
Di tengah kebimbangan Kaysa mencoba memosisikan diri andaikan dirinya menjadi Anggun, pastinya dia akan lebih menerima dengan kabar yang asli meskipun itu menyakitkan.
“Anggun, sebelum aku menjawab pertanyaanmu, apakah kamu menyukai Syadev?” tanya Kaysa.
Anggun terdiam sesaat, gadis itu merasa malu untuk menjawab. Kemudian Zahra mendekati gadis itu dan menepuk punggung Anggun secara perlahan.
“Katakanlah sejujurnya, jangan kamu menyesal di kemudian hari,” ucap Zahra menasihati.
“Awalnya aku mengagumi, tapi lama-lama aku sadar jika rasa kagum itu berubah menjadi cinta. Namun aku selalu sadar diri, jika aku tidak pantas untuk Syadev yang segalanya jauh di atasku," jawab Anggun sambil menundukkan wajahnya.
Kaysa tersenyum lega, sebab cinta saudara kembarnya itu tidak bertepuk sebelah tangan. Kaysa juga setuju saja karena Anggun memiliki kepribadian baik.
“Kamu tahu, sebenarnya aku sengaja tinggal bersama Kak Al dulu agar Syadev bisa menyatakan cintanya padamu. Namun aku tidak mengira jika dia malah kecelakaan setelah mengantarmu pulang. Apakah dia sempat mengutarakan isi hatinya kepadamu?” tanya Kaysa penasaran.
Zahra hanya diam karena gadis itu juga ikut sangat penasaran dengan kisah cinta antara Syadev dan Anggun yang baru diketahuinya itu.
“Belum, sekarang bagaimana kondisi Syadev?” tanya Anggun.
“Dia sudah sadar, tapi...” ucap Kaysa tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
“Tapi apa?” tanya Anggun dan Zahra tak sabar.
“Syadev kehilangan sebagian ingatannya. Dia bisa mengingat masa kecil dan keluarga. Namun dia tidak ingat tentang kamu dan hubungan aku dengan Kak Al,” jawab Kaysa hati-hati.
“Jadi Syadev melupakanku?” tanya Anggun tak percaya.
Kaysa hanya mengangguk pelan. Andaikan dia di posisi Anggun pasti jauh lebih frustrasi jika dilupakan oleh orang yang dicintai.
Anggun menangis, gadis itu merasakan sakit yang teramat dalam. Hatinya nyeri sampai seluruh tubuh ikut menggigil.
Kaysa dan Zahra langsung memeluk Anggun dengan erat, mereka juga ikut menangis dengan apa yang dialami Anggun.
“Aku yakin nanti ingatan Syadev yang hilang bisa kembali,” hibur Kaysa.
“Kita jangan pernah menyerah untuk mendoakan Syadev,” timpal Zahra.
Ketiga gadis itu merasa kelahan karena menangis cukup lama, akhirnya mereka tertidur dengan sendirinya.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Di tempat Syadev sudah malam, dia baru saja minum obat dan sekarang disuruh tidur oleh kedua orang tuanya.
Syadev hanya menurut saja, dia berbaring dan mencoba memejamkan matanya. Namun obat yang barusan diminum tidak mempan membuat dia tertidur, sebab bayangan Anggun terus hadir dalam ingatannya.
Syadev merindukannya, tapi hatinya juga kesal melihat gadis itu berpelukan dengan orang lain. Sebenarnya jauh di lubuk hatinya ada keyakinan jika Anggun juga memiliki perasaan yang sama. Namun mengingat kejadian itu membuat hatinya menjadi panas dan gelisah.
Syadev berniat ingin menghubungi Anggun, tapi dia baru ingat kalau ponselnya hilang entah ke mana. Ingin meminta nomor Anggun pada Kaysa merupakan suatu hal yang mustahil. Karena dia mengaku tidak mengingat Anggun.
“Syadev, kenapa kamu tidak bisa tidur?” tanya Syauqi yang menyadari putranya sedang gelisah.
“Ayah, selandainya aku tidak ceroboh mungkin saat ini kita bisa di rumah dan berkumpul dengan Kaysa dan Flora. Aku menyesal membuat mereka bersedih,” ucap Syadev.
__ADS_1
“Bukan salahmu, Nak. Semua sudah takdir,” jawab Syauqi menasihati.
“Iya, sayang. Semua orang pasti menginginkan untuk selalu sehat dan bahagia. Namun pada kenyataannya semua manusia memiliki ujian sakit dan menderita. Kamu harus sabar ya, dan kejadian itu dijadikan pelajaran agar kedepannya bisa lebih hati-hati,” timpal Zhia penuh kasih.
“Iya, Bunda. Terima kasih karena kalian tidak memarahiku,” ucap Syadev.
“Kenapa harus marah? Ayah dan Bunda justru mengkhawatirkan keselamatanmu. Saat kamu kemarin belum sadar rasanya Ayah mau menukar nyawa Ayah agar bisa menggantikanmu,” jawab Syauqi serius.
Syadev merasa sangat bahagia memiliki Ayah dan Bunda yang luar biasa. Syadev sangat bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bisa berbakti pada mereka.
“Mas, Apa Kaysa sudah diberitahu untuk tidak membawa mobil sendiri?” tanya Zhia memastikan.
“Aku sudah menyuruh Kak Elly yang mengatakannya, kalau aku yang bilang mana mungkin anak itu akan patuh,” jawab Syauqi setengah tertawa.
Syadev dan Zhia hanya tertawa pelan membayangkan wajah Kaysa yang cemberut dan kesal.
Ahh... Tiba-tiba saja Syadev merindukan saudara kembarnya yang perusuh itu, dia baru menyadari kehidupannya sangat monoton tanpa adanya Kaysa.
“Ayah dan Bunda sebaiknya istirahat terlebih dahulu! Syadev juga mau tidur,” ucap Syadev.
Syauqi dan Zhia mencium kening Syadev bergantian, kemudian mereka berdua tidur di ranjang sebelah Syadev. Bisa dikatakan ruangan Syadev lebih mirip seperti hotel mewah. Karena Syauqi tidak akan membiarkan anak istrinya merasa tidak nyaman.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Waktu sholat Dzuhur sudah hampir habis, Kaysa merasa heran karena Alarik belum bangun juga. Karena biasanya pemuda itu tidak pernah terlambat sholat.
Kaysa segera masuk ke kamar Alarik, sesampainya di sana Kaysa malah terpesona melihat ketampanan Alarik yang sangat memikat. Kaysa terus menatapnya sampai lupa dengan niat awalnya.
Jari-jari Kaysa tidak tahan lagi untuk memainkan alis Alarik yang lebat dan hidung mancungnya.
“ Apa sudah puas bermain?” goda Alarik.
“Jadi Kak Al sudah bangun dari tadi?” tanya Kaysa kesal.
“Iya, aku hanya ingin mengetes sejauh mana kamu berani mengambil kesempatan di saat aku tertidur,” sindir Alarik.
“Kenapa harus menunggu tertidur? Saat Kak Al dalam keadaan sadar saja aku berani melakukan apapun yang aku mau,” jawab Kaysa cetus.
“Oh ya? Bisa apa saja?” tanya Alarik tersenyum nakal.
Bukan Kaysa namanya kalau dengan mudah menerima diremehkan orang lain.
“Kak Al serius? Aku bisa saja melepas semua pakaian Kak Al dan aku ingin melihat tubuh kekar Kak Al,” gurau Kaysa.
Namun siapa sangka wajah Alarik seketika memerah. Pemuda itu tidak mengira jika Kaysa bisa mengucapkan kata seperti itu tanpa merasa sungkan.
“Haduh waktunya habis, aku sholat dulu,” ucap Alarik langsung bangkit dan berlari ke kamar mandi.
Kaysa tertawa melihat Alarik yang salah tingkah, rasanya puas sekali mengerjainya.
Kaysa tahu, jika Alarik selalu berusaha untuk menjaga imannya agar tidak menyentuh Kaysa. Namun Kaysa yang nakal justru semakin ingin menggodanya. Gadis itu padahal sudah sering dinasihati tapi memang keras kepala dan semaunya sendiri.
__ADS_1
Sampai Alarik selesai wudhu, Kaysa masih duduk santai di pinggir ranjang.
Alarik pura-pura cuek karena jika dilawan Kaysa akan semakin menjadi.
Alarik menggelar sajadah, memakai sarung dan pecis. Kemudian pemuda itu melaksanakan sholat.
Kaysa masih tahu aturan, dia tidak berani menggoda orang yang sedang sholat. Namun dia menunggu sampai kekasihnya itu selesai.
Kaysa merasa jika Alarik semakin tampan, wajahnya yang cerah dan kharismanya yang tinggi. Membuat wanita yang melihatnya pasti langsung terpesona.
Kaysa masih diam, sebab Alarik sedang berdoa dan cukup lama. Membuat Kaysa merasa penasaran.
“Kak Al, barusan kamu berdoa apa? Kenapa lama sekali?” tanya Kaysa.
“Kak Al hanya meminta kekuatan iman agar tidak tergoda oleh iblis kecil sepertimu,” jawab Alarik lembut.
“Apa? Iblis kecil?” pekik Kaysa marah.
“Tidak... Kak Al bercanda,” jawab Alarik terkekeh.
“Aku minta kompensasi,” jawab Kaysa kesal.
“Tadi sudah minta Skincare yang mahal, sekarang minta apa lagi?” tanya Alarik masih tertawa.
“Aku mau minta cium,” jawab Kaysa yang gantian tertawa.
Alarik langsung tertegun, pemuda itu merasa kewalahan menghadapi Kaysa yang masih labil.
“Kalau sudah menikah setiap detik pasti Kak Al cium kamu deh,” jawab Alarik menahan diri.
“Tidak, aku maunya sekarang,” ucap Kaysa cetus.
Seandainya menuruti hawa nafsu, dengan senang hati Alarik mencium Kaysa yang sangat menggairahkan itu. Namun dia sudah meyakinkan diri untuk tidak melakukannya karena mereka belum menikah.
“Ya sudah, aku marah ah,” ucap Kaysa berlalu pergi.
Kalau sudah begini Alarik kalah juga, pemuda itu langsung menarik tangan Kaysa saat hendak keluar dari pintu kamar.
“Kaysa, ayo kita makan,” ucap Zahra dan Anggun yang tiba-tiba berada di depan kamar.
“Teman-teman, tolong aku! Kak Al baru saja mau mencium aku,” ucap Kaysa berakting seolah korban.
Alarik terkejut dan melepaskan tangannya, pemuda itu merasa malu yang luar biasa. Karena seolah dirinya itu adalah tukang cabul.
Anggun dan Zahra yang merupakan gadis lugu dan polos merasa terkejut, bahkan wajah keduanya seketika memanas dan berubah merah.
Ha... Ha... Ha...
Kaysa tertawa puas dan berlalu pergi meninggalkan mereka bertiga yang masih terbengong menahan rasa malu.
“Apa kalian percaya kalau yang dikatakan Kaysa justru sebaliknya?” tanya Alarik panik.
__ADS_1
Melihat respons kedua gadis itu yang masih terdiam membuat Alarik jadi benar-benar ingin mencium Kaysa.
Jangan lupa Like dan Vote sebanyak-banyaknya yaa🙏 Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author🤗🤗 Terima kasih semuanya,