CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Flora And Daichi - BAB 4


__ADS_3

Dewa merasa beruntung dengan adanya si kecil Arka, sebab dia bisa mengalihkan keadaan dan bisa menutupi rasa gugupnya.


"Jagoan, kamu mau mainan apa?" tanya Dewa.


"Di rumahku sudah penuh mainan, kalau beli lagi nanti aku dimarahin sama mami," jawab Arka polos.


"Lain kali Om Dewa ajak kamu ke rumah Om Dewa ya? Di sana kamu bisa bermain sepuas mungkin," ajak Dewa serius.


"Memangnya di rumah Om Dewa ada apa?" tanya Arkananta penasaran.


"Ada kolam renang yang bisa buat loncat indah. Ada tempat buat tinju, basket, raket dan khusus berlatih untuk atlit," bujuk Dewa.


"Om Dewa ini atlit ya?" tanya Arkananta semakin bersemangat.


"Iya, tapi dulu. Sekarang sudah tidak lagi karena pernah cidera dan sejak itu pula orang tua kakak melarang," jawab Dewa yang jujur.


"Yah… Kasihan sekali ya Om Dewa?" ucap putra Kaysa merasa sedih sambil menatap ke wajah Tantenya.


"Makanya kamu juga harus hati - hati, jangan suka sembarangan dan sembrono agar kamu tidak celaka," tutur Flora lembut.


Arkananta yang diceramahi tapi justru Dewa yang tergerak hatinya.


"Tapi Om Dewa tidak sedih, sebab setiap hari Om Dewa masih bisa bermain di rumah. Dengan mamandang piala yang pernah Om raih saja sudah puas rasanya. Setidaknya Om Dewa tidak menghabiskan masa muda dengan sia - sia," sela Dewa tersenyum riang.


"Kalau begitu kapan - kapan aku ke rumah Om Dewa ya?" pinta Arkananta bersemangat.


"Iya, kamu mau main ke rumah Om Dewa kapan saja nanti tinggal bilang. Pasti Om Dewa jemput," jawab Dewa senang karena akhirnya rencananya berjalan dengan baik.


"Oh iya, ini kartu namaku. Tolong kasihkan ke Kak Kaysa ya? Takutnya dia marah - marah. Dan sekarang aku pamit dulu mau melanjutkan belanja," ucap Dewa berlalu pergi.


Flora hanya memberikan senyuman manisnya sambil menerima kartu tersebut.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Sudah beberapa saat sejak pertemuan di pusat perbelanjaan itu, Flora yang memang gadis murni sama sekali tidak terpengaruh akan pertemuan itu. Dia tetap menjalani hari - hari dengan biasa, yaitu belajar dan belajar.


Suatu hari di saat pertama kali Flora masuk ke Universitas, dia tidak menyangka jika akan bertemu lagi dengan sang penolongnya di masa kecil. Hanya saja saat itu Flora masih belum menyadarinya. Karena Dewa embah sengaja melakukan beberapa trik untuk membuat Flora jatuh cinta pada Dewa.


"Flora, tidak menyangka jika kita bisa satu universitas lagi. Walaupun beda jurusan setidak nya kita masih bisa bertemu," ucap Icha.


"Iya, padahal sebelumnya kita juga tidak janjian ya? Dulu saja kamu bilang mau kuliah di luar negeri," jawab Flora yang juga senang sekali.


"Tadinya gitu, tapi begitu tahu kalau Rendy masuk sini aku jadi ikutan deh," balas Icha keceplosan.


"Chie… Jadi kamu ke sini karena dia ya?" goda Flora.

__ADS_1


Sahabat Flora itu hanya tersimpul malu. Tiba - tiba saja orang yang mereka bicarakan juga beri saja datang.


"Hay Flora, Hay Icha," sapa Rendy riang.


"Rendy, biasakan ucapkan salam!" tegur Flora sopan.


Pemuda itu hanya nyengir saja, tapi tampak jelas kebahagiaan di matanya.


Saat itu Rendy terus tersenyum memandang ke arah Flora, sedangakan Icha menatap Rendy dengan perasaan cemburu. Flora yang tahu keadaan segera beranjak pergi karena merasa tidak enak.


"Aku ada sesuatu hal penting, kalian mengobrol dulu ya?" pamit Flora tanpa ragu.


Flora sendiri bingung mau kemana, tapi dia tetap berjalan melihat - lihat tempat sekitar seorang diri.


Di Universitas yang sangat besar itu seorang diri berjalan - jalan, tak sedikit para lelaki yang langsung jatuh cinta padanya saat dalam pandangan pertama. Semenjak saat itu juga Flora menjadi populer dengan kecantikannya dan juga kelembutan hatinya. Bahkan banyak sekali surat cinta berdatangan, ada juga yang mendekati secara langsung tapi Flora hanya menganggap mereka semua sebatas teman.


Dewa sendiri sebenarnya sudah mulai bekerja menjadi dosen baru di sana, dia sengaja belum menampakkan dirinya karena ingin melihat bagaimana Flora saat menghadapi para lelaki yang mendekatinya.


Dewa merasa cemburu setiap kali ada yang menggoda, tapi dia juga menjadi senang begitu tahu Flora menolak mereka.


Dewa hanya terus memperhatikan Flora dari kejauhan, sampai suatu hari di saat jam pelajaran kelas Flora berakhir. Dewa berniat ingin mendekati lagi.


Flora pulang sekolah biasa di jemput oleh sopir, tapi Dewa menyuruh anak buah untuk memasang paku di jalan agar nanti sang sopir telat menjemput sebab ban mobilnya bocor.


Masih dengan cara licik yang kuno, Dewa menyuruh anak buahnya yang masih muda untuk menyamar jadi mahasiswa di sana dan mulai mengganggu Flora.


Ketika sudah mulai sepi datang dua orang pemuda yang pura - pura mau mengganggu Flora, ketika Dewa mau menjadi penyelamat tali ternyata dari arah lain sudah datang duluan pemuda seusia Flora.


"Jangan beraninya sama cewek dong, kalian ini tidak malu siang - siang mengganggu anak orang?" bentak pemuda itu yang ternyata bernama Rendy.


"Kamu anak baru, jangan berani - beraninya melawan senior," jawab anak buah Dewa berlagak.


"Mau senior, mau dosen sekalipun kalau berani mengganggu wanitaku akan aku hajar," balas Rendy tanpa rasa takut.


Dewa marah, entah kenapa dia tidak terima saat pemuda itu menyebut Flora sebagai wanitanya.


Dewa langsung mengirim dua anak buah lagi yang berpura - pura menjadi senior, tanpa ampun Dewa menyuruh mereka untuk memberi pelajaran pada Rendy.


Kini sudah ada empat pemuda yang menghadang Rendy, pemuda itu masih bisa bersikap tenang, tapi justru flora yang histeris ketakutan.


"Maafkan kami, tapi kami tidak bermaksud untuk mencari masalah dengan kalian," ucap Flora memohon.


Gadis itu takut jika nanti ke empat senior itu menghajar Rendy, sebab empat lawan satu sangat tidak seimbang.


"Tunggu saja giliranmu, cantik. Sekarang pacarmu itu duluan yang akan kami garap. Berani - beraninya mengganggu kesenanganku," jawab anak buah Dewa tertawa jahat.

__ADS_1


Rendy mau tak mau harus melawan juga di hajar orang empat, awalnya Rendy masih bisa menangkis mereka. Tapi lama - kelamaan pemuda itu kewalahan juga. Saat wajah Rendy terkena pukulan yang keras pemuda itu langsung jatuh tersungkur.


Rendy baru mau berdiri tapi salah satu anak buah Dewa maju lagi untuk menyerang.


Flora semakin cemas, dia berusaha menghadang serangan itu agar tidak mengenai Rendy. Dan dalam sekejap kepalan anak buah itu mengenai wajah Flora. Pipi flora yang kulitnya begitu lembut langsung lebam. Flora sendiri juga langsung meneteskan air matanya saking perih dan ngilu.


Dewa kaget dengan pemandangan itu, dia langsung hilang kendali.


Ada perasaan terluka saat Flora tersakiti, ada juga perasaan marah karena gadis itu demi menilai pemuda lain sampai rela terkena pukulan.


Ke empat anak buah langsung pucat pasi begitu menyadari siapa barusan yang dipukul, apalagi saat tiba - tiba Dewa muncul dan menghajar ke empat anak buahnya secara brutal.


Kemudian ke empat anak buah itu segera kabur sebelum sekarat.


Flora si tuan puan putri dari keluarga Malik hanya bisa meringis menahan rasa sakit itu.


"Ya ampun, Flora. Kenapa kamu seperti ini?" pekik Icha yang juga baru datang.


"Semua salahku yang tidak bisa menjaganya," jawab Rendy langsung menangis penuh sesal.


Icha bersedih melihat sahabat sekaligus orang yang dikaguminya terluka.


"Kak Dewa, kenapa kamu bisa di sini?" tanya Flora menatap wajah Dewa yang menahan amarah.


"Aku dosen di sini," jawab Dewa tak sanggup melihat wajah Flora.


"Apa?" pekik Flora kaget.


"Flora, kamu sebaiknya ikut denganku. Kalau dibiarkan nanti lukamu akan meninggalkan bekas dan nanti kakak - kakakmu akan panik," bujuk Dewa.


Flora diam saja, dia sendiri bingung karena pak sopir belum juga datang. Dan dia juga tidak berani pulang dalam kondisi seperti itu. Bisa - bisa kakaknya akan heboh, terlebih lagi Kaysa yang pasti akan mengguncang universitas ini begitu dia tahu kalau ada yang melukainya.


"Terima kasih, Pak. Tapi biar aku saya saja yang mengobati dan mengantar Flora," sergah Rendy sopan.


"Kamu sendiri malah terluka lebih parah!" balas Dewa tegas.


"Hey kau, antarkan temanmu itu ke rumah sakit!" perintah Dewa pada Icha.


"I.. Iya, Pak," jawab Icha patuh.


Dewa segera menarik tangan Flora, saat itu Flora merasa ada sesuatu yang tidak asing. Ah.. Dia ingat.. selain saudara - saudaranya Dewa juga pernah menyentuhnya seperti ini.


Rendy hanya bisa melihat Flora dengan tatapan cemburu, apalagi saat Flora tidak menampik ketika tangannya di sentuh. Rendy jadi penasaran sepertinya Flora dan Dosen itu sudah saling mengenal.


**Terima kasih sudah membaca karya saya, jangan lupa Like dan Vote ya?

__ADS_1


Duh... Si Dewa bikin gemes deh, dia yang menyuruh anak buah untuk menggangu Flora tapi dia juga marah saat Flora terluka. Aneh kan? Penasaran sama apa yang terjadi selanjutnya? Tetap tunggu updetan selanjutnya ya.


__ADS_2