CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 117


__ADS_3

Kaysa merasa bersyukur karena ada orang baik yang mau menolongnya memberi tumpangan sampai di rumah sakit. Padahal selama ini mobilnya itu baik - baik saja, entah kenapa tadi bisa mogok begitu.


Kini dirinya sedang di periksa oleh dokter kandungan, ternyata air ketuban sudah pecah. Karena cemas dan panik Kaysa memilih untuk langsung operasi saja demi keselamatan bayi yang di kandungnya.


"Flora, kamu jangan menangis lagi ya? Berdoalah, pasti semua akan baik - baik saja," pinta Kaysa mencoba tahan, padahal perutnya sudah sangat sakit sekali.


"Iya, Kakak," jawab Flora patuh dan menanti di ruang tunggu.


Flora hanya bisa berdoa semoga kakak serta calon keponakannya bisa selamat semua.


"Apa aku harus memberi tahu Ayah dan Bunda? Tapi aku takut jika membuat Bunda syok. Sebaiknya aku menunggu Kak Alarik saja untuk mengambil keputusan," batin Flora dilema.


Kaysa sudah dipindahkan ke ruang khusus operasi, semuanya serba cepat karena memang sudah sangat genting dan nyawa taruhannya.


Kaysa tidak menyangka jika pada akhirnya akan bertemu dengan jarum suntik lagi, dia sangat takut dengan benda tersebut. Kini mau tidak mau Kaysa akan merasakan tusukan jarum yang kini dipegang oleh dokter.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Alarik menerabas laju mobilnya dengan kecepatan tinggi, bahkan hampir saja dirinya menabrak mobil lain. Untung saja dia bisa banting stir dan mengendalikan mobilnya sendiri.


"Astaghfirulloh.... Ya Alloh, untung saja hambaMu ini masih diberi pertolongan," ucap Alarik mencoba menenangkan diri.


Dia memang sudah sangat panik sekali begitu tadi mendapat kabar jika istrinya masuk ke rumah sakit.


"Kaysa, kamu perempuan yang tangguh. Aku mohon kali ini berjuanglah," batin Alarik.


Cinta yang tulus dan kuat diantara Kaysa dan Alarik sampai bisa menembus jarak dan waktu. Alarik bisa ikut merasakan nyeri di dadanya begitu mengingat istrinya yang kini akan menjalani operasi.


Air mata yang sedari tadi ditahan kini sudah jebol dan membasahi pipinya. Alarik berharap semoga istri dan anaknya bisa selamat.


"Ya alloh, selamatkan istri dan anakku..." ucap Alarik sambil memegang stirnya erat.


Setelah sampai di rumah sakit rupanya operasi masih berlanjut.


"Flora, bagaimana operasinya? Apakah berjalan lancar?" tanya Alarik.


"Semoga saja, dari tadi pintu belum terbuka," jawab Flora.


Alarik mengusap kedua wajahnya penuh rasa kecemasan.


"Kak Al, apakah kita akan memberitahu Ayah dan Bunda?" tanya Flora.


"Beritahu Ayah saja, Kalau bisa jangan sampai Bunda tahu dulu. Takutnya nanti Bunda kenapa - kenapa!" perintah Alarik.


"Iya," jawab Flora yang tahu jika Bundanya itu selalu pingsan ketika Syok.


"Kamu tunggu di sini ya? Kakak mau di musholla dulu," pinta Alarik sambil menepuk pundak adiknya supaya tegar.


"Iya, Kak Al," jawab Flora patuh.


Alarik langsung bergegas pergi dan mengambil air wudhu, setelah itu dia sholat dan berdo'a sampai air matanya berlinang. Bahkan orang - orang yang berada di sana ikut mengamini.


Cukup lama Alarik bersimpuh, sampai tiba - tiba pundaknya ada yang menyentuh.


Alarik segera bangun, dan ternyata yang datang adalah kakak sepupunya.


"Kak Reki, kenapa bisa berada di sini?" tanya Alarik terkejut.


"Aku baru saja mengantar Orlin tes urine, dan tanpa sengaja tadi bertemu dengan Flora. Aku hanya bisa mendo'akan semoga istri dan anakmu bisa selamat semua tanpa kekurangan," jawab Reki.


Alarik langsung memeluk tubuh kakaknya dengan erat, rasanya beban yang berada dipundaknya sedikit berkurang.


"Yakinlah, Kaysa perempuan ajaib. Pasti anak yang dikandungnya juga bisa sekuat Ibunya," bujuk Reki menepuk - nepuk punggung Alarik pelan.


"Iya, aku percaya istrik dan anakku bisa melalui semua ini," jawab Alarik.


"Sudah selesai belum berdo'anya?" tanya Reki.


"Sudah," jawab Alarik.


"Kalau begitu mari kita susul Flora dan Orlin," ajak Reki.


"Iya," jawab Alarik.


Entah kenapa setelah berdoa dan pasrah pada Alloh, Alarik merasa lebih lega dan tenang.


"Alarik, kamu yang kuat ya?" ucap Orlin memberi semangat.


"Iya, terima kasih. Dan sebelumnya aku meminta maaf, mungkin nanti aku tidak bisa menghadiri pernikahan kalian," kata Alarik penuh sesal.


"Iya, tidak apa - apa. Kami bisa memahami, yang terpenting adalah do'a dari kalian," jawab Orlin tersenyum ramah.


"Iya, Alarik. Kehadiran bayimu nanti juga sudah merupakan hadiah terindah bagi kami. Entah kenapa aku berharap nanti anak kamu senakal Kaysa, pasti akan mengasyikkan sekali," canda Reki.

__ADS_1


Alarik langsung tersenyum, dia tidak peduli seandainya nanti anaknya nakal seperti ibunya. Baginya yang terpenting anaknya bisa hidup sehat dan bahagia.


"Flora, apa kamu sudah menghubungi Ayah?" tanya Alarik penasaran.


"Sudah, ternyata Ayah juga sedang dalam perjalanan ke sini," jawab Flora.


"Benarkah?" tanya Alarik seolah tidak percaya.


"Iya, Kak Al," tegas Flora.


"Lalu bagaimana dengan Bunda? Apa sudah tahu?" tanya Alarik semakin cemas.


"Sepertinya sudah tahu, tapi aku hanya bilang jika Kak Kaysa di rumah sakit karena merasa mau melahirkan. Aku takut mereka gelisah," jawab Flora.


"Kamu memang adik yang pintar, tidak perlu memberitahukan soal kejadian tadi. Biar mereka tahunya Kaysa dan baby baik - baik saja dan proses persalinan berjalan normal," puji Alarik.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Zhia sebagai seorang Bunda memiliki hati yang lebih lembut dan halus, begitu mendengar jika putrinya mau melahirkan dia tiada henti terus berdo'a dalam hati.


Apalagi Zhia sudah beberapa kali pernah melahirkan, jadi dia tahu jika detik - detik saat persalinan tersebut terasa sangat menyakitkan.


Syauqi yang tahu kegelisahan hati istrinya langsung memeluk serta mencium kening Zhia.


"Jangan dijadikan beban pikiran, yakinlah pasti Kaysa bisa melalui semua itu dengan baik. Lagi pula kamu saja sudah bisa melahirkan tiga anak, sedangkan Kaysa memiliki fisik yang lebih kuat darimu pasti lebih lancar lagi," bujuk Syauqi.


"Walaupun mencoba untuk tidak memikirkan tapi tetap kepikiran. Mas Syauqi seorang lelaki, mana tahu rasanya melahirkan," sindir Zhia sedikit kesal.


"Iya... Aku memang belum pernah melahirkan. Tapi seorang lelaki juga merasakan saat - saat menyakitkan, yaitu di sunat," balas Syauqi.


"Sudah, lebih baik diam saja! Kalau mengucapkan sesuatu yang menyebalkan lagi akan aku sunat sampai habis," jawab Zhia kesal karena melahirkan di anggap enteng.


Padahal niat Syauqi hanya menghibur saja, tapi siapa sangka istrinya itu menjadi kesal.


"Yakin mau menyunatku sampai habis? Nanti yang rugi sendiri siapa?" goda Syauqi.


Zhia memalingkan wajahnya ke arah jendela, kini dari dalam pesawat yang terlihat hanyalah gumpalan awan.


"Sudah, jangan cemas begitu. Lagi pula Kaysa melahirkan dengan cara operasi Caesar," bujuk Syauqi.


"Operasi?" pekik Kaysa kaget.


"Iya, putrimu itu ingin menjaga agar penampilannya tetap bagus," kata Syauqi sesuai yang dikatakan oleh Flora tadi.


Zhia memahami jika putrinya memang selalu menjaga penampilannya dengan baik sejak kecil, jadi setelah mendengar semua itu dia agak lega. Dalam hatinya berharap semoga semuanya baik - baik saja.


"Setelah ini kita akan mendapatkan sebutan baru, yaitu Nenek dan Kakek," kata Syauqi seakan tak percaya.


"Memang sudah tua ya harus menyadarinya," balas Zhia.


"Ya kamu benar, kita sudah tua. Tapi kenapa aku selalu merasa masih muda seperti saat kita awal bertemu dulu. Apalagi wajahmu juga tidak banyak berubah, tetap menawan," goda Syauqi.


Zhia kesal, tapi tidak bisa menahan tawanya. Sebab suaminya itu memiliki kenarsisan tingkat dewa.


"Mungkin sebentar lagi Anggun juga akan melahirkan," ucap Syauqi.


"sepertinya baru menginjak delapan bulan, aku jadi curiga Kaysa kenapa - napa," ujar Zhia yang baru ingat usia kandungan putrinya.


Mendengar ucapan istrinya seketika Syauqi menjadi gelisah dan cemas melebihi Zhia tadi.


**Alhamdulillah akhirnya bisa lanjut juga menulis Cinta Yang Terpaksa Ini. Saya mohon maaf sebesar - besarnya ya pada kalian semua karena sudah membuat kalian menunggu lama🙏🙏🙏🙏


Untuk Scorpio akan dilanjutkan setelah Novel ini tamat terlebih dahulu. Karena Author tidak bisa melanjutkan tiga novel sekaligus😭


Perkiraan akhir bulan ini Cinta Yang Terpaksa sudah tamat. Jadi Scorpio bisa lanjut tanggal 1 Juli nanti.


Saat ini saya baru bisa fokus pada dua novel dulu, yaitu CINTA YANG TERPAKSA di Mangatoon / Noveltoon dan RANTAI PERNIKAHAN BERKARAT Di IN*NO*VEL / DRE*AM.


Ini BAB pertama dari Rantai Pernikahan Berkarat ya🤗 semoga kalian suka dan juga baca.


BAB 1. Pernikahan Berkelabu


Kejora memaksakan diri untuk sebisa mungkin tersenyum manis pada semua tamu undangan. Dia juga harus tetap bersandiwara jadi perempuan yang paling bahagia di dunia ini. 


Beberapa menit yang lalu Kejora sudah berganti status, menjadi istri dari pemuda yang tidak dikenalnya. Bahkan dia bertemu dengan suaminya saat ijab kabul sedang berlangsung. 


Sebenarnya Kejora belum siap menikah dan masih ingin fokus kuliah. Beasiswa yang dia dapat dari hasil kerja kerasnya selama ini menjadi sia - sia. Kedua orang tuanya memiliki watak yang kolot, mereka tidak ingin digunjingkan para tetangga karena memiliki putri perawan tua. Padahal saat ini kejora baru berumur 20 tahun.


Bagi Kejora hal itu bukan sesuatu yang memalukan untuk melajang, sebab banyak kakak senior yang sudah berusia 25 tahun masih belum menikah. Namun apalah daya, tanpa persetujuan darinya orang tuanya tetap mengatur pernikahan dan penyebarkan undangan. 


Setelah acara pernikahan selesai, Kejora langsung dibawa menuju rumah suaminya. Di sepanjang perjalanan suasananya terasa membeku, karena Haidar hanya diam membisu. Jangankan Membuka Mulut, menoleh ke arahnya saja pemuda itu tidak berkenan. 


Sesampainya di rumah yang ukurannya lumayan besar itu Kejora mendapatkan sambutan hangat dari keluarga dan kerabat barunya. Meskipun begitu, di tempat yang asing sudah membuat Kejora tidak betah.

__ADS_1


"Salam kenal Kak Kejora. Perkenalkan namaku indah, aku adiknya Kak Haidar. Dan yang di sampingku adalah Hidayat, dia suamiku," sapa gadis bernama Indah itu dengan senyuman hangat. 


"Iya, salam kenal juga," jawab Kejora membalas dengan senyuman tulus. 


"Indah, kakak iparmu pasti kecapean. Cepat antarkan dia menuju kamar. Dan untuk Haidar kamu di sini terlebih dahulu, Papa mau mengobrol sebentar," kata Pak Imron, dengan sikap berwibawanya. 


"Iya, Pa," jawab Indah dan Haidar patuh. 


Kejora langsung diajak indah menuju ke kamar barunya, adik iparnya punya watak ramah dan periang, buat Kejora sedikit merasa senang. 


"Ini kamarnya Kak Kejora, pasti deg-degan menunggu nanti malam kan?" goda Indah. 


"Memang nanti malam ada apa?" tanya Kejora tak mengerti. 


"Ah, kakak iparku ini lucu sekali. Masa iya tidak tahu apa yang dilakukan pada malam pertama bagi pengantin baru," sela Indah menahan tawa. 


"Sudah, jangan bahas hal yang memalukan lagi! Terima kasih ya sudah mengantarku sampai di sini," jawab Kejora pura-pura tersipu malu layaknya pengantin perempuan pada umumnya. 


Setelah Indah berpamitan pergi, Kejora segera menutup pintu. 


Kedua matanya hanya bisa memandang risih saat melihat kamar barunya seperti kamar pengantin yang di atas ranjangnya banyak taburan bunga mawar merah. 


Beberapa detik kemudian, terdengar suara ketukan dari pintu. Setelah di buka ternyata adalah pelayan dari rumah ini yang membawakan seluruh barang-barangnya. 


"Ini barang-barang Mbak Kejora, mau ditaruh di mana? Ada yang bisa dibantu?" 


Kejora terkejut, sebab dia merasa tidak mengemasi barang-barangnya.


"Tidak, terima kasih. Taruh di sini saja, biar aku sendiri yang membereskan," jawab Kejora menerima sopan. 


Awalnya Kejora berniat tidak membawa apa pun saat ke sini, agar paginya bisa pulang ke rumah dengan alasan mengambil pakaian dan barang yang lainnya. Namun rupanya orang tuanya sudah menyiapkan terlebih dahulu dan mengirimnya ke sini. 


"Ayah dan ibu tidak ingin melihat putrinya lagi, semua barang milikku di kamar sudah terbungkus rapi di sini," Gumam Kejora merasa kecewa. 


Kejora merasa lelah hati dan lelah pikiran. Badan juga terasa pegal-pegal karena sudah seharian ini memakai gaun pengantin dan riasan yang berat sekali. Kejora memutuskan mandi dan berganti pakaian dengan baju tidur. 


Setelah membereskan barang-barangnya, Kejora memilih untuk tiduran di sofa. Dia mengambil buku Diary dan mulai mengadu padanya.


Dear Diary


Aku kini menjadi seorang istri dari seseorang yang tidak mencintaiku. Apakah aku mampu menjalani kehidupan yang tidak aku inginkan ini? Selama ini aku tidak pernah punya kebebasan untuk memilih kebahagiaanku sendiri. Aku manusia biasa, biarpun aku perpura-pura tangguh tetap saja aku memiliki batas kelemahan.


Setelah mencurahkan isi hatinya pada sahabat biayanya kejora segera menyimoannya, dalam sekejap Kejora sudah terlelap karena kelelahan.


Saat tengah malam Kejora merasakan jika tubuhnya melayang, saat terbangun dia sudah berada di atas ranjang dan sedang dicumbu oleh suaminya. Kejora bisa mencium bau alkohol yang menyengat dari napas Haidar. 


"Sebentar, aku masih belum siap!" kata Kejora kesulitan bernapas karena bibirnya di ***** habis.


"Kamu istriku, aku bebas melakukan apapun terhadapmu," jawab Haidar dingin. 


Tangan pemuda itu langsung mencengkeram kedua lengan Kejora, dan dengan penuh nafsu Haidar mencium bibir juga lehernya. Tenaga kejora tidak cukup untuk mempertahankan diri dari serangan yang buas, pakaiannya langsung robek saat ditarik oleh Haidar.


Ironis sekali, malam pertamanya justru pantas disebut menjadi tragedi pemerkosaan. Andaikan dia mengadu pada polisi atau orang lain mungkin dia hanya akan menjadi bahan tertawaan. 


Haidar tanpa ampun terus melancarkan aksinya, sampai di suatu titik bagian yang selama ini di jaga dengan tiba - tiba terasa sakit karena ada benda keras yang menjebolnya. Kejora hanya bisa merintih kesakitan. Kemudian Haidar berubah lembut saat Kejora mulai menangis. 


Meski Haidar sudah pelan-pelan, tapi tetap saja Kejora kesakitan. Apalagi saat bagian tubuh Haidar yang keras menerobos masuk ke daerah paling sensitif miliknya. 


Semakin lama rasa sakit yang dirasakannya berubah menjadi nikmat yang luar biasa. Namun luka batinnya lebih terasa memilukan. Karena kesuciannya telah lenyap pada pemuda yang sama sekali tidak dicintainya.


Setelah cukup lama, Kejora merasakan ada cairan yang masuk. Seperti ombak badai yang menerjang, seluruh tubuh Kejora bergetar saat dia klimaks berbarengan dengan Haidar. Suaminya ini masih bersandar menindih tubuh bugilnya dengan keringat yang bercucuran, baru kemudian pemuda itu beralih dan membalikkan badan kemudian tertidur tanpa sepatah kata. 


Kejora bangkit dari tidurnya, tubuh langsingnya terasa remuk, selangkangannya juga terasa perih. Kejora melangkah perlahan-pelan menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Seluruh tubuhnya dipenuhi dengan bekas merah akibat ulah suaminya. 


Adegan tadi masih terbayang dengan jelas, seperti serigala buas yang hendak menerkam domba. Lalu tiba-tiba berubah lembut saat mulai penyaluran. Namun setelah mendapatkan kepuasan berubah dingin dan berwajah kaku lagi.


Setelah mandi Kejora berniat tidur, dia melihat bercak darah di atas sprei. Hatinya pilu, ada rasa luka yang tak bisa diucapkan. Perasaan seperti menjadi sampah yang tak memiliki nilai. Meskipun keperawanannya di renggut oleh suaminya sendiri. 


Kejora berjalan tertatih-tatih menginjak bunga mawar yang berserakan di lantai. Entah kenapa, semenjak hari itu dia sangat membenci dengan bunga tersebut. Baginya mawar merah akan selalu mengingatkan tentang kejadian memalukan malam ini. 


"Mereka dusta, kata teman-teman yang sudah menikah duluan jika malam pertama adalah kenangan terindah tak terlupakan. Nikmat apanya? Kalau terasa menyiksa iya," gumam Kejora pada diri sendiri. 


Kejora memilih tidur di sofa lagi, biarpun sempit tapi dia lebih nyaman dari pada tidur bersebelahan dengan pemuda yang tidak menganggapnya ada.


Secara perlahan Kejora terpejam dengan sendirinya. dia merasa lelah seakan seluruh energinya terkuras habis. Dalam tidurnya Kejora bermimpi malam sebelumnya terulang kembali. Tiba-tiba air matanya menetes di tengah tidur lelapnya.


Rupanya dalam mimpi sekalipun Kejora masih tidak diizinkan untuk bahagia. Dia bermimpi terkurung dalam ruangan yang gelap. Kejora merasa sesak dan ketakutan sekali.


"Ayah... Ibu.. tolong aku. Keluarkan aku dari tempat yang menyeramkan ini."


Kejora langsung terperanjat, saat terbangun dia melihat suaminya sedang duduk dan memperhatikan dia dengan tatapan aneh. Tanpa sepatah kata Haidar tidur lagi**.


Besok akan ada kisi kisi bab dua juga ya🤗

__ADS_1


__ADS_2