
Beberapa hari berlalu, Alarik semakin jarang tidur di rumah. Karena setiap malam Orlin akan menelepon dia untuk datang ke rumah sakit.
Pagi ini seperti biasanya, Alarik pulang di saat Adzan subuh berkumandang.
“Kaysa, ayo bangun. Kita sholat subuh dulu,” ucap Alarik sambil mencium lembut kepala istrinya dengan mesra.
Kaysa bangun tanpa merespons, dia langsung menuju kamar mandi.
“Aku tahu Kak Al tidak mungkin menghianatiku. Namun kenapa aku merasa marah dan kecewa karena aku di larang ikut menemani di rumah sakit. Wajarkah aku cemburu? Sekalipun itu bersama Kak Orlin yang sudah aku anggap seperti kakakku sendiri.”
Bahkan setelah sholat Kaysa sama sekali tidak bersemangat. Membuat Alarik menjadi cemas.
“Apa kamu sakit?” tanya Alarik.
“Tidak, hanya kurang tidur saja. Semalam Zahra dan Anggun menelepon sampai larut malam,” jawab Kaysa sambil berbaring tidur lagi.
Alarik menyusul ikut berbaring di samping istrinya, pemuda itu juga merasa mengantuk karena semalaman menjaga Orlin.
Saat tangan Alarik memeluk Kaysa, dengan pelan istrinya itu melepaskan tangan Alarik.
“Aku sangat mengantuk, jangan ganggu tidurku,” pinta Kaysa dengan nada datar.
Alarik merasakan sakit, pemuda itu tahu jika Kaysa sedang marah padanya. Karena biasanya sikap Kaysa lincah dan manja. Kelakuan Kaysa yang seperti ini justru membuat Alarik merasa tidak nyaman.
Pukul setengah tujuh mereka bangun, mandi dan berganti pakaian. Kaysa masih saja diam dengan gaya santai.
Jika seperti ini Kaysa terlihat dewasa dan Anggun, mirip Bundanya. Namun Alarik merindukan keceriaan dan kehebohan Kaysa yang sangat menggemaskan.
Kaysa makan dengan terburu-buru, bahkan Alarik yang belum selesai tapi dia sudah duluan bergegas mengambil tasnya.
“Ini masih terlalu pagi,” tegur Alarik.
“Aku ada tugas kelompok yang kemarin belum selesai, nanti siang sudah harus di kumpulkan,” jawab Kaysa.
“Baiklah, aku antar,” ucap Alarik.
“Tidak perlu, Kak Al makanlah. Lagi pula pagi ini Kak Al juga akan ke rumah sakit dulu kan?” ucap Kaysa tanpa beban.
“Kamu mau bawa mobil sendiri? Jangan, biar aku antar,” sela Alarik sambil berdiri.
“Aku bareng Kak Gio, dia sudah menunggu di depan,” jawab Kaysa berlalu pergi begitu saja.
Alarik merasa bodoh sendiri, cemburu dengan adik sepupunya. Saat ingin menghapus perasaan itu tetap tidak bisa. Karena Gio adalah mantan istrinya.
“Mungkin ini yang dirasakan Kaysa saat aku dengan Orlin semalaman. Tidak marah tapi menahan luka. Maafkan aku istriku,” batin Alarik tidak nafsu makan lagi.
Sedangkan Kaysa tersenyum ceria melihat wajah Gio, biarpun mereka mantan tapi keduanya tidak ada rasa canggung. Kaysa menganggap Gio saudaranya, begitu juga sebaliknya.
“Kamu masih selalu cantik seperti biasanya,” puji Gio.
“Tentu saja, aku Kaysa Malik,” jawab Kaysa santai.
“Kenalkan aku dengan teman perempuan kamu dong, tapi yang cantik dan unik sepertimu,” punya Gio bercanda.
“Kamu tidak akan pernah menemukan seseorang yang sepertiku, karena hanya aku satu-satunya di dunia ini yang paket komplit,” jawab Kaysa bangga.
Gio tertawa, pemuda itu selalu merasa terhibur jika mengobrol dengan mantan kekasihnya.
“Beruntungnya Kak Al, karena hanya dia yang mampu mengambil hatimu,” kata Gio.
“Tenang, nanti akan aku kenalkan dengan teman sekelasku, mereka cantik-cantik. Tapi kenapa kamu tidak mencari sendiri? Wajahmu juga tidak jelek-jelek amat,” cibir Kaysa setengah tertawa.
“Aku masih trauma mendekati perempuan, kamu tahu kan? Pertama aku menembak adalah denganmu. Dan baru beberapa hari sudah di putus,” kata Gio jujur.
Kaysa tertawa keras di atas penderitaan Gio, baginya kenangan masa lalu itu justru sangat lucu. Kaysa masih bisa mengingat saat menyuruh Gio menyatakan cinta di depan umum.
“Kamu ini jahat sekali,” sindir Gio.
“Santai, sebagai permintaan maaf nanti akan aku kenalkan dengan perempuan yang cantik dan baik,” ujar Kaysa.
“Yupz, aku tunggu,” jawab Gio bersemangat.
Mereka berdua saling mengobrol dengan asyiknya, sampai tidak terasa sudah berada di parkiran Universitas.
“Aku antar sampai kelas apa bagaimana?” tanya Gio perhatian.
“Jangan! Nanti di kira kamu pengawal aku,” sergah Kaysa tertawa jahat.
“Aku hanya ingin melihat perempuan sekelas kamu,” rengek Gio.
“Baiklah,” jawab Kaysa tidak keberatan.
Mereka berdua berjalan beriringan sambil bersenda gurau, sampai di kelas Kaysa semua mata tertuju pada mereka.
“Cie, dianterin pacar,” goda teman-temannya Kaysa.
“Hush, dia ini Gionino. Senior kita, juga sepupuku,” jawab Kaysa riang.
__ADS_1
“Oalah, kenalin ke kita dong,” ucap salah satu teman wanita.
“Bayar dulu!” jawab Kaysa ketus.
“Kamu sudah kaya, buat apa merampok uang receh dari kami,” balas teman perempuan Kaysa yang lain.
“Karena aku ini wanita yang baik dan berbudi luhur, okelah,” ucap Kaysa santai.
“Kak Gio, ini Mita. Ini, Liana dan yang cowok ini Abbas.” Timpal Kaysa.
“salam kenal,” ucap Gio puas, sebab perempuan yang dikenalkan padanya tidak mengecewakan.
“Salam kenal juga kak,” ucap mereka riang.
“Aku ke kelasku dulu ya?” pamit Gio pada Kaysa dan teman-temannya.
“Iya,” jawab mereka.
“Kaysa, kamu jangan nakal,” ucap Gio tersenyum manis.
Kaysa cemberut pura-pura marah, tapi seketika dia tertawa lagi.
“Kaysa, katanya kamu punya saudara kembar yang jenius? Dilihat dari wajahmu aku yakin pasti saudara kembarmu pasti sangat tampan,” tanya Liana antusias.
“Iya, tunjukkan fotonya pada kami dong,” timpal Mita penasaran.
Kaysa dengan senang hati menunjukkan foto Syadev terkeren lewat ponselnya, sebab saudara kembarnya itu memang membanggakan.
“Nih, namanya Syadeva. Dia kuliah di Amerika,” ucap Kaysa bangga.
“Wah, aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Kenalin ke aku dong,” pinta Liana memohon.
“Aku juga, dia keren banget,” timpal Mita.
“eehh... Tidak bisa. Dia sudah punya tunangan,” jawab Kaysa berbohong.
“Benarkah? Pasti tunangannya juga dari keluarga yang hebat,” ujar Liana kecewa.
“Tidak juga, dia malah yatim piatu. Tapi dia cantik dan cerdas, mendapat beasiswa di luar negeri. Saudara aku itu bukan pemuda sembarangan, dia tidak mungkin hanya tertarik dengan status keluarga ataupun kecantikan saja,” kata Kaysa bangga.
“Sepertinya tunangan Syadeva itu istimewa ya?” tanya Mita penasaran.
“Iya, tapi masih istimewa aku,” jawab Kaysa tertawa.
Berkumpul dengan teman-teman membuat Kaysa melupakan sejenak tentang rasa kecewanya pada sang suami. Teman-teman Kaysa sama sekali belum tahu jika Kaysa sudah menikah, karena Kaysa yang masih terlihat muda juga tidak ada yang meragukannya.
“Kelompok kita seharusnya ada lima orang, di mana yang namanya Zidan? Kenapa aku tidak pernah melihatnya masuk kelas?” tanya Kaysa penasaran.
“Dia memang jarang masuk kelas, soalnya dia juga bekerja sebagai fotografer yang laris manis,” jawab Abbas.
“Kamu kenal?” tanya Mita.
“Tentu, dia anak buah Papaku,” jawab Abbas.
“Wah, berarti Abbas juga anak orang kaya dong,” goda Liana.
“Kaya apaan, hanya secuil kuku jika dibandingkan dengan Kaysa,” balas Abbas.
“Kaysa keren, Tuan Puteri tapi mau berteman dengan kita,” puji Mita.
“Aku itu berteman dengan orangnya, bukan hartanya,” jawab Kaysa santai.
Sebenarnya Mita dan Liana juga dari keluarga yang kaya, di Universitas ini memang rata-rata dari keluarga menengah ke atas. Kecuali murid yang mendapat beasiswa, sebagian mereka ada yang dari keluarga miskin. Tapi ada juga orang kaya yang mendapat beasiswa, seperti Kaysa. Tapi gadis itu lebih memilih tidak mengambilnya, karena orang tuanya mampu sedangkan di luar sana banyak orang berprestasi tapi karena kemiskinan jadi tidak bisa kuliah.
“Bagaimana ini? Kalau kelompok kita tidak lengkap nanti bisa gagal kita,” tanya Mita cemas.
“Tenang, dia tadi sudah membalas pesanku. Katanya masih di perjalanan,” jawab Abbas santai.
Lima menit kemudian datang pemuda yang terlihat asing. Karena pemuda itu memang jarang masuk kuliah.
“Sorry, Bas. Aku telat,” ucap Abbas.
“Tidak apa-apa, Zidan. Kita masih punya waktu kok,” jawab Abbas memaklumi temannya itu.
Saat pemuda yang bernama Zidan itu melihat Kaysa, seketika Zidan terpana dan terkejut.
“Apa belum pernah melihat gadis cantik sepertiku?” tegur Kaysa.
“Jangan bercanda Kaysa, Zidan ini seorang fotografer. Sudah banyak Artis-artis yang ditemuinya,” bela Abbas.
“Artis manapun juga masih kalah mempesonanya dengan aku,” balas Kaysa judes.
Semuanya hanya tertawa, sedangkan Zidan hanya senyum-senyum sendiri.
“Perkenalkan aku Zidan, maaf ya karena sudah menyusahkan kalian,” ucap Zidan tulus.
“Hay, aku Mita.”
__ADS_1
“Aku Liana.”
“Dan aku, Kaysa.”
“Oh, jadi kamu Kaysa. Perempuan yang jago bela diri,” ucap Zidan.
“Dari mana kamu tahu?” tanya Kaysa heran.
“Kamu beneran sudah lupa? Di pantai saat petang. Kamu memukul temanku sampai bonyok itu,” jelas Zidan.
“Astaga, jadi kedua pria mesum itu salam satunya adalah kamu?” tanya Kaysa tak percaya.
“Mesum apanya, aku itu sedang di minta memotret dia. Tapi temanku itu memang playboy, melihat gadis cantik sudah tidak tahan menggoda. Tapi sebenarnya kami tidak pernah punya niat jahat padamu,” jelas Zidan panjang lebar.
“Pantas saja, terakhir kali kita berantem kamu hanya menghindar tanpa mau membalas,” ujar Kaysa.
“Aku tahu saat itu kamu sedang marah, jadi aku membantu kamu melampiaskan amarahmu itu,” jawab Zidan tersenyum lucu.
Kaysa juga tersenyum karena malu.
“Bagaimana dengan keadaan temanmu?” tanya Kaysa jadi merasa bersalah. Karena waktu itu dia mengerahkan seluruh tenaganya.
“Sudah baikan, dulu sempat dirawat di RS. Karena tangan dan kakinya terkilir,” jawab Zidan.
“Ya ampun, Kaysa. Aku kira kamu ini gadis manis seperti kelinci. Tidak taunya...” ucap Abbas heran.
“Apa?” tanya Kayla melirik tajam.
“Harimau, tapi harimau juga punya sisi menggemaskan seperti kucing kok,” jawab Abbas ketakutan.
“Nanti antar aku menemui teman kamu ya? Aku harus minta maaf padanya,” pinta Kaysa.
“Iya, tapi nanti malam ya? Karena kalau siang aku ada jadwal kerja juga,” jawab Zidan.
“Tidak apa-apa. Waktuku bebas kok,” ucap Kaysa riang.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Alarik merasa aneh dengan tingkah Orlin, padahal gadis itu keadaanya semakin parah. Namun sama sekali tidak mau memberitahu kedua orang tuanya, bahkan Alarik juga di larang memberitahukan pada Ayah dan Bunda Kaysa yang juga dekat dengan Orlin seperti anak sendiri.
” batin Alarik.
Tapi tingkah Orlin semakin menjadi, gadis itu meminta Alarik terus menemaninya dan tidak mau makan kalau tidak disuapinya. Seperti saat Alarik mau pulang dari kantor, terpaksa dia berganti jalur menuju rumah sakit karena mendapat telepon dari pihak rumah sakit.
“ Orlin, aku tidak mengira kamu bisa melakukan ini. Namun aku juga tidak bisa marah padamu, karena bagaimanapun aku juga bersalah karena telah menyakitimu. Ini akan menjadi terakhir kalinya aku menuruti keinginan kamu,” batin Alarik.
Di tengah perjalanan, Alarik menelepon keluarga Orlin di London. Karena Rendra dan Nayla sampai di Indonesia besok, jadi terpaksa malam ini dia menjaga Orlin lagi.
Tapi Alarik merasa lega, setelah ini dia ingin memanjakan istrinya dengan lebih karena sudah hampir seminggu sering ditinggal.
Sesampainya di rumah sakit Alarik menyuapi Orlin dan membantunya minum obat.
“Alarik, kamu jangan pergi ya?” pinta Orlin setengah memaksa.
“Orlin, aku sudah ada istri yang menungguku di rumah,” nanti aku akan ke sini lagi bersama Kaysa. Dia dari kemarin merengek ingin menemuimu.” Kata Alarik.
Ada gurat kecewa di wajah Orlin, tapi gadis itu tidak mampu berkata.
“Aku juga sudah menghubungi orang tuamu. Mereka bilang akan sampai di sini besok siang. Jadi sekarang aku pulang dulu. Nanti akan ke sini lagi bersama Kaysa,” kata Alarik tegas.
Alarik sadar, jika dia tidak jujur pada istrinya takutnya nanti Kayaa semakin salah paham. Apalagi dari sikap Kaysa tadi pagi, menunjukkan jika gadis itu sedang marah tapi tidak ditunjukkan.
Alarik langsung pamit pulang, sampai di rumah ternyata istrinya tidak ada.
“Kaysa di mana?” tanya Alarik pada pelayannya.
“baru saja pergi dengan seorang pemuda,” jawab pelayan itu ketakutan.
Alarik hanya mengira jika pemuda yang di maksud pelayan adalah Gio.
“Paling-paling menemaninya menjenguk Reki,” batin Alarik bergegas mandi dan Sholat isyak.
Namun sampai jam sembilan malam Kaysa masih belum pulang, Alarik semakin gelisah dan melupakan Orlin yang berada di rumah sakit.
Alarik menelepon Kaysa, tapi tidak di angkat terus. Karena cemas Alarik bergantian menelepon Gio. Namun sepupunya itu juga bilang jika Kaysa tidak bersamanya.
Alarik sangat frustrasi, dia bingung hendak mencari istrinya ke mana.
Kemudian Alarik tahu jika Syadev bisa melihat kepergian Kaysa lewat GPS, dia segera meminta bantuan Syadev.
Lewat adik iparnya, akhirnya Alarik bisa menemukan lokasi Kaysa.
“Ini tempat tongkrongan untuk anak-anak nakal, kenapa Kayaa bisa sampai di sini? Dan Siapa pemuda itu jika bukan Gio?”
Terima kasih sudah mendukung Author selama ini, jangan lupa Like dan Vote sebanyak-banyaknya ya🤗🤗🤗
Baca juga Scorpio, kisahnya gak kalah seru ya🤗🤗
__ADS_1