
Kaysa masih merasa kesal karena ditinggal kakak pertamanya, sebab gadis itu masih ingin menghabiskan waktu bersama lebih lama.
“Kak Al menyebalkan sekali! Aku mau marah pokoknya,” batin kaysa yang merasa kesal.
“Kenapa makannya tidak dihabiskan?” tanya Syauqi merasa heran, karena biasanya Kaysa doyan makan.
“Tidak nafsu,” jawab Kaysa cemberut.
“Masih marah? Dengan Syadev apa Kak Alarik?” tanya Syauqi perhatian. Karena Syauqi terlalu menyayangi putrinya.
“Kedua-duanya,” rengek Kaysa manja.
Syadev sudah selesai makan duluan, saudara kembar Kaysa itu segera pergi karena tidak tertarik dengan drama Kaysa yang menjengkelkan.
“Syadev, bersiap-siaplah! Sebentar lagi kita ke rumah nenek,” ucap Zhia.
“Iya, Bunda,” jawab Syadev yang sudah sampai di tengah tangga.
“Kaysa, kamu juga segera bersiaplah!” ucap Zhia lembut.
“Iya, Bunda,” jawab Zhia lemas.
Kaysa segera naik ke lantai dua tanpa menghabiskan makanannya.
Sang Ayah dan Bundanya hanya bisa geleng-geleng kepala karena putrinya selalu seperti itu sejak kecil.
Setiap kali suasana Kaysa buruk pasti tidak mau menyentuh makanan. Begitu juga sebaliknya, jika suasana hatinya bagus maka bisa menghabiskan banyak makanan.
“Zhia, sebaiknya kamu telepon Nindya, minta supaya anaknya ke sini! Kita ajak saja Darren ikut. Kalau ada temannya pasti Kaysa sedikit terhibur,” pinta Syauqi.
“Iya, takutnya kalau suasana hati Kaysa masih buruk nanti di rumah neneknya membuat ulah,” jawab Kaysa.
“Anak itu sudah besar tapi masih belum bisa mengontrol emosi,” ucap Syauqi sambil menghembuskan napas berat.
“Bukankah semua itu di dapat darimu?” sindir Zhia sambil melengos pergi.
Syauqi hanya nyengir, karena jika di ingat-ingat dirinya lebih parah saat masa sekolah SMA.
Beberapa menit kemudian Darren sudah masuk ke rumah Syauqi.
“Assalamualaikum,” salam Darren sopan.
“Wa ’alaikumsalam, cepat sekali kamu sampai sini, Darren? “ tanya Syauqi heran.
“Iya, Om Syauqi. Saat Tante Zhia menelepon aku dan Mama sedang di kantor,” jawab Darren tersenyum malu.
Jarak kantor dengan rumah Syauqi memang sangat dekat, hanya sekitar lima menit.
“Kamu bawa apa itu?” tanya Syauqi melihat sekotak kardus ukuran besar.
“Ini kue kesukaan Kaysa. Apa Om Syauqi mau?” tawar Darren tersenyum riang.
“Tidak, sebaiknya kamu langsung bawa ke atas saja! Pasti Kaysa senang,” perintah Syauqi.
Darren langsung mengangguk dan naik ke lantai dua menuju kamar Kaysa.
Syauqi hanya tersenyum sendiri melihat Darren, karena putra tunggal Donny itu sangat berbeda jauh dengan watak sahabatnya yang playboy dan suka ngebanyol.
Syauqi percaya jika kehadiran Darren bisa menghibur Kaysa, karena mereka memang sudah akrab sejak kecil.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Di kamar Kaysa baru saja selesai berdandan. Selain makan, salah satu hobinya Kaysa adalah berdandan.
Di dalam kamarnya ada banyak koleksi make up yang komplit. Karena Kaysa selalu ingin tampil sempurna di mata orang lain.
“Aku kesal sekali dengan Kak Al, berani-beraninya dia pergi tanpa bilang dariku,” gumam Kaysa sambil merapikan alat make up nya di tempat semula.
Tok Tok...
Terdengar suara ketukan dari pintu kamar Kaysa, saudara kembar Shadev itu segera membuka pintunya.
Setelah pintunya di buka, terlihat Darren yang berdiri terbengong karena takjub dengan kecantikan Kaysa.
“Darren...” ucap Kaysa juga kaget.
“I... Iya, eh, Kaysa. Ini untuk kamu,” ucap Darren gugup.
“Pasti kue ya? Terima kasih. Tumben kamu ke sini, ada urusan apa?" tanya Kaysa tersenyum senang.
“Aku mau minta maaf, karena kemarin sudah salah paham padamu,” ucap Darren menunduk.
Kaysa tidak mengerti apa maksud Darren, tapi dia segera mengajak temannya itu duduk di sofa depan kamar.
“Aku tidak tahu apa yang kamu maksud, sebaiknya kamu jelaskan!” pinta Kaysa sambil membuka kardus kuenya.
Syadev yang dari dalam kamar mendengar suara Darren langsung keluar dan bergabung dengan mereka.
“Mana untukku?” tanya Syadev.
“Maaf, aku hanya bawa satu. Itu tadi oleh-oleh teman Ayah di kantor. Karena tahu jika Kaysa sangat menyukainya jadi kue itu di berikan pada Kaysa,” jawab Darren meringis.
“Kaysa, kue itu ukurannya besar. Kamu tidak mungkin bisa menghabiskan sendirian,” kata Syadev tergiur dengan kue yang di pegang saudara kembarnya.
“Seandainya aku tidak bisa menghabiskannya aku juga tidak akan membaginya denganmu, lebih baik aku kasih Flora,” jawab Kaysa ketus.
“Kamu pelit sekali!” balas Syadev merasa kesal.
“Beli saja sendiri!” kata Kaysa dengan nada songong.
Syadev kesal dan marah, pemuda berambut pirang itu segera turun ke bawah meninggalkan Kaysa dan Darren duduk berduaan.
__ADS_1
Tutt... Tuuut..
Ponsel Kaysa bergetar, setelah dilihat ada nama Kak Alarik dari layar ponsel.
Kaysa diamkan saja karena kesal, sampai suara getaran itu berhenti dan berbunyi lagi.
Namun khirnya Kaysa angkat juga karena tidak sabar ingin mengomel. Sebab marah dengan cara mendiamkan bukanlah gaya Kaysa.
“Assalamualaikum Adikku yang cantik, sedang apa sekarang?” Sapa Alarik yang senyuman manisnya terlihat dari layar ponsel.
“Wa 'alaikumsalam,” jawab Kaysa singkat dan datar.
“Kenapa cuek begitu?” goda Alarik tersenyum senang.
“Sebaiknya bujuk aku dengan sesuatu yang menarik, kalau tidak aku akan tetap marah,” jawab Kaysa cemberut.
“Baiklah, Adikku sayang mau minta apa?” tanya Alarik lembut.
Kaysa merasa bingung, karena jika meminta barang dia masih bisa minta semuanya pada Ayahnya.
“Aku pikirkan dulu, tapi ini hutang janji ya?” jawab Kaysa sambil mengacungkan jarinya di depan ponsel.
Alarik tertawa melihat Kaysa yang seolah-olah seperti guru killer itu.
“Kaysa, cream nya keburu meleleh loh,” tegur Darren.
“Suapin aku Don!”perintah Kaysa seperti seorang bos.
Namun Darren dengan senang hati mematuhinya.
Alarik bisa melihat kedekatan Adikknya dan Darren, tiba-tiba hatinya berubah kalut.
“Kalian tahu kan kalau pacaran itu dosa?” tegur Alarik.
“Kita tidak pacaran, Darren dulu pernah bilang siap menjadi pesuruh aku,” jawab Kaysa santai.
“Itu sama saja bukan mahram!” balas Alarik tegas.
“Kita juga tidak bersentuhan,” jawab Kaysa keras kepala.
“Tapi berduaan? yang ketiga nanti setan,” balas Alarik.
“Tenang, Kak. Semua setan justru takut dengan Kaysa,” sela Syadev yang tiba-tiba muncul.
“Lha ini setannya baru datang,” cetus Kaysa menyindir saudara kembarnya.
“Apakah ada setan yang setampan aku?” jawab Syadev ketus.
“Namanya juga setan jaman Now,” jawab Kaysa.
Kaysa dan Syadev sedang asyik berdebat, kemudian datang Flora yang membuat semua terdiam.
“Kak, kita di suruh cepat! Ayah dan Bunda sudah menunggu di depan rumah,” ucap Flora manis.
Flora yang awalnya berniat memanggil kakaknya justru ikut bergabung karena tertarik dengan kue itu.
Sedangkan Syadev merasa kesal karena tidak di bagi, tapi pemuda itu juga merasa gengsi jika meminta untuk kedua kali.
“Flora, kalian memangnya mau ke mana?” tanya Alarik yang video call nya masih tersambung.
“Mau ke rumah nenek. Kak Alarik kapan pulang?” ucap Flora yang bibirnya sudah berlepotan.
“Setiap malam Minggu. Tapi malam Seninnya sudah balik ke sini lagi!” jawab Alarik lembut.
“Eh, Kak Darren katanya juga di suruh Ayah ikut,” ucap Flora beralih memandang Darren.
Wajah Darren langsung semringah, dan Alarik bisa melihat perubahan itu karena Darren duduk di samping Kaysa.
“Kaysa, aku di belikan mobil baru loh, meskipun tidak semahal kamu sih. Tapi aku senang akhirnya punya mobil sendiri,” ucap Darren pada Kaysa.
“Benarkah? Bolehkah nanti pakai mobilmu saja? Aku ingin mencoba mobilmu,” jawab Kaysa antusias.
“Iya, kamu bisa memakai sesuka hati,” kata Darren perhatian.
“Kamu tidak takut mobilmu kenapa-napa?” sela Darren.
“Tidak, aku percaya Kaysa,” jawab Darren membela Kaysa.
“Wekk... Aku ini kesayangan Darren, jadi apapun yang aku mau mana mungkin dia menolak,” ejek Kaysa sambil menjulurkan lidahnya pada Syadev.
Wajah Darren semakin cerah dengan ucapan Kaysa barusan.
Tiba-tiba Zhia sudah ada di ujung tangga.
“Ya Ampun! Dari tadi Bunda dan Ayah menunggu tapi kalian semua malah santai-santai saja di sini!” tegur Zhia sedikit kesal, namun nada bicaranya masih lembut.
Kaysa dan lainnya langsung ketakutan karena Bunda mereka sampai menyusul.
“Kak Al, lain kali di sambung lagi ya!” kata Kaysa langsung mematikan ponselnya.
Mereka berempat segera mengikuti langkah Zhia dari belakang.
Di bawah Syauqi sudah menunggu sambil bersandar pada mobil Darren.
“Wah! Mobilmu baru?” tanya Syauqi pada Darren.
“Iya, Om. Tapi tidak semewah milik Kaysa dan Syadev,” jawab Darren malu-malu.
“Ini juga sudah lumayan. Mobilnya besar, kita semua bisa muat di sini. Bagaimana kalau pakai mobilmu saja?” tanya Syauqi lagi.
“Iya, Om. Dengan senang hati,” jawab Darren tersenyum senang.
__ADS_1
“Aku yang menyetir!” kata Kaysa antusias.
“Tidak! Aku masih ingin hidup!” Tolak Syadev berteriak.
“Kenapa? Aku lebih pandai darimu!” bentak Kaysa.
“Itu penilaianmu sendiri. Pokoknya aku saja!” balas Syadev tidak mau kalah.
“Sudah! Biar Ayah saya yang menyetir! Kalian semua duduk di belakang,” kata Syauqi.
Zhia menarik napas perlahan supaya hatinya bisa dingin.
“Masih mau punya anak lagi?” goda Syauqi di telinga Zhia.
Kali ini Bunda Kaysa itu sudah menyerah, bukan karena takut melahirkan. Namun dia sudah benar-benar kelelahan menghadapi si dua lembar itu.
Syadev dan Flora duduk di tengah, sedangkan Kaysa bersama Darren pojok belakang.
Mobil mulai di jalankan, suasana menjadi tenang kalau Syadev dan Kaysa duduk terpisah.
“Kaysa, maaf semalam ponsel aku mati,” ucap Darren lirih.
“Tidak, apa-apa. Aku sebenarnya berniat mengajak kamu ke pesta, tapi akhirnya aku pergi dengan Kak Al,” jawab Kaysa santai.
“Di pesta kamu tidak apa-apa kan?” tanya Darren cemas.
“Eh, kamu kenapa bertanya begitu? Seolah-olah kamu sudah tahu sesuatu,” Kaysa balik bertanya penuh keheranan.
Darren menjadi gugup, tapi Kaysa tidak peka.
“Kenapa kemarin kamu tidak terlihat sepulang sekolah?” tanya Kaysa yang sudah mengingat sesuatu.
“Aku terburu-buru karena ingin membeli mobil ini,” jawab Darren berbohong.
Kaysa hanya tersenyum saja ikut bahagia dengan temannya.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Alarik masih di hotel, dia sengaja tinggal di sana sesuai dengan perintah Ayah angkatnya. Karena hotel itu milik Syauqi jadi Alarik bisa bebas.
Alarik sedang duduk di ranjang sambil melihat-lihat berkas, tapi pikirannya tidak konsentrasi karena terus terbayang saat telepon tadi.
“Kaysa dan Darren terlihat sangat dekat, kenapa aku bisa cemburu seperti ini? Aku sampai tidak bisa fokus pada pekerjaanku,” batin Alarik yang merasa kesal.
Dert... Derrtt...
Ponsel Alarik bergetar, dia langsung mengangkat teleponnya.
“Assalamualaikum” sapa Orlin.
“Wa ’alaikumsalam, Ada apa?” tanya Alarik.
“Tidak apa-apa, aku hanya ingin bertanya kamu sedang apa?” tanya Orlin perhatian.
“Aku sekarang bekerja membantu Ayah di kota A,” jawab Alarik.
“Oalah, kenapa kamu tidak masuk di kantor pusat saja? Atau kantor cabang lainnya yang dekat rumah,” tanya Orlin penasaran.
“Karena ini urusan penting, sedangkan Ayah tidak bisa meninggalkan Bunda,” jawab Alarik kalem.
“Aku jadi rindu Tante Zhia, tapi sayang aku tidak diizinkan kemana-mana,” keluh Orlin sedih.
“Sabarlah! Nanti juga ada saatnya sendiri,” hibur Alarik.
“Iya, kamu sudah makan belum?” tanya Orlin lembut.
Syadev baru ingin menjawab, tapi ada panggilan masuk dari Kaysa yang kemudian terputus.
“Orlin, aku ada urusan mendadak. Assalamualaikum” ucap Alarik buru langsung memutus sambungan dengan sahabatnya.
Kemudian Alarik langsung memanggil kembali nomor adiknya.
“Ada apa, Kak?” tanya Kaysa dari seberang.
“Bukannya tadi kamu memanggil Kakak duluan?” tanya Alarik heran.
“Masak sih? Oh, mungkin ke pencet,” jawab Kaysa enteng.
“Olah, aku kirain apa,” cetus Alarik.
Alarik langsung mematikan ponselnya, kemudian dia menghempaskan tubuhnya ke ranjang yang empuk itu.
“Kaysa...”
Alarik tiduran sambil melihat ke atas. Semenjak kembali ke Indonesia perasaanya jadi semakin tidak karuan.
Pemuda yang sudah dewasa itu mengingat saat Kaysa yang memeluknya juga meminta di cium saat pesta.
"Aku tahu jika Kaysa sangat menyayangiku, tapi hanya sekedar perasaan sayang seorang adik pada kakaknya. Namun aku sendiri yang sulit mengendalikan perasaan ini. Aku tidak tahu harus terus berjuang atau melupakan perasaan ini, karena aku takut membuat Ayah dan Bunda kecewa."
Alarik sangat lelah, akhirnya matanya mulai terpejam dengan sendirinya.
Di tengah tidur Alarik memimpikan adiknya.
"Kak Al, aku dan Darren salin menyukai. Apakah kamu mau merestui kami?" kata Kaysa sambil menggandeng lengan Darren. mereka berdua tersenyum bahagia.
"Tidak...." Teriak Alarik keras, kemudian dia terbangun dari tidurnya.
"Hanya mimpi," gumam Alarik.
Kemudian ada satu pesan email dari seseorang.
__ADS_1
"Kaysa masih terlalu kecil, jadi biarkan dia bermain-main dengan puas dulu. Untuk saat ini aku harus memperkuat diri, agar kelak Ayah angkatku bisa melepaskan Kaysa untukku," batin Alarik dengan tekad yang membaja.
Jangan lupa like dan Vote ya🙏 Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author🤗🤗🤗