa like, vote dan beri rating bintang 5. Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Authoor.


Mohon kritik dan sarannya juga, semoga kedepannya novel ini bisa lebih baik🙏*


__ADS_2