
Pagi harinya
Selesai sarapan Ketiga anak remaja yang mau mendaftar masuk SMA itu segera berpamitan kepada orang tua mereka untuk berangkat.
“Ingat, sebelum menjawab tes baca do'a dulu ya!” Kata Zhia lembut.
“Iya,” jawab mereka bertiga kemudian segera masuk ke mobil.
“Semoga berhasil,” ucap Elly ceria.
Mobil keluarga Syauqi yang membawa ketiga anak remaja itu mulai berjalan meninggalkan pekarangan rumah.
“Dek Syauqi, kamu tampak tenang sekali,” kata Fauzi.
“ Karena aku percaya mereka,” jawab Syauqi santai.
“Anak-anak kamu memang luar biasa, sangat cerdas,” puji Fauzi tulus.
“Aku sangat penasaran kejutan apa saja yang akan diberikan si kembar itu setelah mulai sekolah,” timpal Elly tertawa.
Kaysa dan Syadev memang pasangan pembuat onar. Entah ada-ada saja alasan sampai mereka harus membuat kedua orang tuanya di panggil wali kelas.
Sebenarnya Syadev adalah anak yang suka ketenangan, tapi jika melihat saudara perempuannya bermasalah pemuda itu tidak tahan jika hanya berdiam diri.
“Aku berharap sekarang mereka berdua bisa lebih dewasa lagi saat menghadapi masalah,” kata Syauqi.
“Amin, kalau begitu kami pamit pulang dulu ya, assalamualaikum,” ucap Elly dan suaminya berlalu pergi.
“Wa ’alaikumsalam,” jawab Syauqi dan Zhia bersama.
“Ayah tidak berangkat ke kantor?” tanya Flora yang tiba-tiba sudah di belakang orang tuanya.
“Tidak, sayang. Hari ini Ayah mau libur dulu,” jawab Syauqi sambil menggandeng tangan putrinya masuk ke rumah.
“Sebentar lagi Flora juga masuk sekolah ya? Pengen beli apa untuk kebutuhan sekolah? Tas, sepatu, atau apa?” tanya Syauqi perhatian.
“Jangan dulu, Mas Syauqi! Karena kado semalam belum di buka, siapa tahu isinya ada sepatu dan tas,” sela Zhia.
“Baiklah, ayo kita buka kadonya bersama-sama,” ucap Syauqi bersemangat.
Hadiah ulang tahun Flora banyak sekali, isinya boneka, baju, tas, sepatu dan macam-macam.
“Tuh kan, belum beli sudah dapat hadiah tas dan sepatu banyak,” kata Zhia.
“ Ini terlalu banyak, Bunda, Ayah. Flora tidak mungkin memakai semuanya,” ucap Flora manis.
“Pilihlah yang kamu suka, sisanya kita berikan saja pada yang membutuhkan,” kata Syauqi bijaksana.
“Iya, dari pada di simpan itu namanya mubazir,” timpal Zhia.
“Iya, Bunda, Ayah,” jawab Flora patuh.
Anak bungsu mereka memang berbeda. Sifatnya pemalu, penurut dan lembut. Persis seperti Bundanya. Hanya saja soal kecantikan masih lebih unggul kakak perempuannya. Meskipun begitu Flora tetap terlihat cantik.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Sekolah Nusantara memang sangat besar. Dan yang mendaftar sekolah di sana ada ribuan anak. Namun setiap tahunnya sekolah itu hanya menerima 350 siswa baru.
Di gerbang sekolah Darren sudah menunggu, mereka berempat langsung masuk karena takut kehabisan formulirnya.
“Dua jam lagi kita tes tertulis, sekarang kita mau ngapain dulu?” tanya Darren meminta pendapat.
“Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja berkeliling melihat calon kelas kita,” saran Zahra.
“Itu ide bagus,” timpal Kaysa riang.
“Aku malas sekali,” sergah Syadev.
“Kamu selalu merusak suasana,” kata Kaysa kesal.
“Lagian sebentar lagi kita juga akan sekolah di sini,” jawab Syadev ketus.
Karena yang satu tidak mau, akhirnya mereka tidak jadi berkeliling sekolahnya.
“Darren, Zahra. Sebaiknya kalian gunakan waktu ini untuk belajar. Bukan aku meremehkan tapi sepertinya tes ini akan sulit,” ucap Syadev serius.
Darren dan Zahra menyadari jika nilai mereka selama ini sedang-sedang saja.
“Aku tidak bawa buku,” ucap Zahra.
“Kan bisa belajar lewat internet,” ketus Kaysa memberi ide.
“Oh iya, aku sampai lupa, “ jawab Zahra nyengir.
“Kita duduk di depan kantor saja yuk, sepertinya nyaman,” kata Darren.
Mereka kemudian duduk lesehan di atas lantai.
Belum ada setengah jam, tapi Kaysa sudah merasa jenuh.
“Aku bosan!” ucap Kaysa.
“Kapan kamu tidak pernah merasa bosan?” sindir Syadev.
“Mulutku rasanya ingin mengunyah sesuatu,” kata Kaysa tidak memedulikan adik kembarnya itu.
“Sebentar, aku punya sesuatu untukmu,” kata Darren sambil membuka tasnya.
“Paling kue,” jawab Syadev mendahului.
“Kok kamu bisa tahu?” tanya Darren heran.
“Itu karena semalam aku mendengar percakapan kalian di telepon,” goda Syadev.
Wajah Darren langsung berubah karena merasa grogi.
“Apa selama ini diam-diam kalian selalu mengobrol lewat ponsel ya?” goda Syadev lagi.
Kini Darren semakin salah tingkah.
Sedangkan Kaysa sama sekali tidak mempedulikan ucapan Syadev. Dirinya terlalu fokus menikmati kue.
__ADS_1
“Bagaimana rasanya?” tanya Darren penasaran.
“Enak, sayangnya terlalu kecil kuenya,” jawab Kaysa blak-blakan.
“Baiklah besok aku belikan lagi yang besar,” kata Darren perhatian.
“Jangan! Kalau setiap hari makan kue aku bisa gendut nanti,” rengek Kaysa.
“Baiklah,” jawab Darren.
Dua jam kemudian bel tanda dimulainya tes sudah berbunyi. Mereka segera masuk ke ruangan yang sudah disediakan.
Tempat mereka berempat di seleksi berbeda-beda, jadi mereka harus berpisah menuju ruangan sesuai kartu yang sudah di dapatkan.
Tes tertulis sebanyak tiga puluh soal campuran dari macam-macam pelajaran, mereka hanya di beri waktu tiga puluh menit.
Namun bagi putri Syauqi Malik yang sangat cantik itu bukan masalah, karena meskipun anak gadis itu pembuat onar tapi soal belajar selama ini dia selalu tekun.
Dengan penuh percaya diri Kaysa keluar dari kelas. Saat dia ingin mencari teman-teman dan saudaranya tiba-tiba tubuhnya bertabrakan dengan seseorang karena jalannya berdesak-desakan di tengah keramaian.
“Aduh..” pekik Kaysa karena tubuhnya sampai terhuyung ke belakang.
“Maaf,” ucap Kaysa.
“Maaf! aku kesakitan tau,” teriak seorang gadis sebaya dengan Kaysa itu.
“Bicara sakit aku juga sama,” balas Kaysa kesal.
“Lain kali kalau berjalan hati-hati dong!” sindir gadis itu.
“Sepertinya tadi yang menabrak adalah kamu!,” jawab Kaysa ketus.
“Sudah salah malah menyalahkan orang lain,” kata gadis di depan Kaysa dengan nada tajam.
“Sepertinya kamu sedang menyindir diri sendiri ya?” jawab Kaysa tersenyum mengejek.
Tiba-tiba dari arah lain datang seorang cowok yang sepertinya juga baru keluar dari kelas tempat tes.
“Siska, ternyata kamu sudah keluar duluan. Siapa dia? Apakah temanmu?” tanya pemuda yang baru datang itu.
“Aku tidak sudi punya teman seperti dia,” jawab gadis bernama Siska ketus.
“Apa kamu pikir aku mengharap jadi temanmu?” balas Kaysa dengan wajah angkuh.
Kemudian Syadev juga muncul. Melihat kedatangan Syadev, wajah Siska langsung salah tingkah karena terpesona dengan ketampanan Putra Syauqi Malik itu.
“Kamu juga mendaftar di sini?” tanya Siska ramah.
“hem..” jawab Syadev datar.
“Yuk kita mencari Darren dan Zahra saja,” kata Kaysa sambil menyeret tangan saudaranya.
Ternyata Darren dan Zahra juga sedang mencari si kembar itu.
“Bagaimana kalian? Apa bisa mengerjakan soalnya?” tanya Kaysa pada kedua temannya.
“Setidaknya lima puluh persen aku yakin jawabannya benar. Selebihnya tinggal keberuntungan,” jawab Darren.
“Amin,” jawab Darren.
“Kapan pengumumannya?” tanya Kaysa.
“Besok malam, yang lolos bisa di cek lewat internet. Bukankah tadi sudah di jelaskan di dalam kelas?” jawab Syadev kesal.
Kali ini Kaysa hanya nyengir saja karena memang tadi tidak mendengarkan penjelasan dari penjaga tes.
“Kita pulang yuk,” ajak Zahra.
“Ayo,” jawab Syadev.
Di depan sekolahan mereka berempat sedang menunggu jemputan.
Kemudian di depan mereka berhenti mobil berwarna hitam.
“Apa butuh tumpangan?” tanya Siska ramah pada Syadev.
“Tidak perlu,” jawab Kaysa ketus.
“Aku tidak bicara denganmu!,” ucap Siska.
“Sebaiknya kamu segera pergi! Karena mobil yang menjemputku mau lewat,” kata Kaysa kesal.
“Cuh, kaya anak TK saja masih diantar jemput orang tua,” sindir Siska sambil melajukan mobilnya.
Kaysa sangat marah sekali, sepanjang jalan gadis cantik itu tidak mau berbicara.
Bahkan sampai di rumah wajah cemberutnya juga belum mencair.
“Kaysa, kamu kenapa?” tanya Zhia penasaran.
“Ayah di mana?” tanya Kaysa manja.
“Ada apa mencari Ayah, Sayang?” tanya Syauqi yang sudah di belakang Zhia.
“Dua bulan lagi ulang tahunku, aku mau hadiah mobil yang paling mewah, Ayah,” rengek Kaysa.
“Mobil? Kenapa tiba-tiba minta mobil?” tanya Syauqi heran.
“Aku bukan anak kecil lagi yang ke mana-mana diantar jemput,” jawab Kaysa manja.
“Tapi kamu masih di bawah umur,” tutur Zhia lembut.
“Pokoknya aku mau mobil!" kata Kaysa tegas sambil berlari menuju kamarnya.
“Kakakmu kenapa?” tanya Syauqi pada Syadev.
“Sepertinya tadi punya musuh baru, sama-sama cewek menyebalkan! Dia menghina Kaysa anak TK,” kata Syadev tertawa sambil berlalu pergi menuju kamarnya.
“Anak itu, belum juga mulai sekolah sudah bermasalah,” ucap Zhia lirih.
“Sudah, jangan dipikirkan. Biar semua aku yang urus,” jawab Syauqi menenangkan istrinya.
__ADS_1
“Apa Mas Syauqi juga ingin menuruti keinginan Kaysa kali ini? Dia masih di bawah umur,” sergah Zhia cemas.
“Sayang, sekarang memang jamannya seperti itu. Jangan bandingkan dengan jamannya kita,” bujuk Syauqi.
Zhia diam, dia tahu jika suaminya pasti akan menuruti keinginan putrinya itu. Karena Syauqi sangat memanjakan anak-anaknya.
Saat makan siang semua berkumpul. Namun Kaysa masih mengurung diri di dalam kamarnya.
Flora sudah mencoba membujuk kakaknya, tapi tetap tidak mau turun.
“Sudah biarkan saja, nanti kalau lapar juga turun sendiri,” kata Syadev kesal.
“Jangan seperti itu, Syadev. Dia adalah kakakmu,” tegur Zhia lembut.
“Sangat tidak pantas dia menjadi kakakku, karena sikapnya itu tidak ada dewasa-dewasanya sama sekali," jawab Syadev dingin.
“Sudah, kalian makanlah! Biar Ayah yang membujuk Kaysa,” kata Syauqi langsung pergi ke kamar putrinya.
“Kenapa tidak mau makan siang?” tanya Syauqi di depan pintu kamar putrinya.
“tidak lapar,” jawab Kaysa datar.
“Hari ini bunda memasak makanan kesukaan kamu loh?” goda Syauqi.
“Aku sedang malas makan,” jawab Kaysa cuek, kemudian menutup kepalanya dengan selimut.
“Kalau Ayah belikan mobil edisi terbaru bagaimana?” tanya Syauqi tersenyum puas.
“Aku mau... Aku mau...” teriak Kaysa sambil bangkit dari tidurnya.
“Makan dulu tapi,” pinta Syauqi lembut.
“Ayah janji dulu,” rengek Kaysa.
“Iya, Ayah janji. Setelah ini kita langsung beli,” ucap Syauqi.
“Benarkah? Ayah memang yang terbaik,” jawab Kaysa lantang karena terlalu bahagia sambil berlari memeluk Ayahnya erat.
“Ayo turun, Bunda dan adik-adikmu sudah menunggu,” tutur Syauqi.
“Terima kasih, Ayah,” ucap Kaysa lembut.
Syauqi tersenyum, karena putrinya sejak kecil selalu seperti ini. Jika ingin sesuatu selalu cemberut dan mogok makan, tapi setelah dituruti langsung ceria dan tidak berhenti tersenyum.
Syadev sudah mulai makan duluan, karena dia tidak sabar menunggu.
Saat melihat Kakak perempuannya turun dari tangga sambil tersenyum cerah Syadev sudah tahu apa yang terjadi.
“Yoo! Ada yang mau punya mobil baru nih,” sindir Syadev
“Iri ya?” ejek Kaysa.
“Tenang, kamu nanti juga dapat,” kata Syauqi lembut pada putranya.
“Yes, Terima kasih, Ayah,” kata Syadev senang.
“Tapi ingat, kalian berdua harus hati-hati! Nanti setelah punya mobil sendiri kalian dilarang balapan,” kata Zhia cemas, karena kedua anaknya itu selalu bersaing.
“Iya, Bunda,” jawab Kaysa dan Syadev patuh.
Selesai makan siang, Kaysa dan Syadev langsung di ajak Ayah mereka membeli mobil. Tidak tanggung-tanggung Syauqi menyarankan mobil Lamborghini edisi terbaru.
“Ayah tidak bercanda kan? Mobil itu harganya milyaran,” ucap Syadev seolah tidak percaya.
“Harga segitu tidak sebanding dengan kebahagiaan anak-anak ayah,” jawab Syauqi tenang.
Keangkuhan Syauqi juga masih belum hilang, sebagai seorang Ayah, Syauqi tidak rela anak-anaknya sampai diremehkan orang lain.
“Ayah memang paling keren sedunia,” puji Kaysa senang.
“Ayo kalian tinggal pilih warna,” kata Syauqi.
“Aku merah,” jawab Kaysa bersemangat.
“Aku yang biru,” timpal Syadev tak kalah bersemangat.
“Nanti ayah akan carikan pelatih mobil untuk kalian,” jawab Syauqi.
Orang-orang yang melihat hanya bisa merasa iri, membeli dua mobil mewah dibilang hanya segitu. (Jiwa miskin Author juga ikut meronta 😌)
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Malam harinya kedua saudara kembar itu sedang menata layar laptop dengan harap-harap cemas, mereka berdua di dampingi orang tua dan adik kecil mereka.
“Kenapa lama sih? katanya jam delapan malam,” sungut Kaysa.
“Diamlah, kita tunggu saja,” sahut Syadev.
Beberapa menit kemudian pengumuman sudah muncul, Syadev di urutan pertama sedangkan Kaysa di urutan ketiga.
“Yuhuu... Aku nomor satu, lihat kan? Jika aku serius bahkan aku menjadi nomor satu dari semua murid sekolah lain,” ucap Syadev senang, karena bisa membuktikan pada saudara kembarnya itu.
“Ayah, aku tidak mau nomor tiga,” rengek Kaysa cemberut.
“Sayang, tiga besar dari ribuan murid itu juga sangat bagus. Bunda dan Ayah sangat bangga padamu. Lihatlah! Dari ribuan murid hanya ratusan yang diterima. Kamu harus belajar bersyukur, yang terpenting bisa lolos untuk saat ini. Setelah itu kamu belajar lebih giat lagi supaya bisa juara satu ke depannya,” tutur Zhia lembut sembari memeluk putrinya.
“Bagaimana dengan Zahra dan Darren?” tanya Syauqi penasaran.
“Oh iya, sebentar aku cek dulu,” jawab Syadev yang matanya fokus pada layar laptopnya.
“Wah, lolos,” kata Syadev senang.
“Benarkah? Urutan berapa mereka?” tanya Kaysa penasaran.
“Zahra nomor 205. Darren nomor 279,” jawab Syadev.
“Tuh, mereka saja dapat urutan segitu pasti sudah senang. Jangan sedih lagi dong, nanti mobilnya Ayah jual lagi,” goda Syauqi.
“Tidak, Ayah. Aku tersenyum loh,” jawab Kaysa dengan senyum yang dipaksakan.
Syadev tertawa, dia sangat heran kenapa sikap kakaknya itu sangat kekanakan dan manja.
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Vote ya🙏 Supaya Author semakin semangat up terus😍