
Hujan semakin deras, membuat orang yang tengah tidur semakin terlelap.
Begitu juga dengan Zhia yang sedang bermimpi indah dalam dekapan suaminya.
Namun Syauqi sendiri masih terjaga karena mendengar suara dari kamar sebelah yang terdengar menarik.
**************************************
Asal suara tak lain dari kamar yang ditempati Nindy.
"Nindy, apa kamu lihat rumah tangga Syauqi dan Zhia sekarang? Mereka kelihatan sangat harmonis walaupun pada awalnya terpaksa," kata Dony menatap wanita di depannya.
"Lalu maksudmu apa?" tanya Nindy santai.
"Apa yang dilakukan Syauqi pada Zhia memberiku inspirasi, supaya kamu tak menolak lamaranku lagi," jawab Dony tersenyum penuh kemenangan.
Mantan cowok playboy itu mendekati Nindy dengan senyum nakalnya. Dia juga memojokkan Nindy ke dinding dan ingin mencium paksa.
Akan tetapi dengan tenaga yang kuat Nindy mendorong tubuh Dony. Sampai tubuh pemuda di depannya terjungkal ke belakang.
"Kuat juga kamu, sepertinya akan semakin menarik," goda Dony tak mau menyerah.
Niat hati ingin memeluk Nindy. Namun siapa sangka Wanita cantik itu sudah mempersiapkan tinju tepat di mata kiri Dony, kemudian disusul pukulan lagi mengenai perutnya.
Dony terhuyung menahan sakit.
"Kau pikir dirimu sehebat Syauqi? Dan kamu harus tahu juga aku bukan tipe wanita yang lembut dan baik hati seperti Zhia. Jika kamu berani macam-macam padaku maka tak segan aku menggunting kemaluanmu sampai habis" ancam Nindy sambil mengambil gunting dari dalam tasnya.
"Jangan main-main dengan guntingmu sayang. Kalau beneran dipotong nanti kamu sendiri yang rugi," jawab Dony masih ingin menggoda.
"Tak sadarkah mata kirimu yang biru seperti Zombie? Baiklah akan ku tonjok lagi mata kananmu jika dalam 10 detik aku masih melihat wajahmu di sini!" ancam Nindy.
Sebenarnya bukan karena Dony takut dengan Nindy, tetapi dia sudah merasa malu dengan penampilannya yang sekarang. Segera Dony menuruti kemauan Nindy, tapi tangannya tidak sampai di atas lemari yang terlalu tinggi.
"Lihatlah, aku nggak bisa mengambil kuncinya. Bagaimana kalau aku menginap di sini dulu. Aku janji tidak akan menyentuhmu," ucap Dony dengan tampang memelas.
"Kamu pikir aku bodoh mau tidur sekamar dengan cowok mesum sepertimu?" bentak Nindy kesal.
"Lalu bagaimana lagi cara mengambilnya?" tanya Dony yang juga bingung.
"Kamu jongkok di depan lemari, biar aku yang ambil!" perintah Nindy yang terpaksa membantu.
Dony menurut saja, dia berposisi seperti perintah Nindy. Kemudian Nindy menginjak kedua pundak Dony dan mengulurkan tangannya ke atas Lemari.
"Cepat Nin, kau sangat berat sekali,"protes Dony serius.
"Sebentar lagi," jawab Nindy yang masih berusaha mengambil.
Beberapa detik setelah berhasil mengambil kunci entah bagaimana yang terjadi tapi Nindy tergelincir dan jatuh di atas Dony.
posisinya Nindy terduduk tepat di atas paha Dony.
"Nin, ada sesuatu yang aneh pada burungku," gumam Dony.
__ADS_1
Nindy baru sadar jika dia menduduki sesuatu yang terasa mengganjal. Wajahnya langsung memerah menahan malu, dia langsung berdiri dan melemparkan kuncinya ke perut Dony.
"Dasar pikiran kotor, semua gara-gara kamu. Cepat keluar!" bentak Nindy marah.
Dony berdiri dan keluar dari kamar. Dia sangat kecewa karena rencananya gagal total.
*************************************
Syauqi duduk di sofa menyambut Dony dengan tawa yang mengejek.
"Sejak kapan kamu di situ?" tanya Dony kaget.
"Sejak mendengar suara orang yang sedang di hajar," sindir Syauqi.
"Ah dasar tukang menguping kamu," umpat Dony kesal.
"Tanpa aku menguping dari dalam kamarku sudah terdengar jelas," balas Syauqi.
"Zhia tidak tahu kan? Bisa malu aku," tanya Dony cengengesan.
"Untung istriku sudah tidur, kalau tidak sebagai temanmu aku merasa malu juga," maki Syauqi.
"Ah semua ini kan inspirasi darimu," balas Dony tak mau kalah.
"Tapi kamu bukan levelku dalam urusan seperti ini," ejek Syauqi lagi, dia sangat puas jika membuat Dony kesal.
"Tega sekali, bukannya membantu malah terus menyudutkanku seperti ini. Teman macam apa kamu ini," sungut Dony sambil menyalakan rokoknya. Pemuda itu mengulurkan rokoknya pada Syauqi tapi ditolak.
"Ah pamer, mentang-mentang sudah punya istri," sindir Dony karena iri.
"Makanya punya otak digunakan dong, kalau mau menangkap burung ya pilih umpan sesuai dengan jenisnya," ungkap Syauqi menggurui.
Dony hanya menyimak karena temannya ini tak pernah meleset dalam setiap perencanaan.
"Lalu aku harus bagaimana, Bro?" tanya Dony yang masih belum mengerti.
"Jika kulihat sepertinya Nindy juga menyukaimu, tapi dia masih ragu karena kamu mendapat predikat cowok playboy. Untuk menyadarkannya mulai besok jangan pernah hubungi dia lagi, seandainya bertemu pura-pura tak mengenalnya!" tutur Syauqi.
"Apa akan berhasil?" tanya Dony tak yakin.
"Cobalah dulu, tapi meskipun kamu mengabaikan dia jangan pernah kamu dekat dengan wanita lain!" saran Syauqi.
"Semenjak aku kenal Nindy aku juga tidak berselera menggoda gadis lain," jawab Dony membela diri.
"Terserahlah, aku ingin tidur sambil memeluk istriku yang cantik dulu," pamer Syauqi sambil berdiri meninggalkan Dony.
"Kampret," umpat Dony kesal.
"Nasib jadi bujangan, cuaca dingin seperti ini gak ada teman tidur," batin Dony.
Selesai merokok Dony masuk ke kamar yang sudah disiapkan untuknya, dia mencoba merenungi saran dari Syauqi. Setelah dipikir-pikiir masuk akal juga. Dengan Dia menghindar dari Nindy mungkin gadis yang dicintainya akan merasa kehilangan dan mencarinya.
***************************************
__ADS_1
Setelah sholat subuh Zhia mengajak tamunya jalan pagi.
Langit masih gelap dan udara juga dingin. Syauqi dan Zhia berjalan sambil bergandengan tangan.
Sedangkan Dony dan Nindy jalan sejajar tapi hanya diam.
"Mas Dony, apa yang terjadi denganmu?Kenapa matamu bengkak sebelah?" tanya Zhia penasaran.
"Semalam aku jatuh," jawab Dony berbohong.
Sahabat Syauqi itu malu jika Zhia tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Sudahlah, Istriku sayang. Jangan hiraukan dia, ayo sebentar lagi sampai," ucap Syauqi mengalihkan perhatian.
Syauqi juga takut nanti dikira rencana bodoh Dony semalam adalah saran darinya. Pasti istrinya akan marah karena membela temannya.
Sesampai di sana Nindya berteriak karena senang.
"Woy... ada orang di sana?" teriak Nindy keras.
"Jangan bikin malu Nin, di bawah adalah perkampungan penduduk. Nanti dikira ada apa-apa," tegur Syauqi.
"Eh sorry, saking senangnya aku," jawab Nindy Cengengesan.
Kini Nindya sudah tak takut lagi seperti dulu, dia juga tak merasa cemburu melihat kemesraan antara Syauqi dengan Zhia.
Karena Nindy udah move on.
"Nindy, di bawah ada pasar tradisional lo, ada banyak sekali penjual jajanan super enak," ucap Zhia pada Nindy.
"Benarkah? Tapi lain kali saja aku ikut ke sana. Nanti setelah ini aku harus kembali kebutik," tolak Nindy halus. Nindya sengaja berbohong.
"Sialan, gara-gara semalam Dony mengatakan aku sangat berat membuat nafsu makanku jadi hilang. Apakah aku gendut?
Eh, apa hubungannya? Aku gendut atau tidak juga tak ada hubungannya dengan cowok playboy itu," gumam Nindya pada diri sendiri.
Setelah mereka berempat puas menikmati pemandangan, mereka kembali ke Vila.
"Nin, aku merasa ada yang aneh denganmu dan Mas Dony. Kenapa kalian dari tadi tak mengobrol sama sekali?" tanya Zhia penasaran.
Karena Dony dan Nindya biasanya selalu bercanda dan saling mengejek.
"Aku hanya lagi malas aja denganya," jawab Nindy, dia benci mengingat kejadian semalam dan dia juga tak ingin ada orang lain yang tahu.
"Aku heran, dulu kamu bilang ada rasa suka pada Mas Dony. Tapi setelah kamu dilamar malah menolak. Mau kamu apa?Jangan sampai Lo menyesal karena Mas Dony move on darimu dan mendapat wanita lain. Dia kan juga tampan dan mapan, pasti banyak yang mau" ucap Zhia menasihati.
Nindy hanya diam merenung.
"Aku sendiri juga tak tahu maunya apa, dibilang tak suka ?.. tapi aku suka. Dibilang Mau menerima lamarannya? aku juga tak bisa menerima karena masih ragu, aku takut jika sifat playboy nya sulit dihilangkan.
Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like, Vote dan beri rating Bintang 5 ya🙏 Karena dukungan dari kalian semua sangat berarti bagi Author.
Mohon kritik dan sarannya semoga Novel CINTA YANG TERPAKSA bisa berkembang lebih baik lagi🤗
__ADS_1