
Kaysa membenci orang-orang yang menghinanya atau menindasnya. Tak terkecuali siapa pun, karena di hatinya tidak pernah memiliki rasa gentar.
Kaysa sebenarnya tidak marah sebab hukuman, tapi dia kesal dengan senyuman puas dari wajah Ketua OSIS yang seolah mengejeknya.
“Bagaimana, Kak Gio berani tidak?” tantang Kaysa.
“Kalau begitu keenakan saudaramu dong tidak mendapat hukuman!” jawab Gio gugup.
“Suruh saja dia merayu kakak kelas perempuan,” cetus Kaysa.
Syadev melirik ke arah Kakak perempuannya dengan tatapan kesal, karena lagi-lagi dia ikut terseret karena ulah Kaysa.
“Wah, itu jauh lebih menarik!" timpal Furqon antusias.
“Iya, jangan takut di tantang sama adik kelas,” kata Syela menyemangati.
Karena dipaksa teman serekannya, akhirnya Gio menerima tantangan dari Kaysa.
Sebagai perempuan Kaysa selalu semena-mena. Kaysa mengambil bunga hias yang terletak di atas meja guru. Dia menyerahkan bunga itu kepada Ketua OSIS.
“Karena Kak Gio jadi Romeo, jadi Kakak yang merayu aku terlebih dahulu,” kata Kaysa percaya diri tanpa rasa malu.
Berbeda dengan Gio yang justru mulai merasa jantungnya berdetak kencang.
Syadev hanya menonton, diam-diam pemuda tampan itu ingin tertawa karena pada akhirnya justru Sang Ketua OSIS sendiri yang dikerjai kembarannya.
Untuk menyelamatkan harga dirinya di depan teman dan adik kelas, Gio memberanikan diri untuk mendekati Kaysa sambil membawa bunga. Gio mulai menatap wajah Kaysa secara dekat. Seperti tersihir, Gio tidak bisa memalingkan dari mata yang indah, bentuk hidung yang mancung dan bibir sexi milik kaysa.
Gio menyadari, jika kecantikan gadis di hadapannya ini di atas rata-rata. Bahkan menjadi perempuan tercantik yang pernah dia ditemui.
“Gio, kapan dialognya!" tegur Raffi karena sudah menunggu lama.
Gio tersadar dari lamunannya, kemudian dia menghembuskan napasnya secara perlahan untuk menenangkan hatinya yang mulai berdebar-debar.
“Juliet, kau adalah wanita tercantik yang pernah aku temui. Senyuman manismu menggetarkan hatiku. Lincah manjamu selalu membuatku merasa rindu. Juliet, aku ingin selalu membahagiakanmu. Maukah kau hidup selamanya bersamaku?” kata Gio sangat dramatis.
Semua yang menonton ikut terhanyut dengan akting Ketua OSIS yang seolah benar-benar nyata. Apalagi murid baru yang perempuan, mereka menjadi baper karena Gio sangat tampan dan terlihat sangat romantis.
Tapi dengan sekejap suasana romantis itu hancur karena ulah Kaysa.
“Terima kasih,” jawab Kaysa singkat sambil menerima bunganya.
“Huu... Julietnya kurang romantis,” protes para penonton.
Kaysa tidak memedulikan ocehan orang lain. Bahkan dengan cueknya gadis nakal itu melempar bunga pada Syadev.
“Giliranmu!” perintah Kaysa.
Syadev menerima bunga yang barusan di lempar saudaranya itu dengan ekspresi datar.
Syela dengan semangat maju ke depan dan tersenyum senang.
“Hey, adik tampan. Ayo rayu aku!” pinta Syela genit.
Syadev sangat muak, meskipun kakak kelas di depannya lumayan cantik tapi saudara kembar kaysa itu sama sekali tidak tertarik.
“Semangat, Syadev,” ucap Kaysa.
Syadev semakin kesal dengan senyuman licik milik kakak perempuannya itu.
“Ayo, dimulai sekarang!” perintah Furqon yang Raffi yang merasa terhibur.
Syadev tidak suka dirinya dijadikan seperti badut untuk membuat orang lain tertawa.
“Nih...” kata Syadev sambil mengulurkan bunganya pada Syela.
Semua orang melongo, karena syadev bahkan memalingkan wajahnya ke arah lain bukan menatap mesra pada pasangannya.
“Yang manis dong, seperti Ketua OSIS tadi,” protes Syela.
“Huh, aku tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu,” jawab Syadev dingin.
Entah kenapa sikap cuek dan cool nya Syadev justru membuat para murid perempuan terpesona.
Bel berbunyi, tandanya sudah waktunya untuk istirahat.
“Sebelum kalian keluar kelas, sebaiknya kursi dan bangku diletakkan seperti semula,” kata Ketua OSIS tegas.
“Terima kasih, Kak Gio. Atas pertunjukan yang hebat itu,” ucap Kaysa tersenyum puas.
Gio merasa kesal, dia berniat akan membalas kedua saudara kembar itu di kesempatan lain.
Setelah ruangan kelas sepi, Kaysa dan Syadev baru membereskan meja dan kursi mereka.
Kemudian Darren dan Zahra masuk.
“Sayang sekali kita tidak satu kelas ya” kata Darren sedih.
“Seharusnya kamu bersyukur, karena jauh dari malapetaka,” jawab Syadev kesal.
Darren tahu, jika Syadev berkata seperti itu, berarti telah terjadi sesuatu.
“ Apa kamu baik-baik saja?” tanya Darren pada Kaysa dengan wajah panik.
“Aku tidak apa-apa. Ayo kita ke kantin,” ajak Kaysa pada semuanya.
__ADS_1
Di kantin sudah ramai, Kaysa dan yang lainnya segera memesan makanan dan minuman.
“Zahra, kenapa dari tadi kamu murung?” tanya Kaysa heran.
Zahra hanya menggeleng lemah dengan tatapan kosong.
“Ayo ceritalah, apa kamu dikerjai kakak kelas?” tanya Kaysa menduga.
Zahra masih saja diam dan menikmati makanannya.
Kaysa semakin curiga, karena tidak biasanya sepupunya bertingkah aneh.
Tiba-tiba ada dua perempuan yang mendekati meja Kaysa.
“He, kamu ini perempuan murahan apa? Tadi itu cuma candaan kenapa kamu mencium pacarku,” bentak perempuan berambut panjang.
“Maaf, Kak. Tadi saya dipaksa wakil Ketua OSIS,” jawab Zahra gugup.
Orang yang sedang dibicarakan langsung muncul, perempuan yang bersuara lantang saat di lapangan tadi pagi itu baru masuk ke kantin bersama Ketua OSIS.
“Yuki, sini!” teriak perempuan yang tadi memarahi Zahra.
Wakil Ketua OSIS itu langsung mendekati ke asal suara.
“Ada apa, Verra?” tanya Yuki.
“Kamu menyuruh anak baru itu untuk mencium pacar aku ya?” tanya Verra marah.
“Aku memang menyuruh dia untuk mencium, tapi dia sendiri yang memilih pacar kamu,” jawab Yuki santai.
“Keterlaluan, kamu itu bodoh apa gimana sih? Kenapa harus milih pacar aku,” bentak Verra memandang Zahra.
Zahra mulai menangis ketakutan, semua anak yang sedang makan di kantin saling berbisik satu sama lain.
Dari tadi Kaysa hanya diam karena ingin tahu masalahnya terlebih dahulu.
“Yuki, jangan kabur,” kata Kaysa ketus.
“he, anak baru, ku ini Kakak kelasmu, jadi hormati aku!” bentak Yuki sambil membalikkan badan dan kembali ke arah Kaysa.
Kaysa langsung berdiri, bahkan putri Syauqi Malik itu mendekati Kakak kelasnya dengan tatapan dingin.
“Kata hormat itu tidak pantas untuk seseorang yang berkelakuan tercela,” jawab Kaysa.
“Apa masalahmu? Kenapa kamu memprovokasi aku?” tanya Yuki kesal.
“Apa menurut kamu pangkat Wakil Ketua OSIS itu hebat sampai bisa menyuruh orang lain seenaknya sendiri?” teriak Kaysa.
Semua tertegun, karena baru kali ini ada anak baru yang berani melawan Kakak kelas. Bahkan yang dilawan adalah Wakil Ketua OSIS.
“Kamu menghina Anggota OSIS kami?” tanya Gio yang tiba-tiba ikut campur.
“Kak Gio yang terhormat. Saya rasa ada yang salah dengan pendengaran Anda. Yang Kaysa maksud itu bukan menghina OSIS, tapi jangan mentang-mentang menjadi Wakil Ketua OSIS bisa sesenaknya mengancam murid baru. Bawahan Anda tadi menyuruh sepupu saya untuk mencium lelaki. Itu perbuatan yang sangat tidak pantas,” kata Syadev dengan nada tegas.
Kaysa tersenyum haru melihat saudaranya itu yang tampak keren.
“Apa itu benar?” tanya Gio beralih pada Yuki.
“Tadi aku hanya berniat seru-seruan saja untuk memeriahkan suasana,” jawab Yuki ketakutan pada Gio.
“Memangnya tidak ada ide lain apa? Atau memang otakmu sangat sempit sampai hanya itu saja yang ada di isi kepalamu,” bentak Verra pada Yuki.
“Ini juga bukan salahku semua. Tadi saat anak baru itu memilih mencium Mahen, cowokmu itu menyerahkan diri secara suka rela. Seharusnya kalau dia ingat punya cewek kan bisa saja menolak,” balas Yuki pada Verra.
“Sudah... Sudah! Masalah ini berakhir sampai di sini. Setelah ini jangan pernah saling membenci lagi. Anggap saja semua ini hanyalah salah paham,” kata Gio menengahi.
“Darren, bayar dulu makanan kami! ”ucap Syadev sambil menarik tangan saudara kembarnya keluar dari kantin.
“Hey, kenapa kamu membawaku ke sini? Aku Masih lapar” tanya Kaysa kesal.
“Apa jika kamu di sana beneran makan? Atau bertengkar?” tanya Syadev dingin.
“Apa maksudmu?” Kaysa balik bertanya.
“Sudahlah, aku tahu siapa dirimu. Ini adalah hari pertama kita sekolah, aku tidak mau kamu mengacaukan semuanya. Kasihan Ayah sama Bunda kita kalau sampai mereka di panggil ke sekolah,” kata Syadev sedikit kalem.
“Iya... Iya. Aku juga tidak akan membuat onar kalau tidak di ganggu duluan,” jawab Kaysa membela diri sendiri.
“Tapi emosimu itu sangat buruk, belajarlah lebih dewasa,” ucap Syadev.
“Hey... Hey. Aku ini Kakakmu ya!” balas Kaysa tidak terima.
“Tapi tingkahmu itu seperti anak kecil,” sindir Syadev.
Perdebatan mereka segera terhenti karena kedatangan Darren dan Zahra.
“Kita cariin, ternyata kalian malah sedang bertengkar di sini,” cetus Darren.
“Bagaimana situasi di kantin?” tanya Syadev.
“Sudah berakhir, tadi cowok yang bernama Mahen datang ke kantin dan meminta maaf pada pacarnya. Setelah itu Verra tidak menyalahkan Yuki lagi,” jawab Darren.
“Maafkan aku, gara-gara aku kalian berdua hampir terkena masalah,” ucap Zahra menunduk.
“Tidak apa-apa. Lain kali jadilah seseorang yang lebih kuat agar tidak di perlakukan seenaknya sama orang lain. Tapi juga jangan terlalu kuat, nanti malah membuat masalah semakin besar,” kata Syadev menasihati Zahra, tapi di sisi lain juga menyindir Kaysa.
__ADS_1
“Kaysa, ini aku bawakan roti. Tadi kamu makannya baru sedikit kan?” kata Darren perhatian.
“Darren, kamu mengerti aku. Terima kasih ya?” ucap Kaysa pada Darren, tapi dalam hatinya juga menyindir saudaranya.
Darren tersenyum senang, melihat Tuan Putrinya makan dengan lahab.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Sepulang sekolah Kaysa dan Syadev menjadi pusat perhatian, apalagi sekarang semua kakak kelas juga melihat.
“Murid baru itu siapa? Gila mobilnya mewah.”
“Katanya mereka saudara kembar, mungkin anak konglomerat.”
“Pantas saja mereka bisa sombong, katanya tadi di kantin berani melawan Anggota OSIS.”
“Tapi harus aku akui, yang cewek itu cantik sekali. Sangat menarik.”
“Mereka berdua kelas 10 A loh. Yang cowok katanya urutan pertama, yang cewek urutan ketiga.
Semua mulut saling berbisik membicarakan Syadev dan Kaysa. Ke dua anak kembar itu langsung populer di kalangan kakak kelas.
Bahkan desas - desus itu langsung menyebar ke penjuru sekolah, yang belum melihat mereka sampai merasa penasaran.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Saat makan malam
“Aku selesai duluan,” kata Kaysa.
“Jangan pergi dulu, mari mengobrol tentang pertama masuk sekolah,” kata Syauqi.
“Jangan, Ayah. Nanti Ayah dan Bunda menyesal sendiri kalau mendengarnya,” timpal Syadev yang baru saja selesai makan.
“Apa saat MOS Kalian diganggu?” tanya Zhia cemas.
“Sebaliknya, Bunda. Justru Kaysa yang mengganggu mereka,” timpal Syadev.
“Syadev, sejak kapan mulut kamu doyan menggosip, ha?” bentak Kaysa.
“Kalau tidak suka mendengarkan sana pergi!” balas Syadev ketus.
“Tapi yang sedang kamu gosipkan itu aku!” teriak Kaysa tidak terima.
“Kalian ini sudah dewasa loh, apa tidak malu pada adikmu sendiri?” tegur Zhia.
“Sayang, jangan contoh kelakuan buruk dari kedua kakakmu ya?” tutur Syauqi.
“Iya, Ayah, Bunda.” Jawab Flora lembut.
Kaysa langsung masuk ke kamarnya, begitu juga dengan Syadev.
Di dalam kamar Kaysa langsung mengambil ponselnya, kemudian memencet tombol video call untuk kakaknya yang di luar negeri.
"Yang baru punya mobil, sampai lupa pada kakaknya sendiri," kata Alarik tersenyum lebar, wajahnya semakin tampan dan dewasa.
"Apaan, pasti Ayah yang memberi tahu," jawab Kaysa manja.
"Sekarang sudah besar, jangan ngambek kaya anak kecil lagi," bujuk Alarik manis.
Kaysa merasa gerah, dia langsung membuka jilbabnya.
Alarik sangat tertegun melihat kecantikan adiknya yang nyaris sempurna itu.
"Hei.. hei. Pakai jilbabmu!" protes Alarik.
"Bodo amat, aku sedang di kamar. Kak Alarik juga Kakakku," jawab Kaysa bandel.
Dari layas ponsel terlihat Alarik hanya tersenyum dengan tingkah manja adiknya.
"Bagaimana tadi di sekolah? Pasti ada kejadian yang menarik lagi," tanya Alarik penasaran.
Kaysa mulai menceritakan kisahnya dengan Ketua OSIS.
"Kamu nakal, apa Ketua OSIS itu tampan?" tanya Alarik.
"Lumayan, tapi masih tampan Kak Alarik," jawab Kaysa riang.
"Ingat, kamu jangan buat masalah lagi di sekolah! Jaga dirimu baik-baik," tutur Alarik perhatian.
"Iya," jawab Kaysa patuh, tapi setelah itu lupa lagi.
"Dan jangan berantem terus dengan Syadev! Dia sebenarnya sangat sayang padamu, hanya saja dia malu mengakuinya" ucap Alarik.
"Biarin, dia menyebalkan. Aku lebih suka mengobrol dengan Kak Alarik," cetus Kaysa.
"Ya sudah, sekarang kamu tidur dulu! Besok masih MOS kan?" bujuk Alarik lembut.
"Kapan sih Kak Alarik pulang? Aku ingin kita bisa tinggal bersama dan ngobrol seperti ini terus. Nanti kalau Syadev rese ada Kak Alarik yang membela aku," sungut Kaysa bertingkah manja.
"Kalau sudah waktunya ya! Nanti setelah aku pulang ke Indonesia apapun yang kamu inginkan pasti Kak Alarik turuti," jawab Alarik mencoba tenang, tapi sorot matanya berubah sendu.
"Aku sayang Kak Alarik," kata Kaysa riang.
"Iya, Kak Alarik juga sayang sama Kaysa," jawab Alarik lembut menunjukkan kedewasaannya.
__ADS_1
Kaysa mematikan ponselnya, kemudian dia mulai tertidur dengan senyuman cerah.
Jangan lupa Like dan Vote ya🙏 Karena dukungan membuat Author semakin bersemangat🤗