
Syauqi sedang memancing dengan Rendra sambil menikmati senja. Sedangkan Zhia Kaysa dan Anggun masih menaiki perahu.
"Bagus sekali pemandangannya," ucap Anggun senang.
"Iya, dulu sewaktu kecil kami tinggal di sini. Bersama Kak Orlin juga," timpal Kaysa.
"Benarkah? Wah Asyik sekali ya?" balas Anggun riang.
"Kamu akan lebih kagum lagi kalau melihat sunrise di puncak bukit ini. Di sana nanti bisa melihat pedesaan di bawah dan paginya ada pasar kaget yang menjual aneka jajanan tradisional," kata Kaysa antusias.
"Wah, aku jadi ingin melihatnya," ucap Anggun sangat penasaran.
"Bilang pada suami kalian suruh pulang ke sini saja dan jangan lupa ajak Flora sekalian. Malam ini kita bisa menginap di sini dan nanti malam bakar ikan," tutur Zhia.
"Iya, Bunda," jawab Kaysa dan Anggun bersemangat.
Kaysa melanjutkan lagi memakan makanannya sambil memainkan air dengan tangannya, sedangkan Anggun hanya bisa makan buah-buahan saja. Sebab jika makan seperti Kaysa pasti langsung mual dan mau muntah.
Di sisi lain Syauqi dan Rendra tengah membahas tentang hubungan Orlin dan Reki.
"Tuan Syauqi, apakah aku ini terlalu kejam sebagai orang tua?" tanya Rendra.
"Tentu saja, kita ini semakin tua juga harus semakin bijaksana," jawab Syauqi santai.
Rendra menyadari, dibalik penampilan tegas Syauqi Malik ada sifat kebijaksanaan yang tinggi. Buktinya saat Kaysa dan Alarik yang sedari kecil sudah seperti kakak adik saat mereka saling jatuh cinta Syauqi tidak melarang. Bahkan ketika Syadev yang nikah dengan gadis biasa juga diijinkan, padahal Syauqi Malik adalah kelaurga terpandang.
"Anda benar, hanya saja saya masih khawatir dengan masa lalu Reki," kata Rendra lemah tak berdaya.
"Semua orang memiliki masa lalu dan kesalahan. Tapi ketika menemukan seseorang yang dicintai maka dengan sendirinya akan mencoba memperbaiki diri agar pantas bersanding dengan orang yang dicintai," jawab Syauqi dengan membicarakan diri sendiri.
Rendra merenung dan terdiam, dirinya yang sudah merawat Orlin seorang diri dari bayi merasa tidak rela jika putri tunggalnya salah memilih pasangan.
"Berilah kesempatan pada Reki untuk membuktikan diri! Semua demi kebahagiaan Orlin juga. Aku hanya sekali pandang saja sudah bisa melihat jika Reki memiliki tekad untuk berubah," saran Syauqi.
"Terima kasih, apa yang Anda katakan benar. Yang terpenting putriku bisa hidup bahagia," jawab Rendra menemukan pencerahan.
"Wah, ikan kita sudah banyak. Ayo segera kembali bersiap-siap sholat Maghrib. Setelah itu kita bakar Ikannya rame-rame," ajak Syauqi.
"Maaf Tuan Syauqi, mana mungkin saya bisa bersenang-senang di sini tanpa anak dan istri. Silahkan Anda nikmati bersama kelaurga Anda. Saya setelah sholat harus kembali karena Orlin sedang sakit," tolak Rendra secara halus.
"Baiklah, aku tahu bagaimana perasaanmu," jawab Syauqi tertawa.
Perahu yang ditumpangi istri serta anak-anak Syauqi juga sudah menepi.
"Ayo sholat dulu, biar ikannya dibersihkan dulu sama pembantu," ucap Syauqi pada Zhia.
"Iya, nanti Alarik, Syadev dan Flora juga akan ke sini. Malam ini kita menginap di sini ya?"
"Iya, istriku sayang," jawab Syauqi senang.
Mereka segera masuk ke Villa. Setelah selesai sholat berjamaah Rendra berpamitan pulang.
"Hati-hati ya? Tolong sampaikan salamku pada Nayla dan Orlin," ucap Zhia ramah.
"Iya, Assalamu'alaikum," pamit Rendra sopan.
"Wa'alaikumsalam," jawab Syauqi dan Zhia
Rendra bergegas pergi, karena takut jika nanti sampai apartemen terlalu larut malam akan membuat istri dan anaknya khawatir.
"Kita bakar Ikannya di depan rumah saja ya? Kasihan Kaysa dan Anggun kalau kedinginan jika di dekat danau," pinta Zhia.
"Iya, sayang," jawab Syauqi lembut sambil mengedipkan sebelah matanya.
Zhia tak habis pikir di setiap kesempatan suaminya tersebut selalu menggodanya.
Alat pembakaran sudah di siapkan, begitu juga dengan bumbunya. Kini tinggal membakar saja.
"Kalian para perempuan duduk saja, biar aku yang membakar ikannya," kata Syauqi senang hati.
Namun, begitu melihat lampu mobil datang Syauqi tertawa senang.
"Kebetulan sekali," kata Syauqi riang.
Setelah mobil itu berhenti turunlah Alarik, Syadev, Flora.
"Assalamu'alaikum," ucap mereka.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam."
Alarik sendiri segera meletakkan dua plasik besar di meja.
"Apa itu?" tanya Zhia penasaran.
"Pesanan istri tercinta, Bunda," jawab Alarik melirik ke arah Kaysa.
Zhia hanya geleng-geleng kepala. Setelah di buka isinya berbagai jenis keripik.
"Alarik, Syadev. Kalian berdua bertugas bakar Ikannya ya!" perintah Syauqi.
Mereka hanya tersenyum dan melakukan sesuai perintah Syauqi.
"Ayo semuanya ke sini, sambil nunggu ikannya Mateng kita ngemil ini dulu," ajak Kaysa pada saudaranya.
"Iya," jawab mereka senang.
Karena kursinya kurang maka Zhia menyuruh pembantunya untuk mengganti dengan tikar agar muat untuk semua orang.
Malam ini keluarga Syauqi Malik berbahagia. Mereka saling bercanda ria dan menikmati kebersamaan. Tingkah Kaysa dan Syadev yang masih saja sering ribut justru menjadikan suasana meriah penuh tawa.
"Kenapa Isnaini tidak di ajak sekalian?" tanya Zhia.
"Besok sekolah, Bunda. Mana mungkin paman mengizinkan," jawab Flora.
"Kakakmu memang tidak bisa menikmati hidup," sela Syauqi.
Zhia tidak terima dan langsung mencubit paha suaminya.
"Jangan di sini, nanti saja," goda Syauqi.
Semua anak-anak Syauqi tertawa kecuali Flora, sebab gadis itu sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Ayahnya barusan.
"Ayah ini aneh, di cubit Bunda bukannya kesakitan malah minta lagi," sergah Flora.
Kaysa semakin tertawa keras dengan kepolosan adiknya.
"Kamu mana tahu, cubitan Bunda itu paling enak. Kamu mau coba?" sela Kaysa.
Sesuai peraturan yang dibuat Syadev, kalau seluruh ikan belum di bakar maka tidak ada satupun yang makan. Sebab Syadev takut dihabiskan Kaysa duluan sedangkan yang bakar tidak dapat jatah sama sekali.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Sampai larut malam Rendra baru sampai, di sana anak dan istrinya sudah menunggu.
"Assalamu'alaikum," salam Rendra.
"Wa'alaikum salam," jawab Nayla dan Orlin senang.
"Pa, kenapa baru pulang?" rengek Orlin.
"Papa sudah semakin tua, kalau mau ngebut sudah tidak berani lagi. Kamu sudah baikan?" kata Rendra sambil menyentuh kening putrinya.
"Sudah agak mendingan," jawab Orlin.
Kening Orlin memang sudah tidak panas lagi, akan tetapi wajah gadis itu masih agak pucat.
"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Rendra.
"Baru bangun," jawab Orlin.
"Suamiku, apa kamu sudah makan?" tanya Nayla.
"Belum," jawab Rendra.
"Aku belum masak, aku kira mau makan di rumahnya Zhia," kata Nayla cemas.
"Tenang, kita makan diluar yuk?" aja Rendra mencoba mendekatkan diri pada putrinya.
"Iya," jawab Nayla senang.
Karena sudah larut malam mereka memilih makan di sekitar wilayah itu.
"Orlin, maafkan Papa. Papa tidak akan melarang kamu untuk berdekatan dengan Reki. Tapi papa juga belum sepenuhnya bisa menerimanya," kata Rendra tegas.
Orlin mendengar itu langsung memeluk papanya dengan ceria.
__ADS_1
"Kalau begitu Orlin tidak perlu kembali ke London lagi kan?" tanya Orlin.
"Iya, asalkan kamu jaga diri baik-baik. Dan ingat, sebagai seorang perempuan kamu harus selalu menjaga kehormatan," saran Rendra.
"Iya, Pa. Orlin akan selalu mengingat pesan Papa," jawab Orlin senang.
Orlin sangat bahagia sekali, dia memutuskan besok akan pergi ke kantor karena ingin segera memberitahukan kabar gembira ini pada Reki. Dengan izin papanya makan Orlin bisa dengan jujur mengatakan kalau dia juga mencintai pemuda tersebut.
"Ayo di makan nasi gorengnya, nanti keburu dingin nggak enak," kata Nayla tak kalah bahagianya melihat senyum cerah di bibir putrinya.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Sesuai yang direncanakan Orlin jika dirinya akan berangkat bekerja, padahal kedua orang tuanya sudah melarang akan tetapi Orlin tetap kekeh.
"Pa, Ma, Orlin baik-baik saja dan sudah baikan," ucap Orlin meyakinkan kedua orang tuanya.
Padahal sebenarnya kepala Orlin masih agak pusing. Tapi demi bertemu dengan Reki dia memaksakan dirinya sendiri.
Sesampainya di kantor Orlin melihat seorang gadis yang sedang memaksa salah satu karyawan agar diizinkan masuk.
"Maaf Nina, tapi Bos Reki sudah bilang tidak ada yang bisa masuk ke sana tanpa izin darinya!"
Orlin heran kenapa ada seseorang yang hendak memaksa masuk ke dalam kantor milik Reki.
"Dia kan perempuan yang kemarin keluar dari ruangan Bos Reki."
"Eh, kemarin setelah keluar dari ruangan tersebut lipstik di bibirnya berantakan sekali loh."
Orlin terkejut mendengar bisikan teman-temannya. Rasa bahagia dan semangatnya tiba-tiba runtuh.
"Reki, apa kamu mempermainkan aku?"
Orlin hampir saja menangis sampai seseorang yang ingin ditemuinya datang.
"Ada apa ini kok ribut-ribut?" tanya Reki.
"Bis, dia memaksa masuk ke ruangan Anda," jawab karyawan yang sedari dulu setia pada Reki.
"Arisa, kenapa kamu masih datang ke sini lagi? Kalau kamu tidak pergi aku akan memanggil satpam," ancam Reki dingin.
"Kamu kenapa tega begitu padaku?" rengek Arisa tidak mau menyerah.
Reki kaget ternyata di balik salah satu orang yang sedang bergerombol adalah Orlin. Dan wajah gadis itu terlihat bersedih.
"Oh tidak, apa Orlin salah paham padaku?"
Reki segera memanggil satpam beneran dan menyuruh mereka membawa gadis itu keluar.
"Arisa, aku sudah bilang padamu. Sejak kamu meninggalkan aku sejak itu pula kita sudah tidak ada hubungan apa-apa. Lagi pula aku sudah memberitahumu jika aku sudah punya calon istri!"
Pernyataan Reki barusan menjadi pusat perhatian karyawan yang berada di sana. Termasuk Orlin sendiri.
Reki tidak ingin membuat seseorang yang dicintainya merasa sedih, sebenarnya baru semalam beli cincinnya. Karena keadaan seperti ini Reki nekat memberikan cincin itu pada Orlin dihadapan orang banyak.
"Orlin, aku mencintaimu," ucap Reki.
"Aku tidak mau," jawab Orlin seketika.
Semua kaget, terlebih juga Reki yang langsung ditolak seperti itu.
"Barusan aku dengar jika kemarin gadis itu kelaut dari ruanganmu dengan lipstik yang berantakan. Apa yang kemarin kalian lakukan?" tanya Orlin.
Reki begitu melihat kecemburuan Orlin merasa sangat bahagia.
"Aku punya CCTV di ruangan kantor. Nanti kita semua bisa melihat bersama," jawab Reki santai.
Seketika Arisa memerah karena merasa malu, gadis itu segera pergi meninggalkan tempat itu.
"Kumohon, terimalah cincinnya. Kalau kamu tidak suka nanti kita bisa tukar lagi sesuai seleramu," ucap Reki tersenyum senang.
"Aku terima dulu cincinnya, tapi bukan berarti aku setuju. Kamu harus berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan hatiku," jawab Orlin yang masih merasa kesal.
"Baiklah, aku akan meyakinkan pada dunia jika aku bisa berubah dan akan menunjukkan rasa cintaku padamu," balas Reki melingkarkan cincin itu di jari manis Orlin.
Reki merasa lega karena cincinya pas, semalam saat Orlin tertidur Reki mencoba mengukur jari manis gadis tersebut dengan benang karena takut salah ukuran. Dan benang itu di dapatkan dari dia menarik gorden jendela.
Jangan lupa Like dan Vote sebanyak-banyaknya ya🤗 Nanti masih ada lagi, episodenya. Di tunggu ya🤗🤗
__ADS_1