
Di cafe ketiga generasi Syauqi mengobrol dengan kepala polisi.
"Pak Martin, kali ini justru Kamilah yang lebih dulu mendapatkan alamat markas Roji," ucap Yudistira bangga.
"Kalian memang hebat, kami selalu telat satu langkah dengan kalian. Jika orang tua kalian tahu pasti mereka akan sangat bangga," jawab Martin senang sebab tugasnya bisa segera terselesaikan.
"Eh, jangan dong. Nanti kami malah semakin diperketat dan tidak bisa keluar," sela Arka.
"Iya, tahu. Tapi jujur saja aku mengucapkan terima kasih karena bantuan kalian, jadi malam ini akulah yang akan mentraktir kalian," jawab Martin bangga.
"Tapi Roji bukankah seseorang yang mudah ditangani, biarpun sudah menemukan markasnya jangan langsung di sergap. Karena bisa saja dia memiliki sesuatu lain yang tidak terduga. Akan lebih baik jika Pak Martin menyuruh anak buah yang paling handal untuk berpura-pura ikut judi sekedar menggali informasi lebih banyak lagi. Jadi nanti bisa sekaligus memberantas," saran Sagara.
"Wah, kadang Bapak heran terbuat dari apa otak kalian ini," decak Martin heran.
"Sebenarnya aku ingin sekali ke sana, tapi waktunya yang tidak ada," keluh Arka yang menyukai kehebohan.
"Jangan, di sana terlalu berbahaya. Kalau sampai kalian kenapa-napa aku bisa dibunuh kakek kalian," jawab Martin ketakutan.
Jika sudah mengingat nama Syauqi tentu saja membuat orang yang mengenalnya menjadi gentar.
"Ya sudah, kalau begitu kami pamit pulang dulu ke asrama," sela Yudistira.
"Baiklah, bapak juga sudah mengantuk sekali. Kalian hati-hati di jalan ya," jawab Martin.
**********************************
Seperti biasanya, mereka setelah berkeliaran malam akan melewati jalan yang berlawanan arah menuju Vila milik kakek mereka. Meskipun agak jauh tapi tetap dirasa lebih aman.
Sekolah di Andromeda memang memiliki peraturan ketat, di sana juga diberi ilmu pengetahuan seperti di pondok pesantren.
Setelah meletakkan motor ke tempat persembunyian, mereka langsung berjalan kaki melewati jalan setapak menuju dinding yang tinggi untuk kembali ke asrama.
Yudistira dan Arkananta sudah duluan naik ke atas, sedangkan Sagara justru sibuk menggaruk-garuk kakinya yang gatal di gigit nyamuk. Sayangnya saat dia sudah mau melepaskan busur talinya, dari kejauhan terlihat cahaya senter milik penjaga malam yang biasa berkeliling.
"Penjaga, kalian masuklah duluan!" pekik Sagara berlari pergi.
Namun, hal itu membuat para penjaga mendengar suara berisik, Sagara segera berlari. Walaupun di kejar akan tetapi belum sempat ketahuan.
"Wah celaka, kalau ketahuan bisa kena marah kakek ini," batin Sagara.
__ADS_1
Karena dia ingat jika di depan sudah tidak ada jalan lain melainkan tebing, diapun nekat melepaskan busur talinya ke dinding dan langsung naik ke sana.
Saat meloncat ke bawah ternyata dia masuk ke asrama putri.
Tepat pada saat itu ada seorang gadis yang sedang menyendiri sambil menghafalkan pelajaran. Gadis tersebut hendak berteriak, secepat kilat Sagara menyergap dan membungkam mulut gadis tersebut menggunakan tangannya.
"HM...HM..." teriak gadis itu tertahan.
"Diamlah, jika tidak aku akan membunuhmu!" bisik Sagara.
Sagara tahu jelas jika seorang lelaki tidak boleh menyentuh perempuan lain sembarangan, tapi kali ini dia benar-benar terpaksa. Sebab jika gadis di depannya ini sampai berteriak tentu saja dia akan dikira maling dan akan di keroyok masa penghuni asrama putri.
"Jika kamu tidak akan berteriak aku akan melepasmu," perintah Sagara tegas.
Gadis itu hanya mengangguk sebab sudah sangat ketakutan. Dalam hati Sagara ingin tertawa sebab aktingnya benar-benar bagus.
Sagara melepaskan tangannya, dan saat itu gadis yang barusan disergap menatap wajahnya yang tertutup masker dan kaca mata hitam.
"Apa niat kamu datang kemari?" tanya gadis itu terbata-bata.
"Tidak ada niat apa-apa," jawab Sagara santai.
Sagara belum berani keluar, sebab dia mendengar suara para penjaga malam yang masih berseliweran.
"Kamu cerewet sekali, sudah diam saja. Dan lakukanlah apapun seperti saat aku tidak ada. Tapi sebelum aku pergi kamu juga tidak boleh pergi!" jawab Saga tegas.
Sagara sebenarnya tidak tega juga malam-malam menindas seorang gadis yang terlihat lemah, hanya saja dia khawatir jika melepaskan gadis itu bisa saja dia dilaporkan.
Beberapa saat kemudian datang seorang gadis remaja yang jauh lebih kecil, gadis itu adalah Fayyola. Dalam sekejap mata tentu saja Fayyola mengenali kakak sepupunya.
"Kak Saga? Ngapain kemari?" tanya Fayyola.
"Eh, kamu juga ngapain kemari?" tanya Sagara terkejut.
"Aku mau memanggil kak Sarah, teman sekamarku," jawab Fayyola.
"Fayyola, jadi dia kakakmu? Untunglah, aku kira maling," sela gadis yang bernama Sarah.
"Apa ada maling yang setampan aku?" sergah Sagara membual masker, kaca mata hitam dan topinya.
__ADS_1
Sarah terkejut, dalam sekejap gadis itu langsung tersipu malu.
"Kak Saga jangan membuat Kak Sarah ketakutan," bujuk Fayyola.
"Fayyola, mengenai kejadian ini jangan bilang pada kakek atau siapapun ya?" pinta Sagara.
"Iya," jawab Fayyola paham dengan sikap kakaknya.
"Bagus, anak pintar. Kakak ke sini hanya karena menghindari para penjaga malam. Kalau mereka sudah pergi aku juga akan segera pergi," balas Sagara.
"Apa kalian saling mengenal?" tanya Fayyola penasaran.
Sagara dan Sarah hanya menggeleng dalam waktu yang bersamaan.
"Eh, kenapa kalian malam-malam bisa di luar kamar?" tanya Sagara heran.
"Kalau di sini boleh kak, asalkan tidak sampai keluar dari batasnya," jawab Fayyola.
Diam-diam Sagara merasa iri, sebab ditempatnya sangat ketat.
Setelah merasa jika di luar para penjaga sudah pergi, Sagara juga segera berpamitan.
"Aku kembali dulu, dan kamu juga segera masuk. Angin malam tidak baik untuk kesehatan," ucap Sagara.
Sagara dengan cueknya melepaskan busur talinya dan naik ke dinding tanpa mengucapkan permintaan maaf kepada Sarah terlebih dahulu.
"Malam ini benar-benar sial," gumam Sagara.
Setelah berhasil kembali ke asramanya sendiri, ternyata kedua saudaranya sudah tidur nyenyak.
"Heh, kalian bisa-bisanya tertidur nyenyak tanpa aku!" bentak Sagara marah.
"Kamu ini jenius, hanya lari dari para penjaga itu hal yang paling mudah," jawab Yudistira asal-asalan sambil setengah tidur.
"Diam kalian, jika besok aku tidak bisa bangun salah kalian!" sela Arkananta yang sudah sangat mengantuk.
Sagara menyimpan tenaganya sendiri utnuk tidak marah, apalagi ini juga sudah hampir jam 12 malam.
Sagara segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu dia pun juga ikut tidur. Tapi tiba-tiba saja dia teringat lagi dengan gadis bernama Sarah yang ketakutan saat di ancam.
__ADS_1
"Apa seja gadis itu penakut?" batin Sagara merasa lucu.
Meskipun begitu jika diingat-ingat Sarah cukup cantik juga, memakai gamis dan jilbab warna ungu muda. Hanya saja kalau dibandingkan dengan adiknya sendiri, yaitu Fayyola tentu saja masih kalah jauh. Karena walaupun masih kecil tapi kecantikan Fayyola di atas rata-rata.